
...--oOo--...
Bintang mengecup kening Intan yang terlelap, sebelum beranjak dari tempat tidur.
"Semua akan selesai, kamu jangan pikir yang aneh-aneh terus. Cukup aku yang aneh, kamu jangan!" Bintang berbisik dan kembali mengecup kening istrinya yang sudah nyenyak.
Lelaki itu keluar dari kamar masih bertukar pesan dengan Rijal, dia berkonsultasi atas masalah yang dia hadapi.
Sebuah keputusan untuk melakukan tes DNA dia ambil, Bintang yakin itu bukan putranya. Dari segi fisik juga bisa terlihat jelas.
Bintang membuka laptop melihat beberapa pekerjaan yang terbengkalai karena musibah yang menimpa istrinya.
Tak terasa sudah hampir petang, dan dia tidak ingin Intan melewatkan makan malamnya. Tidak ingin masa penyembuhan itu semakin lama, dan kecemasan nya yang berkepanjangan.
Memasukan kembali laptop ke dalam tas ransel favoritnya. Bintang berjalan ke arah dapur, menghangatkan berbagai macam masakan yang Bunda nya kirim.
Selesai dia pun masuk ke dalam kamar, melihat Intan tidur dengan posisi tidak begitu baik di lihat oleh dirinya yang sedang puasa kegiatan panas.
"Deuhhh, ini mancing mulu." Dia menutup dress rumah yang tersingkap hingga paha itu terlihat jelas.
"Yank, udah malem. Makan dulu yuk!" Bintang setengah berbaring mengusap pipi Intan.
"Aduh. Kamu demam, Yank!" Bintang beringsut untuk membingkai wajah istrinya. Memang terlihat pucat dan berkeringat.
"Ang ... "
"Iya, iya apa? kita ke dokter?"
"Mau minum,"
"Ok," Bintang langsung setengah berlari menuju dapur dan mengambil satu gelas air putih dia juga membuat teh manis hangat.
Masuk tergesa ke dalam kamar, Bintang membantu Intan untuk minum.
"Dingin," keluh Intan dengan suara serak.
"AC mati kok," Bintang mendongak melihat ke atas jendela di mana AC terpasang.
Intan kembali meringkuk tubuh nya terlihat bergetar karena mengigil.
Bintang kembali ke luar mengambil kotak obat, tak lupa dia membawa beberapa potong puding untuk mengisi perut sang istri sebelum meminum obat.
"Nggak," tolak Intan saat Bintang membujuknya untuk memakan puding itu.
"Sedikit aja, Yank. Biar bisa makan obat!"
"Sesuap aja, jadi obat demam nya bisa kamu makan!" bujuknya setengah memaksa karena sendok puding itu sudah hampir menempel di bibir Intan.
Akhirnya Intan pun dengan malas memakan beberapa suap puding buah buatan mertuanya yang biasanya enak, kini dia rasa pahit.
Selesai meminum obat, Intan kembali meringkuk.
"Sini, peluk!" Intan melambaikan tangannya agar suaminya menghampiri.
Bintang masih diam di tepian ranjang.
"Meluk? meluk doang kan?"
"Iya, terus mau apa?"
"Katanya aku nggak boleh deket-deket sebelum buktiin anak itu bukan anak aku!" Bintang mengingatkan ancaman istrinya tadi siang.
"Ahhhh ... tapi aku butuh pelukan kamu," rengeknya.
Bintang meringis, "lagi butuh aja, coba tadi dia langsung dorong padahal cuma mau nyium doang!" batinnya.
"Mau nggak? kalo nggak aku mau meluk guling aja!"
"Eh, jangan mending meluk aku. Ada dua gulingnya." Bintang langsung loncat menaiki tempat tidur. Hingga tubuh Intan berguncang keras karena gerakan Bintang yang mendadak.
"Sini, Yank. Peluk aku, mau yang mana yang aku peluk? atas, bawah, apa tengah?" tanyanya asal.
__ADS_1
"Semua, aku dingin!"
"Siap, tuan putri!" Bintang langsung memeluknya erat. Dan menggumam di dalam hatinya agar pytonnya yang yang masih harus libur tidak bereaksi.
...*****...
Pagi hari ...
Bintang tersiksa semalaman, bukan karena memeluk Intan. Tapi karena dia harus menahan gejolak yang siap bangkit kapan saja.
Saat membuka mata, Bintang langsung berniat mengecek suhu tubuh istrinya. Namun pandangan dan tangannya tak menemukan istrinya.
Tubuh nya yang belum kumpul nyawa sepenuhnya, berjalan ke arah kamar mandi, namun tidak menemukan.
Keluar dari kamar mencium aroma roti bakar, dia melihat dua porsi roti bakar di atas meja makan. Dan dua cangkir dengan isi yang berbeda.
"Yank?" panggilnya.
Bintang berjalan ke arah teras belakang istrinya itu tidak ada, saat kembali ke depan rumah. Istrinya masuk dari pintu ruang tamu.
"Dari mana?"
"Dari depan, ada tukang sayur. Aku nemu ini dong!" dia mengacungkan sebuah bungkusan berisi buah pipih berwarna bening.
"Apa itu?" Bintang bertanya sambil menyeruput kopinya.
"Kolang-kaling, biasanya kan bulan puasa aja adanya. Si mamang sayur ada pesenan dari rumah sebelah katanya buat memperkuat tulang katanya, bisa buat diet juga!" terangnya.
"Apa? ngapain diet, kamu udah cung ... eh, mungil gitu! " Dia meralat ucapannya sebelum terlontar dari mulut lemesnya.
Intan mencebik.
