Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Sakitnya Bintang


__ADS_3

...----oOo----...


Sore itu


Bintang tengah memandangi Intan yang sedang berdiri di pinggir jalan dengan dua buah kantong kresek cukup besar di tangannya.


Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.


Bintang tersenyum melihat wajah Intan yang begitu ceria.


"Hai, kamu sehat dan bahagia selalu ya. Tunggu aku sebentar lagi," gumamnya.


Bintang beberapa kali menemui Intan. Tapi gadis itu masih bersikap sinis padanya. Tak apalah mungkin waktu yang akan mampu melunakkan hati Intan.


Tanpa Intan sadari si pemesan seblak nya setiap seminggu dua kali dengan jumlah 50 porsi itu adalah pesanan Bintang yang di wakilkan karyawan nya di market milik Ayah nya itu.


Setiap hari jumat, Bintang selalu menyempatkan diri melihat Intan di pinggir jalan menunggu karyawan nya yang mengambil pesanan seperti biasa.


Tapi sepertinya Bintang sudah tak kuat menahan rindu nya untuk Intan.


Dia turun dari mobil nya, berjalan mengikuti Intan masuk ke dalam gang menuju kostan nya.


Banyak informasi yang dia dapatkan dari Faisal soal Intan.


Hingga jadwal ke pasar pun Bintang mengetahuinya.


Dia masih tersenyum di belakang Intan yang sedang berjalan dengan begitu ceria, sesekali dia menyapa orang yang dia kenal.


Saat masuk ke dalam halaman kostan, Pandangan nya tertumbuk pada sosok pria tinggi berkacamata, yang sedang berdiri di dekat etalase jualan Intan.


Dia tersenyum menyambut kedatangan Intan.


Terlihat mereka saling tertawa dengan riangnya, tanpa mereka ketahui kegiatan nya itu membuat hati seseorang sakit bukan main.


Bintang menatap dengan wajah yang memucat, kala melihat Intan tertawa lepas kepada seorang pria yang dia ketahui adalah Edo.


Lelaki patah hati itu berjalan lunglai meninggalkan lokasi di mana hatinya hancur dan harapannya seolah pupus.


Intan nya itu sepertinya sudah menemukan titik kebahagiaan, yang tidak bisa dia berikan.


"Sepertinya kamu udah ketemu dengan pengganti Dani, setidaknya kamu nggak akan aku sakitin lagi. Semoga kamu bahagia terus Tan!" Bintang menggumam sebelum dia memasuki mobilnya.


*


*


Bintang tiba di Bandung hampir pukul delapan malam. Bukannya pulang ke rumah dia malah menyibukkan diri di gerai makanan miliknya.


Saat sedang berbincang dengan salah satu pegawainya dia merasakan dada nya sakit, kepalanya juga sedikit pusing. Setelah merasakan tubuhnya semakin tidak kondusif dia pamit pulang pada karyawan nya.


Sedikit memaksakan mengemudikan mobilnya, sempat beberapa kali berhenti karena merasa tidak kuat, akhirnya Bintang sampai di rumahnya tepat lewat tengah malam. Mengemudikan mobilnya dengan sangat pelan karena kondisinya yang tidak baik. Sehingga waktu yang dia habiskan hampir dua jam yang biasanya cukup dengan 40 menit saja. Bajunya sudah basah di penuhi keringat dingin.


Bintang keluar dari mobil dengan tertatih, terlihat mang asep sedang merokok di pinggir taman langsung mendekat saat melihat anak majikannya terseok-seok keluar dari mobil.


"Den, Den Bintang kunaon? kenapa?" tanyanya panik.

__ADS_1


Bintang tak mampu menjawab bahkan kini tubuh nya seakan melayang kepalanya semakin berputar dan dia ambruk di depan teras rumah nya.


"Pak... Bu... tolong, ini den Bintang pingsan!" Mang Asep berteriak sambil mengguncang tubuh Bintang.


Tak lama pintu terbuka Ayah dan Bunda terlihat panik keluar.


"Kenapa?"


"Nggak tau, Pak. Tadi pas dateng langsung jatuh pingsan.


" Bantu saya Mang, bawa ke kamar nya."


"Bun, telpon dokter!" Ayah menginterupsi sang Istri.


Ayah dan Mang Asep menggotong tubuh Bintang menuju kamarnya.


Merasa pilu saat mengangkat tubuh anaknya yang terasa sangat ringan. Anaknya memang sedang giat-giatnya dengan usahanya. Kini dia mulai menunjukkan kemampuannya dalam segi bisnis.


