Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
tragedi berdarah


__ADS_3

...❤❤❤❤❤...


Beberapa hari Intan benar-benar berdiam diri di kamar. Badannya yang terasa begitu tidak enak membuat dirinya hanya bisa berbaring.


Bintang ikut cemas dengan keadaan istrinya, beberapa kali dia panik saat istrinya itu mengeluhkan perutnya yang sakit, tapi dengan gemasnya Intan tidak mau di bawa ke dokter. Dengan alasan tubuhnya akan bereaksi seperti itu jika tamu bulanannya datang.


"Aku ngeri liat kamu, pucet, demam, ngeluh sakit perut," Bintang datang dengan bantal panas yang biasa di pakai Ayah nya untuk meredakan sakit punggung nya.


"Udah biasa, nanti kalo udah mau selesai pasti keluhannya ilang semua," Intan memeluk bantal listrik itu menekannya di bagian perut bawah.


Bintang diam menatap istrinya, dia merasa kasian. Perjuangan wanita ternyata bukan hanya hamil dan melahirkan saja, rutinitas sakit seperti ini berulang tiap bulannya terasa melelahkan.


Di usap kepala istrinya itu.


"Cepet sehat, lusa kita resepsi!" Bintang menumpukan tangannya di atas paha, menatap dalam penuh rasa cinta pada istrinya.


Intan hanya mengangguk.


"Mas ... "


"Ya?"


"Setelah nikah kita tetep di sini?" tanyanya.


Bintang mengerutkan dahinya, dia kira Intan tidak akan mempermasalahkan tempat yang akan mereka tinggali.


"Kenapa, kamu mau kita pindah?" Tanyanya


Intan diam seperti bingung mengutarakan isi hatinya.


"Kamu nggak betah di sini?"


"Bukan, i-itu. Aku ngerasa canggung, apalagi dengan keadaan kayak gini aku nggak bisa beraktivitas maksimal, lemes dan males!" ucapnya pelan malu-malu.


Bintang terkekeh, "Bunda dan Ayah, orang yang supel. Mereka malah khawatir sama kamu,"


"Tapi, aku malu. Lagian kalo misah kan bisa bebas!"


terangnya lagi.


Lelaki itu terdiam, mencerna kata bebas memang sungguh mengasyikkan. Bebas dalam artian aneh tentunya di dalam otaknya.


Sangat berbeda dari suaminya, Intan mengartikan bebas itu seperti mengatur menu makanan yang akan di pasak, atau mengatur furnitur di rumah. Juga melakukan aktivitas sesuai yang di inginkan nya.


Satu rumah dengan dua kepala dan dua ratu rasanya kurang nyaman. Dia wanita bebas dan agak keras dalam pendirian, keukeuh kalo ada kemauan.


Sebenarnya sifatnya sebelas dua belas dengan Bintang. Namun suaminya bisa mengekspresikan nya dengan lugas, sedangkan dia lebih memendam.


"Gimana?" Tanyanya lagi.


Bintang kini ikut membaringkan tubuh, menghadap sang Istri.


"Aku lupa cerita, malem Ayah ngasih hadiah pernikahan. Kita di suruh pilih mau rumah atau apartemen, aku pilih apartemen aja!"


Intan membalikan tubuhnya sekarang mereka saling berhadapan.


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa pilih apartemen? aku lebih pilih rumah biarpun kecil kita bisa milikin dengan tanah-tanahnya." intan berbicara terlalu bersemangat.


Lelaki itu diam, ternyata berumah tangga tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Karena kini ada dua kepala yang harus di satukan.


"Bisa di rubah nggak? biarin kecil, asal rumah sendiri!" Intan menekankan bagian terakhir pada kalimat yang dia ucapkan.


Bintang mengelus punggung istrinya, "ok, nanti kita bilang ke Ayah. Kalo soal kecil besarnya aku nggak tau. Tapi kalo soal besar kecilnya punya kamu. Aku tau, besar banget untuk ukuran badan cung ... "


"Apa? mau bilang cungkring? kenapa nggak nikahin yang bahenol kayak suster bohay itu?" Intan langsung memotong ucapan suaminya.


Bintang hanya melongo, dia mengumpati mulutnya yang blong seperti biasa.


"Eh, sayang. Bu-bukan gitu, aku suka badan kamu yang langsing dari ujung rambut sampe kaki aku suka. Aku suka mata judes kamu, aku suka kuku kamu yang kadang ngoet (nyakar) aku." Bintang kelabakan dengan ulah bibir lenturnya itu.


Intan yang memang mood nya sedang tidak baik langsung terpancing emosi, dia membalikan tubuhnya membelakangi suaminya yang tengah menyerangnya dengan rayuan dan pujian terdengar menggelikan.


"Sayang ... "


Bintang mengeratkan pelukannya.


