
...--oOo--...
Intan baru keluar dari kamar mandi. Berjalan ke arah lemari, mengambil sebuah dress rumahan berwarna kuning pucat. Setelah selesai memakainya, dia berjalan ke arah jendela. Di bukanya lebar agar udara dan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan.
"Ang," panggilnya untuk kesekian kali.
"Hemm ... " Bintang menjawab hanya dengan gumaman.
"Jangan ganggu, ini hari Minggu. Lagian masih subuh, kamu mau kemana?" Bintang menggumam.
Intan yang tengah menggosokkan handuk kecil pada rambut sebahu nya itu langsung menoleh.
"Subuh?"
"Jam delapan, Ang. Kita kan mau kumpul di rumah nya Tari." Intan mengingatkan rencana kegiatan mereka.
"Iya, ntar. Ini masih subuh." Tolak nya lagi.
"Subuh gimana?" Intan duduk di tepian kasur mereka.
"Buka matanya!"
"Nempel,"
"Ang. Bangun," Intan mengguncang tubuh suaminya itu.
"Nih, udah bangun. Tapi baru yang bawah, coba tidurin yang bawah yang atas pasti bangun," lelaki itu sengaja meluncurkan rayuan modus.
"Nggak, modus kamu. Semalem kan udah!"
"Harus ya tiap malem? Kata dokter kan jangan tiap malem biar jadi,"
"Jadi apa?" Bintang menggoda istrinya, kepalanya dia dekatkan ke paha istrinya, dia gosokkan wajahnya di sana.
"Udah wangi, kenapa bangunin aku udah pake baju lengkap?"
"Kalo masih pake handuk, ntar aku mandi lagi!"
Bintang tertawa matanya menatap istrinya, "Istri aku semakin pinter," puji lelaki itu.
"Pinter baca modus kamu, ya?" Intan ikut terkekeh tangan nya mengusap rambut Bintang yang kusut karena bangun tidur.
"Sarapan nya apa?" tanyanya saat suami nya sudah dengan posisi duduk.
"Roti aja," jawab Bintang sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Intan pun berjalan ke luar kamar setelah selesai menyisir rambut setengah basahnya.
Menyiapkan roti bakar dengan selai coklat.
***
Bintang selesai mandi, dia terkejut mendapati istrinya.
"Yank," panggilnya
"Kenapa?"
"Kamu, kenapa?" Bintang berjalan mendekati istrinya.
"Gatel," Intan merengek.
"Puter!"
"Balik badan kamu!" Katanya lagi.
Intan menurut lalu membalikkan tubuh nya.
"Yang mana?" Bintang bertanya.
__ADS_1
"Di sebelah kiri, Ang. Tengah. Kiri lagi. Ke bawah dikit. Deket tali. Nah, iya. Itu!" Intan meracau.
Bintang terkekeh, sambil tangannya menggaruk punggung istrinya.
"Aku, kaget. Ku kira kamu berubah jadi manusia meong. Gatel kok gesekin punggung ke pinggiran lemari," lelaki itu terkikik geli.
"Kan, kamu ngga ada!"
"Bisa teriak, atau samperin aku ke kamar mandi!"
usulnya.
"Ngga, nanti malah yang lain-lain. Kamu paling bisa buat modus," Intan menoleh sedikit ke arah wajah suaminya.
"Kalo aku' lagi ngga ada di rumah, kamu gini?"
Tanyanya.
Intan mengangguk, dia sedang menikmati garuk kan suaminya itu.
"Huum, kadang ke pinggiran lemari, atau pinggiran pintu. Kadang pake sisir,"
Bintang semakin tergelak, membayangkan tingkah konyol istrinya.
"Bener-bener si cewek yang anti ngerepotin orang, tapi ngga gitu juga, Yank. Kamu tetep butuh orang sekitar kamu." Bintang menghentikan tangannya saat istrinya itu membalikkan tubuh.
Pandangan mereka bertemu.
"Makasih, Ang." Intan mendekat dan mengecup kilas ujung bibir suaminya.
"Ketengah dikit, Yank." rengek Bintang yang melihat istrinya melenggang keluar kamar.
Lalu Intan tertawa sambil berjalan menuju meja makan.
*
*
Hampir semua orang berdecak kagum, melihat keindahan rumah baru Mentari.
"Keren, Yank." Bintang memutari rumah luas itu.
"Rumah sebelah lu beli?" tanyanya saat menyadari rumah adik iparnya itu semakin luas.
Dafa mengiyakan pertanyaan dari iparnya itu.
Bintang berdecak kagum bahkan mulutnya beberapa kali menganga.
Mereka semua berpencar.