Bahkan hanya dalam beberapa bulan mobil keluaran Korea pun sudah mampu dia beli dari hasil keringat nya.


"Bin ... " Ayah menepuk-nepuk pipi anaknya.


Bintang mengerjap lalu sedikit menggumam.


Bunda datang dengan segelas teh manis hangat di tangannya.


"Kak ... " panggil nya.


Bintang membuka matanya lalu meringis memegangi dadanya.


"Kenapa?" Ayah ikut memijat dada anaknya.


Bunda langsung menyodorkan segelas teh panas yang dia bawa. Di bantu sang Ayah dengan menopang tubuh anak keduanya itu.


Bintang meminumnya dengan perlahan, lalu kembali di baringkan.


Mbok datang dengan seorang dokter paruh baya.


Setelah memeriksa dokter menyarankan untuk di opname di rumah sakit namun Bintang menolak keras.


Bintang di diagnosa asam lambung, darah rendah dan gejala typus.


Dengan berat hati Ayah dan Bunda mengalah, menuruti kemauan sang anak untuk beristirahat di rumah.


*


*


Intan terbangun tepat di tengah malam, dia mimpi Bintang mengetuk pintu kamar nya, meminta maaf dengan raut wajah sedih.


Gadis itu terduduk di atas kasur lantainya.


Dia juga merindukan lelaki yang beberapa bulan ini masih sering datang menemuinya, tapi entahlah rasa egois mempertahankan rasa sakit hati masih dia junjung tinggi.


"Aku juga kangen, Mas. Maaf tapi sakit hati aku masih jelas terasa. "

__ADS_1


Kemudian dia berjalan ke sebuah rak kecil dan mengambil dompetnya, dia menghitung hasil dia berdagang hampir 3 bulan sudah hampir 9 juta. Dia merasa begitu berhutang budi pada Faisal karena telah membayarkan rumah sakit, melunasi hutang kredit nya pada om nya, dan menyediakan sebuah etalase untuk nya berjualan.


Tanpa dia tau itu semua Bintang yang melakukan.


"Sedikit lagi, aku temuin kamu Mas. Untuk membayar hutang aku bekas kakang." Intan kembali membereskan uang itu ke dalam dompet dan dia selipkan di antara baju-baju nya.


Dia kembali membaringkan tubuhnya sambil terus membayangkan Bintang.


Dia mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.


"Maafin aku, Mas. Yang terus menghindar dari kamu. Aku cuma ingin membuktikan uang bukan incaran aku, aku tulus cinta sama kamu!"


Lalu dia kembali berusaha memejamkan matanya, memaksakan untuk segera tidur.


*


*


Pagi hari


Bunda masuk ke dalam kamar Bintang.


"Kak, sarapan dulu. Biar bisa makan obat. Nih Bunda bikin bubur ," Bunda masuk ke dalam kamar anaknya.


"Kak, aduh masih demam kamu." Bunda memegang kening anaknya yang memang terasa panas.


"Makan dulu sayang," Bunda menggoyangkan sedikit tubuh putranya.


Namun setelah Bintang mengeluarkan suaranya Bunda nya menutup mulutnya dan lari menuju sang suami.


Menuruni anak tangga dengan terburu-buru, Bunda menghampiri sang suami yang berada di meja makan.


"Ayah ... Ayah ... liat dulu anaknya, itu anaknya kenapa?" Bunda menangis histeris.


"Ada apa?" Ayah berdiri ikut panik.


Bunda hanya menggeleng menangis sambil kembali menaiki anak tangga, diikuti sang suami di belakangnya.


Masuk ke kamar Bintang melihat putranya sudah duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


"Kenapa, Kak? apa yang kerasa?" tanya Ayah panik.


Bintang yang terlihat pucat dengan tubuh menggigil hanya menggeleng pelan.


Bersambung ❤❤


Like


Komen


Favoritnya


Mau cepet di temuin kan sama Intan? biar cepet uhuyy ya, jadi sebelum puasa udah tamat🤧🤧


kalo sesuai kerangka🤣🤣 kalo besok-besok nggak tau. Suka tetiba ada ide kalo kalian komen, makanya komen nya harus sesuai cerita biar aku ada ide tambahan 🤣🤣( dih dah sukur komen juga Itti nggak ada akhlak🏃‍♀🏃‍♀)

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu untuk kalian😘😘


Doa juga buat bocil ku ya, dia ikut ke serang dari kemarin panas🤧🤧.


__ADS_2