
...o~~~~o...
Bintang masih merayapi tangannya mencari saklar lampu. Saat menemukannya tanpa pikir panjang dia langsung menekannya.
Terlihat cewek yang sering dia maki itu meringkuk di atas tempat tidur nya.
"Heh... bangun, bikinin gue kopi sebelum pulang!" Katanya sambil mengguncangkan tubuh Intan.
Gadis itu tak bergeming, masih dengan posisinya.
"Ck, Tan... Intan, bangun... bikinin gue kopi!" Bintang kembali mengguncang tubuh gadis kurus yang sedang meringkuk.
"Mas... mas dingin, aku capek!" Intan terdengar menggumam.
Bintang tersenyum sinis, "bisa-bisanya Intan menolak perintahnya, dan malah berkeluh kesah." batinnya.
Saat menepuk lengannya, Bintang melotot kan matanya. "Panas banget, lu sakit?" pertanyaan terdengar bodoh sekali.
Tak ada jawaban dari Intan, Bintang langsung berlari ke dapur melihat kotak obat yang terpajang di atas kulkas.
Lalu dia mencari obat penurun panas. Setelah menemukannya dia pun mengambil segelas air.
Dia terhenti di meja makan, sedikit berpikir apakah Intan sudah makan? Lalu dia memutuskan memesan bubur ayam dari aplikasi pemesanan, dan menunggunya di teras. Udara malam itu sangat dingin, dia melihat taman depan dan jalan basah, "berarti tadi hujan, gue nyenyak banget tidur. Ampe nggak sadar hujan." cicitnya pada diri sendiri.
Tak butuh waktu lama, seorang driver ojol berhenti di depan pagar rumah adiknya itu, dia membuka pagar yang ternyata tidak di kunci, "Si ceroboh, gimana kalo ada orang jahat masuk, terus liat dia tidur di kamar." kembali dia mendengus kesal.
"Pesanan bubur ayam Mang Otto atas nama Pak Bintang?" tanya si kang ojol itu.
"Betul."
"Yang satu kumplit pake dua telor satu sate hati ayam."
"Yang satu bubur polos pake kacang aja."
"Waduh kebalik Mas, saya pesen yang komplit pake kacang sama sate hati, yang polos pake telor." Bintang yang sudah memegang kantung plastik berisikan bubur itu melongok menatap dua bungkus bubur ayam itu.
"Waduh, gimana dong Pak?"
"saya nggak suka bubur yang ada telornya." Bintang menatap kecewa pada si driver ojol itu.
"Saya punya ide, Pak. Gimana kalo telor nya bapak sendok pindahin ke bubur yang polos."
"Terus kacangnya? saya kalo makan bubur suka sama kacangnya."
"Ya, bapak ambilin aja kacangnya di bubur yang polos,"
"Haduh jadi ribet," Bintang menghela nafasnya.
"Nggak Pak, Bapak makannya berdua kan itu mangkuknya jejerin terus temennya ambil telor bapak, bapak ambil kacangnya. Impas toh!"
Bintang hanya mengangguk pasrah, dan memberikan uang untuk membayar pesanan bubur terbaliknya.
Bintang berjalan masuk kembali ke dalam rumah, sambil memikirkan perkataan si Bapak ojol tadi.
"Telor gue di ambil, terus gue ngambil kacangnya. Kok merinding gue ngedenger kalimat itu." Dia bergidik ngeri masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah adiknya.
*
*
Bintang memindahkan dua bungkus itu ke dalam mangkuk. Terus menuruti ucapan kang ojol yang menyuruhnya memindahkan telor dan mengambil kacang dari Intan, eh dari bubur Intan maksudnya.
__ADS_1
Setelah selesai mencomot satu persatu kacang Intan, eh... kacang di mangkuk bubur Intan selesai, dia membawa dua mangkuk itu ke dalam kamar Intan.
"Tan... Intan, woy bangun. Gue bawain bubur biar lu makan obat." Dia menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu yang dia rasa semakin panas.
"Aduh, panas banget. Mau ke dokter?" Intan masih tak bergeming.
Dia membalikkan tubuh Intan menjadi terlentang, wajah cantik itu terlihat pucat namun pipinya merona karena suhu nya yang tinggi.
"Cakep... "
"Eh, anjirr... dasar cungkring. Eh, makan... buruan,"
Intan menggeliat, saat Bintang terus menggoyang kan badannya.
"Saya, pusing pak." Keluhnya saat mencoba bangun dari posisi tidurnya.
Bintang membantunya bangun dengan tangan yang dia selipkan di ketiak Intan.
"Sandaran," katanya sambil menata bantal di punggung Intan.
"Sini, gue suapin."
"Nggak usah, pak. Saya sendiri... "
"Buruan, biar lu cepet sembuh. Gue mau pulang." potongnya sambil mengambil mangkuk di meja kecil di sebelah kasur Intan.
Intan pun dengan canggung membuka mulutnya, karena pait mulutnya, juga karena terus mendapatkan bentakan dan paksaan dari Bintang, bubur itu terasa sulit dia telan.
"Buruan, makan nih telornya. Paksain, biar kamu kuat."
