
...----oOo----...
Lelaki itu mematung di gawang pintu. Melihat sosok wanita yang pernah singgah di hatinya, yang pernah begitu dia puja. Kini ada di hadapannya.
"So-sorry, aku cuma mau ngembaliin ini," dia menyodorkan satu buah amplop coklat cukup besar.
"Kemarin aku nggak sengaja keluar dari rumah sakit depan hotel ini, terus aku liat kamu sama istri kamu masuk ke dalam hotel ini. Aku nunggu kalian di resto dari jam 7 pagi, tapi kayaknya kalian kecapekan dan memilih untuk tidak turun."
"Jadi, aku lancang bertanya kamar kamu sama resepsionis. Maafin aku," terangnya.
Ya, yang datang adalah Naya. Wanita yang hampir saja di nikahi Bintang dan dengan piciknya lebih memilih seorang lelaki tua yang berlimpah uang tentunya.
"Aduh ... " Naya memegangi perutnya.
"Lu, kenapa?" Bintang melihat Naya melihat Naya meringis memegangi perutnya yang sedikit besar.
"A-aku, lagi hamil dan kehamilan ku ini agak lemah!" jelasnya.
"Ya, udah sono pergi. Nanti bini gue liat lu, macem-macem pikirannya," Bintang sedikit mendorong tubuh Naya.
"Jadi, ini kamu nggak nerima?" Naya mengangkat amplop di tangannya.
Bintang sedikit berpikir, lalu tangannya terulur.
"Ya, udah. Gue ambil, dari pada lu bawa lagi balik. Berat kan?"
Naya hanya terpaku saat Bintang dengan cepatnya menyambar amplop di tangannya. Dia mengira jika Bintang tidak akan sudi menerimanya, tapi ternyata lelaki itu mengambilnya. Membuat rasa bersalah nya sedikit terobati.
"Aduh ... " Naya kembali meringis.
"Nggak usah drama,"
"Ini bener sakit, aku boleh numpang duduk sebentar boleh?" mohon nya.
Bintang mendengus kesal saat dia melihat ke belakang, Intan nampak sedang berpakaian sambil kepalanya mengangguk. Sepertinya istrinya itu sedati tadi mendengar percakapan Mereka.
"Ehm ... Bentar Lu tunggu dulu di luar, gue mau ngomong sama bini gue." Bintang menutup pintu itu.
*
*
"Sayang, ngapain kamu mandi?" Bintang berjalan cepat ke arah Intan yang tengah memakai dress baby pink nya.
"Apa? itu kenapa tamu malah di suruh pulang?"
"Jangan dulu mandi, aku kan belum selesai!" Bintang merengek kesal.
Intan memberanikan diri memegang penutup si pyton.
"Tuh, kan tidur lagi ini. Entar lagi aja, itu tamu dulu!" Intan menggulung handuk di kepalanya.
Bintang menarik tangan istrinya lembut.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya dengan raut wajah serius.
Intan hanya mengangguk. Lalu kembali berjalan ke arah pintu.
Intan tak melihat orang di sana, namun di dekat lift dia melihat sosok wanita sedang berdiri sedikit membungkuk memegangi perutnya.
"Mba ... " panggilnya.
Naya yang merasa di panggil pun menoleh ke arah Intan yang memanggilnya.
Istri Bintang itu berjalan mendekat ke arah Naya.
"Mba, ayo. Istirahat dulu, mba pucat banget!" Intan menggenggam tangan Naya.
Bintang datang menghampiri kedua wanita masa lalu dan masa depannya itu. Lelaki itu telah mengenakan celana pendek dan kaos putih.
"Yang, pake sandal. Gimana kalo ada beling atau benda tajem yang kamu injek," Bintang menyimpan sandal hotel di dekat kaki istrinya.
Perlakuannya pada Intan jelas Naya saksikan.
Miris rasanya melihat lelaki yang dulu mati-matian mengejarnya sekarang sudah menemukan tambatan hati. Dan kehidupannya kini malah lebih hancur, niatnya memilih menjadi simpanan seorang pengusaha tua. Malah kesialan yang dia dapatkan.
*
*
Intan menghidangkan teh dan kopi yang berada di meja, sebagai menu sarapan mereka tadi.
