Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Menginap di rumah Ayah.


__ADS_3

...❤❤❤...


Dua minggu berlalu.


Bintang sedang bersiap untuk pergi ke kedai mereka.


"Ang, ikut."


"Aku lama, nanti langsung ke market ada yang mau di obrolin sama Abang!" katanya seraya mengenakan kaos kaki.


Intan yang baru selesai membuat sarapan hanya duduk dengan bibir yang mengerucut.


"Sore juga aku udah pulang," Bintang mendekat dan tangannya menyusup ke leher Intan membawanya mendekat dan sebuah kecupan dia berikan di bibir milik istrinya itu.


"Kita udah bisa kan? udah dua minggu lebih nih, aku sengaja ngelebihin hari pemulihan kamu. Kita coba sofa itu ya!" Bintang berusaha menggoda istrinya.


Intan hanya tersenyum mengangguk.


"Kalo sore nggak pulang, aku nggu mau buka-bukaan." Ancam nya.


Bintang hanya mengacungkan jempol nya tanda siap dengan peraturan sang istri. Membayangkan dirinya akan buka puasa. Yang hampir 3 minggu dia tahan.


Akhirnya Intan melepaskan kepergian sang suami, mau tidak mau.


...***...


Sore hari


Bintang mengetuk pintu dengan sangat tak sabar


Intan yang sedang membuat jus langsung berlari ke ruang tamu.


"Kenapa, Ang?"


"Ganti baju, Yank. Kita ke rumah Ayah, Ayah sakit!" Bintang berjalan tergesa ke dalam kamar di ikuti sang istri yang juga terlihat panik.


Mobil itu berhenti di pekarangan rumah orang tuanya.


Bintang dan Intan turun dan langsung di sambut Mbok Tini.


"Ayah gimana, Mbok?" tanyanya pada wanita tua yang sudah mengasuh nya sedari kecil.


"Di kamar, sama Bunda. Tadi ampir jatoh di taman belakang waktu lagi ngangkat pot bunga Bunda. Katanya dadanya sakit dan sesak.


Bintang mengangguk, tangannya terulur untuk menggenggam tangan Intan yang masih mematung tak jauh darinya.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan langsung masuk ke kamar orang tua mereka dengan mengetuk perlahan pintu besar itu.


"Yah?" panggilnya saat masuk ke dalam kamar. Ayah sedang berbaring dengan Bunda duduk di tepian ranjang.


"Heum?"


"Kenapa?" Bintang duduk di tempat yang barusan Bunda nya tempati.


"Penyakit tua," ucap Ayah tenang.


Bintang memijat lengan tua itu, tangan yang selalu menemaninya mengerjakan PR sekolah, tangan yang selalu melayang saat dirinya susah di atur. Tangan yang selalu menuntun nya dengan sang Abang saat mereka pergi jalan-jalan. Tumbuh besar di tinggalkan Bunda membuat beban Ayah begitu berat. Biasanya seorang Ayah hanya memikirkan tugasnya sebagai pencari nafkah, namun itu tidak berlaku untuk Ayah mereka.


Mengurus pekerjaan, mengasuh anak-anak nya, mengempleng anak-anak dengan tegas, dan yang paling berkesan untuk anak-anak nya adalah, Ayah selalu menyempatkan mendengarkan satu persatu cerita harian yang di lewati anak-anak nya.


Sebelum tidur, biasanya mereka akan berkumpul bercerita di ruang keluarga. Menceritakan apa saja yang di lalui hari ini. Apalagi jika ada yang sakit, Ayah akan libur bekerja dan fokus mengurus anak-anak nya yang sakit.


"Udah mangil dokter, Bun?"


Bunda yang berdiri bersama Intan hanya mengangguk kecil.


"Kita sepakat mau bawa Ayah berobat, sekalian cari suasana tenang. Menikmati hari tua kami," Bunda mengusap pundak putranya yang tengah mendongak menatap ke arahnya.


"Apa aja, yang menurut kalian itu terbaik. Kami para anak-anak hanya mampu mendoakan.


Bunda mengangguk lemah, matanya saling tatap dengan sang suami yang tengah berbaring dengan garis bibir yang melengkung tersenyum tipis.


...❤❤❤❤...

__ADS_1


Suasana malam itu, bagaikan perkumpulan anak cucu di kala Lebaran. Berjejer seperti ikan dalam keranjang.


Untungnya kamar Ayah luas di tambah dua kasur bisa besar pun masih tersisa space.


Di ranjang itu Ayah di apit tiga wanita kesayangannya, istri dan anak, Shera yang merengek ingin tidur di sebelah Ibunya.


Di kasur tambahan ada para menantu perempuan bersama cucunya AL dan Helen yang berada di tengah-tengah mereka.


Para lelaki, anak dan menantu laki-laki tidur dalam satu kasur.


Kamar itu terasa hangat, walaupun AC sudah di suhu yang seharusnya membuat menggigil.


Terkadang Ayah terbangun karena haus atau sedikit sesak.


Mentari sesekali ikut terbangun, Ayah sempat marah karena khawatir akan istirahat Putri nya yang tengah mengandung akan terganggu.


"Udah ah, tidur di luar kalo kamu terus ikut bangun," kata Ayah mengancam.


