Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Marahnya Intan, dan penampakan


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋...


"Jadi, saya ijin ke suatu tempat dulu, Pak. Bu," Intan kembali meminta ijin.


Mereka hanya mampu mengangguk, sambil menatap iba pada Intan. Wajah nya terlihat sayu dengan mata sembab, dan beberapa luka yang menyebar di wajah manisnya.


"Biar di antar kak Bintang," Mentari menawarkan kakaknya untuk mengantar.


Intan yang sudah berdiri hanya menggeleng tanda menolak. Dia sedang ingin sendiri, ingin mencurahkan semua kegundahan nya pada seseorang. Tanpa gangguan apalagi dari lelaki bermulut rombeng di depannya.


Bintang yang sok jaim, namun kakinya gatal ingin segera melangkah mensejajarkan langkahnya dengan Intan. Dan tiba-tiba mulut rombeng nya berucap sebuah kalimat yang langsung membuat Intan menghentikan langkahnya.


"Paling mau ketemu calon suaminya, mau ngadu dan akhirnya nganu," ucapnya asal namun begitu menyakitkan di telinga dan hati Intan.


Perempuan itu menoleh tatapannya tertuju pada Bintang yang juga tengah menatap kearahnya.


"Baik, kalo bapak mau nganter saya," ucapnya dengan nada tercekat menahan tangis.


Bintang bangun dari duduk nya, berpamitan pada pasangan suami istri itu dan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di luar.


Intan masuk ke dalam mobil tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Tan, duduk di depan. Emang gue supir lu apa?" suara bentakan itu sudah mulai terbiasa di telinganya. Namun kali ini hatinya sedang tidak baik-baik saja, otaknya pun mumet tak tertolong.


"Terserah," Intan menjawab seadanya, malas meladeni orang di depannya itu.


Bintang mendengus kesal lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari perumahan adiknya itu.


*


*


Di perjalanan Intan masih diam, sesekali tangannya mengusap pipinya yang teraliri air mata yang jatuh tak tertahankan.


Hari ini mentalnya sungguh di uji luar biasa. Merasa sakit, lelah dan putus asa. Namun teringat lagi kisah Ica si gadis kecil yang sangat bersemangat untuk masa depannya bersama sang Ayah yang sakit.


Kenapa dia menyerah hanya karena merasa seorang diri? justru dia harus bersemangat akan membangun masa depannya. Ingin meninggalkan kota ini secepatnya dan menjauhi kakangnya yang toxic. Memulai semua dari awal, bukan cinta tapi hidup nya. Dia ingin bekerja sesuai ilmu yang di timba semasa sekolah dulu.


"Kita kemana?" Bintang bertanya dengan nada sedikit lembut.


"Jalan Gumuruh Batununggal," jawab Intan dengan suara yang aneh karena cairan hidung yang penuh akibat terus menangis.


Bintang mengambil kotak tisu sebuah salon mobil dari atas dasbor ke arah belakang di mana Intan duduk.


"Nih, buang dulu ingusnya. Ntar asin lagi kemakan," ucapnya tanpa rasa jijik.

__ADS_1


Intan menyambar kotak tisu itu dan melakukan yang di perintahkan Bintang.


Lelaki itu meringis, tapi tidak jijik. Hanya saja mendengar suara-suara pengeboran sumber air itu rasanya agak aneh, perempuan di belakang nya tidak jaim sama sekali.


"Jangan di mana aja buang nya,"


"Saya pegang kok, nanti turun saya buang."


"Ya nggak usah di pegang juga, jorok. Buat apa coba? mau lu koleksi?"


Intan tak menanggapi ucapan Bintang, dia fokus ke jalan raya.


"Di depan aku turun, Pak. Bapak boleh pergi aja, biar saya pulang sendiri,"


Bintang mengerutkan keningnya saat melihat pemandangan area pemakaman.


"Berhenti Pak, " Intan membuka pintu mobil tanpa mengindahkan Bintang yang akan membuka mulutnya.


Lelaki itu memandang Intan yang masuk ke area pemakaman itu, berjalan lebih dalam. Dia menghidupkan mesin mobilnya namun dia merasa enggan untuk meninggalkan gadis yang tengah bersedih itu sendirian.


Dia memutuskan untuk menunggunya, namun dia penasaran makam siapa yang di kunjungi Intan.


Dia pun turun dari mobilnya, di hari yang hampir petang merasa tubuhnya sedikit merinding. Melihat pemandangan hamparan nisan yang tertata rapi.


Dia melihat Intan yang hanya menggunakan sebuah kaos berbalut cardigan hitam serta rok coklat muda, sedang berjongkok di sebuah makam.


"Mas ... aku harus pergi buat ngehindarin kakang, maaf kalo nanti agak lama aku nggak berkunjung ya. Tapi doa mu pasti terus aku kirim buat, Mas."


"Sebenernya aku bingung, aku harus kemana? nggak punya siapa-siapa lagi, please Mas datengin aku. Aku kangen banget, kamu udah nggak sayang aku, Mas?"


Bintang mematung di belakang tubuh Intan, saat melihat nama di batu nisan itu Dani Setiawan.


"Bukannya itu nama calon nya dia? berarti calon lakinya udah meninggal?" batinnya menggumam.


Lalu dia mendengar kalimat yang begitu terdengar putus asa dari Intan.