Naya duduk bersebrangan dengan pasangan pengantin itu. Di lihat dari pandangan mata Bintang pada Intan, dirinya merasa kembali iri. Dulu tatapan itu miliknya, sekarang sudah menjadi milik wanita lain gara-gara sifat serakah dan egois nya dulu.
"Silahkan di minum," Intan kembali menyodorkan cangkir teh itu.
Naya mengambil cangkir dan langsung meminumnya.
"Makasih," ucapnya pelan.
__ADS_1
Intan mengangguk ramah sambil tersenyum, berbeda dengan Bintang yang menatapnya judes.
"Mba, lagi hamil?" tanyanya.
Memang perut Naya sedikit membesar, dan isian dada nya terlihat sedikit meluber menyembul di baju yang dia pakai.
"Iya, baru mau tiga bulan." Naya mengusap pelan perutnya.
Bintang bergidik jijik, membayangkan Naya berhubungan dengan lelaki tua yang dulu meledeknya itu.
"Besar ya?" Intan kembali bertanya.
Naya tersenyum, "mungkin karena ini kehamilan ke tiga saya, jadi mungkin sisa hamil yang ke dua masih ada." Terangnya.
Bintang mengerutkan keningnya, " ke tiga?"tanyanya penasaran.
Naya mengangguk, "Iya. Ini hamil aku yang ke tiga, beberapa bulan lalu kandungan aku ehm ... "
"Iya, ngerti lah." Bintang memotong ucapan Naya.
Naya menghela nafasnya, dia meremat tangannya.
"Terus ini dari laki-laki yang sama?"
"Ang ... ngomong apa sih?" Intan memelototi suaminya, Kata-kata yang keluar terdengar sangat menyakitkan untuk seorang perempuan, bagaimanapun keadaannya memang seperti itu. Tapi rasanya terlalu sadis mengiris hati.
Naya menahan air mata yang siap menetes kapan saja, walaupun menyakitkan dia harus menerima tuduhan itu, karena ulahnya di masa lalu.
"Nggak apa-apa Mba, ini anak dari lelaki yang sama kok. Mas," ucapnya.
"Eh, jangan manggil Mas. Kita udah bukan siapa-siapa lagi," Bintang menimpali.
"Ang ... " Intan menyikut perut suaminya.
"Maaf, ya Mba!" Intan merasa malu sendiri.
Naya hanya tersenyum canggung, dia mengingat amarah Bintang sewaktu memergokinya dulu. Bahasanya yang di ucapkan sungguh luar biasa.
Naya mengangguk lemah, "kandungan ku yang pertama memang di gugurkan, tapi sepertinya yang ini mau aku perjuangkan," ucapnya lagi.
"Syukur," Intan tersenyum ramah.
"Nggak syukur juga, Mba."
"Kenapa?" Tanya Bintang, "bukannya lu udah di setujui hamil?" tambahnya lagi.
"Ya ampun. Maaf, Mba!" Intan berjalan mendekat kursi yang di duduki Naya.
"Sakit?" tanyanya lagi.
"Nggak, serangan jantung. OD obat kuat," ucapnya lagi.
Bintang terlonjak kaget, itu adalah sumpahnya dulu.
Matanya bersitatap dengan Naya yang juga menatap ke arahnya.
"Sabar, ya. Mba!" Intan menenangkan.
Naya mengangguk.
"Terus, ini duit?" Bintang bertanya soal amplop yang ada di tengah meja.
"Itu, halal. Dua bulan lalu, ibu meninggal dunia. Dan itu asuransi kematian yang setiap bulannya aku bayar, sisa dari itu aku pakai untuk biaya kuliah adek aku," ucapnya lagi.
"Ya, udah. Bawa aja, buat biaya calon bayi lu!" Bintang menyodorkan kembali yang itu.
"Nggak usah, Ayahnya bayi ini ninggalin sebuah rumah sama mobil. Semoga istrinya nggak tau suaminya itu punya harta lain yang di kasihin ke aku!" ucapnya lirih.
Intan meneteskan air mata, dia membayangkan jika dia berada di posisi Naya.
"Yank ... " Bintang menghampiri.
Intan tertawa malu sambil air matanya tetap menetes. "Aku ngebayangin ada di posisi, Mba Naya." Dia memandang Bintang yang berjongkok di dekat lututnya.
"Khusss... Aku ada, aku nggak akan kemana-mana. Kamu kenapa mikir gitu?" Bintang mengecupi punggung tangan istrinya.
