Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Intan


__ADS_3

...~~~~...


Mentari baru tiba di rumahnya hampir jam 1 siang, Bintang masih betah di sana. Ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada gadis yang sering di buatnya kesal.


"Mana?" Mentari baru keluar dari mobilnya.


"Di dalem, dia ngomong nya jatoh. Tapi gue nggak bego lah. Masa jatoh kek yang abis bug-beg," Ucapnya dengan suara sedikit berbisik.


Mentari mengangguk semakin penasaran apa ya g terjadi dengan asisten rumah tangganya itu.


"Tadi ada laki naik motor ke sini, dia langsung pamit. Pas pulang udah babak belur, laki-laki itu yang dulu malem- malem ke sini, terus yang waktu siang nampar dia."


Mentari menautkan alisnya, "kenapa kakak hafal semua?".


" Eh, i-itu. Dah lah buruan liat dulu, lu desek biar ngaku. Kasian, sebenarnya ada apa sih sama hidup dia," Bintang begitu cemas takut adiknya mengetahui kalau dia sering ke sana di kala si pemilik sedang tidak ada. Padahal si Mpu nya rumah sudah tau semua.


Mentari masuk ke dalam rumah seolah dia tidak tau apa-apa. Dia menyapa Helen yang sedang di suapi makan siang oleh Intan. Benar saja yang di ucapkan kakaknya bahwa itu tidak mungkin luka terjatuh.


Lalu dia masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya sebelum Shera bangun, dia juga telah mengirimkan pesan pada suaminya setelah dia melihat banyak luka di wajah Intan.


*


*


"Bu, mau tidul ... " Helen memanggilnya saat Mentari keluar kamar sudah dengam baju rumahnya.


"Mba ngantuk?" tanyanya yang langsung mendapatkan anggukan sebagai jawaban dari Helen.


Ibu dan anak itu masuk kembali ke kamar, Intan membereskan mainan Helen yang berantakan.


Bintang masih diam di sofa sambil memandangi aktivitas Intan.


"Udah di obatin?" tanyanya.


Intan yang sedang memasukan mainan Helen ke keranjang mainan seketika mendongak menatap Bintang yang duduk di atas sofa dan membuat jarak nya lebih tinggi di atasnya.


"Nggak apa-apa pak, nanti juga sembuh."


"Kalo luka jatuh takutnya nanti infeksi dari tanah atau jalan, apalagi kalo dari cakaran kuku bisa banyak kumannya," Bintang dengan sengaja memancing pembicaraan seperti itu pada Intan.


Intan terdiam dia tidak bisa menjelaskan itu semua, baru saja dia membayangkan apa yang akan di ceritakan matanya sudah memanas dan hampir menumpahkan air mata.


"Tan... "


"Saya permisi Pak, agak pusing. Ingin istirahat sebentar," ucapnya pamit dan berlalu menuju kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Bintang.


Bintang hanya sanggup menghela nafas, susah sekali mengajak perempuan itu menceritakan semua keadaannya. Tapi mengingat dia ini siapa hingga ingin kepo dengan masalah yang di hadapi gadis yang sering dia bully.


Dia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tv tanpa sadar dia pun terlelap.


****


Di kamar Intan meringkuk di atas tempat tidur memeluk foto Dani almarhum calon suaminya,


"Mas, seandainya kamu masih ada. Aku nggak akan seperti ini, ada yang membela aku dari tingkah kang Adit," lirihnya dalam tangis.


Dia tertidur setelah lelah menumpahkan air mata.


Flashback On...


"Kakang nggak mau tau, pokoknya kamu harus kerja di tempat kerja temen kakang, gajinya gede. Dan lu bisa bantuin bayar hutang. Sekarang kakang di kejar-kejar penagih kamu liat muka kakang babak belur?"


"Kang, neng lagi ngusahain nyari kerja buat tambahan. Tapi kakang jangan maksa neng buat kerja di tempat pijet itu," Intan akhirnya menangis dia kesal dan merasa terus di tekan oleh kakaknya.


"Sampai kapan? kakang udah cape di kejar-kejar penagih," bentaknya di pinggir jalan yang sepi.


Intan menghapus air matanya, "cukup Kang, sebenarnya hutang bekas biaya berobat ibu udah lama lunas kalo seandainya kakang nggak nambahin terus hutang itu buat judi dan mabok. Neng capek di manfaatin terus. Neng ingin hidup tenang,"


"Terus kamu kira kakang nggak capek?"


"Terserah, itu kan ulah kakang sendiri. Intan nggak ada sangkut pautnya sama semua hutang kakang."


Adit naik pitam, dia langsung melayangkan sebuah tamparan pada adiknya. Tamparan kedua dia mendapatkan balasan dari sang adik. Emosinya semakin menjadi bahkan dia membabi buta seolah adik nya lawan yang sepadan dengan nya.


