Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Menyesal


__ADS_3

...---oOo---...


Faisal menatap ke arah Intan yang melewati kamar kost nya. Dia tidak berani menyapa karena Intan terlihat sendu. Dia meyakini lelaki tadi adalah kekasih Intan, dan mereka bertengkar.


Saat melihat Intan masuk, sebuah motor berhenti tepat di depan kamarnya. Seorang kurir yang di kirim om nya untuk membawa barang-barang Intan.


"Taro di sini aja, Bang." Titahnya pada sang kurir.


Dia juga ikut membantu membereskan barang-barang untuk keperluan dagang Intan.


Menatap tumpukan barang di depannya, membuat dirinya berpikir bahwa Intan akan sedikit terhibur dan mengalihkan kesedihannya.


Berjalan menuju kamar Intan dengan harapan bisa menghibur gadis manis itu.


Satu ketukan pintu tidak ada jawaban, dia tak patah semangat. Mengintip dari celah jendela ternyata Intan tertidur. Namun saat akan meninggalkan kamar itu. Dia melihat beberapa bungkus obat tergeletak di dekat tubuh Intan


Dia beberapa detik menahan nafasnya. Pikiran buruk berdesakan memenuhi kepalanya. Apalagi dia melihat tatapan kosong Intan saat bersitatap dengan nya.


Di gedor nya pintu itu lebih keras, hingga tetangga sekitar berdatangan.


"Dobrak aja, cal!" kata seorang tetangga, dia memang biasa di panggil ical dari nama Faisal.


Di bantu seorang tetangga juga akhirnya pintu terbuka, dan benar saja. Wajah Intan pucat dengan tubuh di selimuti keringat.


"Intan ... Tan, bangun... " Panggilnya.


"Cal, korek mulutnya biar muntah ... obat nya biar keluar," ucap salah satu ibu yang berada di belakangnya.


Faisal mengikuti anjuran si ibu itu, lalu benar saja Intan memuntahkan isi perutnya yang hanya terisi seperti busa putih.


"Tan ... " Panggil nya.


"Itu, taksi nya udah di depan gang, buruan bawa ke klinik," seorang wanita muda berdiri di depan pintu. Dengan sigap nya para tetangga itu menolong Intan yang penghuni baru. Intan memang terlihat pendiam namun begitu ramah dan murah senyum.


Dengan sigap Faisal menyelipkan ke dua tangannya di bawah tubuh Intan, menggendong tubuh kurus Intan yang lunglai menuju gang di mana sebuah taksi online sudah menunggu.


*


*


Bintang tengah menangis di dalam mobilnya, dia menyesal telah melakukan itu pada gadis yang benar-benar suci. Dia merasa sama brengseknya dengan pria buncit yang mendapatkan Naya karena uang.


Setelah memutar balik mobilnya, dia terus menelisik setiap jalan untuk mencari Intan.


"Maafin gue, Tan... please maafin gue yang brengsek ini," matanya membola saat melihat riuh - riuh di pinggir jalan. Sosok lelaki yang tadi dia lihat bersama Intan tengah menggendong seorang ...


"Intan ... " pekiknya saat melihat tubuh lunglai berbalut kemeja miliknya tengah di masukan ke dalam sebuah mobil.


Bintang langsung menekan klaksonnya kuat, namun mobil itu melaju kencang membawa tubuh Intan.


Di ikuti nya mobil hitam itu, ternyata ke sebuah rumah sakit, tak jauh dari tempat dia melihat Intan.


Mobil Bintang berhenti tepat di belakang mobil yang membawa Intan.


Seketika dia seperti loncat dari mobilnya, ingin menyambut Intan.


Faisal menatap nyalang saat bertatapan dengan Bintang yang sudah ada di samping pintu mobil.

__ADS_1


"Intan kenapa?" Tanyanya panik


Faisal tidak menjawab dia berteriak minta tolong pada perawat yang sedang jaga.


Bintang menyambar tubuh Intan yang tak sadarkan diri. Faisal hanya terpaku saat tubuh gadis manis itu di rebut dari gendongannya.


"Tan ... sayang... " Bintang terlihat memanggil terus wanita yang dia baringkan di brangkar yang di dorong dua orang perawat.


"Keluhannya pak?" tanya seorang suster yang datang bersama seorang dokter.


Bintang tak bisa menjawab karena memang tidak mengetahui penyebab Intan tak sadarkan diri.


"Over dosis obat dok, dia makan 12 butir obat sakit kepala sekaligus,"


Bintang menoleh pada Faisal dengan wajah pucat tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Percobaan bunuh diri, dok." Tambahnya lagi, sambil menatap balik Bintang dengan sinis.


Dokter mengangguk mengerti dan menyuruh kedua lelaki itu untuk menunggu di luar ruangan.


