Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Cemburu


__ADS_3

...---oOo---...


"Percepat aja, Bunda bukan takut sama kamu kak, tapi Bunda takut kamu yang ngapa-ngapain Intan. Nggak mau Bunda, dia kamu rusak. Nggak ikhlas," ucap Bunda dengan nada tegas.


Mereka duduk di ruang tamu. Bunda bak seorang petugas yang tengah menginterogasi.


"Intan mau aku suruh tinggal di sini Bun," Mentari menimpali.


Bunda menatap putri semata wayangnya.


"Bukan masalah di mana nya, kakak kamu banyak akal sama modus, ah... pokoknya Bunda takut, nggak tenang."


Semua orang terdiam, Bintang hanya mampu menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Terus harus gimana Bun? masa kakak harus di kerangkeng?" gerutunya kesal.


"Nah, iya. Gitu lebih bagus dan aman!" Dafa mengiyakan sambil tertawa terbahak memegangi perutnya .


Bintang yang duduk di sebelah nya, seketika menyikut Dafa, "lu kira gue odgj?" ucapnya geram.


Semua orang tertawa, tak terkecuali Intan.


"Ya udah gini aja, kamu nggak boleh keluar rumah ya Tan!" titah Bunda.


Intan mengangguk pelan. Lalu matanya menatap ke arah Bintang yang cemberut.


"Kamu mau kapan?"


"Besok juga kakak mah siap!"


"Enak aja, ya Bunda ingin pesta walaupun kecil-kecilan."


"Minggu depan gimana? gaun nya aku yang sediain."


"Catering dari Bunda,"


"Cafe aku aja Bun, cafe nya kak Tika lagi?" Dafa bertanya.


Bunda mengangguk antusias.


"Hubungi keluarga kamu, Tan." Bunda berkata pada Intan.


Intan mengangguk pelan menyembunyikan sorak sorai dalam hatinya.


Mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya lalu kepalanya mengangguk saat berpandangan dengan Bunda.


Bunda memeluknya dengan haru.


Bintang terlonjak senang, dia berjoget tanpa rasa malu. Sambil mendendangkan lagu sebuah grup.


Kawin kawin minggu depan aku kawin


Kawin kawin tidur ada yang nemenin


Kawin kawin status di KTP nanti jadi


Kawin hey kawin hey kawin hey kawin


Helen dan shera ikut dalam euforia itu.


Mereka tertawa bersama dengan suka cita dan rasa lega.


*


*


Bunda masih menarik-narik tangan putra keduanya, agar masuk ke dalam taksi online yang sudah menunggu.


Bintang masih melambai-lambaikan tangannya ke arah Intan yang berdiri di teras, rasanya seperti akan berpisah setahun. Padahal hanya seminggu itupun demi kebaikan mereka.


"Kak... ampun, kayak yang mau perang aja perpisahannya." Bunda menggerutu di pintu taksi.


Anaknya itu membuka kaca jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya melambaikan tangan sambil memberikan kiss bye.


"Ck, bikin malu. Lebai kamu kak!"


"Ini cinta Bun, kakak belum pernah ngerasain cinta ampe kayak gini,"


"Untung tepat sasaran, coba kalo ke perempuan salah! "


Bintang mendengus tak suka, perkataan Bunda nya seolah menyindir tentang masa lalunya dengan Naya.


"Yang ini mah bener Bun, perempuan baik-baik. Mana masih segel, kepala kakak ampe benjol di pukul pake remot."

__ADS_1


Bunda langsung menoleh, " sukur, kalo ampe kamu macem-macem bunda tambahin pake kunci Inggris. Asli kamu juga bunda kerangkeng jadi!" gerutunya wanita tua itu.


"Ish, Bun... calon pengantin ini bukan calon penghuni RSJ," keluhnya.


Bunda tak menanggapi, dia mengirimkan pesan pada suaminya, lalu sedikit terkekeh saat menerima balasan dari suaminya itu.


Bintang yang berada di sebelah nya sedikit mengintip dengan siapa Bunda nya bertukar pesan.


"Haduh, padahal nggak nyampe setengah jam lagi sampe rumah. Harus ya kirim-kirim pesan dari sekarang?"


