Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
jenis berjendela


__ADS_3

...---oOo---...


Intan hanya mematung di depan pintu kamar hotel, sambil memangku Shera. Dan lelaki yang tadi pagi kesurupan itu masuk melenggang begitu saja ke kamar hotel dengan menuntun Helen.


"Pak... "


Bintang menoleh. "Apa?" Jawabnya masih dengan wajah menyebalkan.


"Cuma satu kamar pak?" tanyanya takut.


Bintang menyimpan koper di sisi ranjang besar itu.


Lalu mendudukkan Helen di atas kasur.


"Ya, kalau lu punya duit buat sewa satu kamar lagi. Pesen sana. Dana gue terbatas, mau minta ke Mentari nggak enak dia masih nunggu suaminya sadar. Mau minta ke Bunda gue pasti di semprot Ayah," jelasnya.


Intan termenung melihat kamar itu, hanya ada satu tempat tidur besar, dengan dua buah sofa single di dekat jendela.


"Saya tidur di mana pak?" tanyanya polos.


"Ya, di kasur lah... " Bintang menciumi Shera yang baru Intan baringkan.


"Ehmm... bapak mau di sofa?"


Bintang langsung menoleh, "enak aja... kamu kira saya kantong apa? mau di simpen di kursi!" geram nya kesal.


"Bu-bukan Pak. Maksud saya, masa kita tidur satu ranjang?"


"Ya, biarin. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh, soalnya saya nggak suka sama kamu yang aneh!" Kata nya dengan wajah menyebalkan.


"Ihhhh... bukannya dia yang aneh? pake mutar balikkan fakta. Pikasebeleunn... (nyebelin). " Gerutunya dalam hati.


Intan mulai mengurus anak-anak menggemaskan itu, sesekali dia menimang Shera yang menginginkan asi.


"Pak, Asi nya Shera sedikit lagi."


Bintang yang sedang berbalas chat dengan Naya langsung memasukan ponselnya ke dalam saku.


"Ya udah gue ke rumah sakit sekarang," katanya melenggang begitu saja ke luar kamar hotel.


*


*


Hampir dua jam


Bintang datang dengan menenteng sebuah wadah kotak pendingin khusus Asi. Juga satu buah jinjingan besar yang ternyata sebuah kotak penghangat asi. Yang baru saja adiknya minta belikan dengan kartu debit adik nya tentu saja.


"Nih, ada tiga botol, lu tinggal angettin."


"Ibu beli lagi?"


"Iya, lah adik gue banyak duit. Laki nya apalagi, buat yang gini mah cetek," ucapnya bangga.


Intan mengangguk membenarkan, bahkan majikannya itu sering memberi bonus tambahan padanya. Jika makan di luar pun mereka duduk. satu meja tidak membeda-bedakan.


"Gue mau ke Jakarta, lu nggak apa-apa kan kalo di tinggal? sekarang ikut gue ke bawah. Kita beli cemilan buat persediaan lu sama anak-anak." Bintang berdiri dengan menuntun Helen, Intan di belakang mengikuti dengan menggendong Shera.


*


*


Masuk ke sebuah supermarket ternama.


Yang jarak nya tak jauh dari hotel yang mereka tempati untuk beberapa hari ke depan, selama Mentari merawat Dafa di rumah sakit.


Bintang yang menuntun Helen dan di ikuti Intan, malah membuat mereka seperti hal nya pasangan suami istri.

__ADS_1


Bintang menarik sebuah troli belanja lalu mendudukkan Helen di atasnya.


"Ambil apa yang lu sama anak-anak butuhin, bebas apa aja. Orang pake duit mak nya!" Bintang terkekeh sambil mendorong troli.


Intan dengan patuh membeli popok ke dua anak majikannya itu, lalu berbagai cemilan untuk Helen, dia juga mengambil beberapa makanan pedas untuk nya.


Saat dia melewati jajaran pakaian dalam, Intan membulat kan matanya. Dia lupa membawa pakaian dalam. Lalu dirinya sedikit menoleh pada Bintang yang berjalan di depannya.


"Aduh, pake lupa nggak bawa daleman!" Intan menutup wajahnya, bingung bagaimana caranya menyampaikan pada lelaki rombeng itu, dia ingin membeli pakaian dalam sebagai ganti beberapa hari ke depan.


"Tan... " panggilan Bintang membuyarkan lamunan Intan.


Intan mendekat ke arahnya, "udah? yuk kita bayar. biar gue nggak ke maleman ngapel," ajaknya .


Intan bingung namun dirinya tak mungkin tidak mengganti pakaian dalamnya, apalagi sampai tidak memakainya.


"Ayokk... " Bintang berjalan menjauh.


Intan masih mematung di tempatnya.


"Pak... " panggil nya dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar Bintang.


Bintang menoleh sedikit lalu Intan berjalan mendekat.


"Maaf, Pak. Bukannya saya lancang, mau minta ijin buat beli... ehmm, anu. Itu..."


"Ck, ngomong apa sih lu? nggak jelas." Sentaknya.


Intan mengusap punggung Shera yang berada dalam gendongannya, mencoba tak terlihat gugup namun lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan, saya mau beli pakaian dalam. "Ampun," katanya dalam hati.


"Apa?"


"Saya, ijin mau beli itu... lupa nggak bawa!" tunjuk nya pada lorong yang berjejer rak memuat beragam model pakaian dalam sesuai merk nya.


Bintang menoleh pada apa yang Intan tunjuk.