*


*


Bintang tengah menunduk lemas, dada nya sakit penyesalan memenuhi kepalanya. Bagaimana bisa dia memperlakukan Intan sedemikian rendah nya hingga wanita yang mental nya sudah sangat lelah akhirnya berniat mencelakai dirinya sendiri.


"Apa yang lu lakuin sama Intan?" Faisal merasa sangat penasaran, apa yang telah Bintang lakukan pada Intan hingga perempuan manis dan lembut itu terlihat hancur saat keluar dari mobil pria yang duduk di depannya itu.


Bintang menatap ke arah Faisal.


"Bukan urusan lu,"


"Tapi, lu hampir membuat seseorang mengakhiri hidupnya. Pasti itu nyakitin dia banget, bang*sat." geramnya kesal.


Bintang menghempas tangan Faisal yang memegang kerahasiaan kemejanya.


"Urusan lu apa breng*ek? siapa lu?" Bintang tersulut emosi.


Faisal yang berdiri di depannya hanya tertawa.


"Gue emang baru kenal dia pagi tadi, dan gue yakin dia orang baik, dan dia bercerita ingin berjualan. Dan lu tau? sesaat sebelum lu datang dia tengah tertawa senang menceritakan impiannya, impian sederhana menurut gue. Ingin punya sebauh usaha yang bisa membantu banyak orang. Cewek sebaik dia, apa yang udah lu lakuin sampai dia keluar mobil lu nangis dan sesampainya dia di kostan memilih mengakhiri hidup, yang bahkan cita-citanya saja baru saja terucap di bibirnya." Terangnya panjang lebar.


Bintang menundukan wajahnya menopang dengan kedua tangan dan tergugu menangis. Menyesali perbuatan gilanya terhadap gadis yang benar-benar dia cintai.


"Gue emosi!'


" Apa salah dia? sampai lu se emosi itu?"


Bintang tak mampu menjawab, dia memang bersalah. Mengedepankan ego dan emosi tanpa meminta penjelasan gadis yang tengah berjuang hidup di balik pintu ruangan itu.


*


*


Seorang dokter keluar dengan raut wajah yang sulit di tebak.


Bintang dan Faisal mendekati.

__ADS_1


"Pasien dalam kondisi lemah, sepertinya dia tengah menghadapi masalah rumit, di mana ibu nya? dari tadi dia terus memanggil ibunya."


"Sudah meninggal, dok." Bintang menjawab.


Dokter itu mengangguk paham, "siapa di antara kalian yang bernama Dani? dia juga beberapa kali menyebutkan nama itu!"


Bintang semakin sesak, bahkan Intan meminta perlindungan pada orang-orang yang sudah meninggal. Kalo begini, dia merasa sedih level dengan Adit yang hanya menyakiti mental Intan.


"Boleh saya menjenguk nya, Dok?" Bintang bertanya kepada berharap bisa melihat wanita yang sangat dia cintai itu.


"Untuk sekarang belum, biarkan pasiennya istirahat dulu. Mungkin dua tau tiga jam ke depan baru bisa di jenguk." Lalu dokter itu pamit .


Bintang duduk dengan lemas, tubuhnya lelah dan hatinya semakin merasa bersalah.


Teganya dia berlaku seperti itu pada Intan, yang jelas-jelas dia cintai


Ponsel nya berdering.


"Ya, Bun?"


"... "


"Aku udah ketemu, Intan. Tapi dia sakit,"


"... "


"Ini, si rumah sakit. Bun,"


"..."


"Iya, do'a in Bun, Intan sakit karena kakak. Nanti kakak jelasin. Iya makasih Bun,"


Panggilan pun berakhir.


Bintang menghela nafasnya, dia bingung apa yang akan dia katakan saat Intan sadar nanti.


Minta maaf sudah pasti, tapi dia tidak yakin Intan akan memafkan nya.


"Bagaimanapun keputusan kamu, Tan. Yang penting aku berusaha untuk mendapatkan maaf kamu," gumamnya dalam hati.


Demi apapun dia menyesal, jika harus sujud pun dia akan melakukannya. Asalkan wanita yang di cintai nya itu memaafkannya.


Bintang merebahkan punggungnya di kursi, sedangkan Faisal tertunduk menatap layar ponselnya.


Seorang suster berlari ke arah kamar di mana Intan tengah di rawat.


Bintang menegang, jantung nya berdegup kencang takut sesuatu yang buruk terjadi pada Intan.


Bersambung ❀❀


Like


Komen


Favoritnya


Boleh banget promoin ke temennya

__ADS_1


Bagian sedih aja komen nya banyak πŸ™„, masa harus sedih terus 🀧 pak bin kuk kasianπŸ˜–πŸ˜–πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€


__ADS_2