Naya semakin sesak dan tersiksa melihat pemandangan ke romantisan mereka. Dia pun pamit, lalu berdiri bermaksud untuk pulang.
Intan dan Bintang pun ikut bangun.
Mereka berjalan mengantar Naya sampai ke depan pintu.
Saat Naya berpamitan kunci mobil yang dia pegang terjatuh.
Bintang reflek ikut menunduk untuk mengambil kunci itu.
Tanpa sengaja matanya terpaku melihat benda bulat yang menyembul itu. Matanya diam beberapa saat di benda itu. Saat tersadar Intan berdehem.
"Anjim, nyari masalah. Gue!" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Bintang dan Naya bangun dari posisi menunduk mengambil kunci itu.
*
*
Bintang menghampiri Intan yang terdiam di balkon sejak tadi hampir dua jam istrinya itu mendiamkannya.
"Yank, kita makan yuk Ke bawah. Atau kamu mau kita jalan-jalan, di sini banyak destinasi kebun teh nya loh," Bintang duduk di sebelah Intan mencoba membujuk istrinya itu.
"Sayang ... tabok aku lah, dari pada kamu diemin aku kayak gitu? sama aja kamu cekik aku secara tak kasat mata!"
Intan akhirnya menoleh, "emangnya aku dukun!" ucapnya ketus.
"Ya, makanya lebih baik kamu tabok aku. Atau cekik aku tapi si pyton ampe muntah juga boleh banget," Bintang terkikik geli.
Intan hanya mencebik, sambil menahan senyum.
"Enak banget ya, abis liat sesuatu yang nyembul . Ampe nggak kedip,"
"Sayang, kan kalo kedip ntar aku dosa, jadi aku nggak kedip ... "
"Anggg ... " Intan memekik sambil memukul paha suaminya.
"Lagian itu bekas 3 laki-laki, mungkin lebih!"
Intan menoleh.
"Siapa aja?" tanyanya seriuss
"Mantan suaminya, anaknya, terus laki-laki tua itu!"
Jawabnya.
"Terus kamu nggak?"
Bintang tersipu malu, "Aku dikit doang, lah baru di pegang asi nya nyemprot." Dia tertawa.
"Tapi punya kamu lebih ughhh ... sempurna," Bintang sedikit menjawil bakpao istrinya.
"Nggak usah pegang-pegang!" ucapnya.
"Heh ... harus kamu tau, kalo rumah tangga itu harus saling berpegangan. Aku megang ini, kamu megang ini!" Bintang memegang bakpao istrinya dan sebelah lagi menuntun jemari mungil itu ke arah pyton tidur nya.
Intan dengan sengaja meremat nya kuat.
"Argghhh, Yank ... " Bintang mende*sah.
Intan menarik tangan nya sambil tertawa.
"Jail kamu," Bintang menggerutu.
"Eh, aku inget omongan kamu dulu. Yang berdoa nyumpahin lelaki tua itu meninggal OD obat kuat,"
Bintang mengangguk dan sedikit bergidik.
"Aku juga tadi ingetnya gitu, ngeri ya ucapan aku."
"Iya, kamu kayak mama loreng," Intan menutup mulutnya menahan tawa.
Bintang memeluk gemas, "iya, panggil aku papa loreng, dan aku berkata kamu akan punya banyak anak dari aku," ucapnya sungguh-sungguh.
"Enak aja, emangnya aku kucing?"
"Jangan kalah sama si Chaca, tiap kakaknya ada yg nikah dia pasti bunting. Kayak nggak mau ke saingan!" ucapnya lagi.
"Udah rejeki nya aja," Intan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Iya semoga kita juga ada rejekinya,"
"Siapa tau, yang malem, atau yang tengah malem, atau yang dini hari tadi ada yang juara!" ucapnya penuh pengharapan.
"Amin ... " Bisiknya.
"Jalan-jalan yuk?" Ajak Bintang.
"Kemana?" Tanya Intan antusias.
"Ke kasur, terus ke puncak gunung berakhir di puncak nirwana, baru nanti kita makan di luar hotel!" Bintang mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar. Mereka tertawa terbahak-bahak. Lalu seketika hening di gantikan suara per*cinta an yang meresahkan.
Bersambung β€β€
Like
komen
favoritnya ya.
please πππ
__ADS_1