
...β€β€β€β€...
Warning 21+
Ada adegan buka2an. Di anjurkan bacanya setelah buka puasa, kalo pas lagi puasa dosa di tanggung sendiri, apalagi yang gampang kepancing. Jangan coba-coba baca keadaan puasa apalagi yang LDRπ€π€£π€£π€£
"Bangun lah, Ayah tau kalian semua ngedenger obrolan si semprul," Ayah mengeluarkan suaranya.
Semua orang bangun, termasuk Mentari yang terkikik di sebelah Ayah nya.
"Obrolan mereka berat ... " Mentari kembali tertawa.
"Budak semprul beraninya dia mau begituan di kamar orang tuanya, mana formasi lengkap begini." Ayah kembali menggerutu.
"Aduh, mba Helen kasian Mas. Semoga telinganya nggak ngedenger perkataan Papi nya yang bikin merinding." Mentari menatap Dafa suaminya yang terduduk di kasur bawah sambil tertawa.
"Udah lah, anak mu itu Ayah ... sebenarnya sebelas dua belas sama kamu." Bunda kembali merebahkan tubuhnya.
"Tapi kan aku ngomong gitu sama kamu aja, Bun."
"Lah, dia juga kan sama istrinya. Cuma apesnya kita semua ngedenger."
Semua orang kembali tertawa, bahkan Cindy yang kocak pun tak mampu menahan tawanya sampai anaknya AL, menggeliat karena suara tawa mama nya.
Langit hanya tersenyum di sebrang nya.
"Kalo sampai kejadian gimana, Yah?" Mentari yang sedang menepuk paha Shera bertanya pada sang Ayah.
"Ya, terpaksa kita tonton. Itung-itung lagi muter kaset." Ayah berkata dengan datarnya.
"Astaga... Ayah, wkwkwkkw!" Mentari terbahak.
"Mas, ambil Mba Helen. Kasian," ucapnya pada sangat suami.
"Ya, udah. Gue pindah ke kasur itu," Langit bangun dan berjalan mengikuti Dafa yang mengambil Helen.
Mentari pun ikut pindah ke kasur bergabung dengan suami dan putri pertama nya. Semua orang kembali tidur.
...***...
Di kamar
Bintang sudah menggebu menciumi istrinya.
Bahkan sejak di tangga tangannya sudah tidak diam, menutup pintu pun menggunakan dorongan pantatnya. Karena tangannya tersangkut di celana sang istri, dan sebelah lagi menahan tengkuk leher Intan agar tak meloloskan diri.
Intan memukul dada suaminya.
"Ang, nggak bisa nafas. Ampun, kamu kenapa sih?" Intan bicara dengan terengah-engah.
"Nggak kuat," jawab Bintang padat dan jelas.
Intan terkikik geli, dan berjalan menuju kasur.
Bintang yang mengikutinya dari belakang, sambil membuka satu persatu pakaiannya.
Saat Intan berbalik alangkah terkejutnya dia mendapati suaminya sudah melepas pakaiannya dan menyisakan penutup pyton nya saja.
"Ang?" Intan memekik saat Bintang langsung menyerangnya hingga mereka berdua terjungkal di atas tempat tidur.
Bintang kembali memagut kasar dan tergesa-gesa.
"Ang, nyebut dulu!" Intan menjauhkan wajah Bintang dari ceruk lehernya.
Bintang mengerutkan kening nya.
"Nyebut apa?"
"Apa aja, untuk membuktikan kamu bener suami aku!"
"Hah?"
Intan mengantuk kecil, lalu membenarkan celananya yang sedikit turun.
"Aku cinta kamu, Yank!"
__ADS_1
"Bukan, bukan itu maksudnya."
"Terus?" Bintang semakin bingung, dengan posisinya yang masih mengunjungi istrinya itu, semakin bertanya-tanya.
"Baca surat apa kek, atau baca surat An nas coba!"
Bintang mendengus kesal namun tak ayal dia turuti juga.
"Tiga kali Ang," Intan kembali meminta suaminya mengulang hingga sebanyak tiga kali.
Bintang semakin tidak mengerti, namun dia lakukan semua.
"Agh, syukur."
"Maksudnya apa sih?"
"Jangan bilang kamu takut aku setyan ya!"
Intan mengangguk namun segera menutup mulutnya menahan tawa.
"Kamu! " Bintang terlihat geram, dan hendak menerkam istrinya yang masih berada di bawah tubuhnya.
"Abisnya kamu kok takut, terlalu gimana gitu!" Intan membela diri.
"Ini, buka puasa loh. Aku nggak tahan, kamu malah nyangka aku setyan!" dengusnya kesal.
Intan yang merasa bersalah menangkup wajah suaminya dan memberikan kecupan lembut di bibir istrinya itu.
Bintang memejam, akhirnya penantian nya akan berakhir. Rasanya dia tidak akan kuat terlalu lama menahan buncahan itu.
Bibir manis nan lembut nya semakin membuat darahnya berdesir bahkan otaknya serasa kosong hanya ingin segera menuntaskan apa yang dia tahan selama tiga minggu ini.
"Pelan ya," Intan memohon pada suaminya.
Bintang mengangguk matanya sudah berkabut gai*rah.
Kembali mengecupi leher itu, menyesap nya sedikit kuat. Hingga Intan tanpa sadar meleng*uh.
Tangan Bintang yang cekatan tak tinggal diam sejak tadi, mengusap, mer*mas apa saja di bagian tubuh istrinya itu. Hingga piyama Intan kancing nya sudah terlepas semua.
