
...--oOo--...
"Sayang?" Bunda mendekati Intan yang sedang menangis, karena panik melihat si suami yang berguling-guling di lantai teras.
Semua orang juga ikut melihat Bunda yang malah menghampiri Intan.
Intan menatap mertuanya heran, dengan mata yang berembun karena khawatir pada si suami.
Bunda langsung mengusap perutnya. "Mau lahiran, ini!"
Intan menggeleng. "Belum mulas, Bun!" Sahutnya.
Bunda menunduk ke arah kaki Intan.
"Ketuban udah pecah, ngga kerasa mulas? karena suami kamu yang mulas ngewakilin!" katanya.
Intan dan Mentari yang sedang di dekatnya langsung menunduk. Benar saja ada genangan air di dekat kakinya tapi Intan tak menyadari karena cemas dengan keadaan Bintang.
Semua orang hening termasuk Bintang yang sedang terkapar di lantai.
"I-iya, dulu pas tau hamil. Ang Bin bilang dia yang wakilin ngidam sama mules aku!" katanya membenarkan.
Semua orang diam lalu terbahak melihat keadaan Bintang yang bisa-bisanya mewakili si istri yang mau melahirkan.
Bintang masih membatu tak percaya ucapannya nyata dia rasakan. Namun tiba-tiba perutnya kembali terasa melilit. "Aduh ... tolong, ini ngga kuat!" teriaknya meronta-ronta.
Semua orang kembali dengan rencana awalnya untuk ke rumah sakit, tapi bukan untuk memeriksa Bintang tapi mengantar Intan lahiran. Sedangkan si kembar dan Altaf di titipkan pada Cindy.
Di mobil utama ada Langit yang mengemudi dan Ayah di sebelah nya. Di bangku belakang ada Intan yang di apit oleh Bunda dan Bintang suaminya.
*
*
Membayangkan ketakutan akan kembali melahirkan hilang raib begitu saja dari kepala Intan. Rasa was-was pun tiba-tiba plong lega begitu saja.
Malah kini dia mencoba menenangkan si suami yang terus meringis dan merengek kesakitan.
"Aduh, ngga kuat. Sakit banget, Yank ... Bun ... "
Rengeknya.
Bunda yang sedang menginterupsi Intan mengatur nafas. Menoleh sedikit pada sang putra yang sedang merengek.
"Nah. Itu sakitnya melahirkan, bawa anak-anak kamu ke dunia itu perjuangan," cibir Ayah dari depan.
"Sakit?" Bunda terlihat mengajak bicara Intan sang menantu tanpa menghiraukan rengekan Bintang.
Intan menggeleng. "Nggak, tapi udah neken turun. Bun!" Tangannya menahan perut bawahnya.
"Aduh, Abang. Buruan!" Bunda terlihat panik takut menantunya berojol di mobil. Masa tiap lahiran harus keluar di mobil.
"Iya, ini tinggal lurus belok kiri nyampe."
"Bun ... Ini makin neken," Intan meremat lengan mertuanya.
"Atur nafas, kuat?" Bunda menenangkan si menantu.
Bintang semakin mengaduh kesakitan. Lalu ikut mengatur nafas seperti apa yang di lakukan si istri dengan intruksi Ibunya.
"Bocah gemblung, kalo kamu ikut ngejan nanti yang keluar bayi kuning!" Ayah dan Langit bisa-bisanya tertawa meledek Bintang yang tengah kesakitan juga di barengi mengejan.
Bintang yang tangannya juga memegang si istri menatap kesal pada Ayah dan Abangnya.
"Nggak akan, Yah. Asli udah abis ini isinya di buang berkali-kali. Aku takut malah yang keluar usus!" keluhnya keringat dingin juga keluar dari seluruh tubuhnya menyaingi Intan yang sedang menahan bayinya agar tak lahir di dalam mobil untuk yang kedua kalinya.
Ayah terbahak kencang. Lalu menoleh menatap putranya. "Asal nggak kelereng kamu yang keluar," katanya berbisik di celah jok.
