
...❤❤❤...
Intan menautkan tangannya yang dingin, memandang wajah suaminya yang juga tengah menatap ke arahnya. Bintang tersenyum dan mengangguk kecil. "It's okay, semua akan baik-baik aja. Kamu tenang," bisiknya di telinga sang istri sambil mengecup pelipis Intan.
"Eh, sudah pada datang. Ayok, silahkan duduk." Ihsan menyapa semua orang yang baru saja datang.
"Ini, dokter Edwin. Beliau yang akan membacakan hasil dari test yang sudah kita lakukan.
Bintang menggeserkan kursi untuk istrinya duduk, sedangkan Dinda melihat semua interaksi dari lelaki yang begitu sulit dia dekati sejak dulu.
" Baik, saya yang di tunjuk untuk membacakan hasil dari test DNA yang sudah berada di tangan saya."
Sambungnya setelah Ihsan mempersilahkan nya memulai pembacaan hasilnya.
Semua orang diam, Bintang merangkul pundak istrinya sesekali mengusap lengan istrinya. Mencoba menenangkan walaupun sebenarnya dia juga takut akan hasil yang akan mempersulit hidupnya.
Dinda sesekali menatap nyalang ke arah Intan yang sedang di tenangkan oleh lelaki yang terkenal playboy itu.
"Kenapa dia bisa luluh oleh seorang gadis kampungan seperti itu!" batinnya .
Dokter mulai menyobek kan dokumen rahasia yang masih tersegel itu, menarik beberapa lembar kertas dari amplop berlogokan salah satu rumah sakit besar di daerah kota Bandung, di mana dirinya bekerja.
"Bagaimana, dok?" Bintang sedikit mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah dokter, sedikit mengintip kertas-kertas itu. Yang demi apapun dia tidak mengerti dengan Istilah-istilah kedokteran itu.
Dokter bernama Edwin itu memandang ke tiga orang dewasa di depannya, Orang-orang yang bersangkutan dengan hasil test DNA itu.
"Di lihat dari hasil keseluruhan, menyatakan bahwa hasil nya tidak ada satupun kesamaan gen dalam tubuh Ananda Denis. Jadi dinyatakan bahwa Hasilnya adalah negatif. Bapak Bintang bukan ayah biologis dari Ananda Denis.
Bintang dan Intan seketika menghela nafas lega, sedari tadi mereka merasakan degup tak tenang dalam dada masing-masing. Kini sesuatu yang mengganjal dan menyesakkan itu seolah hilang menguap begitu saja. Di gantikan dengan kelegaan luar biasa, selanjutnya paru-paru itu menghirup udara segar.
Brakkkk ....
" Pasti ini ada permainan kalian, dokter ini pasti sudah sekongkol dan hasilnya telah kalian manipulasi!" teriak Dinda histeris.
Semua orang hanya diam melihat tingkah Dinda yang berteriak tidak tau malu.
"Maaf, Bu. Ibu tidak boleh sembarangan menuduh, lagian kami para dokter di sumpah untuk pekerjaan kami ini," Dokter Edwin seperti ikut geram terpancing emosi, bagaimana bisa profesi nya di lecehkan dan di tuduh yang bukan-bukan.
"Saya, bisa melaporkan Ibu sebagai orang yang melecehkan dan memfitnah praktisi medis!" ancam nya.
Dinda yang malu dan marah dalam sekaligus, langsung menyambar tas Kermes nya dari atas meja. Berjalan tergesa-gesa keluar dari restoran sambil menggerutu tak jelas. Sebagian orang bahkan menatapnya sebagai sebuah tontonan.
"Selesai, Saya harus kembali ke rumah sakit!" Dokter Edwin memasukkan kembali dokumen itu ke dalam amplop coklat dan memberikannya pada Bintang sebagai bukti yang harus di simpan.
*
*
Mereka keluar dari restoran dengan hati yang senang, lega, dan bahagia tentunya.
"Aku lega, untung aja itu bukan anak kamu, Mas!"
Bintang yang sedang mengemudi melirik sesaat pada istrinya.
"Kamu nggak percaya kalo aku nggak pernah main pistol-pistolan?" geramnya.
"Pistol-pistolan?"
"Iya, yang nembak air di mana aja!" Bintang masih bernada kesal.
__ADS_1
"Eh, bukannya kamu suka di karaoke ya? itu nggak masuk main pistol-pistolan?" Intan mencoba memancing keributan dengan suaminya.
Lalu seketika mood lelaki itu berubah drastis, dia tidak suka masalalu yang di ungkit-ungkit.
"Udah nggak usah ngomongin yang dulu, bikin mood ku anjlok,"
"Kok kamu yang marah?'
Mobil itu berhenti seketika, Bintang menginjak pedal rem dengan sekali pijakan.
" Marah? kamu selalu ungkit-ungkit masalalu. Kamu korek-korek, bongkar-bongkar semua. Udah aku kepancing kamu marah,"
Intan diam dengan raut wajah menekuk.
"Aku beda nggak kayak kamu. Buat aku masalalu udah aku gunting biar nggak ngikutin terus masa depan. Tapi buat kamu masalalu masih kamu tarik-tarik terus, nggak akan ada selesai nya. Buat aku yg dulu, sekarang, sama besok beda. Nggak badan sangkut pautnya bikin pusing." Bintang menghempaskan punggungnya ke sandaran jok mobil.
"Maaf," ucap Intan pelan. Dia tak menyangka jika ucapannya bisa se fatal itu pada suaminya.