Bintang mendongak wajahnya saat sedang mengecupi perut istrinya.
"Gusti, kapan kamu bukain kancing aku?"
"Ini lagi celana, kenapa udah di bawah aja?"
Intan merasa aneh karena keadaan pakainya yang sudah acak-acakan.
Bintang mensejajarkan wajahnya.
"Keenakan ampe nggak sadar," kekehnya meledek sang istri.
Intan seketika menutup wajahnya malu.
"Ayo, keburu orang-orang di kamar Ayah sadar kita nggak ada," Intan menggigit bibirnya malu.
"Alasan, kamu udah nggak kuat juga kan?" Bintang tergelak.
"Ang, jam berapa ini? kamu bikin Mba kunkun minder dengan suara tawa kamu! " Intan melotot sempurna. Bagaimana tidak di dini hari itu suaminya terbahak kencang.
Bintang menulikan pendengarannya. Kembali melanjutkan kegiatannya.
Menekankan pyton nya yang sudah tegak itu, terlihat Intan semakin membuka paha nya lebar.
"Ehmm ... " Intan menggigit bibirnya saat sesuatu yang keras itu menggesek semakin nakal.
Bintang bangun membuka pengait b*ra istrinya. Dan dengan selalu gerakan tangan celana istrinya sudah lepas begitu saja.
Intan menunduk ke arah bawah saat suaminya, tidak melepaskan kain pelapis terakhir miliknya.
"Kenapa nggak di buka?" tanya nya heran.
"Kita coba sensasi ngintip," jawabnya asal.
Intan menatapnya aneh. "Oh, mau flashback?"
__ADS_1
"Eh, bu-bukan. Mau coba kalo di intipin doang bisa nggak? bukan aneh-aneh." Bintang kalang kabut, takut istrinya marah dan kegiatan buka puasnya bakalan gagal.
"Ok, aku buka. Emang kayaknya kamu pengen aku seutuhnya. Aku seksi ya?" tanyanya sombong.
Intan menghela nafasnya.
"Jadi nggak? lama!" sungut nya kesal.
"Iya dong, masa iya udah bu*gil gini nggak jadi." Bintang menunduk menghisap kuat puncak coklat kesukaannya itu.
Intan mengejanya dan tangannya reflek menjambak rambut suaminya.
Dia hisap bulatan kecil itu bergantian.
Dan dengan sekali gerakan, miliknya dia tekan masuk ke dalam milik sang istri.
"Aghh ... " Keduanya mende*sah lega secara bersamaan.
Bahkan Bintang langsung menyesap bibir istrinya itu dengan terburu-buru. Dia mulai bergerak menghentak kan tubuh nya.
Intan mengalunkan tangannya ke pundak Bintang. Bibir merah itu sedang di sesap kuat sang suami.
Gerakan hentakan Bintang semakin menjadi. Kepalanya turun dan menyesap kuat puncak coklat itu.
Intan mendongakkan kepalanya, jari-jari kakinya mengejan saat dia hampir tiba di ujung kli*maksnya.
Bintang tiba-tiba menarik lepas miliknya.
Intan yang merasa kecewa langsung menatap nyalang pada suaminya.
"Kenapa?"
"Bentar, " Bintang menarik sebuah bantal dan menyimpan nya di bawah pan*tat sang istri, kini posisi istrinya menjadi lebih tinggi.
"Cepet," Intan mengeram kesal.
Bintang kembali memasukan miliknya.
Mereka saling meng*erang, mende*sah penuh kenikmatan.
"Ampun, sayang!"
"Enak, ya ampun. Suer enak!" Bintang yang masih berpacu meraih puncaknya terus saja berceloteh.
Intan yang menyukai ketenangan, mencoba mengacuhkan ucapan suaminya itu.
"A-aku, Ang ... "
"Ok, ladies first. Aku berikut nya. Antri!" Bintang diam menikmati pele*pasan istrinya. Si pyton terasa di pijat oleh sensasi denyutan yang di hantarkan sang istri. Luar biasa nikmat nya. Batinnya.
Setelah istrinya terasa lebih tenang, dengan kuku menancap yang sudah terlepas. Bintang kembali menggerakkan pinggulnya.
"Cepet, "
"Cepet-cepet mulu, kayak yang mau beli minyak goreng langka."
Intan memejamkan matanya. Bisa-bisanya suaminya itu terus berbicara dengan kegiatan yang sedang mereka jalani.
"Aduh, Aghh ... " Hentakan terakhir dia hujamkan kuat, rasanya jika bisa dia ingin memasukan si pyton bersama telur-telurnya sekaligus.
me: mana bisa dudull ππ
Bintang menarik lepas miliknya saat di rasa telah selesai memuntahkan semua isinya. Berguling ke samping istrinya.
Degup jantung dan nafas yang menderu, membuat mereka terengah-engah namun lega.
Bintang tersenyum puas, menoleh ke arah sang istri yang memejamkan matanya.
"Yank, mau pindah lagi ke kamar Ayah?" tanya Bintang. Tidak ada jawaban, dia mencondongkan kepalanya. Ternyata Intan telah terlelap karena kegiatan syahdu mereka yang melelahkan sekaligus mengasikkan.
Bintang menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Dia memeluk istrinya, sambil mengusap perut itu berharap kegiatan mereka akan membuahkan hasil.
Bersambung β€β€
like, komen jangan lupaaaaππππ₯°π₯°
__ADS_1
sehat dan bahagia selalu ππ