
...❤❤❤...
"Huweeekk ... Huweeekk ... "
Suara orang muntah terdengar di pagi yang sudah tak pagi itu.
Bintang mengerjap dan tangannya tidak menemukan istrinya di sebelah.
Dengan rambut acak-acakan, mata menyipit dan langkah gontai mendatangi suara muntah itu.
"Yang ... " panggilnya saat di pintu kamar mandi.
Intan yang sedang membasuh wajahnya langsung menoleh.
"Kenapa? hamil?" tanyanya asal.
Intan membola begitu saja. "Di kira hamil bisa sehari langsung jadi?" ucapnya sinis.
"Hehehehe, terus kenapa? masuk angin kali. Udah di bilangin jangan mandi dulu, ntar aja sekalian. Aku pasti minta lagi dan lagi," Terangnya sambil merangkul bahu istrinya keluar dari kamar mandi.
"Nggak enak, lengket... "
"Iya, biarin yang penting pas prosesnya enak."
Intan hanya menggelengkan kepala, semakin terbiasa dengan segala sifat dan hal-hal menakjubkan dari suaminya.
Wanita itu berjalan ke arah jendela membuka tirai dan membuka pintu yang langsung tertuju ke balkon. Udara sejuk lebih menjurus ke dingin menusuk tulang langsung terasa menerobos masuk ke dalam kamar.
Intan juga mematikan AC kamar.
"Kenapa di matiin?" Bintang yang selesai memesan sarapan mereka menghampiri dan memeluk tubuh Intan dari belakang.
"Udara ruangan ber AC sebenernya harus di ganti seenggaknya 4 sampai 6 jam sekali," jelasnya.
"Nggak kecium apa, aroma ... " Intan menghentikan ucapannya saat Bintang kembali menggesekkan sesuatu di belakang tubuhnya.
"Itu aroma yang bikin kita seolah melayang," Bintang berkata dengan masih terus menekan-nekankan bagian yang sudah mengeras nya pada tubuh belakang istrinya.
"Mas ... "
"Ganti panggilannya, ntar jadi Mas... mas... mas.. kagak enak banget di denger," potong nya.
Intan terkikik geli sendiri, "terus apa? Aa mau?"
"Jangan ah terlalu biasa,"
"Ayank, aja. Keren tuh!" Bintang meletakkan dagu nya di pundak kecil istrinya .
"Nggak ah, alay." Tolak Intan.
Bintang memutar tubuh istrinya.
"Aku juga bilang sayang kan sama kamu!"
"Tapi, aku geli kalo harus manggil ayank." Intan nyengir ke arah suaminya.
"Ck, kek cinta bertepuk sebelah tangan," Bintang membuat wajah nya memelas.
"Aang aja gimana? itu kata legend yang pernah aku denger. Dulu mamah katanya awal2 nikah sama bapak manggilnya Aang, lebih manis ya kalo menurut aku," Intan mencoba membujuk suaminya yang cemberut.
Bintang seolah berpikir dengan sebutan baru untuknya itu.
"Ok, bagus itu. Aang bisa juga kepanjangan dari Aa ayank," ujarnya mengangguk-angguk setuju.
Intan tersenyum, kemudian kembali berjalan bermaksud untuk duduk di balkon.
Namun baru beberapa langkah tangannya Bintang tahan, dia langsung otomatis berputar menghadap kembali ke suaminya.
"Apa?" tanyanya heran.
"Sekali lagi, yuk!" Bintang mengedipkan sebelah matanya.
Intan menghela nafasnya, "Udah empat kali Ang, dari malem!"
"Terus kenapa? mau berkali-kali juga kan nggak apa-apa, kita kan suami istri!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi.
*
*
Intan duduk di sebelah nya.
"Apa-apa pasti bawa embel-embel suami istri. Terus kerjaan suami istri itu doang?" Intan mengalungkan tangannya di bahu suaminya.
Bintang terkekeh geli, " Kita kan pengantin baru, aku masih penasaran sama macem-macem gaya," katanya sambil mengecup lembut pipi Intan.
__ADS_1
Intan mengangguk, "banyak waktu , dan hari lain kan?"
