
...❤❤❤❤...
Bintang tengah menyimak rapat laporan dari beberapa divisi, tentunya bersama Abangnya yang dia minta mengatur jam rapat karena menjadi model dadakan.
Saat ketukan pintu terdengar, dan seorang pegawai market masuk.
"Permisi, Pak. Maaf menggangu, Bu Intan pingsan ... "
Bintang yang sedang membaca kertas-kertas laporan di tangannya seketika menoleh dan berdiri.
"Di mana sekarang?"
"Di ruangan Bapak," jawab karyawan nya itu.
Tanpa menunggu lama dan ijin dari Langit, dia berlari menuju ruang nya.
Membuka pintu dengan sekali gerakan, Bintang melihat istrinya tengah duduk terlentang di sofa ruangannya.
"Yank," Bintang duduk menghampiri.
Intan membuka matanya, wajah pucat dan berkeringat itu menoleh.
"Kenapa?"
"Pusing banget, tiba-tiba keleyengan." Adunya.
"Ya udah kita ke rumah sakit,"
"Belanjaan aku beresin dulu, di rumah udah pada abis."
"Ck, ntar lagi."
"Buruan, terusin belanjaan aku. Pengen bikin bakwan pake sosis Sultan itu yang lagi viral. Pengen banget,"
"Hadeuh, ada-ada aja. Nanti aku kasih sosis king punya aku," godanya.
Intan memukul pelan lengan suaminya. Lalu merosot membaringkan tubuhnya di kedua paga suaminya.
"Tuh, kan. Masih mikirin bakwan sosis Sultan. Yuk, sekarang!" Bintang mengusap kepala istrinya.
"Bentar, pusing banget!" Keluh nya.
Bintang lalu menoleh saat pintu ruangan nya terbuka. Seorang karyawan membawa segelas teh manis panas.
Lelaki itu membantu istrinya bangun, untuk sekedar meminum teh itu.
"Ang," Intan kembali memejam kan matanya. Dia kembali di hantam rasa pusing hebat.
Tak mau ambil resiko Bintang segera menggendong istrinya itu menuju mobilnya. Beberapa orang melihat keadaan nya. Tak terkecuali Langit yang baru akan ke ruangan nya.
"Bang, gue bawa dulu Intan ke rumah sakit!" Pamitnya.
Langit hanya mengangguk mengerti.
*
*
__ADS_1
Di rumah sakit.
Intan masih di periksa oleh seorang dokter, Bintang tak meninggalkannya sedikitpun.
"Sepertinya, Ibu hamil. Lebih jelasnya saya akan merujuk ke dokter SPOG." Terangnya.
Intan dan Bintang saling pandang dan haru bahagia langsung terasa di hati mereka masing-masing.
Bintang mengusap punggung tangan Intan yang dia genggam.
"Ang?" Wajah Intan seketika memerah dia takut tapi juga begitu antusias.
Suaminya itu hanya mengangguk, mencoba memberi semangat. Seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
Akhirnya tangis bahagia pecah di ruang periksa dokter poli kandungan itu.
Intan di nyatakan positif hamil dengan usia kehamilan 4 minggu.
Setelah menerima rentetan nasihat dan beberapa obat penguat kandungan juga vitamin. Mereka pun pulang dengan tangan yang saling menaut. Buncahan kebahagiaan seolah meletup-letup di dalam dada mereka. Moment ini yang mereka tunggu-tunggu.
"Yank!" Saat mereka di dalam mobil.
"Makasih, kita jaga dia sama-sama. Apapun keinginan kamu ungkapin jangan di pendam aku usahain lakuin semua." Bintang menarik istrinya dalam pelukannya berkali-kali mengecupi kening sang istri. Tangannya turun mengusap perut itu yang untuk kedua kalinya terisikan calon buah hati mereka.
"Pengen apa?" Bintang bertanya.
"Nggak ada, aku lemes. Pengen tiduran,"
Bintang pun mengatur letak jok yang diduduki sang istri, mengambil bantal dan selimut tipis di jok belakang.
Setelah posisi istrinya terlihat nyaman, Bintang pun mulai melajukan mobilnya dengan sangat perlahan.
*
*
Kabar bahagia itu terdengar oleh seluruh keluarga. Bunda langsung melakukan panggilan video, rasa harus jelas terpancar dari wajah tuanya itu. Beliau meminta maaf karena baru bisa pulang satu atau dua bulan kedepan setelah terapi Ayah selesai.
Keesokan harinya tepatnya hari Sabtu, dua mobil berhenti di depan rumah Bintang. Ya siapa lagi kalo bukan keluarga kakak dan adiknya. Mereka datang dengan begitu banyak makanan sehat yang biasanya di butuhkan oleh ibu hamil. Juga ada beberapa buku tentang kehamilan.
Rumah itu ramai, riuh akan suara para keponakan yang berlarian dengan cerianya.
Riwayat keguguran nya itu, membuat Bintang begitu khawatir. Dia tidak ingin kehilangan lagi. Bahkan setiap malam dia tidak bisa tidur nyenyak, selalu memeriksa apakah istrinya membutuhkan sesuatu, atau ada yang istrinya itu keluhkan .
