Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Kunjungan Mantan


__ADS_3

...--oOo--...


"Apa? sakit tau!" Bintang memekik antara sakit dan kaget.


"Aku belum KB, dan kamu nggak pake pengaman!"


"Duh, gimana kalo jadi?" Intan meronta frustasi.


"Nggak akan. Aku pernah baca ibu yang sedang asi ekslusif sama aja dengan KB alami!" katanya menenangkan.


Intan menatap ke arah si suami yang sedang mengemudi sembari menerangkan tentang KB alami, seolah dia seorang sang ahli.


"Aku gampang hamil, Ang."


"Iya, tau!" Bintang menoleh sekilas.


"Takut," ucapnya pelan.


"Kenapa? kamu nggak punya suami?" raut wajah Bintang sudah terlihat sedikit kesal.


Intan menggeleng. "Anak-anak baru dua bulan, aqiqah nya aja baru terlaksana dua minggu kemarin." Intan mengingatkan sang suami soal aqiqah anak-anak mereka yang telat. Karena suaminya itu ingin mengurus semua sendiri namun dengan kesibukannya yang hilir mudik. Dan juga memenuhi panggilan dari pihak kepolisian atas kasus terbakarnya kedai nya beberapa bulan lalu. Yang sudah mulai terlihat titik terangnya. Salah satu pelakunya tertangkap dan mengaku jika dia di suruh oleh seseorang. Siapa? ya tentu saja mantannya yang geram melihat kebahagiaan Bintang sekarang.


Hingga acara aqiqah anak-anak mereka harus terus di ulur.


"Nggak akan, percaya deh!" katanya.


Intan diam namun sebuah kalimat membuat si suami menginjak rem sekaligus, hingga tubuh mereka sedikit terhuyung.


"Kamu bilang apa?" Bintang memposisikan tubuhnya menyamping menghadap si istri.


"Ka-kamu jangan dulu minta, kita lihat bulan depan jadi nggak?" katanya tanpa berani memandang wajah Bintang.


Suara tawa sinis terdengar di pendengaran nya. Intan menoleh. Suaminya sedang menatap nya dengan raut wajah kurang sedap di pandang.


"Ya?" Intan kembali meyakinkan.


Bintang merentangkan tangannya lalu menarik leher si istri sedikit menekannya. "Enak, aja kalo ngomong. Mana baru aja aku buka puasa! aku mau beli lagi minuman yang kemarin,"


"Ang ... jangan gila deh. Kan biar aku yakin, yang tadi jadi nggak?" Suaranya merengek.


"Ya udah kamu pake pengaman , gimana?"


"Ogah, nggak enak." Bintang menolak mentah-mentah.


Intan mengerutkan keningnya.


"Apa? kok kamu tau itu nggak enak? Jangan-jangan udah pernah nyoba?"


Bintang langsung menggelengkan tangannya membantah apa yang baru saja istrinya tuduhkan.


"Kan itu sensasinya, lah masa harus di perjelas lagi!" gerutunya.


Intan hanya diam kemudian menghela nafas.


"Masih jelas loh, kesiksa nya mual pusing terus rasa sakitnya kemarin waktu brokoli si kembar." Intan menatap wajah suaminya dengan memelas.


"Biarin, biar aku aja yang wakilin semua!" Bintang pasrah.


"Emangnya bisa di transfer?" Intan memukul paha si suami.


Bintang terbahak. "Ya nggak lah, kan kamu yang hamil masa aku yang ngerasain?" lalu dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Bunda.


"Eh, tadi kok asi nya sedikit ke isepnya?" kembali terdengar pertanyaan luar biasa dari suaminya.


Intan berdecak sebal. Apa harus di bahas? kadang suaminya itu sungguh luar biasa pemikiran dan lontaran pertanyaannya.


"Sebelum mandi udah di sedot si kembar terus aku pumping juga!" jawabnya.


"Pantes, aku kebagian tetes terakhir!" kekehnya lucu.


