Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Ungkapan


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋🦋...


Intan terbangun saat merasakan bagian tubuhnya terasa basah.


Dia merasakan pergerakannya sesak karena sempit.


Kemudian kepalanya sedikit menoleh kebelakang, di mana bagian tubuhnya terasa basah.


Terlihat Bintang yang menyandarkan kepalanya yang berkeringat di pundaknya.


Intan bangun dan meraba-raba ponsel di dekat bantalnya. Dia menggeliat saat melihat jam menunjukkan pukul lima.


Gadis itu bangun dan segera membersihkan diri. Lalu beranjak ke warung sayur untuk berbelanja bahan masakan.


Sesampainya di warung itu dia membeli bahan untuk membuat sup ayam dan bakwan jagung tak lupa abon cabe karena dia tidak bisa makan tanpa pedas.


Keluar dari warung sayur Intan melihat seorang pria tua dengan sebuah tas besar dan menenteng berbagai macam training dari mulai yang panjang dan yang pendek juga jersey bola berbagai club.


Intan menghampiri si bapak tua itu.


Wajahnya berbinar saat melihat ada calon pembeli dagangannya. Akhirnya setelah memilih beberapa Intan menjatuhkan pilihan kepada sebuah jersey bola salah satu club Inggris dan training panjang untuk nya. Si pak tua itu sangat senang karena ini dagangan pertama nya yang laku setelah beberapa hari keliling.


Intan miris mendengar cerita si Bapak pedagang itu, intan melebihi uang pembayaran itu. Dengan dalil sebagai uang untuk membeli sarapan.


"Makasih, Neng. Semoga neng sehat dan bahagia," ujarnya saat mendapatkan uang dari Intan.


Gadis itu pulang dengan dua tentengan di tangannya, satu kantong berisi bahan pasukan satu lagi berisi baju ganti untuk pria yang sedang sakit itu.


****


Setelah selesai dengan masakannya, Intan pergi untuk mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, jarak kantor memang tidak terlalu jauh hanya sekitar 200 meter itupun Intan habiskan dengan berjalan kaki melewati gang-gang kecil dan keluar tepat di sebrang kantor cabang milik Dafa.


Intan sudah rapi dan wangi, dia pun sudah sarapan dengan sup ayam dan bakwan jagung tak lupa dia taburi cabe bubuk itu.


Jam menunjukkan pukul 7 lebih 40, Intan telah menyiapkan masakannya di atas karpet lengkap dengan teh panasnya. Lalu jersey bola itu tak jauh dari kaki Bintang yang masih tertidur nyenyak.


Di atas jersey itu Intan simpan sebuah note


"Pak, ini ada baju ganti sama sarapan juga. Kalo bapak pulang, kuncinya selipin di sepatu saya yang ada di depan pintu."


Lalu Intan pun keluar dari kamar nya. Saat menutup pintu kamar nya, tetangga sebelah nya keluar kamar dengan wajah yang pucat dan tanda merah di leher dan dada yang bertebaran. Dia keluar mengambil handuk yang menggantung dan seorang laki-laki keluar tergesa-gesa dengan wajah bangun tidur nya sambil menenteng sepatu nya.


Intan mematung sesaat melihat kegiatan dua orang di depannya. "Terlambat, mba?" tanya Intan basa-basi.


"Iya, pacar saya ada kuliah pagi, dan saya kerja pagi." Jawab perempuan rambut sebahu itu.


Intan membatin "pacar? tapi tanda merahnya banyak banget."


"Mba, lagi ada kakak nya ya?" pertanyaan perempuan di depannya membuyarkan pikiran kotor nya.


"Kakak?" Intan membeo.


"Iya, itu ada mobilnya." tunjuk nya pada mobil sedan yang terparkir di halaman kostan mereka.


"Oh, itu . Ehmm, iya." jawab Intan gugup, kapan Bintang berbicara dengan perempuan ini. Pikirnya.


"Ya, udah saya duluan ya mba, udah siang." Intan pun menganggukan kepala nya pada si tetangga yang namanya saja belum dia ketahui.


"Kakak ... kakak, drama apalagi sih dari mulutnya, lemes dan asal jeplak aja." Intan menggerutu kesal sambil berjalan menuju kantornya.