Bintang tak menjawab, entahlah dia sedang lelah. Pembangunan Kedai makanan yang akan menjadi pusat usahanya mengalami sedikit masalah. Dan juga beberapa masalah di market yang dia pegang belum menemukan jalan keluar.
"Ang,"
Lelaki itu kembali melajukan mobilnya, sedikit kencang tanpa mendengar keluhan istrinya yang ketakutan.
"Kita pulang ke rumah aja," Intan yang sebelah tangannya memegangi pegangan tangan di atas pintu mobil dan sebelah lagi, memegangi safety belt yang melingkari tubuhnya.
Bintang masih tak bergeming, namun bibirnya sedikit menahan tawa.
Ini semua adalah idenya, dia ingin sekali merajuk dan mencoba di rayu oleh sang istri.
Mobil mereka berhenti di depan rumah, Bintang langsung turun dan membuka kunci gembol pagar hitam itu.
Intan masih diam serba salah, ini pertama kalinya dia melihat Bintang marah dan mendiamkan nya.
Setelah masuk ke dalam rumah, Bintang langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Intan berjalan ke arah dapur membuka kulkas.
Berjongkok di depan kulkas yang terbuka. Intan memilah masakan apa yang akan dia hidangkan untuk suaminya.
Dia mengambil kotak yang berisikan daging ayam yang sudah di ungkep, kemudian dia mengambil sayur sawi putih dan kotak yang berisikan beberapa potong tahu.
Intan berniat menghidangkan ayam goreng dan tumis sawi putih dengan tahu.
Tak membutuhkan waktu lama, dua menu itu sudah terhidang di atas meja makan kecil itu.
Berjalan masuk ke dalam kamar, dia melihat Bintang yang sudah terlihat segar tengah duduk setengah berbaring sambil mengulir ponselnya.
"Ang, kita makan dulu yuk!" ajaknya.
Bintang hanya menoleh sedikit, laku bangkit dari posisinya. "Mandi dulu sana, biar segala pikiran negatif hanyut." Katanya dengan nada dingin sambil keluar dari kamar.
Intan menatap punggung suaminya yang hilang di balik pintu.
"Tumben, kamu marah ampe segitunya. Ishhh ... nyebelin," keluh nya sambil menggulung rambutnya dan mencari jepit jeday kesayangannya.
Saat membuka laci nakas mencari jepit dia melihat botol kamu yang pernah Mentari berikan padanya.
Sebuah ide muncul di kepalanya, sepertinya malam ini akan sedikit melelahkan. Tapi hanya dengan cara ini suaminya akan luluh dan membutuhkan dirinya.
Intan melihat ke arah pintu, kemudian dia membuka tutup botol kamu itu. "Nggak berbau," Gumamnya.
__ADS_1
Intan segera masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri dengan singkat.
Mengenakan sebuah daster sedikit minimal dan terbuka di bagian pundaknya. Biasanya suaminya akan senang jika dia mengenakan jenis pakaian yang memperlihatkan pundak dan lehernya. Memasukan botol kecil itu ke dalam saku daster nya.
Keluar dari kamar menuju meja makan, di mana suaminya sudah duduk dengan masih menyibukkan diri dengan ponselnya.
Mereka makan dalam diam, setelah selesai Bintang bangun dari duduknya.
"Bikinin aku kopi, mau ngerjain laporan market!" katanya sambil berjalan ke arah meja kerja yang tak jauh dari ruang TV.
Intan mengangguk kecil.
Menuangkan satu sachet kopi kesukaan suaminya ke dalam cangkir, sambil sesekali melihat ke arah suaminya, Intan memasukan satu cup tutup botol jamu itu.
"Oh, Ang. Maafin aku, abisnya kamu ngambek!" Gumamnya sambil mengocek sendok di dalam cangkir kopi itu.
Berjalan mendekat lalu menyimpan secangkir kopi itu, lalu dia berjalan meninggalkan suaminya yang sudah sibuk di depan laptop.
*
*
Belum tigapuluh menit, Bintang merasakan dadanya berdegup kencang. Tubuhnya terasa panas dan gelisah.
"Anjir, ngapain lu bangun? "
"Gue pengen lu, di bujuk. Bahkan bini gue lupa janjinya pagi tadi yang mau ngemanjain lu!" Bintang menekan sedikit miliknya yang sudah mengeras.
Berusaha memfokuskan diri pada jajaran table jurnal di hadapannya. Nyatanya membuat badannya semakin gelisah dan terasa semakin panas.
"Apa ini? " Bintang bingung dengan keadaan tubuhnya.
Bagian bawahnya semakin mengeras dan area paha nya pun sudah semakin pegal karena hampir sepuluh menit tidak layu juga malah pyton nya semakin keras.
Masabodoh dengan akting ngambeknya, Bintang berjalan tergesa menuju kamar. Ini harus terselesaikan, dia merasa kesakitan dan pegal tentunya.
"Yank ... " panggil nya saat ikut merebahkan tubuhnya di belakang Intan.
"Yank !"
"Huum ... " Intan menjawab dengan suara yang dia buat parau, agar lebih menjiwai akting pura-pura tidur nya.
"Aku, mau!" dengan cuek nya dia meminta jatah pada sang istri.
Intan berbalik.
"Mau? "
Bintang mengangguk dengan menggerakan alisnya.
"Aduh ... " Bintang menekan kuat miliknya.
"Bocor ini, yank ... ehmm ... "
Intan menahan senyum, saat melihat Bintang suaminya blingsatan membuka pakaiannya dan juga miliknya dengan tergesa-gesa.
Bersambung ❤❤
like, komen, favoritnya.
__ADS_1
Maaf telat, anak ku sakit😖😖🤧🤧