"Aku mau ngontrol cabang nih, mau ikut atau mau di rumah aja?" Bintang mencoba membujuk amarah istrinya itu.


Intan langsung membuka matanya, dan sedikit menoleh. "Mau ikut," ucapnya dengan nada masih terdengar sedikit judes.


Senyum kemenangan terlihat jelas di bibi Bintang.

__ADS_1


"Ayo, Siap-siap. Aku tunggu di bawah," ucapnya.


Intan mengangguk dan segera bangkit menuju lemari yang sudah banyak berisikan baju miliknya.


...❤❤❤❤❤...


Hari resepsi tiba


Bintang sudah gagah dengan beskap biru navy nya, sedangkan Intan sejak subuh sudah di bawa ke cafe milik sepupunya.


"Bun ... "


"Iya?"


Wanita cantik itu tengah heboh dengan segala ke riweuhan nya.


"Gimana? udah ganteng belum?" Bintang menghampiri wanita yang sudah melahirkan nya itu.


Bunda Rima tersenyum, "Ganteng banget ini suami orang!" Bunda mengusap dan menepuk bagian depan jas yang putranya kenakan.


Bintang tersenyum, namun senyum itu seketika berubah haru saat mata Bunda nya berkaca-kaca.


"Bun ... " tangannya memeluk Bunda nya yang terlihat sudah begitu cantik.


"Semua anak-anak Bunda bakalan pergi, memulai bahtera mereka sendiri. Jadilah pemimpin dan pasangan yang saling melengkapi, jadilah lelaki yang lebih dewasa, lebih peka, ngeyel nya kurangin, slengean nya batasin." Bunda mengusap air matanya yang siap menetes.


"Intan udah biasa Bun, sama sifat kakak."


"Jangan kamu anggap itu kemakluman, walaupun dia nerima gimana kalo suatu hari dia jenuh sama sifat kamu," tanyanya.


"Ngga akan Bun, dia sabar!"


"Sabar? terus kamu memanfaatkan kesabarannya? rumah tangga nggak gitu konsepnya kak! harus saling membenahi diri lebih baik, biar nggak ada penyesalan kayak Ayah sama Bunda dulu!"


"Amit-amit, jangan sampe anak Bunda kayak gitu, selain adik kamu!" ucapnya


"Bawa-bawa aku!" Mentari yang duduk sambil membenahi pita rambut Helen menggerutu.


Semua orang tertawa, begitu juga Bunda yang dj tarik Ayah ke dalam pelukannya.


"Aku belum kenyang sama anak-anak," ucapnya di sela isak tangis anak-anak.


"Kenyang? Bunda mau makan kita? biar masuk lagi ke perut?" Bintang mencoba mencairkan suasana harus itu.


Bunda langsung memukul pundak putranya.


Bintang langsung melengos malas,


"Suami kamu belum dateng?" tanya Ayah.


"Belum, mas Dafa kayaknya nggak bisa dateng. Masalah proyeknya belum selesai," Mentari bangun dari duduknya saat Shera yang berada di gendongan pengasuh nya meronta .


Putri nya yang baru belajar jalan, langsung memeluk leher nya erat.


"Aduh, aku agak nggak enak badan!" keluhnya pada Cindy.


"Masuk angin kali!" sahabat sekaligus kakak iparnya itu menimpali.


Mentari hanya mengedikkan bahunya.


"Yuk, berangkat sekarang!" Bintang sudah mondar mandiri sedari tadi.


"Dih, pengantin ribet." Mentari mencebik kesal.


Semua orang tertawa, lalu mulai berjalan ke luar dari rumah besar itu. Empat mobil konvoi dari rumah Ayah menuju cafe.


"Kenapa sih pake pisah perginya, kita kan udah halal ini cuma resepsi aja," Bintang terus menggerutu sepanjang jalan. Apalagi saat panggilan nya pada Intan tak mendapatkan jawaban.


"Diem, banyak ngomong. Biar nanti kamu gereget pas ketemu, terus dari sana kalian kemana?" tanya Ayah yang ada di kursi depan.


"Mau ke hotel dong, Yah. Honeymoon ini. Aku belum unboxing,"


"Kado juga kirimin ke sana?" tanya Ayah.


"Kado?" Bintang membeo


"Iya, bukannya di undangan kamu nggak menerima amplop? pasti mereka pada bawa kado lah! "


"Iya, oh ya udah bawa aja sekalian. Biar unboxing segala-galanya," Bintang terkekeh dengan segala pemikiran liar nya.


*


*


Bintang sudah duduk di sebuah meja, saat matanya terpaku melihat kedatangan Intan.

__ADS_1


Mereka hanya duduk untuk menandatangani surat-surat dari KUA. Tak lama semua berkas selesai dan mereka sudah sah suami istri dalam catatan sipil, dengan sepasang buku nikah yang masing-masing mereka pegang.