🦋


🦋


Sore hari Intan berjalan lunglai, kegiatannya mulai padat di kantor beberapa pekerjaan sudah mutlak menjadi tanggungjawab nya. Meskipun lelah tapi dia tetap bersemangat.


Intan membeli satu cup besar minuman boba, tak jauh dari kantornya.


Berjalan dengan santai dengan cita-cita nya ingin segera mandi, membuat mie instan pedas sambil minum boba di temani acara sinetron azab.


Saat dia menunduk di depan kamar kost nya, tepatnya di depan rak sepatu miliknya dia mencari di mana kunci kamarnya berada di tiap sepatu dia intip dan cari namun nihil kunci kamarnya tidak ada, di coba di bawah keset juga tidak ketemu.


Saat masih menunduk mencari kunci pintu yang sudah dia amanat kan di surat yang dia tulis agar di. simpan di sela sepatu nya namun nihil tidak ada.


Klek...


Pintu terbuka, seorang pria dengan jersey bola ketat yang membalut tubuhnya berdiri di hadapannya.


"Nyari apa Lu?" tanyanya begitu enteng.


Intan mendongak ke atas, terlihat wajah tampan itu tengah mengerutkan keningnya menunduk menatap ke arahnya.


"Bapak belum pulang?"


"Lu, ngusir gue?"


"Sampai kapan di sini?" Intan bangun dari posisi jongkok nya. Lalu dia mengambil handuk di depannya.

__ADS_1


Bintang masih mematung menatap wajah manis Intan.


"Misi, Pak. Ngapain sih di pintu? kayak badannya kecil aja!"


"Lu nya aja yang cungkring, jadi liat gue kek gede!"


Mereka adu mulut saat berpapasan di pintu namun pandangan mereka saling tertumbuk.


Intan duduk di tepi kasur ingin merebahkan tubuhnya, namun merasa canggung dengan lelaki di sebelah nya.


"Makasih, " ucap Bintang.


Intan menoleh, "buat apa?"


"Buat sop ayam sama bakwan jagung nya, abis gue makan, enak."


"Sama buat ini, baju ganti." Bintang mengedikan tubuhnya menunjukan bahwa baju yang di berikan Intan dia pakai. Walaupun terasa sesak karena kekecilan.


Intan mendongak menatap dari atas hingga bawah.


Mulutnya mengatup kuat, saat menyadari ternyata baju itu kekecilan. Membuat semua lekuk tubuh Bintang terbalut dengan ketatat.


"Apa?"


"Nggak, kekecilan ternyata?"


"Huum, tapi nyaman lah, gue kek bocah. Tapi duh sarang pyton gue tercetak dengan sempurna. Gue asalnya mau beli makan buat nyambut lu, tapi malu keluarnya, ini pemandangan surga ntar di liat orang-orang pada ngiler... " ucapnya sambil menangkup sesuatu yang mencetak dan terkikik geli dengan ucapan nya sendiri.


Intan berdiri "dasar gilaaa," dia berjalan ke arah lemari. Dan bergegas masuk ke kamar mandi.


*


*


Saat masuk kamar mandi matanya membolak saat melihat beberapa gantungan baju basah tertata rapi bukan hanya pakaian lelaki di luar sana tapi bajunya semalem lengkap dengan pakaian da*lam juga sepertinya lelaki itu cuci.


Intan menangkup wajahnya malu, bagaimana bisa seorang lelaki yang tidak ada hubungan apapun mencuci kan pakaiannya lengkap dengan **********.


"Ampunn ... dia gilaa emang, aduh maluuu!" dia menggumam di dalam kamar mandi menatap pakaian basah yang telah di cuci.


Dia menepis semua dan kembali dengan niat sebelum nya yaitu mandi.


Tak lama dia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya, dia mencoba terlihat biasa saja walaupun hatinya menjerit-jerit malu.


Di lihat laki-laki itu sedang meminum boba yang tadi dia beli.


Bintang langsung terlonjak kaget, "Eh... sorry, gue kira oleh-oleh buat gue!" dia panik langsung di simpan nya minuman itu.