Intan memutar bola matanya jengah. "Apa sih kamu? ngaco,"


*


*


Mobil pun memasuki pekarangan rumah orang tuanya.


Terlihat dua mobil langit dan Dafa terparkir berjejer.


"Wah, ada kumpul keluarga besar nih?" Bintang berkata sambil menuruni mobilnya.


Saat mereka menaiki anak tangga menuju teras, ponsel Bintang berbunyi namun yang membuat Intan penasaran raut wajah Bintang yang terlihat kaget.


"Siapa? angkat dong!" Intan berdiri di ambang pintu menuju ruang tamu rumah mertuanya.

__ADS_1


Bintang mendongak menatap si istri. "I-iya, duluan aja kamu masuk. Aku mau jawab telepon dulu!" titahnya.


Intan pun masuk dengan rasa curiga dan penasaran tentunya. Namun suara Wulan yang menangis membuat nya masuk tergesa-gesa.


Rumah besar Ayah begitu ramai malam itu, pagi pun demikian.


Namun Bintang banyak terdiam, bahkan ledekkan Ayah dan yang lainnya tak membuatnya emosi seperti biasa. Intan bingung suaminya itu terlihat lebih banyak diam dan melamun.


"Ang?" Intan memanggilnya saat selesai menidurkan Damar dan Wulan. Menghampiri Bintang yang sedang duduk di balkon kamar.


Bintang bergeming. Kemudian Intan duduk dan menepuk pundak suaminya.


Bintang langsung terlonjak kaget.


"Ngagetin," dia memegangi dadanya yang memang terasa berdebar.


"Kenapa sih? dari malem aku liat kamu ngelamun terus!"


"Banyak hutang ya?"


Bintang menoleh. "Iya, salah satunya itu. Kenapa kamu mau sama laki-laki yang banyak hutang kayak aku?"


"Soalnya kamu yang ngajak nikah duluan. Seandainya ada CEO yang lamar aku juga. Ya, pasti milih CEO."


"Woyyyy ... Intan, Kalo ngomong minta di ci*pok." Bintang menarik tubuh si istri ke dalam rangkulannya.


Intan hanya terkikik lucu melihat suaminya geram.


"Yank?"


"Ya?" Intan yang sedang dalam pangkuan nya menunduk, dan pandangan mereka bertemu.


"Ehm ... Naya mau jenguk kamu, boleh?" Ucapnya ragu namun tak sanggup menyembunyikan nya lebih lama lagi.


Intan diam dengan pemikiran yang tentu saja tidak bisa di tebak Bintang.


Lalu Intan tersenyum dan mengangguk.


" Boleh, suruh dia dateng aja ke rumah kita!"


"Serius?" Bintang masih tak percaya, bisa se mudah itu istri nya mengijinkan mantan rivalnya itu untuk melihat anak-anak mereka.


"Iya, aku mau pamerin benih-benih unggulan kamu." Intan menahan senyum sambil menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa marah? emangnya kamu mau ngapain sama dia?" Intan kembali menatap dengan mata yang menyipit.


"Eh, nggak. Ish, kamu kalo nanya sering bikin jebakan," Bintang kembali memeluk erat tubuh si istri.


Intan pun mengusap punggung si suami dengan sayang. Rasa was-was dan cemburu tentu saja ada, dia juga wanita biasa yang punya perasaan sentimentil. Namun terlalu picik jika menyikapi hal sepele seperti ini. Dia juga tidak bisa menolak niat baik seseorang.


*


*


Siang itu di rumah mereka.


Intan sudah membuat anak-anak nya terlihat menggemaskan dengan pakaian terbaik mereka. Lalu dia sudah berdandan dengan sangat cantiknya.


Bintang yang merasa kesal juga ketar ketir saat melihat apa yang istri nya lakukan dia rasa berlebihan.


"Biasa aja, Yank. Kayak mau kedatangan Presiden aja," Bintang yang terus melihat si istri mondar-mandir di depan cermin merasa kesal.


