
...--oOo--...
Intan menaiki tangga dengan perlahan, Bintang yang berada di belakangnya terlihat gemas dengan pergerakan istrinya yang lama.
"Yank ... kamu kek tronton, aku dorong di tanjakkan!" Dia mengomentari istrinya.
"Pelan, nih. Aku lagi bawa anak kamu yang masih segede unyil," ucapnya sinis.
"Bukan unyil, tapi segede kutil!"
"Ang ... kutil penyakit tau, kamu nyamain anak kita sama penyakit?" Intan menoleh dengan matanya yang sinis.
Bintang menggaruk kepalanya karena merasa salah dengan ucapannya sendiri, dia takut jika istrinya itu berubah pikiran soal rencana mereka.
"Maaf, bukan gitu. Itu perumpamaan, dia kecil banget gitu!" ralatnya.
Intan kembali melangkah di undakan tangga terakhir, dan tanpa aba-aba Bintang menggendong nya membawa masuk ke kamar dengan tergesa-gesa.
Awalnya istrinya itu memekik namun seketika tertawa saat dirinya menciumi leher putih itu.
*
*
Bintang mendudukkan Intan di tepian tempat tidur.
Dia setengah berjongkok menghadap ke perut yang di mana calon anaknya sedang tumbuh.
"Papi, masuk ya!" bisiknya sambil mengelus perut Intan.
Intan tersenyum sambil mengusap rambut suaminya itu. Merasa haru namun hatinya begitu merasa hangat dan bahagia. Getaran cinta semakin kuat dia rasakan, apalagi membayangkan suaminya itu akan bermain bersama anak-anak mereka kelak.
Bintang mendongak menatap istrinya, tersenyum langsung mengangguk.
"Apa?" Intan membalas senyuman itu.
"Yuk, sekarang! sebelum Bunda manggil makan," Bintang bangkit dan sedikit melu*mat bibir Intan hingga istrinya itu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang begitu rapi.
Bintang sedikit terburu-buru, bahkan tubuhnya semakin merasakan hawa panas juga nafas yang terengah menahan. Gai*rah yang menanjak dengan cepatnya, membuat tangannya gelisah memegang apapun yang dia jumpai.
"Ehhmm ... Ang, pelan ih. Sakit ... " Intan mengeluh saat Bintang meremat kuat dadanya.
Bintang yang setengah menindihnya. Tak mampu lagi menjawab, dia tergesa-gesa menarik turun celana miliknya. Dan tangannya menyingkap dress yang istrinya kenakan.
Drrttt... Drrttt... Drrttt...
Terdengar getaran ponsel milik Intan yang di simpan di atas nakas.
Intan berusaha meraih nya, namun tangannya langsung di cekal.
"Tanggung, ini nggak akan lama."
Bisiknya dengan suara parau , dirinya sudah tidak mampu menahan lebih lama lagi. Rasa-rasanya dia akan lama lagi mencapai puncaknya.
" Ang, takunya ada yang penting!" Intan menahan suaminya yang sudah bersiap memasukinya. Tubuhnya sedikit mendorong Bintang yang berdecak kesal.
"Ya, hallo?" jawabnya saat mengulir layar ponselnya.
"Iya, betul. Saya Intan, a-apa? kenapa? Rumah Sakit mana?" katanya menjerit panik.
Bintang menyimak pembicaraan sang istri.
Intan menutup panggilan telepon itu dengan wajah panik dan memucat.
"Kenapa? siapa yang sakit?" Tanyanya, istrinya itu malah menjawab dengan tangisan. Bintang semakin panik saat Intan berlari mengambil tas dan memasukan phonselnya tergesa.
"Anterin aku, Kakang di rawat di rumah sakit. Barusan dari pihak Rumah sakit ngasih tau." Katanya dengan suara bergetar karena rasa panik.
"Sayang, tenang. Jangan panik , inget kamu lagi hamil!" Bintang mengingatkan sambil memakai kembali celananya yang sudah dia lepas.
