Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Sedekah untuk janda


__ADS_3

...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


"Mas ... " Naya menghampiri Bintang yang tengah memaki dirinya.


Keadaan itu siang hari dan memang di waktu jam istirahat makan siang, banyak orang yang berlalu lalang melihat bahkan diam untuk menyaksikan kejadian terciduknya seorang kekasih yang main gila dengan om2.


"Apaaa .... " Bintang membentak nya. Baru kali ini Naya melihat dan mendengar marah dan bentakan dari Bintang yang terbiasa lembut dan manja pada dirinya.


"Dasar, cewek gatel. Kamu hehe... anjir, gilaaa... dasar gilaa ... " bentaknya lagi. Bintang mengusak rambutnya kasar. Nafasnya terengah setelah lelah memukuli dan menendang mobil mewah di depannya.


Naya mendekat semakin mendekat, "maafin aku, Mas... " Tangannya hampir menyentuh tangan Bintang yang tengah mengepal.


Bintang langsung menyentak kuat tangan Naya, hingga terhempas.


"Jangan pegang gue, najis ... udah pegang2 aki2 sekarang lu mau pegang-pegang gue?"


Naya menatap nya dengan pandangan yang menyesal, air matanya bercucuran.


"Maafin aku Mas, semua aku lakuin karena masa depan aku butuh biaya besar, bukan hanya anak ku, tapi adik ku dan ibu ku yang akan selalu membutuhkan obat-obatan untuk menunjang hidupnya."


"Dan Lu lebih baik membuka paha buat aki2 itu ketimbang berjuang merintis usaha sama gue?"


"Nyaho lu semurah itu gue nggak harus neken ego, nggak mau ngemasukin tubuh lu yang udah turun mesin itu buat malam pertama di hari pernikahan kita. Dasar eek kucing lu, eek kotok lu,"


"Cukup ... cukup, Mas."


"Cukup, emang udah cukup. Ngapain lu masih di sini? mau liatin kemesraan lu sama yang miara lu?"


"Aku terpaksa, Mas. "


"Stop ... gue mual ngedenger suara lu, tangisan lu nggak berguna, udah sana pergi lu. Bukannya lu udah nunggu si Aki? Gilaaa ... selera lu, nggak sangka gue," Bintang tertawa menghina perempuan yang sempat dia puja-puja.


Naya masih menangis, menyesal namun semua terlambat. Laki-laki di depannya sudah murka dan memang semua salah dia.


"Uang yang aku pinjem ... "


"Nggak usah, gue sedekah sama janda!" Bintang memotong ucapan Naya yang belum selesai.


"Sayang ... dia laki-laki itu?" ucap pria berumur itu mendekat sambil merangkul pinggang Naya . Postur tubuh mereka memang jomplang, lelaki buncit itu hanya setinggi bahu Naya.


Bintang yang masih tergulung emosi, seketika menoleh ke arah suara.


"Apa? apa yang di bicarain piaraan lu?" tanyanya menantang.


"Hahaha, sabar anak muda. Naya cuma bilang punya pacar tapi belum mapan, manja dan mesum nggak jelas," ucapnya dengan gaya songong.


Bintang langsung menghampiri dengan yang sudah mengepal siap menghantam tubuh pendek pria buncit itu.

__ADS_1


"Mas, udah cukup." Naya menahan tubuh Bintang garis tidak melakukan kekerasan.


"Lepas, gue harus ngasih pelajaran sama si Ateng ini. Siapa yang bilang gue mesum, Pak tua?" tanyanya dengan emosi.


"Lu? lu yang bilang gue mesum? kalo iya lu udah gue tidurin gue puter-puter tuh lubang lu. Dasar sundel, gue nahan semua buat apa? tau gitu gue masukin lu gue puter bolak-balik ngilu2 lu." geramnya dengan wajah yang semakin memerah.


"Cukup, Mas. Ucapan kamu menyakiti, aku."


"Cuihhh... terus yang lu lakuin ke gue? apa itu? becanda? prank? Lu kira gue nggak sakit hati apa? maling teriak maling lu." Bintang menimpali.


Naya sudah di tarik pergi dari situ namun sesaat sebelum masuk mobil, Naya menoleh ke arah Bintang.


"Semoga kamu dapet perempuan yang lebih baik dari aku, Mas." ucapnya lirih.


"Oh, udah pasti. Banyak yang ngantri buat gue? dan lu cuma seonggok daging empuk yang nggak tau di untung. Pergi luh, buka tuh paha lu lebar-lebar," Bintang kembali meludah, merasa jijik.


Saat mobil MVP mewah itu pergi, Bintang merosot di pinggir mobilnya, tubuhnya lemas karena marah, lapar, dan kecewa yang menimpanya secara bertubi-tubi.


*


*


Segelintir orang yang lalu lalang sedikit berbisik mengatainya. "Emang bego aja, mana ada cewek baik2 kerja di tempat pijat." Ucap salah seorang perempuan yang sedari tadi menonton acara life penggerebekan kekasih latchur itu.


Bintang yang masih lemas di pinggir mobilnya langsung berdiri, "Iya, emang gue bego! mau apa lu? mau bongkar otak gue? sini, gue dulu yang bedah otak lu. Nggak tau permasalahannya ngikut komen lu!" bentaknya pada segerombolan perempuan yang hendak mencari makan di jam istirahat itu.