"Tapi, mau sekarang. Sekali lagi aja," katanya memohon.
Intan mengerutkan keningnya berpikir.
"Sekali sekarang, nanti sekali lagi, malem sekali lagi!" cibir nya.
"Nah, itu kamu tau. Sayang ... " Bintang cengengesan.
"Kok, airnya ada aja ya?" Intan kembali bertanya.
"Kamu nggak tau? ini ibarat pompa air dengan merk paling bagus. Semburan nya paling kuat pokoknya, best ini. Bibit nya pasti luar biasa!" ucapnya bangga sambil mengusap daerah di mana si cobra itu sudah tegak.
Intan mencerna segala kata perumpamaan yang terlontar begitu saja dari mulut suaminya.
"Kalo ngomong, ishhh... suka ajaib!" Intan hendak bangun kembali namun tangannya kembali di tarik dan perempuan ber lingerie hitam itu langsung terjatuh di atas kasur dan tubuhnya langsung Bintang menin*dih kan setengah tubuhnya.
Dia mulai mengecup lembut bibir istrinya itu. Tangannya mulai biasa berkelana di segala penjuru tubuh sang istri yang kini menjadi hak paten miliknya.
Sedikit demi sedikit jari jemari itu turun ke bawah, mengusap dimana terletak cekungan hangat yang sudah terasa sedikit lembab milik istrinya.
"Kan, kamu juga mau lagi. Ngaku?" ucapnya dengan seringai menggoda.
Intan malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu, dan bingung harus menjawab apa. Bagaimana tubuhnya tidak bereaksi jika suaminya terus memberikan sentuhan-sentuhan luar biasa.
Bintang terus gencar melancarkan aksinya, mengecupi semua bagian tubuh Intan.
Dia mengintip wajah yang tengah merona menahan buncahan rasa itu. Sungguh pemandangan yang luar biasa bagaimana bangga nya dia bisa membuat istrinya yang judes, kaku dan pemalu. Terkulai lemas tak berdaya oleh ulahnya.
"Ehmm ... " Intan mende*sah saat jari suaminya bermain di bagian terkecil di tubuhnya itu.
"Shhhtttt... sekarang jadi berisik," Bintang terkekeh melihat reaksi istrinya itu.
"Abisnya, kamu yang mancing-mancing!" ucapnya kesal dengan nafas yang mulai berat.
Bintang lalu kembali mema*gut bibir itu, sungguh luar biasa mengingat kegilaan mereka semalam dan dini hari tadi.
Saat tangannya menarik lepas kain segitiga dengan tali yang membelit pinggang istrinya, dan dia juga hendak mengeluarkan pyton dari tepian celananya.
Tok.... tok... tok...
Sebuah ketukan pintu terdengar di luar kamar.
Intan yang terlonjak kaget langsung mendorong tubuh suaminya yang berada di atasnya.
"Itu, ada yang ketuk pintu, awas selimut nya jangan di tidurin," Intan menarik-narik selimut yang di tiduri suaminya.
Bintang bangun membetulkan celananya dan menggerutu berjalan ke arah pintu.
Saat membuka ternyata seorang pegawai hotel membawa makanan satu meja dorong penuh.
"Permisi, Pak. Saya mau mengantarkan pesanan makanan." Sapa ramah petugas hotel itu.
Bintang mengangguk dia lupa malam tadi dia yang memesan semua ini, tapi malah membuat kegiatan asiknya ambyar.
"Biar saya yang bawa masuk, tunggu sebentar." Bintang segera mendorong meja itu masuk dan langsung memindahkan berbagai macam menu makanan dan minuman ke atas meja di dalam kamar nya.
Dia kembali membawa roda itu ke luar kamar dan memberikan uang tips untuk pegawai itu.
*
*
Bintang kembali masuk ke dalam kamar.
Melihat istrinya masih bergelung di bawah selimut, dia tersenyum saat satu ide muncul.
Dia kembali menutup pintu balkon dan dengan sekali gerakan dia meloncat ke atas kasur.
"Aaargggg ... " Intan yang berada di balik selimut kaget atas gerakan tiba-tiba suaminya itu.