Bunda hanya menoleh sesaat lalu kembali pada layar ponselnya.


...***...


Mobil taksi pun sampai di depan rumah berpagar tinggi itu.


Bunda berjalan terlebih dulu, dan Bintang mengekor di belakangnya.


Ayah sedang berdiri menghadap kandang burung kesayangannya. Dia hanya memakai kaos dan kain sarung.


"Ayah... " sapa Bunda.


Ayah yang merasa di panggil langsung menoleh, dan tersenyum. Sedetik kemudian pandangan nya tertuju pada sang anak.


"Mobil kamu kemana?" tanyanya.


Bintang meringis takut akan reaksi Papa nya.


"Kakak jual Yah, buat modal nikah." ucapnya dengan tangan yang merangkul Bunda nya.


Tanpa dia duga ternyata sang Ayah malah terlihat bangga. "Bagus, itu baru namanya LAKI ... " Ayah mengacungkan tangannya seolah ingin memperlihatkan otot nya yang sudah mulai mengendur.


"Ayah, nggak usah sok keren di depan Bunda, itu otot udah lepek gitu. Kakak penasaran otot bawah lepek juga nggak ya?" lalu dia lari saat Ayah menggerakan tangannya untuk mengambil sandal jepit yang dia pakai.


Hanya suara gelak tawa yang dia dengar dari putranya yang sudah masuk ke dalam rumah.


"Udah lah, ribut terus. Bunda mandi dulu!" ujar sang istri sambil berlalu menaiki tangga teras menuju pintu masuk rumah mereka.


"Bun, mau ayah bantu nggak?"


Bunda meringis mendengar ucapan suaminya.


"Nggak usah, udah malem. Nanti kayak waktu itu malah minta kerokan masuk angin!" tolak nya.


"Jadi si budak semprul nikah?" tanyanya sambil berjalan masuk rumah. '


Bunda hanya mengangguk.


"Kita beliin apa ya buat hadiah?" tanya Bunda.


"Sampo aja satu dus," Ayah berkata asal.


Bunda meringis, pasalnya membayangkan dirinya dulu awal menikah.


"Kenapa Bun?" Ayah menangkap raut berbeda di wajah istrinya.


"Intan kasian, kuat nggak ya dia ngadepin anak kita? dia kan special banget. Sedangkan Intan kalem banget!" Bunda membuka pintu kamar mereka.


Ayah langsung duduk di pinggir tempat tidur. Sedangkan Bunda berjalan menuju meja rias nya membuka perhiasan dan jam tangannya.


"Iya, dia harus tetap di sini beberapa bulan. Kasian Intan kalo. harus di lepas ngasuh anak buaya itu." Kekeh ayah.


"Nggak usah, kalo mereka memilih misah juga nggak apa-apa. Sebaik-baik nya rumah tangga ya terpisah dari orang tua." Bunda berjalan menuju lemari mengambil satu daster batik dan membawanya masuk ke kamar mandi.


Ayah Gunawan seolah sedang berpikir, menatap foto ketiga anaknya yang sebentar lagi semuanya akan pergi meninggalkan nya. Membangun rumah tangga mereka masing-masing.


Lelaki tua itu tersenyum haru dan bahagia.


Lalu ponselnya berbunyi terlihat putri nya mengirimkan pesan.


Lalu dia membalas nya sambil tersenyum.


...🦋🦋🦋🦋...


Dua hari berlalu.


Mentari menyuruh mereka datang ke butik, untuk fitting baju yang akan di pakai mereka.


Bintang senang bukan main karena bisa bertemu dengan Intan.


Dia melajukan mobil Ayah nya membelah jalanan kota Bandung di pagi itu.


Di kejauhan Bintang melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah adiknya.

__ADS_1


Bintang turun dari mobil saat melihat calon istri nya duduk bersama lelaki yang dia tidak suka.


Intan yang melihat kedatangan Bintang langsung berdiri dan berjalan menyambut nya.


"Sayang ... " sapa nya.


Bintang menoleh ke belakang tubuh Intan di mana Edo tengah menatap mereka.


"Oh, calon istri ku sayaaang. Ayo siap-siap kita kan mau fitting baju pengantin," suaranya dia buat sekencang mungkin, agar terdengar oleh rival nya itu.