Intan mencoba melindungi kepalanya dari pukulan yang di layangkan bertubi-tubi dari kakaknya.

__ADS_1


Saat kakaknya diam terengah Intan mengambil helm yang tergantung di stang motor. Dan sekali gerakan tangan "Bugg... " helm itu menghantam kepala sang kakak.


Intan berlari sekuat tenaga masuk ke gang-gang kecil menghindari kejaran kakaknya.


Intan diam di sebuah gang mengatur nafasnya, dia berhenti di sebuah warung yang penuh sesak oleh pembeli.


Dia memperhatikan si penjual yang kewalahan melayani pembeli. Berjalan mendekat berbaur dengan para pembeli lainnya, dan akhirnya dia membeli minuman yang di blender.


"Jualan apa aja Bu?" tanyanya pada si Ibu penjual yang tengah sibuk di depan kompor.


"Banyak neng, ada seblak, cobek basreng, mie tulang, dan tahu jablay." Terangnya.


Intan mengangguk dan sebuah ide muncul di kepalanya. "Saya pesan setiap macam satu porsi ya Bu," lalu dia berdiri di pinggir warung namun matanya memperhatikan semua yang si ibu kerjakan.


Intan kaget dengan 4 menu dan satu cup minuman blender total uang yang dia keluarkan hanya 26 rb.


"Nggak salah nge jumlah, Bu?" tanyanya heran karena harganya yang dia rasa terlalu murah.


"Nggak neng, Seblak 6rb, cobek basreng 5rb, mie tulang 7rb, tahu jablay 5rb, es pop 3rb." Si ibu mengulang hitungan nya.


Intan mengangguk mengeluarkan uang 30rb , "kembaliannya buat ibu, tapi saya ikut duduk di teras ibu ya. Buat makan ini," lalu dia melihat seorang anak yang diam tak jauh dari tempatnya duduk. Anak perempuan itu menatap nya sambil tersenyum kaku.


Intan melambaikan tangannya agar si gadis kecil itu menghampiri nya.


"Iya teh?" ucap si gadis kecil yang dia kira umurnya paling 10 atau 12 thn mungkin, gadis mungil menjurus kurus seperti dirinya memakai kerudung sambil meremat jemarinya gugup di panggil tiba-tiba olehnya.


"Namanya siapa?"


"Ica, teh!"


"Rumahnya?"


Dia menunjuk sebuah rumah sangat sederhana tak jauh dari rumah si ibu penjual seblak.


"Ngapain berdiri di sana tadi?"


"Ibu yang jualan itu suka nyuruh nyuci piring, uangnya bisa buat beli beras. Saya belum masak nasi, kasian bapak sakit belum makan obat."


Demi apapun dada Intan seakan di remat, dia merasa hidupnya paling malang tapi anak di depannya lebih kasian dan wajahnya tetap memancarkan senyum yang tulus.


"Ibu meninggal, kakak pergi kerja tapi nggak pernah pulang-pulang, bapak sakit kakinya bengkak nggak bisa jalan kalo malem suka nangis karena kesakitan," ucapnya tegar namun tetap terlihat sangat rapuh.


"Bantuin teteh makan ini yuk," ajaknya


Bocah kecil itu mengangguk senang, karena sepertinya dia memang lapar.


Intan meresapi segala menu jajanan yang di sukai banyak orang itu, sampai begitu di gandrungi hingga membuat antrian panjang.


"Teh, boleh sisa nya di bawa pulang buat Bapak?"


"Nggak usah, abisin aja sama Ica. Nanti kita beli lagi buat di bawa pulang," katanya


Gadis kecil itu terlihat antusias dan kembali memakan makanan yang ada di depannya.


Intan memperhatikan gadis kecil itu yang nasibnya hampir sama dengan nya, tapi dia lebih beruntung dari Ica karena mengalami itu semua di umur yang sudah remaja, tapi gadis itu masih kecil dan dia terlihat lebih ikhlas menjalani hidup.


Akhirnya mereka berpisah di depan rumah gadis itu, uang yang asalnya akan dia berikan untuk kakang nya malah dia berikan pada Ica. Dia membekali Ica dengan bermacam sembako, sebuah termos air panas dan beberapa lusin kopi dan minuman seduh lainnya. Gadis itu bercita-cita ingin berjualan kopi di taman kota yang tidak terlalu jauh, sungguh mulia hati Ica. Dia merasa malu kenapa dia selalu merutuki nasibnya bahkan gadis kecil seperti Ica saja lebih ikhlas darinya.


"Makasih ya teh, teteh udah baik. Ica do'a untuk teteh bahagia dan cepet menikah. Jangan pergi jauh-jauh teh, pacar teteh bakal terus ngikutin teteh."