"Nggak itu mainan kesukaan Intan, Yah!"
Intan yang sedang memejam langsung menoleh dengan mata sinis dan mencubit kuat paha Bintang.
"Aw ... Sakit, Yank!" Bintang mengusap pahanya yang terasa panas.
"Udah, udah. Sampai tuh!" Bunda melerai.
*
*
Menuntun Intan keluar dari mobil. Tapi tidak menuntun Bintang yang sedang kesakitan.
Semua mengikuti Intan yang di bawa ke ruang persalinan. Meninggalkan Bintang yang semakin kesakitan, bahkan kakinya kaku tidak bisa di gerakkan. Saking kuatnya menahan sakit.
"Suaminya?" Dokter yang biasa menangani selama kehamilan Intan menyadarkan semua orang tentang keberadaan Bintang.
"Pingsan, kali!" Ayah menebak.
"Muntah-muntah kayaknya, biasanya kan gitu!" Bunda mengingatkan.
Intan menggeleng, "Udah nggak, Bun. Tadi ikut keluar mobil nggak sih?"
"Belum, ketinggalan kayaknya!" Langit langsung berlari kembali ke parkiran.
Dan benar saja, adiknya itu sedang menangis karena sakit perut nya semakin jadi. Dengan wajah pucat, meringis dan di penuhi keringat.
"Ayo, bini lu dah pembukaan 8."
"Makannya perut gue makin sakit," Bintang mengaduh. Dan di bantu Langit keluar dari mobil.
Meminta kursi roda pada perawat menuju kamar bersalin, di mana Intan menunggunya.
__ADS_1
Pintu terbuka Intan tersenyum dengan tangannya yang terulur. "Ang," panggilnya.
Bintang masih meringis di atas kursi roda ya g di dorong masuk seorang suster karena Langit memilih menunggu di depan bersama Ayah dan Bundanya.
*
*
Bintang meraih tangan itu menciumnya. "Sayang, ternyata sakit banget. Sekarang aku tau sakitnya perempuan melahirkan. Maafin segala salah aku sama kamu, maaf kalo aku selalu ngerepotin, maaf kalo aku suka minta mulu itu. Aku makin sayang sama kalian para perempuan di hidup aku. Makasih semua," Bintang tergugu menangis di sebelah kepala istrinya.
Intan mengusap lembut kepala si suami yang menyandar di pundaknya. Hatinya haru, di masa seperti ini ingin sekali dia di temani Ibu kandung nya. Ingin meminta maaf atas segala kesalahan yang telah di lakukan pada Ibu yang sudah bersusah payah melahirkan dan membesarkan kita. Intan mengusap air matanya, dan mengangguk.
"Makasih, ya. Udah ngewakilin aku buat ngidam dan ngelewatin masa kontraksi yang kamu wakilkan,"
Bintang mendongak. "Untung aku nggak bilang sama ngelahirin nya juga, nanti si pyton bukan bertransformasi jadi kobra tapi malah jadi anaconda. Meral kayaknya,"
Di momen haru itu. Bintang dan Intan malah tertawa dengan obrolan absurd yang hanya di pahami oleh mereka saja.
"Bu?" Dokter yang sedang mempersiapkan alat-alat untuk menyambut si bayi. Memanggil Intan karena di rasa pembukaan nya sempurna, tanpa ada reaksi apa-apa dari si ibu hamil.
Intan pun memegang erat tangan si suami. Mengeluarkan semua tenaganya demi bertemu si buah hati. Bintang mengusap lembut sambil berdoa di dalam hati, agar istri dan anaknya sehat dan selamat.
Tak lama suara jeritan tangis memekik di telinga. Intan masih mengatur nafasnya dengan senyum haru dia menyambut bayi ke tiga yang lahir dari tubuhnya. "Sayang," Sambutnya memeluk sambil menangis haru.
