Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Beradu gigi


__ADS_3

...-----oOo-----...


"Hotel apa sih, Mas suka asal jeplak," kata Naya memukul paha Bintang.


Bintang pun tertawa sambil menjalankan mobilnya.


"Mau makan? aku laper."


Naya mengangguk tanda setuju, "di mana?"


"Terserah, kamu mau di mana?"


"Lagi, pengen yang pedes. Nasi ayam penyet yuk?" Ajaknya.


Bintang mengangguk, walaupun dia tidak terlalu suka makanan pedas, tapi dia mengalah untuk wanita yang dia sukai.


Mobil berhenti di sebuah rumah makan, yang katanya sambalnya juara.


Naya berbalik akan membuka pintu mobil, Bintang menahan gerakannya.


"Kamu nggak kangen aku gitu? nggak mau peluk aku dulu?" Bintang menatap perempuan yang tadi siang tersedu di tlp tapi di depannya terlihat baik-baik saja.


Naya tersenyum lalu merentangkan tangannya mendekat ke arah Bintang.


"Nah, gini dong. Jadi aku nggak kayak yang bertepuk sebelah tangan," kata Bintang sambil merangsek memeluknya.


Naya dan Bintang masih saling berpelukan, malah si bulatan empuk itu terasa menekan dada Bintang.


Bintang dengan susah payah meredam sesuatu yang mulai membuatnya gelisah.


sial, gumamnya dalam hati.


"Udah. Aku laper, " kata Naya melepaskan pelukan Bintang.


Bintang mencubit gemas pipi Naya.


"Pengen yang lama pelukannya, kamu nggak kangen aku gitu?" ucapnya sambil membuka pintu mobil keluar mengikuti Naya yang sudah berada di luar mobil lebih dulu.


"Iya, tapi nanti abis makan biar ada tenaga," katanya sambil melingkarkan tangannya di lengan kekasihnya itu.


Bintang melepaskan tangan Naya, tangannya lalu melingkari pinggang Naya yang berisi bak gitar Spanyol.


Mereka memasuki rumah makan ayam penyet itu.


Lalu memilih spot di sebuah taman di bagian terdalam restoran itu.


Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Bintang meraih tangan Naya dan menggenggamnya.


"Ceritain semua, apa yang terjadi? berbagi sama aku. Jadikan aku tempat keluh kesah kamu," kata nya sambil ibu jarinya mengusap punggung tangan Naya.


Naya menunduk tak lama bahunya bergetar, dia menangis.


Bintang yang asalnya duduk berhadapan kini malah berpindah ke sisi Naya. Dia merangkul bahu Naya yang sesenggukan. Di tariknya agar menyandar di dadanya.


"Shhttt... udah jangan nangis, kamu kayak yang lagi meminta pertanggungjawaban aku yang ngehamilin kamu," keluhnya.


Tak lama Naya menegakkan tubuhnya merogoh tas nya menarik sebungkus tisu dan menariknya satu. Melap air mata yang membasahi pipinya.


Bintang masih mengelus punggung kekasihnya itu. Tak lama pesanan mereka datang.


Sambil menikmati hidangan berbau pedas, Naya menceritakan semua kejadian yang menimpa nya di tempat kerja.

__ADS_1


"Ya intinya, aku merasa sudah memberi obat sesuai dengan yang di sebutkan dokter jaga malam itu, tapi nggak tau kenapa salah satu obat berbeda tidak sesuai dengan yang di resep kan. Dan si pasien mengalami ruam merah karena obat itu," Naya menerangkan semuanya.


Bintang dengan wajah merah padam karena sambal yang terlalu pedas, serius menyimak cerita kekasihnya.


"Jadi?"


"Aku mau buka usaha tapi bingung, Nia adikku bilang suruh aku nyoba jualan baju atau kerudung yang lagi viral. Nanti dia bantu juga jualin ke temen-temen kampusnya.Tapi lumayan modalnya kayaknya aku harus jual laptop atau mungkin HP.. "


"Jangan... jangan jual HP, nanti aku kalo ngehubungin kamu kemana?" sambung Bintang.


"Ya, kan bisa ketemuan langsung,"


"Kamu kira perjalan Bandung Jakarta cuma 19 detik?"


"Aduh, kok 19 detik?" Naya tertawa.


"Kenapa? 19 detik yang cepat dan bikin enak gitu?"


"Makin ngaco deh,"potong nya sambil meminum es jeruknya.


Bintang tertawa, membayangkan Naya ada di posisi si gadis di video 19 detik. Eh... ralat perempuan di video 19 detik itu. Ughh.... otak sialan. Batinnya menepis semua pikiran mesum terhadap kekasihnya yang melenggokkann badannya ke arah wastafel untuk mencuci tangannya.


Bintang mengekori nya, berdiri di belakang tubuh kekasihnya sambil berbisik. " Nay... aku kangen kiss kamu," pandangan mereka bertemu di cermin. Naya hanya tersenyum mendengar ucapan pria yang berstatus kekasihnya itu.


Sudah satu tahun lebih mereka menjalin kasih, namun Naya masih enggan untuk di ajak ke jenjang yang lebih serius jangankan menikah di ajak tunangan pun dia masih sering menghindar.


*


*


"Kita nonton yuk?" ajaknya saat keluar dari restoran itu.


Naya melihat jam di pergelangan tangannya.


Bintang hanya bisa mengangguk pasrah mendengar jawaban dari Naya.


"Kalo tadi kamu agak siangan datengnya mungkin bisa, kamu datengnya malem," ucapnya sedikit merengek.