"Di baca, bukunya. Biar memahami apa itu berumah tangga!" Langit berkata setelah mereka melakukan sesi foto keluarga.


"Iya, bawel!" Bintang menyikut pinggang abang nya.


Langit meringis, membalasnya dengan sebuah tonjokan di lengan adiknya.


Mentari masih terlihat tidak bersemangat, walaupun suaminya sudah tiba dan menemani nya.


Mereka semua sedang menyambut para tamu yang hadir, kebanyakan para kolega Ayah dan teman-teman Bunda nya. Dan jangan lupa para emak-emak fans dan kang bully nya juga hadir dari berbagai daerah di Indonesia. 🤭


Semua larut dalam acara yang di buat se nyaman mungkin.


Dengan hidangan ayam kodok, salad buah, bistik lidah, sambal goreng hati, sop kimlo, rujak serut, dan kerupuk udang.


Tak lupa makanan khas Sunda seperti, pepes ayam, pindang ikan mas, tahu dan tempe, sambal terasi, balado ikan asin tipis, lalapan dan tak lupa jengkol dan petai. Sesuai request teman-teman Bunda.


Dan stan makanan seperti siomay, mie kocok Bandung, zuppa soup, dan es krim.


Para tamu undangan berbaur dan menikmati hidangan. Di sudut ruangan kado sudah menumpuk.


Bintang yang setia menggenggam tangan Intan menoleh dan tersenyum, dadanya berdebar seolah mereka baru saja sah, padahal sudah seminggu bahkan mereka sudah tidur bersama dan... 🤭😝.


"Sayang ... " Bisiknya.


Intan menoleh, namun tatapan matanya terlihat sendu.


"Kakang nggak datang," ucapnya lirih.


"Mungkin urusannya belum selesai,"


"Ponselnya juga nggak aktif!" ucapnya lagi.


Bintang hanya menghela nafasnya, asalnya dia akan memuji betapa cantik dan anggunnya sang istri. Namun melihat raut wajah kecewa Intan, membuat dirinya tak tega untuk memuji atau pun menggombali istrinya.


"Nanti, kota coba lagi hubungi. Ayo cari keluarga yang lain, pada kemana sih?" Bintang bangun dari duduknya dan mengedarkan pandangannya pada sekeliling halaman luas cafe itu.


Hari pun telah sore, dan Bintang dan Intan sudah sampai di kamar hotel yang di hias bakal nya kamar honeymoon. Di kamar satunya tumpukkan kado baru selesai di letakkan oleh room boy.


Intan masih memandangi pemandangan hijau hutan pinus yang membentang dari balkon kamar mereka.


Bintang membuka beskap nya, melemparkan dengan sembarang. Berjalan menghampiri istrinya.


"Sayang?"


Intan menoleh tersenyum, " indah ya?" ucapnya


Bintang memeluknya dari belakang.


"Adaaawww... " Bintang menjerit saat bunga goyang hiasan Siger Sunda istrinya menusuk ujung matanya.


Intan menoleh sekaligus, " ken.. "


"Aduhhhh... " Bintang kembali mengaduh kali ini memegangi pipinya.


"Ya ampun, maaf!" Intan mengusap pipi Bintang yang ternyata sedikit berdarah tergores hiasan kembang goyang yang menusuk di sanggul nya.


"Aduh, berdarah!" Ucapnya panik.


Intan menarik tubuh suaminya masuk ke dalam kamar. Intan mencari sesuatu di dalam tas nya.


Ternyata dia mengambil satu buah plaster luka yang selalu ada di dalam tasnya.


"Serius?" tanya Bintang saat melihat plaster itu bergambar hello kitty.


"Iya, nggak apa-apa. Ini udah ada obatnya di busa kecilnya." Intan berkata sambil tangannya menempel kan plester itu ke pipi Bintang yang luka.


"Tragedi berdarah," kekehnya saat melihat wajah suaminya.


"Abis ini, kamu yang berdarah!" Bintang mengecup lembut bibir istrinya.


"Ganti baju dulu," Intan mendorong tubuh suaminya.


"Udah selesai kan tamunya?"


Intan mengangguk, "udah dari dua hari yang lalu!" Dia menutup mulutnya saat melihat reaksi Bintang yang melotot sempurna ke arahnya.


Bersambung ❤❤❤


Like


komen


favoritnya

__ADS_1


Aku lagi nggak enak hati dan pikiran 🤧🤧 maaf kalo nggak dapet feel nya. 🤧🤧 mau tapa dulu ya buat mereka, do'akan semoga dapet yang membuat terhibur 🤧🤧


Sehat dan bahagia selalu man teman😘😘


__ADS_2