Akhirnya perempuan hamil itu menurut, kembali tertidur dengan memeluk Shera.


*


*


Tengah malam itu hening, waktu menunjukkan pukul dua dini hari.


Bintang berjalan mengendap ke arah tempat tidur tambahan yang di isi para wanita. (kecuali AL putra Langit).


Dia berbaring di sebelah Intan, memeluk dari belakang dengan menempelkan tubuhnya di belakang wanita itu.


"Ehm... "


"Sayang... aku pengen... " Bisiknya di telinga sang istri.


Perempuan itu menoleh dengan mata yang menyipit, karena kantuk.


"Mau apa?" tanyanya polos.


"Nggak ada, ini di mana? suka ada-ada aja," gerutu si istri.


"Iya, emang. Emang aku suka yang ada di kamu, masa iya mau nyari yang nggak ada!"


"Yuk... nggak kuat, sebentar ini."


"Nggak ah. Ngantuk," tolak si Intan masih memunggunginya.


"Aku perosotin di sini ya?"


"Jangan gila!" istrinya itu melotot sempurna.


Bintang memasukan tangannya ke balik selimut berusaha menarik turun celana tidur istrinya. Ya lelaki yang sedang meminta jatah itu adalah Bintang si penganten anyar yang sedang giat-giatnya berusaha mencetak bayi.


"Aduhh... kenapa sih, nggak bisa libur sehariii aja?"


"Kita lagi program hamil kan, jadi aku harus rajin ganti cebong ku yg kalah sebelum nempel di tempat nya. Itu harus di isi ulang, jangan sampe para prajurit ku habis di dalam."


Mereka berbisik dengan suara sangat pelan, tanpa mereka sadari semua telinga yang ada di sana menangkap jelas pembicaraan mereka.


"Yuk... dosa loh nolak ajakan suami, mau kamu tidur nggak di jaga malaikat?" katanya menakut-nakuti.


Perempuan itu hanya berdecak sebal, lalu pandang nya mengedar ke segala sudut, takutnya ada anggota keluarga yang bangun.


"Nggak ah... besok aja,"


Bintang mendengus kesal, "ya udah balik sini, aku minta kiss aja. Masa iya atas bawah nganggur, jahat banget kamu," tangannya memutar tubuh istrinya hingga menghadap ke arah nya.


Bibir itu pun menempel, saling memagut dan menyesap keras, walau lebih dominan Bintang.


"Sayang... bales dong kiss aku, kayak yang nyium boneka, kamu cinta nggak sih? aku kayak yang cinta sendiri!" terus mengomel.


Karena takut suara suaminya terdengar oleh semua orang, mau tak mau Intan sebagai istri yang sering dan lebih banyak mengalah dengan ocehan atau omelan suaminya. Langsung memagut bibir suaminya itu, dia balas dengan liar menyesap dan membelit lidahnya di dalam mulut suaminya.


Desa*han sedikit keras keluar dari mulut Bintang, Istrinya itu langsung menarik lepas bibirnya.

__ADS_1


Lalu mencubit perut suaminya itu.


"Aww... "


"Berisik, ngapain bersuara?"


"Terlalu menghayati, tuh si pyton juga udah berubah jadi kobra siap nyembur dia," tangannya mengambil tangan istrinya memaksanya untuk menyentuh miliknya.


"Ya, udah keras banget. Mantep pasti Yank... "


"Yuk... sebentar ini,"


"20 menit?"


"15 ?"


"10?"


Masih belum ada jawaban dari istrinya


"Ya udah, paket kilat 3 menit?"


Seperti dugaannya, istrinya langsung merespon.


"3 menit, cuma ngotorin doang,"


Bintang terkikik geli, "tuh kan mau juga,"


"Iyalah udah tanggung juga," Istrinya mencebik sebal.


"Ya, udah gassskeunn yank... "


Perempuan itu menatapnya sebal, "mau di mana?"


"Di mana aja lah yang penting bisa masuk!"


"Ck, dasar gila," sungutnya.


Bintang makin terkikik di ceruk leher istrinya, "dan kamu mau sama orang gila ini."


"Kepaksa.. " Dia langsung menutup wajahnya takut suaminya murka.


"Apa? kamu bilang apa? enak aja. Aku tau kok kamu tergila-gila sama cowok gila ini!" katanya menggeram.


"Udah yuk.. nggak kuat ini, cobra mau nyembur." Rengeknya lagi.


"Di mana?"


"Di kamar mandi?"


"Ogah, kamu suaranya berisik banget." Istrinya langsung menolak.


"Itu, tandanya kamu enak banget sayang... kalo nggak enak nggak akan mungkin aku mende*ah keras."


"Kapan aku nggak enak nya ya?"


"Ya nanti kalo kamu udah nggak nafas!" jawab Bintang polos.


"Astaga.... kamu mau aku meninggal?"


"Ish, amit-amit. Kapan aku ngomong gitu?"


"Tau ah... " Wanita cantik itu bangun dan di ikuti Bintang di belakangnya.


Kedua pasangan itu berjalan mengendap keluar kamar.


Bersambung❤❤


Ada yang inget part ini? 🤭🤭


Aku Ulang ya anu nya besok aja🤣🤣


Like sama komennya dong jangan lupaaaa🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2