Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Malaikat tak bersayap


__ADS_3

...--oOo--...


Intan termenung dengan tangan yang menempelkan ponselnya di telinga. Pipinya basah oleh air mata.


"Yank?" panggil Bintang di sebrang sana.


Intan masih terpaku, pipinya yang sudah basah oleh air mata dia usap kasar.


"Bawa dia kesini, Ang!" sautnya pelan.


"Kamu, yakin?" tanya Bintang.


Intan mengangguk seolah suaminya dapat melihat keseriusannya.


"Ok, aku bawa dia. Setelah selesai urus semua!"


Panggilan pun berakhir. Intan masih termenung, terkadang dia kembali menitikan air mata. Hatinya sakit, ngilu dan perih secara bersamaan. Baru dua bulan menjadi seorang Ibu, dirinya merasa semakin mudah menangis untuk urusan yang agak sentimentil.


**


Pernah dia menangis saat Wulan untuk pertama kalinya muntah, cairan susu keluar dari mulut dan hidung bayi tersebut. Intan panik dan akhirnya menangis. Bintang yang sedang mengecek kedainya pun pontang-panting pulang ke rumah.


Sama-sama belum berpengalaman membuat mereka mudah panik, dan mungkin terlihat lebay untuk orang-orang yang sudah berpengalaman.


Intan akan sedih jika salah satu anaknya ada yang menghisap asi sebentar, dia bahkan sempat berpikiran negatif pada dirinya sendiri.


"Mungkin asi ku nggak enak, Ang. Apa keluarnya sedikit gitu?" pertanyaan absurd di jam 1 malam. Dia mondar-mandir saat Damar yang biasa menyusu lama, hanya menghabiskan waktu tak sampai 10 menit.


Bintang yang baru tertidur satu jam, harus meladeni keluh kesah si istri, dengan segala pikiran anehnya.


"Enak, kok.!" katanya sambil bersandar di kepala ranjang dengan mata yang setengah memejam.


"Enak? kamu tau gitu?" Intan yang sedang menimang Damar menatapnya heran.


Bintang tak menjawab, dia asal bicara tadi.


"Ang?"


Bintang yang sudah semakin lemas karena kantuk yang tak bisa di tahan. Lalu membuka matanya sekuat tenaga.


"Kenyang kali, tiap anak-anak buka mata kamu sodorin dada kamu, tiap ngerengek dikit kamu sodorin. Kenapa sih demen banget gelonggongin asi buat mereka?" Bintang membenahi bantalnya bersiap akan segera pergi tamasya ke alam mimpi.


"Ish, aku takut mereka lapar!" gerutunya kesal, berjalan menuju box bayi di pojok kamar mereka.


Bintang tak menanggapi, dia bahkan sudah mendengkur halus.


Intan merangkak menaiki tempat tidur yang sudah di tiduri Bintang.


"Aku takut, mereka kekurangan asi. Mereka kan kembar, takutnya masih lapar gitu!" jelasnya dengan raut wajah khawatir.


"Hmm ... " Bintang hanya mampu menggumam, roh nya sudah tarik ulur antara obrolan si istri dan juga pintu alam mimpi.

__ADS_1


"Aku takut asi nya nggak enak, soalnya tadi kan kita makan cuma telor ceplok sama sayur katuk! si mamang sayur nggak jualan, kamu di suruh belanja lupa, bisa-bisanya punya market tapi lupa titipan ayam sama ikan tongkol aku!" gerutunya.


"Apaaaa? kamu mau *ont*l? jangan, Yank. Aku ngantuk banget asli, kayak biasa aja besok pagi-pagi. Ya?" gumamnya tak jelas. Intan hanya terkikik geli mendengar perkataan suaminya yang setengah sadar.


Dan banyak lagi tingkah absurd dari pasangan itu selama dua bulan menjadi orang tua.


*


*


Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah nya.


Intan yang baru selesai memandikan si kembar keluar dengan mendorong stroller yang berkursi dua khusus bayi kembar.


Matanya kembali terasa panas saat melihat suaminya turun dari mobil.


Bintang berjalan mendekat. Dengan tangannya yang menuntun seorang balita tampan dengan perban melekat di kening atas sebelah kanan. Juga dengan mata lebam keunguan.


"Yank?" Bintang membuyarkan lamunannya.


Intan menutup mulutnya mencoba menahan tangis namun tetap saja air mata itu mengalir tak dapat di hentikan.


Perempuan itu berjalan mendekat dan langsung berlutut di hadapan anak kecil yang terdiam di depannya.


"Hai, ketemu lagi!" katanya dengan isakan kecil.


Si anak terdiam dengan tatapannya yang kosong.


Bintang yang mengambil alih stroller si kembar menggiring istrinya untuk masuk.


"Altaf? mau makan?" tanya Bintang membuyarkan tatapan sedih Intan. Dia ingin mengalihkan kesedihan si istri yang terus memandang iba bocah lelaki itu.