"Apa aku ikut mati aja ya, Mas? biar ketemu kamu. Aku udah bingung, aku nggak punya seseorang yang bisa aku sandari seperti kamu dulu. Bener-bener merasa sendiri di tengah hati dan pikiran yang hancur, di hancurkan oleh kakak yang harusnya ngelindungin aku. Aku mau mati aja, Massss... aku mau mati aja," Intan membenturkan kepalanya berkali-kali ke batu nisan kekasih hatinya itu.


Bintang langsung mendekat dan menarik tubuh Intan dan memeluknya, Intan yang kaget sesaat mematung saat melihat siapa orang yang memeluknya.


Namun sedetik kemudian dia memukuli Bintang, "nih ... ini calon suami aku, yang seenaknya kamu tuduh macam-macam, tuduhan kamu begitu hina buat seseorang yang sudah nggak ada, bahkan semasa hidupnya dia nggak pernah ngelecehin aku seujung kuku pun. Dia lelaki sejati yang sangat melindungi siapa yang dia sayangi. Termasuk aku calon istri nya yang tinggal menunggu hari untuk kami membina sebuah rumah tangga, hingga dia datang hanya dengan tubuh yang sudah tak bernyawa."


"Dia yang tadi kamu tuduh bakal anu sama aku, makanya kalo jadi orang jangan asal kalo ngomong. Kamu nggak tau sebaik apa dia? sedewasa apa? sebijak dan begitu tanggungjawab dengan orang-orang yang dia kasihi, namun Tuhan memanggilnya dengan cepat. Dia orang baik, belum pernah aku nemuin lelaki sebaik dia di muka bumi ini, dia yang terbaik... " Tubuhnya yang memukul-mukul dada Bintang sejak tadi perlahan melemah isak tangisnya pun mereda, dia lelah dengan tangis dan gerakannya yang memukuli Bintang meluapkan perasaannya yang kacau di hari itu. Bintang diam tanpa perlawanan menerima semua konsekuensi dari mulutnya yang rombeng, dan Intan ambruk dalam pelukannya.


"Tan... Intan, bangun Tan?" Bintang panik dengan tubuh Intan yang pingsan dalam pelukannya,

__ADS_1


Tangannya dengan sigap mengangkat tubuh mungil Intan menuju mobilnya.


****


Di dalam mobil


"Tan... Intan?"


Bintang panik dan bingung apa yang harus dia lakukan untuk membangunkan Intan. Di tengah jalan makam besar itu.


Dia mengusap wajah gadis manis milik Intan, yang basah oleh keringat dan air mata.


"Ck, malah nambah luka . Sekarang kamu jadi gede hulu Tan, gede Kepala karena benjol. Ngapain coba ikut mati mau janjian sama almarhum calon laki lu?"


"Anjim... merinding," dia memegang tengkuknya.


"Maaf... punten, Mas Dani mantan calon suaminya Intan. Saya janji nggak akan bully lagi Intan, nggak akan kasar dan jutek lagi, bakalan di elus sayang.


Eh... ya pokoknya saya nggak akan marah-marah sama dia, janji suer!" Bintang bicara sendiri seolah di sana ada orang lain.


Saat sedang ketakutan tapi masih menatap Intan yang masih tak sadarkan diri, sesosok wanita berambut putih mengetuk kaca dengan mata yang melotot ke arahnya.


"Anjir... jurig... Hantuuu... ampun," dia menutup wajahnya menjatuhkan kepala nya di pangkuan Intan. Mencoba menenggelamkan wajahnya di paha Intan yang tak sadarkan diri di kursi sebelahnya.


Ketukan itu masih jelas terdengar malah makin keras dengan sayup-sayup kalimat umpatan terdengar.


Bintang mencoba mengintip, tapi sosok itu masih ada, berarti dia bukan mahluk lembut.


Di buka sedikit kaca jendela itu, lalu terdengar jelas suara cempreng nenek tua yang tengah mengumpat kepada nya.


"Ek mesum ulah di die, kaditu ka hotel. Mobil alus ari mesum di makam. Budak gello teu modal!"(Kalo mau mesum jangan di sini, kesana ke hotel. Mobil bagus tapi mesum di makam. Pemuda gila nggak modal) umpat si nenek itu.


Bintang yang malu, namun sekaligus emosi malah terpancing. " Eh, ari mak. Iyeu istri abi pingsan tos nyekar. Lain ek mesum. Maeunya mesum di mobil, nya di kasur atuh meh hipu." (Eh, Nenek. Ini istri saya pingsan udah jiarah. Bukan mau mesum. Masa mesum di mobil, ya di kasur dong biar empuk) Bintang menimpali nya dengan emosi juga.


Dan si nenek tua itu memukul mobilnya agar segera pergi, saat seorang lelaki paruh baya mendekat dengan sebuah cangkul di tangannya.


Bintang pun panik dan melajukan mobilnya keluar dari area makam.


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣


"Minta doa nya buat misua ku yang lagi kurang enak badan, mengakibatkan kegiatan kami terganggu. (kegiatan kerja sehari-hari, jangan ngeres otaknya🙄) eh tapi aku jadi bisa nulis lagi karena nggak ada yang ganggu 🤭. Tapi asli aku butuh dia ngoceh pedes dan sengklek buat ide karakter Bintang🤭😝


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘 kalo udah di klik love jangan di klik lagi dong zeyenkkk... haduh php kan udah nambah turun lagi nambah lagi kalian apa2an🤧🤧 eh bebas deng nggak maksa🤭🤭

__ADS_1


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2