"Ya, udah. Sana ambil, hal penting kayak gitu bisa lupa." kekehnya.


Intan dengan wajah merona berjalan ke arah jajaran berbagai merk pakaian da*lam.


Dia memilih sesuai keinginannya, yang dia rasa nyaman.


Bintang berjalan mengikuti sambil menahan senyumnya.


Saat sedang memilih, Bintang mendekat. "Nggak kegedean? badan lu kecil kan!" katanya dengan sok tau nya.


"Ini emang ukuran saya, Pak." Intan memegang tiga pasang pakaian da*lam itu yang menjadi pilihannya.


Bintang mengangguk dan seorang wanita spg dari salah satu brand mendekat ke arah mereka.


"Maaf, kak. Mau sedikit menawarkan produk kami, kalo untuk ibu menyusui lebih baik kakak memakai jenis ini." SPG itu menyodorkan sebuah jenis br* dengan model untuk menyusui.


"Kenapa?" Bintang dengan mulut menyebalkan sekaligus keponya itu bertanya.


Intan hanya memejamkan mata, bermaksud akan menolak karena dia tau jenis br* apa yang di tawarkan padanya.


"Oh, ini jenis br* untuk menyusui," si SPG itu menjelaskan dengan canggung karena laki-laki yang bertanya padanya soal keunggulan produk nya yang memang khusus wanita.


"Kok, bentuknya gini? ini buat apa? loh kok kayak jendela?" Mulutnya nyerocos dengan tak tau malu.


Ingin sekali intan menyumpal mulut itu dengan kain yang tengah dia pegang.


"Heheheh... bapak bisa saja, memang seperti jendela ya! itu untuk memudahkan istri bapak mengeluarkan maaf... put*ng untuk menyusui tanpa ribet harus membuka pengait, atau hal lain yang mungkin akan merusak kontur atau posisi dari dada istrinya." Jelas SPG itu dengan canggung, namun berusaha menjelaskan.


Bintang menahan tawanya, memainkan perannya sebagai terduga suami dari gadis sebelahnya.


"Ya udah saya ambil 3, warna apa sayang?" tanya nya pada Intan sambil menyunggingkan senyum meledek.

__ADS_1


Intan hanya menggeleng. "Nggak usah, ini aja!" katanya menolak.


"Eh kak, keindahan postur itu penting. Apalagi anak kakak sudah dua. Pasti butuh ini, agar terawat." Bujuk si SPG yang keukeuh memaksanya untuk membeli.


"Udah, pilih warnanya." Bintang kembali berucap.


"Yang lembut aja, " akhirnya wanita itu pasrah.


"No nya kak?"


"Nomor apa? HP?" Bintang kini bertanya.


"Ah... si bapak, ngelucu terus. Ya no br* nya dong."


Saut si SPG.


"No 38." Intan sedikit berbisik.


Lalu SPG itu berjalan ke arah stand nya. Datang kembali dengan tiga buah br* menyusui dengan tiga warna lembut.


Intan pun segera mengambil nya dan pergi melenggang duluan mendahului Bintang.


Bintang terbahak di belakangnya.


Dia membayangkan apa yang keluar dari jendela br*khusus itu, "ada ya modelan begitu? Naya pake nggak ya? anjirrr otak aing... harus langsung otw." Batinnya berkata, kembali dia terkikik geli


*


*


Mereka sudah sampai di hotel.


Berjalan bersisian dengan masing-masing membawa tentengan kantong belanja.


"Bapak harus nya nggak usah beli, nggak usah ke bujuk rayuan SPG tadi." akhirnya Intan buka suara.


Bintang yang berjalan dengan Helen yang berada di gendongannya hanya tertawa, "biarin siapa tau kamu butuh."


"Atau... pake kalo ketemu calon suami kamu!" tambahnya lagi.


Intan mengerut kan keningnya, "Calon suami?" dia membeo.


"Iya, yang ada di foto kamar kamu. Dia calon suami kamu kan?" Bintang menoleh ke arah gadis di sebelah nya.


Intan hanya menghela nafasnya berat dan sesak, Bintang seakan menancapkan dua jarum sekaligus di hatinya, pertama saat dia menyuruhnya mengenakan br* berjendela itu saat bertemu dengan calon suaminya, padahal sewaktu masih hidup Dani begitu mengagungkan tata krama, dan kesopanan dia menjaga betul kekasihnya itu, walau mereka telah memutuskan akan menikah tapi belum pernah dirinya mendapatkan hal yang tidak senonoh. Yang ke dua dia membuat dia harus mengingat Mas Dani kekasih hatinya.


"Tan... " Panggilan itu membuyarkan lamunannya


"I-iya pak?"


"Ini kartu aksesnya ada di saku, gue susah, Helen tidur. Tangan gue penuh keresek. Lu ambil deh.. "


Intan dengan takut namun tetap memberanikan diri mengambil kartu yang berada di saku celana Bintang si lelaki rombeng menyebalkan.


"Masukin tangan kamu... " titahnya.


Intan dengan ragu mulai mendekat dan tangannya masuk ke dalam saku celana chinos yang memang sedikit ketat.


"Agghhh... masuk terus Tan... ke bawah, emang agak dalem tapi pasti kamu nyampe kok," katanya.


Bersambung ❀❀❀


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🀣🀣🀣


Yang mau jelas cerita Mentari sama Dafa yuk tengokin dulu cerita mereka biar makin kenal kelakuan Bintang, jadi kalo ada apa-apa, kalian tau karma nya dari mana dan dari siapa... 🀭🀣


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2