
Flashback on
Intan meringis memegangi perutnya saat suaminya sudah meninggalkan kamar mereka, pamit untuk pergi bekerja.
Mencoba kembali memejamkan matanya, namun lagi-lagi perutnya terasa di rem*as.
"Ugh, nak... " Gumamnya sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit menonjol.
Mencoba menghabiskan susu yang di buat suaminya tadi. Intan akhirnya bisa tertidur.
Tak sampai 10 menit dirinya kembali terbangun dan memegangi perutnya yang semakin terasa sakit.
Intan berjalan ke arah kamar mandi, alangkah kagetnya dia saat menemukan flek darah di celana nya.
"Tuhan ... " Intan meneteskan air matanya takut, dia takut kehilangan calon buah hatinya.
Kembali mencoba beristirahat, mertuanya datang untuk berpamitan. Intan mencoba terlihat baik-baik saja. Padahal dia sedang menahan rasa sakitnya, tak ingin membuat mertuanya cemas.
Setelah Bunda keluar dari kamarnya, dan tak lama suara mobil Ayah terdengar semakin menjauh.
Intan berguling di atas tempat tidur, perutnya sudah terlalu sakit. Hingga Mbok yang datang membawa sarapan pun panik saat melihat istri anak majikannya sedang menangis.
"Kenapa, Neng?"
"Perut aku sakit, Mbok!" keluhnya.
"Si Mbok ambilin handuk panas buat kompres ya?" dia bingung harus berbuat apa.
Hampir satu jam menangis dia pun tak tahan, dan menghubungi ponsel suaminya.
Tak banyak kata, seperti biasanya suaminya itu langsung sigap dan memutuskan panggilan.
Flashback off
...--oOo--...
Intan mendapati suaminya itu tiba dan tergesa-gesa menghampiri nya.
Seketika hatinya merasa tenang saat melihat kedatangan suaminya itu.
Mereka pun hendak pergi ke rumah sakit, namun Intan merasakan perutnya mulas melilit seperti ingin pup.
Intan tertatih di tuntun Bintang menuju kamar mandi.
Baru saja berjalan menuju closet dan menarik turun celananya. Sesuatu yang hangat mengalir deras di sela kakinya.
Intan menunduk lantai keramik di bawah nya sudah penuh oleh cairan berwarna merah.
"Ang ... Ang... " teriaknya panik.
Pintu kamar mandi terbuka lebar, suaminya mematung sesaat. Suara pecahan gelas terdengar memekik di telinga. Dan menyadarkan suaminya dari lamunan.
Bintang langsung menghambur memeluk Intan.
"Nggak apa-apa!" Ucapnya menenangkan.
__ADS_1
Tubuh yang sedang di peluknya itu bergetar, Intan menangis histeris.
"Sakit?" Tanyanya.
Istrinya itu mengangguk, tangannya yang memeluk erat leher suaminya melonggar.
Tatapan mereka bertemu seolah saling berbagi rasa sedih dan kehancuran.
"Ma-maaf," ucap Intan lirih.
Bintang menggelengkan kepalanya, menangkup wajah pucat dan sembab istrinya.
"Nggak apa-apa, ayo kita ke rumah sakit!" ajak Bintang mengecup singkat kening Intan.
Dia berjongkok menarik lepas celana istrinya, Intan masih terus terisak. Apalagi saat darah itu semakin deras membasahi sela kakinya menggenang di lantai. Bintang sesekali mengusap air mata yang juga jatuh tak tertahan dengan lengan kemejanya.
Lelaki itu membersihkan tubuh istrinya yang penuh darah calon buah hati mereka.
Mereka pesimis calon anak mereka bisa di selamatkan melihat banyaknya darah yang keluar dari tubuh istrinya. Namun mereka tidak saling mengungkapkan mencoba tenang se tenang mungkin.
Bintang menyiram lantai kamar mandi yang seketika berubah warna menjadi warna merah pekat.
Intan di dudukan di atas closet, Bintang berlari ke arah lemari baju di kamar mereka. Mengambil baju ganti, mengambil satu buah pemba*lut dari meja nakas. Dia ingat dulu awal menikah istrinya menyimpan sisa pemba*lut di laci nakas.
Saat sedang menunduk di dekat nakas. Pintu kamar terbuka, Bunda baru datang dan menemukan Mbok Tini histeris sambil membuat teh manis panas.
"Kak?" panggil Bunda yang berlari mendekat.
"Intan?"
Bintang menunjuk dengan matanya. Rasanya dia sudah lemas dan ingin menangis kejer, melihat keadaan istrinya dan impiannya menjadi seorang Papi sepertinya harus tertunda.