"Iya, maaf tadi aku nyari pisang bulu dulu, eh... "


Bintang menghentikan ucapannya.


"Apa? kamu nyari pisang apa?" Naya mendongak menatapnya, dia memastikan apa yang di dengarnya tak salah.


"I-iya, tadi di suruh nyari pisang raja bulu, aneh emang namanya tapi asli ada loh di tukang pisang." Dia terkekeh mengingat kejadian tadi siang.


"Siapa yang nyuruh?"


"Ehm... itu, temen. Iya temen aku yang nyuruh, gemes deh masa dia nggak bisa makan obat kalo nggak pake pisang. Lucu banget kan?" katanya tertawa.


"Iya, ya ampun kayak jaman dulu aja. Temen Mas itu laki atau perempuan?" Naya bertanya.


Bintang gelagapan, kalo di jawab perempuan Naya pasti ngambek.


"Itu, laki-laki lah masa perempuan. Namanya aja Anton," jawabnya sedikit gugup.


Naya hanya mengangguk sambil tersenyum. Sepertinya dia percaya.


"Eh, itu kamu bener udah sembuh?"


"Udah, langsung tokcer salep yang kamu kasih, makasih ya!"

__ADS_1


"Mau liat nggak?"


"Nggak." Naya memalingkan wajahnya.


"Nay, aku kangen kiss kamu!" Bintang menarik bahu Naya agar kembali menghadapnya.


Tangannya menjalar ke leher kekasihnya itu, dan detik berikutnya bibir mereka sudah bertemu saling memagut dan menghisap, belitan lidah saling berkelana di mulut mereka masing-masing. Tangan Bintang yang sebelah mencengkram pinggang wanita kekasihnya itu, meremat kuat dan sesekali mengusapnya lembut.


Decakan terdengar saling bersahutan di dalam mobil Bintang yang masih berada di parkiran resto itu, di bawah sebuah pohon rindang. Entah pohon apa tak jelas, karena gelap.


Saat tangan Bintang semakin nakal naik ke dua buah dada Naya yang berisi full itu, dia remat dengan penuh gai*rah. Jangan tanyakan keberadaan si pyton dia sudah berubah menjadi satria kobra coklat, yang siap menyemburkan bisa mematikan yang akan membuat siapa saja yang terkena akan mengalami pembengkakan lebih dari sembilan bulan.


"Egghhmmm.... " Lenguh*han itu semakin keras dalam peraduan mereka, saling sahutan dan tangan saling mencengkram. Bahkan Naya sudah mencondongkan tubuhnya yang mendominasi permainan, hingga Bintang sedikit bersandar di pintu mobil, karena Naya yang mencondongkan tubuh ke arahnya.


Entah sengaja atau tidak Naya meletakkan tangannya di area pyton yang sedang menjelma menjadi kobra coklat itu, Bintang yang reflek dan kaget juga senang melepaskan tangannya dari si buah kenyal itu.


Namun tangannya malah menekan tombol pengaturan kursi, hingga kursi itu menjeblak ke belakang, posisi Naya yang menindih Bintang malah membuatnya beradu bibir hingga menghantam gigi Bintang nyang berada di bawah nya karena jok mobil yang terlentang tiba-tiba.


"Awww... " Naya bangkit sambil memegangi bibir atasnya.


"Maaf sayang, aduh reflek aku cari pegangan karena kamu megang pyton aku." Bintang gelagapan melihat naya kesakitan memegangi bibirnya.


Naya mengambil tisu di atas dasbor mobil, dan melap cairan asin yang dia rasa adalah darah.


"Ahh... berdarah." Naya merengek.


Bintang mencoba melihat, dia nyalakan lampu di atasnya, dan saat Naya berbalik ke arahnya.


"Anjir... jeding," Bintang memekik


"Apa?" Naya tak paham apa yang Bintang katakan


"I-itu maksud aku, bibir kamu makin seksi," Bintang menahan tawanya.


Saat Naya melihat ke arah kaca yang dia ambil dari tempat bedaknya dia langsung menoleh ke arah Bintang, "Ini namanya jontor, bukan seksi. Anter aku pulang, ini harus langsung di kompres biar nggak bengkak."


"Ok," Bintang melajukan mobilnya membawa kekasihnya yang bibirnya seakan seperti orang yang baru menjalani sulam bibir, jeding... eh jontor maksimal, giginya sekuat gigi domba yang keras. Karena dia tidak merasakan apa-apa.


Tapi melihat Naya yang bibirnya bengkak akibat sesapan nya yang kuat di tambah beradu dengan giginya malah membuat wanita itu terlihat lucu.


Dia tertawa di dalam hati, serasa jahat. Namun memang keadaannya menggelikan.


Naya turun dari mobil dengan raut wajah tak enak di lihat, sinis dan juga jangan lupakan bibirnya yang semakin terlihat bengkak.


"Nay... sayang, maafin aku." Bintang mengejarnya ke arah pagar.


"Iya, nggak apa-apa. Udah sana pulang udah malem," katanya dengan nada ketus.


Bintang memasuki mobil saat Naya juga masuk ke dalam rumahnya.


Lelaki itu berpikir, apa yang harus dia lakukan untuk menyenangkan Naya, dia merasa bersalah.


Lalu terlintas ide, dan dia langsung memeriksa saldo rekeningnya.


Dia mengerutkan keningnya saat melihat isi saldo nya hanya dua juta kurang, dia harus mencari pinjaman untuk memberi Naya modal usaha.


Mobil pun dia lajukan untuk pulang ke Bandung.


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣

__ADS_1


Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘


__ADS_2