"Biar mantan tau, aku pantas ada di samping kamu! duh, badan aku nggak mungkin balik lagi ini. Aku udah sesek nafas pake korset!" keluh nya memegangi dada.


Bintang bangun dan menghampiri sang istri.


"Buka korset nya, ngapain kamu nyiksa badan sendiri? aku nggak suka. Buka!" Bintang mencoba membantu si istri untuk melepaskan korset yang katanya membuat sesak itu.


"Jangan, biar gelambir ini nggak terlalu keliatan."


mohon nya menahan tangan Bintang yang akan membuka korset yang melingkari perutnya.


"Aku nggak suka ya, kalo kamu mengeluhkan keadaan bentuk badan kamu sekarang. Itu tandanya kamu menyesali kehamilan, dan otomatis kamu nyesel adanya anak-anak?" gerutunya.


"Nggak, bukan gitu maksud aku, Ang. Aku nggak mau kamu malu dengan keadaan badan aku sekarang?"


"Kenapa? aku nggak malu, kamu istri aku, perjuangan kamu hamil dan ngelahirin si kembar nggak bisa aku balas dan bayar dengan apapun. Jadi untuk mengapresiasi itu semua aku pengen kamu hidup enjoy, nggak ngeribetin masalah yang nggak seharusnya jadi beban pikiran. Yang penting kamu sama anak-anak sehat. Cuma itu, susah?" Katanya.


Intan terdiam lalu sebuah mobil terdengar berhenti di depan rumah mereka. Dan ketukan di pagar pun terdengar.


"Dia dateng, kamu udah cantik pake banget special pake telor dua dan pisang buat cuci mulut. Aku bonus ini nanti mayones nya." Bintang tertawa saat mendapat sebuah pukulan dari si istri.


Mereka tengah berada di ruang tamu. Setelah sebelumnya melihat si kembar di dalam kamar. Naya terlihat cantik dengan celana kulot berwarna coklat dan kemeja ketat berwarna hitam yang membalut tubuh sintal nya. Anak-anak nya terlihat lucu, apalagi Altaf yang tumbuh menjadi anak yang tampan dengan wajah yang memang benar-benar tampan dengan hidung mancung, mata sedikit sipit dan bibir yang penuh dengan lesung pipi di sebelah kanan membuat wajahnya benar-benar tampan.


Sedangkan anak keduanya yang berusia hampir dua tahun itu terlihat jauh berbeda dari Altaf kakak lain ayahnya itu.

__ADS_1


Bintang sesaat tadi berbisik jika anak kedua mantannya itu persis almarhum bapak nya. Lelaki tua yang merebut Naya darinya.


"Asli kamu nggak pingsan, Mas?" Naya kaget saat mendengar cerita Intan bahwa Bintang yang membantunya melahirkan saat di dalam mobil.


"Nggak, malah takjub aja." Jawab Bintang sekenanya.


"Dulu, waktu Chaca kamu pingsan kan?"


"Iya, kok tau? itu kan sebelum aku ketemu kamu!"


"Kan heboh. Cowok cakep pingsan lagi nungguin adiknya lahiran!" katanya tertawa.


"Hahaha ... padahal itu sebelum aku jatuh di depan kamu, terus kamu obatin aku di ruang obat itu kan? besoknya kita janjian ketemuan ... " Kalimat Bintang terhenti saat menyadari Wajah si istri terlihat sinis. dengan tangan yang sedang memegang stick keju mengepal.


'Mati, make keceplosan lagi' batinnya saat pandangan mereka bertemu. Melihat tangan Intan yang mematahkan stick keju seolah itu adalah dirinya. Bintang hanya mampu meringis matanya memancarkan permohonan maaf.


Naya masih tertawa tanpa dosa, mengingat kejadian dulu.


"Eh, udah lama juga ya? aku kayaknya harus pulang ke hotel deh. Kasian juga itu mobil sama supir hotel kelamaan nunggu."