"Laki-laki, Pak. Sehat, sempurna!"Dokter menatap pada Bintang yang sepertinya penasaran dengan jenis kelamin si anak ke tiga dari kehamilan ke dua sang istri. Dokter itu masih mengingat dengan jelas betapa kesalnya Bintang saat setiap mengantar Intan USG, Intan selalu menolak saat Dokter akan memberi tahukan jenis kelamin anaknya. Dengan alasan tak mengapa karena mereka sebenarnya sudah memiliki anak perempuan maupun laki-laki, jadi jenis kelamin tidak masalah. Asalkan anak mereka sehat, sempurna dan selamat saja sudah menjadi kado terindah dari Tuhan untuk mereka.
" Oh, Helo boy. Pantesan Papi di suruh nyari kelereng, ternyata kamu mau main adu kelereng sama Papi!" Dia mencium pipi lembut putranya yang sedang mencari makanan utamanya. Di tubuh sang Amih.
"Udah nggak mules?" Intan bertanya saat si bayi di ambil untuk di bersihkan dan di beri Adzan. Teringat saat melahirkan si kembar Bintang yang sedang panik di dalam mobil bukannya memberikan Adzan malah melantunkan takbir seolah akan lebaran. Saking panik, senang dan sedih campur aduk dalam kepalanya.
Bintang yang sedang membantu suster mengangkat tubuh si istri dari ranjang khusus bersalin ke ranjang brangkar biasa , yang akan di dorong menuju kamar rawatnya.
Bintang mengusap perutnya dan langsung menyeringai. " Ilang, Yank. Mentang-mentang bayinya udah keluar. Asli aku nggak akan lagi asal jeplak!" katanya menyesal.
Intan tertawa kecil. "Kalo nggak slengean itu bukan kamu, Ang!"
"Iya, ya. Kan judulnya Jerat Cinta Cowok Slengean. Kan nggak seru kalo aku nggak kayak gitu, walaupun di bully juga. Aku mah apa atuh, tukang modus, tukang mie sama telor Negro nggak kayak yg lain CEO dan pengusaha mentereng yang berpenampilan necis. Aku, kadang ke kedai pake celana training sama jaket olahraga. Kemeja kalo ke market aja." Akunya sambil mendorong brangkar yang di tiduri si istri keluar dari ruangan bersalin di ikuti box bayi dong belakang mereka.
Pintu terbuka Ayah, Bunda, dan langit mereka langsung menghampiri.
"Gimana?"
"Sehat. Sempurna. Selamat." Kata Bintang pada semua keluarga.
Semua bahagia dan langsung mengerubuni box bayi berselimut biru itu.
"Wah, yang sekarang Intan banget mata sama bibir nya." Puji Ayah.
Intan tersenyum bangga, akhirnya anaknya ada yang mirip dengannya.
"Normal, Yah. Kan bikinnya berdua. Kalo nggak kayak aku, ya kayak Amih nya!" Bintang tak mau kalah.
"Baru juga lahiran, udah di tanyain KB?" Ayah yang duduk di sofa bereaksi.
"Ck, Ayah nggak tau gimana hebatnya calon-calon anak aku, melesat kencang tanpa nyasar." Katanya bangga dengan menepuk dada.
Intan hanya mampu memejamkan mata menahan malu.
"Namanya?" Tanya Bunda yang sedang menggendong cucu kesekian nya.
Bintang menatap sekilas pada si istri. "Namanya, Devan Putra Bintan." ujarnya sambil mengecup bayi merah yang sedang di gendong Bundanya.
Semua orang menyambut gembira kehadiran anggota keluarga baru. Keluarga mereka semakin ramai semakin berisik tentunya dan para perempuan semakin heboh jika berkumpul.
...****...
Beberapa tahun berlalu.
Hari ini keluarga besar Gunawan akan berlibur ke Lombok.
Intan yang kembali hamil anak ke empat dari kehamilan nya yang ke tiga. Merasakan nikmat nya masa kehamilan trimester awal.
Mual, muntah, mood yang naik turun. Kesel yang tiba-tiba menggelegar. Atau hanya karena suaminya tidur nyenyak. Intan tak segan-segan mengusiknya.