"Katanya juga bisa buat stamina dan ehm ... "
"Wah? masa? beli yang banyak Yank!" Bintang langsung bersemangat saat mendengar kata stamina yang sudah langsung dia pahami menjurus kemana kata stamina itu, di lihat dari wajah istrinya yang malu-malu.
"Gitu aja cepet,"
Bintang hanya tertawa lalu mengelus punggung Intan yang berdiri di sebelah nya membongkar hasil buruan nya dari tukang sayur keliling.
"Kamu cari pisang nangka gih!"
"Di mana?" Bintang bertanya dengan mulut penuh roti bakar.
"Di pasar, atau di toko buah-buahan pasti ada." Intan duduk dengan wajah di buat memelas.
"Ok, mandi dulu."
Seketika Intan mengangguk senang, lalu langsung mengecup kening suaminya.
"Makasih, Ang. Kamu terbaik," ucapnya.
Bintang yang masih mengunyah roti bakarnya, langsung mendongak.
"Udah nggak demam?"
Intan mengangguk. "Udah jauh lebih enak, makasih ya kamu selalu ngurusin aku," Intan lagi-lagi mengecup Bintang.
"Iyalah, belum ada status aja aku rajin nungguin kamu sakit, apalagi sekarang kamu udah jadi istri. Yang tanggung jawabnya full aku yang nanggung." Bintang menyeruput kopinya sampai habis.
Lalu bangun dan mengecup bibir Intan sekilas, bahkan nyaris bakal seperti sebuah sambaran.
Intan hanya terkikik geli melihat Bintang berlari cepat masuk kamar, takut jika dirinya akan marah.
*
*
Bintang mengemudikan mobilnya sambil matanya melihat rentetan penjual di pinggir jalan.
Saat matanya menemukan sebuah warung buah di pinggir jalan. Mobilnya langsung dia tepikan.
__ADS_1
Berjalan dengan percaya diri dia memilih pisang terbaik. Lalu mengangkat semacam buah yang cukup besar.
Bertanya apakah buah yang dia pilih sudah matang.
Setelah sedikit memilah buah yang akan dia beli, akhirnya Bintang selesai memilih dan membayar nya.
Senyum sumringah Intan langsung terlihat saat membuka pintu rumah. Namun saat Bintang mengeluarkan satu sisir pisang, Intan langsung memejam dengan bibir yang dia lipat kuat hingga membuat sebuah garis .
"Bagus ya pisangnya, besar dan mulus. Kayak punya aku," Bintang setengah berbisik di akhir kalimat nya.
"Pisang nangka .... " Intan sedikit menekankan kata yang keluar dari mulutnya.
"Oh, iya. Sebentar ada yang lupa," lelaki itu berlari kembali ke mobilnya lalu memangku buah besar dalam dekapannya.
"Tara ... nangkanya,"
Intan terduduk lemas di kursi teras.
"Pisang nangka, Ang ...."
"Iya, ini kan pisang sama nangka. Bener kan?"
Intan mengangguk.
"Bener, tapi kamu beli pisang Ambon sama Nangka. Gusti ...." Intan mengelus dadanya.
Bintang masih mematung dengan buah nangka besar di pelukannya.
"Aduh, aku salah ya? ya udah aku makan ntar nangkanya. Kamu pake pisang nya!"
"Ang, pisang Ambon nggak bisa di bikin kolak, kamu juga punya lambung nggak akan bener makan nangka."
"Jangan sedih sayang, aku cari lagi pisang nya ya?"
"Nggak usah, kita cemilin aja pisang nya." Intan memetik pisang dari barisan nya yang rapi.
Bintang menyimpan nangka itu di atas meja teras.
"Maaf, Yank."
"Nggak apa-apa, kamu pasti gagal kalo disuruh beli pisang!"
"Huum, tapi pisang aku yang paling bener Yank," Bintang mengupas kulit itu dan memasukan pisangnya ke dalam mulut. Saat ponselnya berdering tanda notif pesan masuk.
Pisang yang masih dia jepit di mulut itu tanpa sengaja dia tekan masuk sebelum dia gigit karena fokusnya teralihkan oleh sebuah pesan.
"Oekk .... " Dia tercekat oleh pisang yang berada di mulutnya.
Intan yang asalnya menekukkan wajah nya kesal, langsung terbahak melihat kelakuan suaminya.
"Astaga. Pantes kamu marah waktu itu, Yank. Nggak enak ya keselek pisang!" ucapnya dengan mata memerah dan berair karena hampir muntah.
Intan masih tertawa sambil mengacungkan jempolnya.
"Nggak, nggak mantap ah," Bintang meringis namun tak ayal meneruskan memakan pisangnya.
"Besok kita ketemu sama si sundel buat tes DNA, kamu ikut ya! dampingi aku biar nggak ada salah paham," pintanya.
Dan intan hanya mengangguk dengan segala pemikiran yang menjejali kepalanya.
"Nggak usah mikir yang aneh, kamu suka sakit kalo mikir macem-macem. Cukup semacem aja, kita bahagia. Udah itu aja cukup," Bintang mengusak kepala Intan yang terlihat melamun menatapnya.
**Bersambung ❤❤
Like, komen.
Maaf kalo ceritanya garing ya, aku bingung menghindari kegiatan encum nya Bintang 🤭🤭
Jadi aku belok-belokin ya, semoga suka dan masih bertahan. Ini kalo kocak nguras banget otak🤭🤣🤣
Jadi siang nggak mungkin aku bisa mikir, kalian tau kan amunisi otak ku makan🤭🤣🤣.
__ADS_1
Dah lah maaf kalo nggak sesuai keinginan kalian, makanya usahain ya komennya yang sesuai jadi nada bayangan ide buat aku🤭 kagak ada akhlak banget ya udah untung mau like komen juga.
Pokoknya sehat dan bahagia buat kita semua😘**