Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Hukuman kamu


__ADS_3

...---oOo---...


Sore keesokan harinya.


Bintang kembali beraksi. Menghentikan motor pinjamannya itu di depan rumah milik istrinya.


Setelah kemarin dia begitu tersiksa karena si pyton susah kembali tidur. Dia yang tidak berniat bermain solo pun harus rela pangkal pahanya pegal.


Intan sedang di kerumuni beberapa ojol.


"Kenapa?" tanyanya pada salah satu ojol.


Tadi ampir pingsan. Untung nggak nimpa wajan.


Bintang langsung menegang, menerobos kerumunan itu. Benar saja Intan sedang terduduk di kursi plastik dengan gelas air minum di tangannya.


Wajah pucat dan titik-titik keringat di keningnya terlihat jelas sekali. Istrinya memang tidak baik-baik saja.


"Bubar-bubar. Orang pingsan jangan di gulung kayak gini. Makin sesek dia," Bintang mencoba mengusir kerumunan para ojol itu.


"Siapa, Lu?" bentak seorang driver.


"Gue, La ... "


"Lala? temennya si dipsy? sok banget, Lu. Kayak lakinya aja. Apa lu juga ngincer tuh janda?"


"Janda?" Bintang menggeram dan ubun-ubun nya tiba-tiba mendidih.


"Iya, dia janda. Lakinya kagak tau kemana!"


"An*jir ... lu sotoy, bang*sat!" Bintang sudah tak tahan dia merangsek, menarik kerah jaket ojol berwarna oren itu.


Sialnya, lawan yang tak sebanding itu malah membuatnya terjungkal. Dia di hajar oleh si ojol berjaket oren itu.


Beberapa pukulan Bintang dapatkan, karena dia tertindih dan susah untuk bergerak. Satu cara jitu melintas di kepalanya. Bintang yang sedang menerima tamparan membabi buta. Langsung menggerakkan tangannya dan meraba sesuatu milik lawannya. Setelah mendapatkan tujuannya dia rem*at kuat hingga si lawannya menjerit keras.


"An*jir," Dia bangun dan berjingkrak memegangi barang berharganya.


Orang-orang yang tadi berusaha melerainya langsung bengong dan beberapa menahan tawa.


Bintang yang masih tergeletak di lantai teras itu tertawa puas melihat rivalnya kesakitan dan pergi dari sana sambil memaki.


Seorang ojol berjaket hijau membantunya bangun.


"Di apain telornya?" tanyanya terbahak-bahak.


"Nggak di apa-apain. Cuma di rem*at aja biar pecah!" Jawabnya asal di sertai tawa.


*


*


Pandangan nya bertemu dengan wajah pucat Intan yang juga tengah menatapnya.


Bintang tersadar, topi dan maskernya sudah hilang ntah kemana. Tentu saja penyamaran nya terbongkar. Sial baru dua hari sudah terbongkar, tapi lebih bagus. Batinnya.


Semua ojol pun membubarkan diri setelah Intan berkata tidak sanggup untuk meneruskan jualan karena kepalanya yang pusing.


"Ngapain kamu di sini?" Tanyanya sinis sambil mencoba membereskan dagangannya.


Bintang tak kalah sinis menatapnya. "Mau beli tukang seblak," jawabnya penuh penekanan.


Intan menoleh dengan mata yang waspada.


"Apa?" tanyanya ulang.


"Ngapain kamu kabur?" Bintang menjawab dengan sebuah pertanyaan yang sulit Intan jawab.


Tak mendapatkan jawaban, Bintang merangsek semakin dekat.


"Apa?" Intan mundur beberapa langkah.


"Aku, tanya ngapain kamu kabur?"

__ADS_1


"Suka-suka aku, kamu pusing kan ngehadepin sikap aku? kepala kamu mau pecah? aku denger sendiri apa yang kamu bilang sama Bunda!"


"Terus dengan kamu kabur, nggak nambah pusing kepala aku?"


"Bikin kerjaan aku nambah, harus nyari kamu. Kedai kita yang kebakaran. Ke kantor polisi bolak balik di panggil ... "


"Kenapa?" Sahut Intan memotong perkataan Bintang.


"Ini kebakarannya di sengaja, ada yang jail. Saat aku lagi nyungsep bingung, kamu malah ninggalin."


"Kamu sehat? mau lari kemana lagi? aku jabanin." Tantangnya.


Intan diam menunduk. Mereka duduk di atas karpet. Setelah selesai membereskan dagangannya.


...***...


"Otak kamu kemana sih? tega bener gituin suami sholeh kayak aku!"


Intan menatapnya setengah geli.


"Jawab?" Bintang menggeser duduknya semakin mendekat.


Intan tak menjawab malah meneteskan air mata.


"Kan, nyesel pasti?" Bintang merangsek memeluk Istrinya.


Ah, demi apapun nikmat sekali. Tubuh cungkring itu selalu mampu menghangatkan hati dan tubuhnya.


Tunggu, tubuhnya? tentu saja si pyton yang paling merindukannya.


"Maaf, aku malu. Malu sama kamu!" Intan berkata sambil terisak.


"Malu?"


Intan mengangguk.


"Nggak pake baju aja kamu udah biasa, kenapa malu?" Bukan suatu kata yang menenangkan malah semakin membuat Intan malu.


"Denger aku, liat!" Tangannya menarik dagu itu hingga mendongak dan membuat mata mereka saling tatap.


"Aku bisa gila kalo seminggu lagi aja nggak bisa nemuin kamu." Bintang mengusap pipi Intan yang berurai air mata.