Seperti tadi malam saat Bintang sedang nikmat-nikmatnya larut dalam mimpi.
Tiba-tiba saja sesuatu yang hangat dan basah dia rasakan melingkupi si pyton. "Ahh ... " Dia mendes*h.
"Yank?" panggilnya parau, tangannya menyugar rambut si istri yang sedang mengu*lum si pyton.
"Agh, kamu ... ampun, suka bikin kejutan!" racaunya.
Intan mendongak. "Nggak suka?" tanyanya melepas aktivitasnya.
Bintang yang sedang memejam menikmati acara yang memanjakan dirinya, angsung menunduk menatap si istri. "Su-suka. Cuma kaget, tiba-tiba aja anget, basah, tapi mantep!" katanya, dia tak mau si istri merajuk dan menghentikan kegiatannya yang akan membuat dia gila dan tak bisa kembali tidur.
Sesuai dengan apa yang dia takutkan. Intan merajuk dan kembali tidur, bahkan memunggungi nya.
Bintang merasa di hempaskan ke dasar jurang. Sakit tak berdarah. Bisa-bisanya dia di tinggalkan setelah semua yang sudah dia rasakan hampir membawanya terbang.
"Ish, Sayang. Terusin, kenapa malah berhenti?" Dia memeluk dari belakang mengusap lembut perut yang baru sedikit menonjol di usia kehamilan baru masuk tiga bulan itu.
"Ayo,"
"Nggak, udah males!" Intan menutup wajahnya dengan selimut.
"Ok, kamu diem aja. Aku yang kerja," Bintang merangkak di atas si istri.
"Ada, syaratnya!" Intan menyeringai.
Bintang langsung merinding, biasanya senyum itu di pakai si istri untuk permintaan aneh atau gila.
__ADS_1
"Kalo kamu udah keluar sebelum sepuluh menit, aku kasih bonus. Aku bikinin mie goreng, jadi kamu basah, perut kenyang, tidur pasti nyenyak."
"Kalo aku kalah?" Bintang menegakkan tubuhnya.
Intan diam seolah berpikir.
"Kamu gendong aku ke gerbang komplek buat nyari mie tek-tek!" katanya.
Bintang diam , mengerutkan keningnya.
"Apaan, aku di bikinin mie instan. Kamu di beliin mie tek-tek. Nggak adil,"
"Ok, nggak usah. Aku tidur!" Intan hampir berbalik namun segera Bintang menahannya. "Iya, ok. Kita mulai sekarang!" Bintang mengalah.
Intan menyeringai.
Berakhir di jalan. Bintang sedang menggendong Intan di punggungnya. Dia kalah di menit akhir. Padahal, hanya kurang dua menit saja tapi si lahar panas tak sanggup lagi dia tahan.
"Kamu, berat. Yank!" keluhnya.
"Bodo, suruh siapa kalah?"
"Ck, sengaja. Aku lagi pengen makan mie tek-tek abang yang depan!"
"Alah, alasan aja!"
Bintang tertawa hingga kepalanya mendongak ke atas.
Intan ikut tertawa. Lalu kepala Iqbal dia tarik hingga miring. Di kecup lembut pipi sang suami. "Love you!" intan berbisik dan mengeratkan pelukan nya.
Bintang menyeringai, pipinya terasa hangat, detak jantung nya tak normal, dan perutnya terasa di tumbuhi bunga-bunga. "I Love You to, always and forever." Bintang mengecup tangan Intan yang sedang merangkul lehernya.
Malam itu, malam sederhana menuju tukang mie tek-tek depan komplek. Mereka saling mengutarakan rasa cinta yang tulus dan abadi. Rasa cinta yang di mulai dari rasa benci dan kesal. Merubah jati diri dan sudut pandang mereka.
Kini hanya menyisakan sebongkah cinta yang gemerlap, kuat, kokoh dan saling melengkapi. Dengan Anak-anak sebagai pelengkap biduk rumah tangga mereka. Banyak kisah sedih, haru, marah, kesal yang akan selalu mereka ingat sebagai catatan perjalanan cinta mereka.