Mentari, Dafa, Langit dan Cindy duduk di sofa teras yang menghadap kolam renang.
Bunda dan Ayah duduk di tepian kolam renang.
Sementara Bintang dan Intan duduk di kursi taman di pojokan rumah besar milik Dafa Mentari.
"Yank, enak gini rumah nya. Kamu mau?"
"Nggak, kegedean. Aku capek beberesnya," tolak Intan langsung.
Bintang mengerutkan dahinya. "Kalo orang-orang mau punya rumah gede kayak gini. Ini, malah ngga mau,"
"Ya sama orang aja nikahnya," Intan menggerutu.
"Iya, lupa. Kamu kan manusia meong,"
Intan melotot menatap kesal ke arah suaminya.
"Ampun, Yank. Aduh, bidadari aku. Di akhirat juga aku mau kamu yang jadi istri aku, nggak mau bidadari!" Bintang menggenggam pergelangan tangan Intan dan dia tarik untuk di kecup.
__ADS_1
"Tapi, aku yang nggak mau. Bosen, pengen bidadara." Intan sengaja menggoda kesal suaminya.
"Nggak, nggak ada bidadara. Aku yang jadi suami kamu di mana pun, kapanpun. Di reinkarnasi pun aku tetep jadi suami kamu," matanya melotot pada Intan.
Intan hanya terkikik geli melihat suaminya buang geram.
"Aduh. Udah Terjerat cinta cowok slengean, " keluhnya.
Bintang menariknya ke dalam pelukan.
"Hati kamu udah ke lem tikus sama hati aku, nggak bisa lepas. Makin meronta makin nempel," bisiknya sambil menggigit kecil pipi Intan.
"Sakit," keluhnya sambil mengusap-usap pipinya yang di gigit sangat suami.
"Sukur, yuk gabung ke sana. Kapan sih acara makannya laper, " Bintang bangun dan menarik tangan istrinya nuntut mengikutinya.
...****...
Acara makan akan segera di mulai, namun Bintang dengan ngotot nya ingin makan dengan petai.
Dan sebagai tuan rumah yang baik, Dafa berusaha mencarikan nya. Dengan menyuruh salah satu pekerjanya mencari petai sesuai keinginan kakak iparnya.
"Hei ... jangan dulu makan, nungguin dulu pete." Bintang menahan keluarga nya yang akan mulai makan.
"Nggak kuat laper liat sambel." Mentari merengek sambil mengambil tahu dan mencocolnya pada sambel dadak yang berwarna merah menggugah selera itu.
Dafa datang dengan dua buah papan pete.
"Nih... " Dia menyodorkan nya pada sang kakak ipar.
Bintang langsung menyambar nya.
"Jangan pipis di rumah aku." Mentari mulai menyuapkan nasi pada mulutnya.
Bintang tidak menghiraukan ucapan adiknya. Dia dengan lahap makan bersama nasi liwet and the gank nya.
Sudah habis satu papan panjang pete. Saat akan mengambil pete satu lagi, Istrinya yang sedari tadi diam berbisik di telinganya.
"Jangan pipis di kamar... "
Bintang menoleh , "Hah... "
Istrinya menutup hidungnya, "Jangan pipis di kamar," dengan suara kecil karena hidungnya yang dia tekan.
"Biarin lah, aku pipis di kamu aja." Bintang nyengir lalu melanjutkan membuka bulatan mata pete itu satu persatu.
"Pipis di aku gimana?" tanya istrinya polos sambil berbisik.
"Kamu nggak tau?"
Istrinya menggeleng.
"Yang suka aku keluarin kalo malem, yang kamu ampe nyakar aku, itu masuk pipis... cuma pipis enak." Bintang tekikik geli.
"Gustiiiii... " Potongan timun yang di pegangnya dengan kesal dia jejalkan ke mulut suaminya itu.
"Bagus... sekalian kamu sambelin, tuh pasti mulutnya ebell. " Ayah ikut mengompori menantunya itu, memberikan dukungan moril untuk membully Bintang
"Euhhhh... kompor, dasar... ngerasa harus ngehasut istri aku biar durhaka, mertua macam apa Ayah?"
"Kamu yang budak macam apa?"
"Lah, yang begini. Handsome dan baik nggak ketulungan." Dia terus menimpali ucapan Ayah nya, dengan tangan dan mulut tak henti bekerja
Semuanya makan dengan nikmat, dan lahap di acara keluarga itu.
Bersambung ❤❤
Ada yg nungguin nggak? 🤭🤭
__ADS_1
Like komennya makin sepi😌😌 mulai jenuh ya? nggak akan lama tamat kok🤭
makasih semua🙏🙏 sehat dan bahagia selalu😘