Para wanita penggibah itu bergidik ngeri lalu sedikit berlari menjauh dari Bintang yang sedang mengeluarkan unek-unek makian kepada siapa saja yang menatap nya.


"Bang, satu es nya yang banyak," pesannya dan langsung di angguki si abang penjual es kelapa itu.


Grutuk ... grutuk ... grutuk, suara Bintang menggigiti es membuat si penjual linu sendiri.


"Nggak ngilu mas?" tanya si penjual itu sambil meringis menatap Bintang.


"Nggak, Bang. Otak sama hati saya lagi kebakar harus di kasih yang dingin, lagian bukan gigi saya yang ngilu tapi hati saya ngilu," jawabnya.


Si abang hanya tersenyum dia beranjak dari duduknya saat ada pembeli menghampiri.


Bintang terduduk sambil menatap bangunan ruko tiga tingkat di depannya. Terlihat mobil-mobil mewah berdatangan, dan yang turun tipe2 laki-laki tua yang puber ke dua.


"Bang, sebenarnya tempat apa sih itu?" tanya Bintang saat si Abang es kembali duduk di dekatnya.


"Tempat pijat, tapi ya begitu lah ..."


Bintang tertawa sinis paham akan yang di ucapkan pria di depannya.


"Yang punyanya warga luar katanya, di sini cuma di pantau sama anak buahnya." Terangnya.

__ADS_1


"Pijat buat kedok aja, memang ada ahli terapisnya juga beberapa, tapi selebihnya kalo ada kode yang lain ya para perempuan seksi yang melayani. Tapi ada beberapa tipe yang di bantu ngeluarin aja, kalo selebihnya ya di bawa keluar entah ke hotel atau ke mana pokoknya nggak di tempat ini." Tambahnya lagi.


Bintang mengangguk paham, "Abang tau banget, udah pernah nyoba?" Bintang terkekeh sendiri dengan pertanyaannya.


"Ahh ... sayang, Mas. Saya usaha keras gini, buat anak istri di rumah, di rumah juga nggak abis-abis. Ngapain nyari yang haram kalo yang halal jauh lebih enak. Istri saya dari keluarga berada tapi mau di ajak susah sama saya, masa saya ngecewain pengorbanannya." Kata-kata si Abang es itu seperti memberi angin sejuk, hati si abang lebih mulia dari si perempuan sundel itu. Pikir Bintang.


"Lagian sekali main di sana, 600 rb sampai satu juta per setengah jam. Saya tau dari satpam hotel yang ada di ujung jalan itu, dia tau dari salah seorang pengusaha yang minta di carikan perempuan. Dan dia yang nyari ke sini, buat si pengusaha itu."


"Uang segitu, bisa buat biaya dapur sama keperluan dua anak saya di rumah selama berhari-hari,"


"Setengah jam 600rb sampai satu juta?" Bintang berucap tak percaya.


"Iya, hebat kan? satu perempuan minimal 5 atau 10 kalo servis nya bagus sering di pilih para lelaki lapar naf*su itu.


" Sehari 10?" Bintang tiba-tiba merasa perutnya mual membayangkan si perempuan sundel melayani para pria perut buncit dan berkumis tebal seperti Pak Raden.


Bintang menutup mulutnya, saat sesuatu seperti mendesak ingin keluar dari mulutnya. "Semua masuk ke kantong si pemijat?" tanyanya lagi masih penasaran, dengan tubuh yang sudah sangat tidak kondusif.


"Setengah masuk kantong, setengah masuk ke bos." jelasnya.


Tiba-tiba Bintang sudah tak tahan dia berlari ke luar tenda es kelapa itu, lalu dirinya jongkok di pinggir selokan dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berisikan es yang baru dia minum.


Setelah merasa selesai, dia bangun dan membayar es kelapa itu, "berapa Bang?" tanyanya.


"Tujuh ribu," jawab si Abang yang juga tengah melayani seorang pembeli.


Bintang memberikan uang 50 rb terakhirnya. "Kembaliannya buat, Abang."


"Wah, makasih Mas. Semoga tergantikan berkali-kali lipat," Si Abang sangat senang hingga uang itu dia tempelkan di kepalanya.


Bintang mengaminkan di dalam hati.


πŸ¦‹


πŸ¦‹


Sore hari Intan baru pulang kerja di hari pertama nya. Dia menenteng sebuah bungkusan berisi nasi padang dan satu cup jus sirsak untuk menu makan malamnya. Hari pertama yang melelahkan namun terasa nyaman dan membuat hatinya merasa lebih ih bersemangat.


Saat semakin dekat dengan pintu kamarnya, dia melihat seseorang duduk di depan pintu kamarnya.


"Bapak? ngapain di situ?" tanyanya setelah mengetahui siapa yang tengah duduk menunduk di atas keset depan pintunya.


Lelaki itu mendongak, pandangannya tertumbuk pada mata perempuan manis di depannya.


Bersambung ❀❀❀


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🀣🀣🀣

__ADS_1


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜ kalo udah di klik love jangan di klik lagi dong zeyenkkk... haduh php kan udah nambah turun lagi nambah lagi kalian apa2an🀧🀧 eh bebas deng nggak maksa🀭🀭


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2