"Sayang ... Oh, Ya Tuhan... " Bunda memeluk menantunya. Intan kembali terisak dalam pelukan mertuanya.
Bintang datang dengan baju ganti dan pemba*lut di tangannya. Mbok Tini menyodorkan segelas teh manis panas untuk tenaga majikannya itu.
Intan akhirnya berganti baju di bantu suami dan mertuanya.
Saat berjalan keluar kamar mandi, kepalanya seakan berputar hebat. Tangannya mencengkram lengan suaminya.
Bintang yang sigap langsung menggendong tubuh intan dan bergegas membawanya menuruni anak tangga.
"Bun, tolong. Mang Asep siapin mobil!" Bintang berkata pada Bunda nya yang berjalan di depannya.
Ayah berdiri di bawah tangga.
"Bagaimana?" tanya nya ikut panik.
Bunda menggelengkan kepalanya menahan air mata menatap suaminya. Ayah seolah paham dan mengangguk.
Intan semakin lemas, dan tubuhnya menggigil kedinginan.
"Biar, mang Asep yang bawa mobil!" Ayah memerintah.
Bintang membawa istrinya masuk ke dalam mobil. Di dalam pun Ia tak melepaskan pelukan nya pada saat istri.
__ADS_1
"Ang ... " Intan meringis memegangi perutnya.
"Iya, sabar. Sebentar lagi kita sampai!" Bintang mengeratkan pelukannya sambil menggosok tangannya di lengan Intan yang menggigil dalam pelukannya.
*
*
Dokter Mila menyimpan alat USG yang tersambung dengan monitor di depannya.
Lalu dokter wanita paruh baya itu, menatap pasangan suami istri yang keadaannya sudah tak karuan.
"Maaf, janinnya sudah tidak ada. Hanya menyisakan kantung rahim. Kita harus melakukan proses kuret!" jelasnya.
Intan memejamkan matanya lagi-lagi dia menangis, dia merasa hancur. Tanpa dia ketahui suaminya juga merasakan hal yang sama, namun lebih kuat menahan emosi kehancurannya.
Bintang menunduk mengusap kepala istrinya dan mengecupnya berkali-kali.
"Nggak apa-apa, belum rejeki kita!" bisiknya.
Intan pun melakukan kuret dan setelah nya di pindahkan ke ruang rawat inap. Karena dokter meminta Intan untuk menginap di rumah sakit agar pemulihannya dapat terpantau oleh paramedis.
Bintang sengaja melarang Bunda dan Chaca yang akan datang menjenguk. Dia ingin malam ini Intan benar-benar beristirahat, sebelum kepulangannya besok pagi.
*
*
Malamnya.
"Ang, aku mau pipis!" Intan memanggil Bintang yang baru keluar dari kamar mandi. Suaminya sudah berganti celana yang di kirimkan mang Asep barusan.
Bintang berjalan ke kasur lalu tangannya dia selipkan di bawah lipatan paha dan lipatan tangan istrinya. Dia gendong menuju kamar mandi.
Intan memejamkan matanya menahan rasa ngilu dan sakit di seputar perut dan inti tubuhnya, proses kuret benar-benar sakit. Selain membuat perut sakit dan ngilu, bagian inti pun terasa sakit dan perih.
Bintang hanya mampu mengusap kepala Intan yang sedang terbenam di perutnya menahan sakit.
Kini Intan sudah kembali tiduran di ranjangnya.
Bintang duduk di kursi di tepian ranjang.
"Naik, Ang... " Intan sedikit menggeser tubuhnya ke sisi, memberi ruang untuk suaminya agar bisa ikut merebahkan tubuh di sebelah nya.
Intan menyurungkan kepalanya di dada Bintang, Bintang mengusap lembut punggung itu. Mereka larut dalam lamunan masing-masing.
"Maaf... " Intan bersuara lirih. Merasa kalo suaminya tidak banyak bicara, pikirannya sang suami kecewa dan marah. Namun nyatanya Bintang sedang menekan rasa sedih dan hancurnya yang tak kalah besar dari sang istri.
"Shhhttt... " Bintang memotong ucapan Istrinya, berusaha tak ingin menangis di depan Intan yang akan membuat istrinya itu semakin larut dalam kesedihan.
Intan kembali terisak sambil memeluk suaminya, isak tangis itu semakin lemah dan di ganti dengkuran halus yang terdengar nafas intan tersendat karena cairan hidung.
"Nggak apa-apa, luka mu luka aku. Kita pasti bisa lewati ini semua!" Bintang menciumi wajah istrinya lalu tak lama dia pun ikut tertidur, karena jiwa raganya yang tak kalah lelah dari istrinya.
Bersambung ❤❤
__ADS_1
Like dan komennya🙏🙏
Sehat dan bahagia terus😘😘