"Kuat?" Intan membeo
"Iya, telor kan gede vitamin nya. Apalagi aku kasih kamu dua telor." Bintang kembali mejejalkan potongan telur dalam sendok ke depan mulut Intan.
Bintang menatap nya sambil berpikir, mual? apa mungkin dia hamil? tadi di tlp dia nangis, apa mungkin yang dia sebut kakang adalah pacarnya? Bintang menggumam dalam hatinya dengan segala pemikiran yang dia kira-kira sendiri.
" Ya, udah. Bapak pulang aja!" Intan kembali merebahkan tubuhnya yang terasa menggigil.
"Makan obatnya dulu!"
Intan menggeleng lemah, "saya nggak bisa makan obat kalo nggak pake pisang!" Katanya lemas.
Bintang hampir terbahak mendengar pengakuan Intan yang sangat polos.
"Kayak, manusia jadul!" Dia masih terkikik-kikik geli.
Intan hanya mencoba memejamkan matanya tanpa menghiraukan perkataan Bintang yang sedikit meledeknya. Memang asli dia harus menyelipkan obat itu di potongan pisang baru bisa dia makan.
"Makan obat pake pisang gimana?" Bintang bertanya serius.
"Ya gitu, di masukin ke pisang. Terus di makan!" Intan menjelaskan dengan sedikit risih.
Lelaki itu tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Di jejelin utuh pisangnya? kamu nggak akan keselek gitu? mentok pasti kan tuh pisang kena ujung tenggorokan." Bintang mencecarnya.
"Ya di potong pak, nggak utuh saya makan semua." Intan mulai jengah dan ucapannya sudah mulai berani sedikit judes.
Bintang mengangguk pelan seperti seorang anak kecil yang mengerti suatu pelajaran, "Gue kira di telen bulet2 tuh pisang, ntar nyodok." eh anjirr gue ngomong apa sih? batinnya mencerna ucapannya sendiri.
*
__ADS_1
*
Bintang keluar dari kamar Intan, membiarkan Intan kembali tidur. Dengan perut yang terisi sedikit bubur dan sebelah telur.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, pikirannya menerawang jejeran Foto di dinding kamar Intan yang tadi dia lihat. Foto Intan dan seorang lelaki gagah, ada juga foto lelaki itu sendiri. Cakep dengan tubuh berotot keren. Pikirnya merasa minder.
"Eh, kenapa gue minder. Emang gue mau ngapain?" gumamnya membela diri.
Tapi ada sedikit rasa aneh kembali dia rasakan di dadanya.
Lalu ponselnya berdering sekarang dia melihat pemanggil itu adiknya.
"Hemmm... "
"Kak, tadi pulang dari rumah aku jam berapa?"
"Hah... i_itu, kenapa emang?" jawabnya gugup.
"Bukan, aku tlp Intan kok nggak aktif ya?"
"Nggak tau, tidur kali." Jawabnya asal. Tidak mungkin dia memberitahu adiknya kalo dirinya masih ada di rumahnya. Berduaan dengan seorang gadis.
"Ya, udah aku suruh satpam pos depan buat ngecek deh."
"Eh, nggak usah. Biarin napa!" Dia berusaha mencegah. Tidak bisa terpikir kan dia akan di gerebek dan di nikahkan dengan gadis cungkring itu, seperti adiknya dulu menikah karena di gerebek, walaupun itu semua modus dari Dafa suami adik nya itu.
"Ishh... nggak jelas, aku takut teh Intan sakit."
"Ya, udah gue ntar liat."
"Kakak di mana?"
"Lagi nonton TV, eh... "
"Di mana?"
"Di rumah si jeding... " Jawabnya asal.
"Jeding? siapa?"
"Aduhhh,temen gue emang harus di kenalin semua sama kamu?"
"Namanya jeding lucu!" terdengar Mentari tertawa di sebrang tlp itu.
"Dah lah... gue ke sana!" Bintang memutus panggilan.
Dia berdebar saat mendengar suara rintihan dari kamar Intan. Buru-buru dia berlari menuju kamar Intan.
β€β€β€
Bersambung
Hai.... Hai... ketemu lagi sama itti yang baik hati dan sholehah. Sekarang kita ceritain kisah Bintang dan lika liku kehidupannya ya....
Semoga feel menghibur ku nyampe ya bikin kalian semua terhibur π₯°π₯°π₯°.
Yang belum tau siapa Bintang. Cuzzzz baca dulu karya aku dengan judul Kisah Mentari yak nih cerita adiknya, tapi dari situ kalian udah aku kenalin siapa Bintang.
Dah lah kita mulai aja ya.... πͺπͺ
Bismillah yuk... bisa, yukkk... ngakak... biar bisa ngan*kan*π€ππͺ
__ADS_1
Mohon maaf kalo ada typo2 dan penulisan nama yang terbawa-bawa dari masa laluπ€£π€£π€£
Jujur aku susah moveon dari nama laki-laki, karya pertama iqbal sering ke bawa ke cerita Dafa, dan si Dafa masih sering ngintilin Bintang π€£π€£ maafkanπππππ.