Intan yang sedang mematah-matahkan stick keju pun mengalihkan pandangannya dari wajah Bintang yang rasanya ingin dia cekik dan SmackDown di situ juga. Bisa-bisanya si suami nostalgia kisah cinta di depannya.


Intan ikut bangun dan membantu Naya bersiap-siap untuk pulang. Dia membekalkan brownies buatannya tadi karena Altaf begitu menyukai nya tadi.


"Makasih, Mba. Aku benar-benar nggak nyangka bisa di terima. Aku pamit ya!" Naya menyalami Intan dan Bintang bergantian.


"Eh, anakku mana? Altaf? ayo kita pulang! kamu mau Mama tinggal di sini?" Panggilnya pada putra sulungnya.


Intan melihat bocah laki-laki tadi kembali masuk ke kamar anak-anak nya.


Intan mengintip di celah pintu. Altaf sedang mengusap pipi Wulan. Lalu Intan merogoh ponsel yang ada di saku tunik nya. Mengabadikan momen itu dengan jepretan kamera ponselnya.


"Tante, boleh cium adek cantik?" katanya berbisik.


Intan mendekat dan duduk di tepian tempat tidur.


Mengangguk sambil mengangkat Altaf ke atas tempat tidur. "Boleh, mau cium atau mau peluk sekalian?" tawarnya yang langsung di anggukkan si bocah tampan itu.


Sebuah gambar Altaf yang memeluk Wulan sambil mencium terlihat begitu manis dan lucu.


Bintang dan Naya ikut tersenyum melihat adegan manis di depan mereka.


"Mama pulang ya? Altaf mau di sini aja?" Naya tertawa, lalu Altaf pun turun dari tempat tidur dan berjalan mendekati Ibu nya.


Mereka pun meninggalkan rumah Bintang menuju hotel karena jadwal kereta nya menuju Jakarta itu subuh. Jadi Naya ingin anak-anak nya istirahat cukup.


*


*


Bintang mendekati si istri. Dengan gugup karena meyakini Intan marah. Terdengar si istri yang sedang mencuci piring itu terdengar berisik.


"Yank, kok gombrang gombreng nyuci piringnya? jangan pada di aduin dong, ntar pecah loh?" ucapnya mencoba becanda.


Intan menoleh sinis, matanya seolah menguliti sang suami. "Ya, buang aja. Kalo udah rusak ya buang. Cari lagi yang baru, atau pake yang lama yang masih bagus!" ucapnya ketus.


"Ngomong apa sih kamu?" Bintang menggaruk tengkuknya yang merinding melihat sorot mata sang istri.


"Oh lupa, kamu nggak akan nyambung kalo ngobrol sama aku. Kalo sama yang tadi, yang badannya bagus walaupun udah punya anak dua, kamu pasti nyambung. Duh ..." Intan semakin kesal dan mematikan keran air dan hendak pergi ke kamar anak-anak.


"Aduh, bau gosong?" Bintang menggoda nya.


Intan berbalik kembali.


Bintang mendekat dan mencium pipinya. "Ini, kebakar api cemburu ya?" godanya lagi.


Intan tak menanggapi, namun wajahnya memerah antara malu dan kesal. Iya, yang suaminya bilang benar. Dia cemburu, dia panas hati. Mendengar percakapan suaminya tadi, dia menyadari Naya masih memiliki ruang di memori si suami.


*


*


Saat Intan masuk ke dalam kamar. Terdengar Bintang menerima panggilan dari ponselnya yang berbunyi.


Lalu ketukan di pintu terdengar.


"Yank, aku pergi sebentar." Katanya tanpa masuk ke dalam kamar.


Intan terperanjat lalu berlari keluar kamar mengejar Bintang. Namun suaminya itu sudah mengeluarkan mobil dan pamit hanya dengan sebuah klakson.


Intan mematung di teras. 'Ada apa? kenapa suaminya terburu-buru.' lalu tangisan si kembar terdengar. Intan langsung berlari menutup pagar dan masuk ke dalam rumah.


Bersambung ❤❤❤


Sayang kalian semua😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2