*


*


Ya, bocah lelaki itu adalah Altaf. Bintang mendapat telpon bahwa mobil yang di tumpangi Naya dan anak-anak nya mengalami kecelakaan. Tabrakan beruntun yang melibatkan 3 buah mobil. Naasnya mobil ya g di tumpangi Naya berada di tengah-tengah terhimpit mobil sedan dan mobil box yang mengalami rem blong. Naya yang duduk di belakang Memangku si kecil meninggal di tempat karena terhimpit, beruntungnya Altaf hanya mengalami sobekan di dahi atas dengan mata yang lebam. Dia terlindungi oleh airbag, sedangkan sang supir hotel masih kritis di rumah sakit.


Bintang yang di hubungi pihak kepolisian, karena nomor terakhir di kontak panggilan Naya adalah nomor dirinya.


Miris mendatangi rumah sakit, dia melihat Altaf duduk di depan ruang mayat. Di mana Ibu dan adik kecilnya sudah terbujur kaku.


Bintang memelankan langkah kakinya. Di sentuh pundak anak kecil itu. Altaf mendongak dengan wajah memar dan perban di dahi atasnya.


"Om?" panggilnya.


Bintang tak mampu berkata apa-apa, dia bingung dan takut membuat anak di depannya sedih dan kacau.


"Ibu ... nggak bangun, abis di obatin dokter terus tidur. Kalo adik ... " Perkataannya terhenti saat Bintang menariknya ke dalam pelukan.


"Mau beli ice cream?" tawarnya.

__ADS_1


Altaf menggeleng. "Tadi, Ibu bilang jangan sering makan icecream." Lalu matanya menatap Bintang yang berjongkok di depannya. Dan tangis nya pun pecah. Altaf meraung memeluk Bintang, tangannya dia lingkarkan di leher Bintang.


"Aku, takut. Om!" katanya pilu.


Bintang menepuk punggung kecil itu. Harus menjadi


sebatang kara di usianya yang baru 4 tahun. Di mana umur segitu sedang manja-manjanya.


Mereka duduk di kafetaria rumah sakit itu, setelah Bintang mendengar penjelasan dari pihak kepolisian. Lalu mengurus semua mengenai pemakaman Naya dan putranya. Sebagai wanita yang single juga tanpa kerabat, Bintang sebenarnya bingung. Namun jenazahnya harus segera di urus, akhirnya dia menelpon sang Istri.


Mencoba menerima apapun reaksi si istri. Namun nyatanya di sana hanya terdengar isak tangis saja. Bintang sudah ber negatif thinking. Bahwa istri nya akan marah atau apapun. Nyatanya dia malah meminta membawa Altaf ke rumah mereka.


Istrinya memang malaikat tak bersayap begitu lembut dan tulus. Beruntung? tentu saja. Rasanya sifat menyebalkan dirinya itu hanya Intan yang sanggup memaklumi dan menyeimbangkan nya. Yang lain tidak akan kuat menghadapi segala tingkah nyeleneh dan gilanya.


Membawa Altaf ke rumah malah membuat si istri semakin sedih. Matanya sembab, bukan karena begadang dengan si kembar. Tapi tak henti menangis memikirkan nasib Altaf.


*


*


Ini hari ke tiga Altaf berada bersama mereka.


Malam itu mereka berada di meja makan. Intan yang sedang menimang Damar sambil tersenyum. Memandang Altaf yang sedang bermain dengan Wulan yang berada di stroller di sebelah kursi nya.


"Wulan cantik, tante!" katanya sambil menatap Wulan yang sedang menatapnya juga.


Lagi Intan mengusap air mata yang turun begitu saja. Apalagi kalo bukan Altaf, mengingat beberapa hari lalu saat penguburan Naya dan anak ke duanya. Altaf hanya termangu di pinggir makam. Memegangi satu bungkus bunga di tangannya, dengan wajah yang terlihat biasa dia menaburkan bunga itu ke makam Ibu dan adiknya.


Intan menunggui Altaf yang masih menabur bunga di makam itu. Bintang memayungi mereka, sedangkan si kembar berada di rumah Ayah dan Bunda. Mentari dan Langit baru saja pamit pulang.


"Bu?"


Intan yang sedang berbicara dengan Bintang langsung menoleh saat Altaf akhirnya mengeluarkan suara di makam Ibu nya.


"Nenek sama ateu Nia pergi berdua, Ibu sama adik. Terus aku sama siapa? abang sama siapa Bu?" rengekan khas anak kecil akhirnya keluar. Ternyata selama ini Altaf menahan kesedihan nya.


Intan langsung berjongkok.


"Ada, Amih sayang. Altaf punya Amih, Papi, adik Damar dan Wulan. Altaf nggak sendiri!"


"Altaf kenapa nggak di ajak Ibu?" Tangisnya semakin kencang.


Tak tahan lagi Intan pun memeluknya dan ikut menangis. Dia tau persis apa yang di rasakan Altaf. Dia pun sama sebatang kara jika tidak menikah dengan Bintang. "Jangan bicara seperti itu, Altaf punya Ampuh, punya Papi. Ya?" dia usap wajah si anak.


Altaf hanya mengangguk kecil.


"Makasih, tante!"


"Amih," Intan meralat ucapan si anak.


Altaf tersenyum. "Terimakasih, Amih!"

__ADS_1


Lalu mereka kembali berpelukan.


Bersambung ❤❤❤


__ADS_2