Sedikit menunduk melihat pyton nya yang jika dapat bersuara dia yakin akan mendengar jerit tangis penuh kekecewaan. "Sabar Ton, berdoa aja ini nggak akan lama." Batinnya menggumam pasrah.
Setelah mereka selesai Bintang dan Intan menuruni anak tangga, sesekali Bintang menahan langkah kaki istrinya yang berlari menuruni anak tangga, seolah dirinya tak sedang membawa anak mereka.
"Yank ... pelan, kamu bawa baby!" Bintang sedikit meninggikan suaranya karena kesal dengan sikap istrinya.
Ayah yang sedang duduk di ruang keluarga, otomatis menoleh ke arah suara putranya yang menyentak.
__ADS_1
"Ada apa?"
Bintang dan Intan otomatis melihat ke arah ruang keluarga.
Mereka kembali melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga.
"Ayah, kita pamit. Mau ke rumah sakit!" Intan datang menghampiri Ayah mertuanya.
"Siapa yang sakit?" Ayah menyambut tangan menantunya yang hendak menyalaminya.
Intan menghapus air matanya, saat Bunda menghampiri.
"Ada apa?" tanya Bunda lagi.
"Kakang, Intan masuk rumah sakit. Yah, Bun." Bintang menjawab mewakili istrinya.
"Ya, udah cepet sana temuin. Jangan lupa ngasih kabar ke kita, nanti kita nyusul ke sana." Ayah menimpali dan dengan cepat menyuruh anak dan menantunya segera pergi.
Intan dan Bintang mengangguk lalu setelah pamitan mereka langsung pergi menuju rumah sakit sesuai informasi yang dia dapatkan dari suster yang tadi menghubungi nya.
...💔💔💔💔...
Intan tergesa-gesa berlari menuju resepsionis, Bintang terus merutuki tingkah istrinya yang bisa saja mengancam keselamatan anaknya.
Setelah mendapatkan penjelasan dan kamar mana yang kakanganya tempati. Intan dan Bintang berjalan menuju lift.
"Yank ... " Bintang lagi-lagi harus menahan langkah istrinya yang berlari.
"Please, inget bayi kita!" mohon nya.
Intan menghela nafasnya yang berat, jantungnya berdegup kencang tak tenang. Kemudian dia mengusap air matanya dan Bintang dengan sigap memeluk istrinya itu. Mencoba memberikan sedikit ketenangan.
Mereka tiba di sebuah kamar yang diyakini sebagai kamar rawat Adit.
Seorang suster keluar dari kamar itu, dan membenarkan jika kamar itu di tempati dua orang pasien salah satunya adalah Adit Pratama, kakangnya.
Intan masuk ke dalam kamar yang ternyata di tempati dua pasien. Matanya tertuju pada seorang lelaki kurus di sebelah kiri ruangan itu. Beberapa alat kesehatan menempel di tubuh kurus itu, wajah pucat dan mata yang memejam begitu menyesakkan dada Intan. Bagaimanapun dia kakaknya satu-satu keluarga yang dia miliki.
"Kang ... Ini Intan, kang... " Panggilnya di tepian ranjang.
Tidak ada jawaban, tidak ada pergerakan dari lelaki yang tengah berbaring itu.
"Udah tiga hari nggak sadar, Neng. Asalnya suka ngehibur anak ibu, yang penyakitnya lebih ringan dari Adit. Tapi kelihatan ikhlas, santai. Nggak banyak ngeluh, padahal di liat makin hari makin lemah. Semangat nya besar untuk sembuh. Katanya mau ketemu adiknya kangen," ucapan si Ibu yang ada di sisi ruangan yang sepertinya menunggui anaknya yang sedang sakit.
Intan menoleh dan menyimak apa yang di ceritakan Ibu tadi. "Bahkan, saya nggak tau kalo kakang saya sakit, Bu!" timpalnya.