"Kamu ngapain sih?"
"Akuuu, gemeeeessss." Bintang masuk ke dalam selimut.
"Kayak bajing luncat tau?"
"Apa? kamu bilang, aku kayak tupai loncat?" tanyanya meyakinkan.
Intan tertawa sambil mengangguk.
"Abisnya, loncat kayak gitu?" keluhnya.
Bintang bergerak-gerak di bawah sana.
__ADS_1
"Apa sih?"
"Buka baju si cobra, yang kamu nggak di pake lagi kan?" tanyanya.
Intan menggeleng, "belum. Pake lagi aja?" godanya
"Eh ... jangan, enak aja." Bintang langsung memulai kembali kegiatan mereka yang terjeda.
Tubuh mereka sama-sama bereaksi saat Bintang baru melesakkan masuk si cobra baru beberapa kali hentakkan, dan dia tengah berpacu dengan pemandangan Intan yang sempurna di bawahnya.
"Ehmm ... "
"Ughhh ... "
Mereka mengerang dan meracau saling berbalas.
Bintang memainkan ritme yang membuat istrinya itu gemas sendiri, tak sabar dengan permainan suaminya yang terbilang mengulur waktu.
"Yang bener, mau nggak sih? nyebelin," Intan terlihat marah dan tak sabar.
Bintang yang sedang mengecap puncak kegemarannya sambil menggesek miliknya.
Malah mendapatkan amarah dari Istrinya.
"Dih, ayank udah nggak sabar. Candu ya?" dia melepaskan bulatan coklat yang dia hisap mengarahkan kepalanya di depan wajah Intan.
"Mau?"
"Aku yang nanya mau nggak? lama ntar ada yang ketok lagi pintu. Tau rasa, dan aku bakal ke kamar mandi!" Intan mengancamnya.
Bintang terbahak mendengar kemarahan istrinya yang terasa lucu.
"Ok, sabar sayang. Siap-siap dia datang, jangan suruh aku pelan-pelan ya!" katanya.
Lalu sesuatu melesak memenuhi bagian intinya, membuatnya merasa sesak, penuh, sakit dan enak sekaligus.
Keduanya mengejan dan mengerang bersamaan.
Gerakan dari mulai pelan hingga yang aneh nyeleneh Bintang lakukan padanya.
"Ehmm ... " Intan menatap suaminya dengan mata sayu
"Ok, kamu dulu. Abis ini baru aku." Bintang memberi waktu Intan untuk menikmati puncaknya.
Saat di rasa istrinya sudah selesai dengan denyutan hebat yang seolah memeras nya di dalam sana. Bintang kembali menggerakan pinggulnya.
Tok ... tok... tok...
Tiiittt .... titt... titt ...
Suara ketukan dan bell kamar mereka terdengar bersamaan.
"Anjir ... " Bintang menggerutu.
Intan yang ada di bawahnya seketika bergerak mencoba melepaskan pyton yang tengah bergerak liar itu.
"Tanggung, Yank." Bintang menahan tangan istrinya. Dan terus memaju mundurkan tubuhnya.
"Kebanyakan omong, giliran gini. Panik kan?"
Bintang menulikan pendengaran nya.
Intan berhasil melepaskan sesuatu yang menyesakkan nya itu.
"Astaga, Tan ... " Bintang mengerang frustasi.
Intan berlari ke arah kamar mandi dan langsung menutup nya kencang hingga suaranya berdebum.
Bintang menyambar bathrobe yang ada di sekitar nya. Tak sadar jika itu bathrobe Intan yang ada noda nya.
Membuka pintu dengan wajah marah.
"Apa sih? ganggu aj... " Mata nya membulat saat melihat siapa yang mengetuk pintu itu.
"Ngapain lu?"
Bersambung ❤❤
like
komen
favoritnya
makasih kak Endah Setyawati tips nya😘😘🥳🥳
__ADS_1
Buat yang lain kalo ngerasa ini cerita seru boleh dong kasih tau temen-temennya. 🤭🤭
Pokoknya sehat dan bahagia selalu buat kita 😘