"Aku malu, ngerasa nggak pantes buat kamu. Apalagi waktu liat postingan medsos Chaca tentang kedai yang kebakar. Aku bingung harus apa?"


"Dateng, tenangin aku. Kasih aku semangat, bukannya kabur. Aku butuh kamu ... "


"Aku nggak bisa apa-apa," Intan memotong ucapan Bintang.


"Seenggaknya aku pulang ke rumah dalam keadaan capek, kamu ngasih aku pelukan. Itu sangat membantu, aku nggak minta apa-apa. Nggak nuntut apa-apa juga. Cuma satu, dampingi aku. Ini pulang capek malah nyari kamu ke sana ke sini, ampe aku punya misi bunuh diri!" Dia meluapkan semua yang dia pendam.


"Bunuh diri?" Intan membeo.


"Kamu nggak buka status aku, nggak baca chat aku, panggilan nggak di jawab." Keluhnya.


"Emang ada apa? aku males liat status kamu. Kebiasaan dari dulu kalo bikin status buat nyindir orang doang. Aku tau kamu pasti nyindir aku."


Bintang tertawa kecil. "Itu gunanya, status buat nyindir. Kalo si target udah baca misi berhasil hapus lagi aja."


Intan hanya sanggup menggelengkan kepala.


"Jadi gimana?" Tanya Bintang.


"Apanya?" Intan menatap bingung.


Bintang mengeluarkan kertas yang di lipat kusut.


"Apa-apaan ini?" Kertas itu dia acungkan ke atas.


Intan menatapnya. "Kenapa kusut?" Intan mencoba merebut kertas berlogo Pengadilan itu.


"Oh, iya Maaf." Bintang menurunkan kertas itu.


Mengusapnya sebentar sebelum Srekk ... Srekkk Bintang malah menyobek kertas itu hingga menjadi beberapa bagian.

__ADS_1


"Kok?"


"Apa? kamu mau aku tandatangani gitu? cuma ada di mimpi kamu. Sampai kapanpun nggak akan aku lakuin. Kamu hak paten milik aku." Bintang membuang sembarangan sobekan kertas itu.


Lagi, lelaki itu membuka jaket ojol yang membuatnya gagal ganteng karena aroma dari jaket itu.


Sebelum nya dia merogoh saku jaket itu mengeluarkan sebuah borgol.


"Mau ngapain?" Intan panik saat Bintang memasangkan pada tangan kirinya.


"Kamu, apaan sih?"


"Kamu ... kamu ... nama aku Aang. Ulangi!" Bentaknya.


"Iya, kamu mau apa sih Ang? jangan aneh-aneh. Aku nggak akan kabur!" Mohon nya.


Bintang yang tengah memasangkan borgol itu ke pergelangan tangan nya juga, seketika mendongak. "Kan, emang udah ada niat mau kabur lagi! Untung aku beli ini, di tukang mainan yang pake gerobak."


"Niat banget!" Intan masih meronta.


"Antisipasi, kamu suka di luar pemikiran aku."


"Ang ... Ampun, nggak lagi kabur." Wajah cantik itu mengiba.


Bintang yang tak tahan langsung mendekat menyusupkan telapak tangannya ke tengkuk sang istri. Dan menyatukan kening mereka.


"Kamu harus di kasih pelajaran, biar nggak macem-macem lagi." Dia kembali merogoh saku jaket dan mengeluarkan botol beling kecil yang Intan tau apa isinya.


"Ang ... " Matanya membola.


"Apa? kamu tau ini obat apa? aku mau balas dendam. Aku siksa kamu!'"


"Please, Ang ... Jangan, nanti kamu .... Ang.... "


Intan menjerit saat Bintang meminum habis satu botol Jamu kuat itu.


Hanya seringai mesum yang Bintang lihatkan.


"Waktunya aku kasih hukuman buat Istri yang sering kabur-kaburan. " Lalu mendekat kemudian memagut bibir yang dia rindukan sebulan lebih itu.


Intan yang kesusahan karena tangannya yang ter borgol dengan tangan suaminya itu. Tak mampu melawan. Hingga Bintang merebahkan tubuh sang istri hingga terlentang di atas karpet. Dengan sekuat tenaga Bintang menumpukan tubuhnya di atas sang Istri.


"Ang ... "


"Ang, ung, ang, ung. Berisik, diem."


"Kamu ... Ini Sore,"


"Emang, sore malem subuh pagi. Kamu bakal sibuk. Makanya jangan suka siksa suami, sekarang giliran kamu yang aku siksa." Bintang meringis, jamu itu sudah bereaksi di tubuhnya.


Intan memejam takut, melihat mata suaminya yang menyalang seolah siap menerkamnya sekarang juga.


"Pengen pipis," Intan mencoba menahan wajah Bintang yang siap memagutnya.


"Ck, alasan." Gertaknya.


Saat Bintang menggesekkan kuat miliknya hingga si istri meringis karena tekanan kuat dan keras di bawah sana.


**


Tok ... tok ...


"Permisi, Mas... "


Tiba-tiba ada sebuah suara yang membuyarkan kefokusan dirinya.


Bersambung ❀❀


Aku masih tunggu kalian di rumah sebelah.


"Lelaki terbaik" napennya Siti Sartika 🀭🀭πŸ’ͺ


Yang udah mampir makasih, lope2 pokoknya πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


Sayang kalian semua😘😘😘


Sehat dan bahagia buat semua 😘😘


__ADS_2