"Aduh, kayaknya kakak nya nggak mau ngerepotin!" si ibu mendekat dan mengelus pundak Intan yang menunduk menangis sambil menggenggam tangan kakangnya itu.
"Sabar," ucapnya.
Intan mengangguk dalam isak tangis yang semakin kencang.
"Yank ... " Bintang kembali mencoba menguatkan.
Intan memeluk suaminya itu, kepalanya menyandar di perut Bintang. Lelaki itu hanya mampu mengusap lembut punggung Istrinya.
Seorang suster terlihat membuka pintu dan berjalan menghampiri, "Bu, boleh ikut sebentar. Ada yang mau di sampaikan oleh dokter," katanya.
Intan mengangguk dan mengikuti suster itu ke sebuah ruangan.
Ketika Pintu di buka, terlihat seorang dokter pria paruh baya tersenyum ke arahnya dari balik meja praktek nya.
"Silahkan duduk," mereka pun langsung menduduki kedua kursi yang berhadapan dengan dokter ramah itu.
"Dengan keluarga Pak Adit?"
"Betul, saya adiknya. Dok!" terangnya
Dokter itu pun tersenyum sambil mengangguk.
"Sodara Adit, sudah menjadi pasien saya sejak 3 bulan lalu, dan baru intens berobat sejak 2 bulan belakangan ini!"
"Saya dengar juga, pasien menghuni salah satu rumah teduh di dekat rumah sakit ini. Hingga dua minggu lalu Pak Adit, datang dengan keluhan perutnya sakit luar biasa, dia pun di antar oleh pengurus rumah teduh itu. Karena memang tidak ada sanak saudara yang menunggui nya... '
" Saya, tidak tau kalo kakak saya sakit. Dok!" Intan memotong perkataan dokter di depannya.
Dokter itu tersenyum dan mengangguk. Bintang langsung menautkan telapak tangannya sambil sedikit mengusap punggung tangan istrinya.
__ADS_1
"Baik, saya mengerti. Sepertinya memang kakak anda tidak ingin merepotkan. Bahkan tiga hari yang lalu saat kondisinya semakin menurun, beliau menitipkan sebuah surat dan dompet ini. Katanya, berikan surat dan dompet ini kepada adiknya, dia memberikan sebuah nomor kepada saya. Dan siang tadi saya merasa miris melihat seorang pasien berjuang sendiri melawan penyakitnya tanpa sosok terdekat yang mendampingi dan menguatkan." Jelasnya panjang lebar
Tangis Intan pun pecah, tangannya terulur menerima sepucuk surat dan dompet kecil berwarna pink dengan gantungan kunci bertuliskan namanya.
"Saya lihat, semangat sembuh nya kuat tapi Pak Adit seperti terlalu legowo dan pasrah. Dan untuk sebuah pengobatan harus semangat dan juga mental yang kuat untuk sembuh, bukan hanya pasrah menahan sakit,"
"Kakak saya sakit apa sih, dok?" tanya Intan.
"Organ dalamnya banyak yang rusak. Karena alcohol, bahkan terdapat beberapa lubang di lambung dan usus besarnya. Jadi Pak Adit sudah hampir dua bulan ini tidak bisa memasukan makanan berat selain bubur yang sangat encer atau minuman. Itu pun pasti akan terasa sangat sakit, dan sudah dua minggu ini beliau bahkan tidak bisa minum sama sekali semua dari infus dan suntikan suplemen untuk tubuhnya." Katanya menjelaskan.
Intan menggenggam pemberian kakaknya itu.
"Lalu, apa yang bisa kami lakukan untuk kakak kami, Dok?" Bintang bertanya mewakili istrinya yang masih terlihat syok menangis di sebelah nya.
"Kita, bisa melakukan operasi. Tapi harus stabil dulu keadaannya." Jelas sang Dokter.
Mereka keluar dari ruang dokter itu kemudian kembali ke arah kamar di mana Adit di rawat.