"Sebentar aku nunggu mang bubur yang suka lewat, laper pengen makan bubur itu," Intan sedikit bermanja karena tau jika Bintang terlihat cemburu.


"Aduh, kayak yang ngidam aja kamu!" Bintang mencubit gemas Intan.


Intan di tarik masuk ke dalam, menuju lorong kamarnya.


"Ngapain dia di sini?" tanyanya ketus.


"Abis nganterin file ke pak Dafa, tapi bapaknya lagi nganterin Bu Mentari vaksin anak-anak," jawab Intan cepat.


Bintang mendengus kasar, setiap melihat Edo yang menatap Intan dengan tatapan memuja dia selalu terbayang-bayang soal Intan yang siap di tikung kapan pun.


"Mas, beberapa hari lagi kita nikah. Nggak semestinya kamu masih cemburuin aku. Kayak anak kecil aja!" Intan mencibir.


Bintang yang memang sedang memanas otak dan hatinya, langsung mendorong masuk Intan ke dalam kamar.


Intan dia tarik hingga perempuan itu terjengkang di atas kasur.


"Mas, ngapain?" Intan ketakutan.


Apalagi saat melihat Bintang membuka kancing kemeja yang dia pakai.


"Mas,"


"Apa? mau pukul aku? pukul aja. Aku cuma mau buktiin lelaki ini yang kamu anggap anak kecil udah bisa bikin anak kecil," ucapnya ketus.


Intan memikirkan ide untuk meredakan cemburu dan emosi calon nya itu.


Dia menarik lembut leher Bintang hingga tepat di atasnya.


Bintang yang tengah melepaskan kancing kemejanya, sontak menimpa tubuh calon istrinya itu .


Kedua tangan nya menahan di kedua sisi tubuh Intan.


"Jangan marah, kita mau fitting baju pengantin. Nanti aura kamu gelap, gosong karena kebakar cemburu." Lalu intan dengan sengaja mengecup bibir Bintang yang wajahnya masih terlihat kesal.


Bintang yang sudah dua hari merindukan gadisnya itu, langsung menyambut nya dengan semangat.


Pautan itu tercipta dengan sangat lembut, tidak menggebu-gebu karena Intan yang memimpin permainan. Lidah mereka saling membelit di dalam sana hingga suara deca*pan saling bersahutan dan sesekali Bintang menge*rang gemas.


"Ehmm... Intan mele*nguh saat Bintang sedikit kuat nenye*sap bibir nya. Tangan Bintang mengelus tubuh Intan yang di laluinya.


Hingga saat tangannya sampai di area dada, Intan menahannya dan mendorong tubuh itu hingga pautan mereka terlepas.


" Udah, buat empat hari ke depan." Intan mengusap wajah Bintang yang sudah terlihat sayu karena kabut asmara.


"Nakal kamu udah bangunin pyton, di berhenti in ngedadak. Kamu php in dia, awas katanya dia mau balas dendam nanti."


Intan bangun sambil tertawa.


"Ok, aku baru tau pyton kamu bisa ngomong bahkan ngancem. Ada mulutnya ternyata?" dia masih tertawa.


Bintang mendengus kesal, lalu menarik perempuan itu hingga duduk di pangkuannya.


"Nggak ada suaranya, itu paralel ke mulut aku, tapi dia punya mulut. Kalo nggak punya mulut dia nggak akan bisa muntah dong!" Bintang mengecupi leher Intan.


Intan menggeleng lagi-lagi perkataan lelaki itu ambigu, bisa saja dia membalas ucapan orang.


Memang akal nya luar biasa, otak kanan dan kiri nya berjalan sempurna.


"Aku bawa undangan, kita tulis namanya sama-sama. Siapa aja yang bakal kita undang," Bintang mengecup sekilas bibir yang tadi dia hisap itu.


Intan mengangguk, lalu teringat ada tamu di depan sana dia langsung bangkit dan menarik Bintang keluar dari kamar nya.


Bersambung ❤❤


like


komen


favoritnya.


maaf kemaren sibuk nganterin Bintang ke sana kemari 🤣🤣 jadi nggak sempet up yg ke dua🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2