
...--oOo--...
Intan memekik saat dengan sekaligus si suami menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Ang? kamu kemasukan apa sih?" Intan membenarkan letak lipatan handuknya.
Bintang terlihat rusuh membuka pakaian nya satu persatu. "Aku nyobain minuman stamina. Aku nggak percaya awalnya. Tapi kok ini udah mau setengah jam keras banget si pyton, nggak tidur2 . Aku suruh tidur malah ngangguk-ngangguk, doang!"
"Dasar gila," Intan terkekeh sinis.
"Yuk, sebentar yakin. Aku mau ke kedai lagi, belum selesai kerjaan aku!" Bintang merangkak. Dan tanpa aba-aba langsung menciumi tubuh si istri dan langsung menancapkan si pyton yang sudah terlalu rindu dengan sarangnya itu.
"Ang," Intan memekik.
"Kok, susah. Waduh jangan-jangan waktu di jahit kemarin kau nggak di sisain jatah jalan!" Bintang menggumam dengan wajah yang memerah dengan titik-titik keringat foto wajahnya.
"Pake pemanasan, kek. Jadi aku juga siap!" Intan memukul lengan si suami yang menjuntai mengungkung tubuhnya.
"Pemanasan gimana? ini si pyton udah siap muntah-muntah" Bintang menunduk melihat senjata siap tempur nya.
"Itu, kamu. Aku?" Intan mencibir kesal.
"Mau?" Bintang bertanya dengan polosnya.
Intan menghela nafas kasar. "Kamu pikir?" tanyanya sinis.
"Kenapa suka marah-marah kalo aku lagi minta bantuan?" Bintang masih menatapnya tepat dari atas tubuh si istri.
Memejam sesaat Intan ingin menggigit si suami.
"Yang enak kan kamu doang! terus aku?"
"Ya. Aku takut mau masukin nya. Perjuangan kamu ngeri waktu lahiran si kembar." Bintang bergidik saat membayangkan kejadian yang di luar nalar namun terjadi di depan matanya.
"Ini, aku susah masuk! kenapa kepala si kembar lancar gitu aja? sungguh ajaib kekuasaan Tuhan nggak ada tandingannya." Bintang masih bertumpu di kedua tangannya.
Intan mengangguk haru, asalnya dia mengira nyawanya akan lepas begitu saja karena rasa sakit luar biasa itu. Tapi nyatanya setelah melihat buah hatinya mengerjapkan mata, membuat seolah ada kekuatan ekstra yang Tuhan kirimkan untuknya.
Lamunan Intan terhenti saat sesuatu yang hangat, lembut dan basah menyapu puncak dadanya. Dia melenguh dan tangannya reflek mencengkram pundak si suami. "Ang, ehm ... " panggilnya mende*sah.
Bintang tak menanggapi dia menyibukkan diri dengan bulatan yang mengeras itu. Sumber makanan anak-anak nya, namun kini sedang dia mainkan sebagai cara agar istri nya juga ikut menikmati permainan di siang hari.
Tanpa banyak bertanya Bintang menekankan miliknya yang sudah semakin tidak kondusif dan sudah siap berkelana itu.
Pasangan itu sama-sama memejam menikmati rasa yang sudah cukup lama tak mereka rasakan. Bintang merasa puas saat miliknya terbenam sempurna di tempat yang seharusnya dan Intan merasakan inti tubuhnya yang di sesaki si pyton yang sebenarnya dia juga rindukan.
Pergerakan itu di iringi lengu*an dan racauan dari keduanya. Hingga tak membutuhkan waktu lama mereka sudah mencapai puncaknya.
Bintang menggulingkan tubuhnya di samping si istri. Tubuh mereka masih terengah-engah mengatur nafas. Bintang menyunggingkan tawa puasnya, apalagi si istri yang terlihat begitu menikmati permainan nya.
"Enak?" tanya nya menggoda, tubuhnya dia miring kanan agar bisa memandang wajah malu si istri.
Intan menggapai handuk yang tadi dia kenakan. Lalu dia tutupi ke tubuhnya.
__ADS_1
Bintang yang hanya mengenakan kemeja, acuh saja dengan keadaan tubuhnya itu.
"Minum jamu lagi?" Intan kini juga menghadap si suami.
"Coba-coba.Tadi ada yang jual? eh ternyata bener bangun dan keras maksimal. Mantep kan? kerasnya kayak pagi-pagi. Lagi keadaan fit banget, jadi nggak perlu nunggu pas bangun tidur. Mau kapan pun bisa. Aku mau order satu kardus, buat stock kita!"
"Kita? kamu doang kali!"