*
*
"Kita, beli minum dulu. Kamu pucet gitu," Bintang merangkul istrinya yang terlihat begitu lemas.
Bintang mengantri untuk memesan makanan di cafetaria rumah sakit itu.
Intan duduk di pojokan, sambil membuka dompet kecil itu. Ada sebuah kunci dan alamat yang ditulis di secarik kertas kecil.
Lalu dia memasukan dompet kecil itu ke dalam tas slempang nya. Intan kemudian membuka lipatan kertas yang berisikan tulisan tangan kakaknya.
Tulisan tangan yang biasanya rapi, terlihat sedikit acak-acakan. Sepertinya di tulis saat kakaknya sudah sakit.
Intan adikku sayang
Hai, cewek cantik dan tangguh.
Semoga kamu sehat saat membaca surat ini.
Maaf sebelumnya, kakang nggak jujur sama kamu.
Bukan bermaksud apa-apa, kakang udah banyak banget bikin salah sama kamu. Kakang malu, dan nggak mau menjadi beban pikiran buat kamu.
Ikhlas... ikhlas... ikhlas...
Kakang ikhlas akan semua rasa sakit yang kakang alami, ini semua dari sikap bodoh kakang sendiri.
Maaf untuk tahun-tahun menyakitkan yang kakang berikan sama kamu. Belum bisa menjadi kakang yang baik buat kamu, tapi sekarang seenggaknya kakang lega, karena kamu udah ada pendamping.
Udah ada yang jaga kamu, yang kakang harap dia akan membahagiakan kamu.
Di dompet kecil, ada kunci rumah. Memang rumah kecil, itu juga kakang pake dari uang pelangkah yang suami kamu kasih dulu.
Bukan untuk apa, tapi mungkin kamu juga masih ingat jelas keadaan kita saat Bapak meninggal dan kita sama Mamah di usir sama keluarga Bapak. Dan kakang nggak mau, kamu ngalamin itu. Tapi ini cuma ketakutan kakang aja, kalo nggak rumah nya di kontrak dan uangnya untuk pegangan kamu.
Jangan mengandalkan semua dari suami kamu.
Kamu juga harus punya pegangan sendiri, kakang tau kamu wanita hebat dan pintar. Ingat Bapak dulu sering gendong kamu sambil berkata, gadis pintarku kakang cuma ingin kamu mandiri. Dan sudah terlihat jelas kamu cewek tangguh.
Seenggaknya kakang punya muka saat nanti menghadap Bapak sama Mamah. Kakang nggak ninggalin kamu begitu saja. Kakang sudah mempersiapkan kamu menjadi cewek tangguh dan yang pasti punya bekal pegangan.
Rumahnya bisa kamu pake buat dinginin otak yang ngebul, atau hati yang panas. Rumah tangga nggak akan selalu berjalan indah. Tapi semoga itu nggak berlaku ya buat kamu, nggak usah kabur-kaburan. Hadapi semua, kamu kebiasaan kalo marah suka menghindar.
Ada alamat rumah kecil itu, ada no tlp orang yang ngurus surat-suratnya atas nama kamu.
Udah ah, kakang capek. Udah pengen istirahat.
Sehat dan bahagia selalu adikku.
(Adit)
Intan semakin terisak histeris, bahkan Bintang berlari dari arah kasir saat melihat istrinya itu menangis dengan kencang nya. Bahkan beberapa orang di sekitar mereka pun langsung menoleh dan menjadikan Intan sebagai tontonan.
"Yank ... " Bintang datang dan langsung memeluk istrinya, tanpa tau penyebab istrinya menangis meraung-raung seperti itu.
Bersambung❤❤
Like, komen, favoritnya
__ADS_1
Mau libur up dulu ya, nggak tau kapan mulai lagi 🤧🤧 Masa statistik makin sedikit 🤧🤧. mungkin sudah mulai membosankan. Udah lah biar, mau di percepat aja kalo gitu🤧🤧