Intan mencibir lalu mengambil sisir dan menyisir rambut se pinggang nya yang basah.


Bintang terlihat merasa bersalah dia terlihat kikuk.


"Maaf, ya Tan. Nanti deh gue beliin lagi kalo gue ngecek market yang di sini," bujuknya.


Lalu Intan terdiam ketika mengingat baju yang sudah lelaki itu cuci.


"Pak, "


"Ya?"


"Ehm ... itu, Bapak ngapain cuci baju saya?" Tanyanya malu tanpa berani melihat wajah Bintang dari pantulan cermin di depannya.


Bintang juga merasa malu, apalagi dia tadi membayangkan hal-hal erotis saat mencuci kacamata dan kain segitiga milik Intan.


"Jangan ge-er lu, tadi pas gue lagi nyuci baju gue itu baju tiba-tiba jatoh, kek minta ikut di cuci. Ya udah sekalian, gue nggak mikir aneh-aneh kok."Bintang menyibukkan diri dengan memindah-mindahkan chanel tv.


Intan yang masih merapikan rambutnya menahan senyum nya, ucapan lelaki di belakangnya itu malah membuktikan keadaan sebaliknya.


" Padahal nggak usah, Pak." Intan memberanikan diri melihat ke arah Bintang yang duduk di karpet menghadap tv.


"Udah lah nggak gratis itu, bikinin gue makanan laper ini," potongnya.


Intan berjalan ke arah lemari tv, mengambil dua bungkus mie dan sosis sultan yang sedang viral yang di beli Bintang kemarin.


"Yang enak," Bintang berkata.


Intan tak menanggapi ucapan lelaki itu. Matanya hanya memandang kesal.


Tak lama dua porsi mie tek-tek tanpa sayur terhidang di depan mereka,


"Bapak kapan pulang?" tanya Intan setelah menyelesaikan makannya.


Bintang yang sedang mengirimi pesan Bunda nya yang telah mengirim nya puluhan pesan karena khawatir.


Namun sebelum terkirim Bunda nya langsung menelpon.


"Kak ... baik-baik aja kan? kamu nggak gimana-gimana?" Bunda yang sudah mengetahui keadaan Bintang dari Mentari yang kemarin di kirimi pesan olehnya, mengabarkan bahwa dirinya sedang dalam penyembuhan rasa sakit hati setelah di khianati Naya.

__ADS_1


"Kakak nggak apa-apa, Bun. Cuma minta waktu beberapa hari dinginin kepala ya, Bun."


"Iya, nak. Tapi jangan yang aneh-aneh, jadikan ini cambukan supaya kamu lebih baik lagi kedepannya, kalo soal jodoh pasti udah ada yang ngatur," Bunda mencoba menenangkan putra nya yang sedang patah hati.


"Iya, Bun. Ke Ayah ada yang harus di cek nggak di market Jakarta? biar aku sekalian urus mumpung masih di sini," tawarnya.


Ponsel hening namun sedetik kemudian suara bariton Ayah terdengar, "Nggak usah, istirahat aja. Bebasin pikiran kamu, gaji juga nggak akan Ayah potong. Tapi waktu kamu dua hari lagi, abis itu pulang dan mulai bangkit menata hidup menjadi lebih baik lagi." Ayah berkata tegas pada anaknya.


"Siap komandan, laksanakan."


"Sekarang kamu di mana?" tanya Ayah.


"Ehm ... aku di rumah temen, Yah. Soalnya nggak ada niat di sini kan jadi nggak bawa kartu apartemen Abang." terangnya.


Intan yang berada di sebelah nya hanya memutar bola matanya jengah. "Teman katanya," gumamnya namun ternyata Bintang mendengar dan tangannya langsung membekap mulut Intan yang sedang menggerutu.


"Ya, udah . Kakak mau nyari makan malam dulu, Yah." Panggilan pun berakhir.


Intan langsung menepis tangan Bintang yang sedang membekap mulutnya


*


*


"Gue sakit hati, Tan. Pengorbanan gue buat dia malah berbalas sebuah penghianatan. Masa gue kalah sama jelmaan Ateng. Harga diri gue di injek-injek kemarin, asli kalo ngebunuh nggak dosa gue udah bantai kemarin mereka,"


Intan diam menyimak curahan hati seorang pria yang patah hati.