"Denger? kan kalo aku kayak barusan kamu ikut menikmati juga kan?" Bintang kembali merapatkan tubuhnya. Mulai memainkan kembali puncak dada si istri. Bibir mereka bertemu dan saling mengecap, wangi tubuh Intan masih segar sehabis mandi, semakin membuatnya ber*airah.
Saat Bintang menuntun si istri agar bergantian posisi. Intan yang hendak mengang*angi pinggang suaminya, tersenyum malu.
"Sukur, si kembar anteng!" Bintang berkata sambil memejam saat bagian bawahnya bergesekan dengan tubuh si istri.
Plakkk
Intan memukul perut Bintang dengan sangat keras.
"Apa?" Bintang sedikit menyentak karena kaget.
"Di luar ada Bunda!"
"Hah? kok kamu nggak ngomong!' panik nya.
Intan langsung bangun dan segera berlari ke arah kamar mandi, mandi untuk yang ke dua kalinya.
*
*
Lalu keluar kamar melihat keadaan.
Matanya terfokus melihat Ayah tengah menggendong Damar sedangkan Bunda tengah menimang Wulan.
" Eh, Bunda? Ayah kok mobilnya nggak ada? pake apa ke sini?" tanyanya basa-basi.
Orangtuanya itu hanya mencibir. "Ada, tuh di belakang mobil kamu. Tadi Ayah abis cuci mobil!" kata lelaki tua itu.
"Pantes, nggak ada tadi!"
"Bunda pamit, anak-anak di bawa ya? Malem ini kan weekend kalian nginep di rumah. Bunda minta baju sama stock asi nya si kembar. Sore kalian susul ke sana, sekarang puas-puasin main. Bunda takut mereka terbengkalai, karena orang tuanya asik sendiri." Omel Bunda.
"Bun?"
Bunda yang sedang membuka kulkas berisi asi langsung menoleh. "Apa?"
Bintang berlari ke arah Bunda nya langsung memeluk wanita tua yang sedang memeluk Wulan itu. "Makasih, Bun. Bunda paling tau apa yang anaknya butuhkan." Bintang mengecup pipi Bunda nya.
Lalu berlari ke kamar memasukan baju-baju, selimut dan perlengkapan anaknya yang lain.
Menoleh ke arah pintu kamar mandi, dia berdoa agar si istri masih lama berada di dalam. Dia ingin menyusul dan ikut bergabung.
Bintang memasukan tas anak-anak dan satu buah carseat di bangku belakang untuk satu anaknya, sedangkan Wulan yang memang sedikit manja di gendong Bunda.
__ADS_1
Bintang melambaikan tangan dan segera mengunci pintu pagar. Berlari ke dalam kamar, membuka seluruh pakainya sampai tak tersisa.
Mengetuk pintu kamar mandi.
"Yank?"
"Apa? anak-anak nangis?" Intan berteriak. dari dalam kamar mandi.
"Mau pipis, buka sebentar!" Bintang masih terus berusaha menggedor pintu kaca kamar mandi.
Terdengar slot yang di buka.
Intan menjerit saat melihat penampakan si suami. "Apaan sih? ada Ayah sama Bunda!"
"Nggak ada, anak-anak juga di bawa. Ayo kita puasin yang tadi. Kamu makin enak banget,"
Bintang mengecupi wajah, leher dan berhenti di dua puncak coklat si istri.
"Ang," Intan tak tahan, itu adalah kelemahan nya.
Bintang mengangkat sebelah kaki si istri, lalu membenamkan miliknya sebelum kemudian dia menghujam keras dan bergerak berirama. Intan hanya sanggup menyandarkan kepalanya di dada si suami. Dengan jari-jari Bintang yang bermain di bagian kecil inti tubuhnya.
"Ang," Intan mencengkram tangan suaminya untuk menopang tubuhnya yang sudah lemas.
Bintang mengangkat tubuhnya membawa ke kamar dan membaringkan si istri di atas kasur.
Mereka melalui siang hati hingga sore itu dengan kegiatan yang memabukkan. Kegiatan buka puasa yang luar biasa nikmat.
Berakhir dengan terlelap nya mereka dengan keadaan lelah namun puas.
*
*
Mereka terbangun saat matahari sudah hilang di gantikan gelapnya malam.
Intan setengah melompat karena ingat anak-anak yang berada di rumah sang mertua.
Di liriknya si suami yang masih tidur menelungkup.
Setelah selesai mandi, Intan membangunkan si suami sambil memakai bajunya.
Bintang pun bangun walaupun dengan malas. Berjalan ke kamar mandi dengan di iringi omelan si istri.
*
*
Mereka kini tengah berada di mobil menuju rumah orang tuanya di mana si kembar ada di sana.
Tiba-tiba Intan menatap suaminya dengan mata membolak dan sebuah pukulan dia daratkan untuk si suami.
"Kenapa? sakit tau!" Bintang meringis
__ADS_1