"Ang, udah. Tidur sana, bukannya besok kamu mau ke market? nggak enak sama Abang. Kamu udah ampir dua minggu di rumah. Aku nggak apa-apa, dia lebih kuat dari kakaknya." Intan berusaha menyuruh suaminya tidur, sudah hampir jam dua dinihari tapi Bintang masih memijat lembut kakinya, bulak balik membuatkan minuman hangat.
"Aku tidur, kalo kamu tidur." Bantahnya.
Intan mendengus, bagaimana dia bisa tidur jika siang hari dia di paksa terus tidur dan istirahat, membuat malamnya dia mengalami insomnia.
"Aku nggak apa-apa," katanya lagi.
Kini Bintang merebahkan tubuhnya, memang benar dia ngantuk, hanya saja trauma itu masih jelas di ingatan nya. Bagaimana calon buah hati itu gugur di depan matanya. Bahkan warna darah merah pekat itu masih membayangi nya.
Intan merangsek ke dalam pelukannya, pelukan hangat suami Slengean nya itu, membuatnya begitu hangat, nyaman, dan merasa terlindungi.
Kini suaminya itu bak seorang perawat, apapun dia siapkan, bahkan menunggui istrinya mandi pun dia lakukan, takutnya istrinya terpleset atau membutuhkan sesuatu. Kamar mandi menjadi tempat paling mengerikan saat ini untuk Bintang. Setiap Intan berkata akan ke kamar mandi, dia yang sedang melakukan Zoom meeting pun, langsung loncat menghampiri dan mengikutinya.
__ADS_1
Mereka pun saling berpelukan dan tertidur.
*
*
Hampir dua bulan lebih usia kandungan Intan.
Benar nampaknya kehamilan ini tidak se payah ngidam di kehamilan Intan. Wanita itu bisa beraktivitas seperti biasa, hanya sering merasa cepat capek. Bintang sedikit lega apalagi istrinya itu tidak mengalami mual dan muntah bahkan semua makanan masuk dengan lancar ke perut istrinya tanpa ada drama muntah-muntah seperti kehamilan pertama.
"Aku berangkat ya," Bintang berpamitan di teras rumah mereka. Mengecup kening istrinya lama, sedikit menunduk dia mengecup bibir sang istri yang ber lipstik pink merona.
"Aduh, aku kangen banget sama ini, ini juga." Katanya sambil mengusap bibir dan area bawah milik istrinya.
Tentu saja hampir sebulan dia menahan semua, demi menjaga buah hati mereka. Sesuai anjuran Dokter untuk menahan dulu sebelum janin benar-benar kuat.
"Sabar, tiga minggu lagi. Dia tiga bulan, dan kamu udah boleh nengok dia." Intan membawa tangan suaminya mengusap perut ratanya namun sudah terasa mengeras di bagian bawahnya.
Dia juga tau suaminya begitu tersiksa, menahan has*rat ynag biasanya dia curahkan tiap malam atau di waktu lamanya paling seminggu sekali. Tapi kini sudah sebulan lebih dia berusaha kuat menahan. Memang ada bantuannya di beberapa malam karena melihat suaminya yang gelisah karena ketegangan yang tak juga reda. Intan pun ikhlas membantunya mencapai puncak dengan cara lain. Tapi Mereka menginginkan kegiatan ber*cinta yang sebenarnya.
Bintang menunduk dan mencium perut istrinya.
" Sehat ya anak Papi, segera kita ketemu. Jagain Mami juga," bisiknya.
Intan hanya mampu tersenyum dan mengusap lembut kepala suaminya yang tengah melakukan obrolan dengan sang calon buah hati mereka.
"Ang, kalo ke makam Ibu boleh?"
Bintang yang sedang memakai helm langsung menoleh.
"Jangan yank, ke makam saat hamil nggak baik. Kenapa kamu bosen?" tanyanya khawatir.
Intan mengangguk lemas.
"Mau kemana? aku anterin,"
"Kalo ke panti asuhannya. Mas Dani, boleh?" tanyanya.
Bintang sedikit menghela nafasnya yang tiba-tiba berat. Beberapa malam yang lalu dia mendengar istrinya mengigau menyebutkan nama mantan terindahnya itu. Dia juga yakin istrinya mungkin sedang merindukan laki-laki yang sudah beda dunia itu. Ijin ke makam pun sepertinya alasan agar dia bisa berkunjung ke peristirahatan terakhir lelaki yang hampir menjadi suami dari istrinya itu.
"Nggak boleh ya?" Intan kembali berucap, wajahnya seketika terlihat murung.
"Ok, boleh. Kapan? aku anter. Nanti pulangnya aku jemput lagi!" Akhirnya dia mengalah, menuruti permintaan istrinya yang sedang mengandung calon buah hatinya itu. Menjaga agar emosi nya stabil dan tidak terlalu banyak pikiran.
"Sekarang, bolehkan?" Intan terlihat antusias.
Bintang mengangguk pasrah, membuka helmnya karena tidak jadi mengendarai motor nya.
Dia melihat istrinya yang sedikit berjingkrak senang.
Meringis dan berteriak.
"Hati-hati, Yank. Kamu bawa bayi kita itu,"
"Seseneng itu mau ke tempat bersejarah," gerutunya kesal. Sambil masuk menukar kunci motor dengan kunci mobil.
Bersambung ❤❤❤
__ADS_1
Like komen dan favoritnya.
Lope... lope... buat kalian semua, sodara online kuh😘😘😘. Sehat dan bahagia ya buat kita semua🥰🥰🥰