"Gue udah sayang dan pengen serius sama dia, gue suka dengan kemandirian dan kekuatannya sebagai single parent. Eh, malah ini yang gue dapetin. Mana gue ngasih modal buat dia, ck... sial." Bintang merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Intan yang masih setia menyimak, sambil meminum boba miliknya tadi yang sudah di minum sedikit oleh Bintang.


"Pak, sabar aja."


"Iya, gue udah sabar dan ikhlas. Gue sumpahin dia nggak akan tenang, pas lagi buka paha nya buat si Ateng dia kena penyakit terus si Ateng OD obat kuat,.. "


"Pak," Intan memotong ucapan Bintang sambil tangannya menyentuh dada bidang depannya.


"Kalo udah ikhlas, nggak usah di perpanjangan. Cukup lupain," Intan berucap dengan lembut.


Bintang mengerjap tangannya langsung melepaskan telapak tangan Intan yang menempel di di dadanya. Bukan apa-apa tapi dirinya takut Intan menyadari jantungnya tengah berdegup kencang.


"Maaf, Pak. Memang beda masalah kita, tapi saya pernah merasakan sakitnya kehilangan. Mau mengikhlaskan pun memang terasa berat, tapi mau merutuki ataupun mau menangis meronta-ronta. jika memang itu jalan takdir kita ya mau gimana? nggak akan bisa mengubah apapun." Intan mencoba menasehati sesuai dengan apa yang pernah dia alami.


"Saya juga masih belum sepenuhnya bisa ikhlas sama kepergian Mas Dani, tapi itu semua nggak akan bisa membawanya kembali." tambahnya lagi.


Bintang meresapi perkataan Intan, "sebenarnya lebih baik di tinggal meninggal atau di selingkuhin?" tanyanya asal.


Intan menatapnya dengan mengerutkan kening, "kalo buat saya, lebih baik di selingkuhi setidaknya kita bisa melihat dia bahagia dari pada tidak akan pernah melihat dia lagi." Jawabnya lirih dan tanpa di sangka air mata mengalir begitu saja di pipinya.


Bintang dengan sigap menariknya ke dalam pelukan nya, "sorry Tan, gue nggak maksud buat bikin lu nginget2 almarhum, " katanya sambil mengusap punggung Intan yang bergetar karena isak tangis.


Intan merasakan hangatnya pelukan Bintang, membuatnya merasa tenang dan nyaman.


"Gue nyaman kalo lagi sama lu," bisik Bintang.


Perkataan itu malah semakin membuat Intan menangis. Bintang masih memeluk dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Mau nggak lu jadi cewek gue?" Bintang merenggangkan pelukannya menatap wajah sembab yang baru dia peluk.


"Mau?"


"Bapak baru putus, saya nggak mau cuma jadi pelarian aja. Lebih baik bapak sembuhin dulu luka, sebelum mencari pengganti." Intan memundurkan tubuhnya.


Bintang diam memandang wajah manis namun terlihat menyimpan beban mental itu.


"Jadi, lu nolak gue?"


"Bukan, tapi saya ingin Bapak sembuhin dulu luka, saya nggak mau Bapak cuma manfaatin saya untuk pelampiasan aja."


"Iya, sembuhin lukanya bantuin sama lu!" ucapnya sedikit ngotot.


Intan hanya menggelengkan kepala nya sambil menunduk.


Bintang merasa kecewa atas penolakan Intan, lalu bangun dari duduknya menyambar ponsel, dompet dan kunci mobilnya. Berjalan keluar kamar itu sedikit membanting pintu kamar Intan.


Intan kembali menyeka air matanya yang mengalir deras.


❤❤❤ Bersambung


Wehhhh kebablasan ngetik ampe 2000 kata 🥺🤭


Semoga like dan komennya juga banyak Amin 🤭


Sehat-sehat buat kalian yang setia baca dan tak pernah absen like komennya 🤭😘😘.


Semoga suka sama karya receh no halu tinggi ini🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2