Cinta saling melengkapi, menerima semua yang ada di pasangan. Saling mengalah, dan memahami seiring berjalan nya waktu. Tumbuh, dan berubah seiring waktu perjalanan cinta mereka akan selalu kuat dan Abadi.
*
Di Bandara sepasang suami istri tua duduk dengan cemas.
"Mereka kemana sih?" gerutu sang suami.
"Sabar, masih setengah jam lagi," Sang istri mencoba menenangkan sang suami.
Terlihat tiga pasang suami istri bersama anak-anak mereka berlari menghampiri pasangan tua itu.
"Kakek .... Nenek ... " para anak kecil berlarian berlomba-lomba menghampiri.
"Ughhh ... cucu-cucu kakek yang cantik yang ganteng," pria tua itu merentangkan tangannya lebar-lebar menyambut delapan cucu yang berlarian ke arah nya.
"Kenapa lama banget?" nada bicaranya dan sorot mata nya berubah seketika saat menghadapi anak dan para pasangan nya.
"Nggak lah, ini kan masih jam 9 lewat dikit," jawab Bintang.
Langit menuntun istrinya yang tengah hamil besar duduk di sebelah Bunda mereka.
Dafa dan Mentari berjalan paling terakhir.
"Kamu kenapa?" tanyanya pada sang putri yang memberengut.
"Isi lagi, Yah. Udah mau dua bulan!" Dafa menjawab dengan cengiran serba salahnya.
Ayah menggelengkan Kepala nya, "Jadi semua hamil ini?" tanyanya memastikan .
Para anak dan menantu mengangguk membenarkan.
"Untung dulu Bunda kabur, kalo nggak anaknya selosin kayaknya!" gumam sang istri namun malah membuat semua orang di sana tertawa.
Panggilan dari maskapai penerbangan yang akan mereka tumpangi terdengar menggema di ruang tunggu itu, mereka pun segera bersiap.
Sepasang suami-istri istri tua menuntun dan menggiring 8 cucu-cucu mereka yang terlihat ceria. Ada tiga anak Mentari, Seorang anak dari Langit, dan tiga orang anak dari Bintang dan satunya adalah Altaf si sulung kesayangan Ayah Gunawan.
Di belakangnya tiga pasangan anak dan menantunya berjalan mendorong koper2 bawaan dengan para istri yang sedang hamil.
Mereka menuju pulau Lombok untuk berlibur. Acara yang rutin setiap tahun mereka lakukan. Selama seminggu dalam satu tahun keluarga mereka akan ber destinasi ke suatu tempat di Indonesia. Mengagumi negri tercinta yang keindahannya tak kalah dengan negara lain.
...----The End----...
Terimakasih sudah mengawal cerita mereka sampai tamat 🤧🤧🤧
Melow tapi ada pertemuan bakal ada perpisahan 🤧🤧
Sekali lagi terimakasih sudah menyemangati Itti, author bubuk gorengan ini, maaf masih sangat jauh dari kata apik, terimakasih like, komen, gift dan vote yang kalian kasih ke aku. Hanya mampu membalas dengan sebuah doa tulus semoga di mana pun kalian berasa selalu sehat dan bahagia 🥰🥰😘😘
Maaf sering ada typo atau kata2 yang kurang berkenan, semoga kalian memaklumi🤭
Salam cinta dari Bandung buat kalian😘😘😘
Nggak janji kalo suatu hari dapet ilham buat Bonchap ya🤭🐒 ke pedean siapa yang nunggu coba 🤭🤭.
Pokoknya Terima kasih banyak buat kalian🙏🙏
Cium peluk online ya buat kalian😘😘😘
Bye semoga kita bertemu lagi di cerita ku yang lain😘😘😘😘
Di tunggu di Fi**o. Ada Wulan di sana 🥰
Dengan judul Jebakan Cinta Cewek Judes.
__ADS_1