Ucapannya tidak di mengerti Intan tapi dia hanya tersenyum mendengar celotehan yang dia kira hanya ucapan asal saja seorang anak kecil.


Intan berjalan menyusuri jalan gang itu yang ternyata menembus ke jalan di dekat gerbang komplek menuju rumah majikannya.


Berjejer rencana berdesakan di kepalanya, dia bertekad akan segera merealisasikan rencananya itu.


Flashback off...


...*****...


"Woy... bangun, di rumah orang pules banget," Dafa menepuk kaki Bintang yang tidur dengan pulasnya.


Bintang menggeliat dan melihat jam sudah jam 4 sore.


"Weh ... sultan udah pulang?" tanyanya saat melihat suami dari adiknya itu sudah duduk di sebelah nya.

__ADS_1


Mentari menghampiri dengan sebuah teh hangat di tangan nya. Dia menggendong Shera yang tengah menyusu di balik apron yang menutupi dadanya.


"Makasih Bu, Helen tumben masih tidur?"


"Tadi tidurnya jam 2 , aku kan ke butik dulu tadi!" jawabnya sambil duduk di sebelah suaminya.


Mereka diam sesaat sampai melihat Intan berjalan ke arah mereka, "Bu ... saya boleh ijin ke luar sebentar?"


"Duduk dulu sebentar boleh, Tan?" Dafa memerintahkan nya duduk.


Intan mengangguk kecil lalu duduk di sebuah kursi bulat yang Bintang ambil di ruang tamu.


Lelaki itu seperti bersemangat untuk mendengar cerita Intan.


"Makasih. Pak," saat dirinya duduk di kursi bulat itu.


Dafa menggeser duduknya dan matanya seolah berbicara pada sang istri agar memulai pembicaraan.


"Teh, teteh udah kami anggap anggota keluarga ini. Kalo ada apa-apa kami harap teteh jujur dan cerita sama kami, kita berbagi aja siapa tau kita bisa nolong." Mentari mulai berbicara dengan perkataan yang dia buat agar enak di dengar.


Intan menunduk dan meremat jarinya.


"Sekarang teteh bilang, mukanya kenapa? nggak mungkin kalo itu luka jatuh sesuai yang teteh bilang sama kak Bintang." Mentari kembali berucap.


Intan memandang Bintang dengan tatapan yang sulit di mengerti, entah marah atau berterimakasih.


"Jangan marah dulu, kakak saya sayang sama teteh dia khwatir sama teteh takut ada apa-apa dan teteh nggak cerita sama kita."


"Kok gue yang sayang?"


"Shhhtt... " Dafa memotong ucapan kakak iparnya itu.


Bintang menggaruk tengkuknya, entah rasa apa yang ada di dadanya saat ini antara geli, malu dan ingin tersenyum.


"Maaf, saya kayaknya mau berhenti kerja!"


Semua orang tersentak dengan ucapan Intan.


"Kenapa?" tanya semua secara bersamaan.


"Saya di kejar-kejar kakang saya buat kerja di sebuah tempat pijat, dan saya nggak mau. Soalnya ada layanan pijat untuk laki-laki dewasa, dan saya nggak mau. Jadi saya mau pergi menghindar dari kakang saya sejauh mungkin." jelasnya.


"Jadi, luka di wajah teteh dari kakang nya?" Mentari bertanya.


Intan mengangguk lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan tangisnya pun pecah.


Mentari langsung mendekat setelah memeberikan Shera pada sang suami.


Memeluk tubuh mungil yang mentalnya sedang rapuh itu.


"Mau pergi kemana teh?" tanya Mentari.


Intan hanya menggeleng tak tau tujuannya namun tekadnya sudah bulat dia ingin pergi.


"Kita masukin kasus ini aja ke jalur hukum," Bintang berkata dengan bersemangat.


"Jangan, Pak. Nanti yang ada kakang saya makin murka. Lagian saya udah bales dia dengan membanting helm ke kepalanya," timpalnya.


"Kereeeennn... lu emang wonderkring," Bintang bertepuk tangan.


"Wonderkring?" Mentari dan Dafa membeo.


"Wonder cungkring," katanya sambil tersenyum ke arah Intan dan mendapat tatapan sinis dari mata yang sembab itu.


Bintang tertawa sambil menggaruk tengkuknya


Bersambung ❤❤❤


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣


Maaf kalo nggak bisa ngasih sajian cerita yang bagus, ataupun yang halu nya luar biasa, aku mah apa atuh otaknya cetek 🤭 dan nggak bisa aja ngehalu apa yang nggak pernah kita rasain, nanti malah nggak dapet feelnya. 🤭 maaf ya kalo nyari yang suguhan luar biasa highclass bukan di sini, asli cuma pengen menghibur bukan bikin pembodohan buat pembaca🤭🤭


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘


Sehat buat kalian semua😘😘

__ADS_1


__ADS_2