
...--oOo--...
Dua minggu berlalu begitu cepat.
Intan masih larut dalam kesedihan di tinggalkan keluarga satu-satunya, bahkan sentuhan kasih sayang kakangnya masih dapat dia rasakan.
Bintang tak mau meninggalkan istrinya di rumah sendiri, sejak kakak iparnya meninggal dan adiknya mental istrinya itu terpukul. Dia pun memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya. Mencegah istrinya melamun sendirian.
Bintang pun sudah mulai di sibukkan dengan pekerjaannya.
Seperti pagi ini, kemeja abu sudah melekat di tubuhnya. Bintang sedang memakai jam tangannya, saat sang istri baru keluar dari kamar mandi dengan tubuh terlihat sangat lemas.
"Yank ... " panggilnya sambil cepat menyambar tubuh lemas itu.
Membantunya merebahkan tubuhnya. "Sakit lagi?" tanyanya
Intan hanya mengangguk sambil meringis dan menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya. Dia merasa semakin hari tubuhnya semakin tak nyaman.
"Kapan kontrol lagi?"
"Nanti, sore." Intan menjawab dengan suara lemas.
Bintang mengusap kepala istrinya.
"Aku usahain, pulang nggak begitu sore. Kita periksa, kalo mau apa sekarang aja?" ajaknya.
"Nggak, kamu kerja aja dulu. Praktik dokter Mila nya juga nanti sore," Intan menolak.
"Aku, nggak bisa turun makan ke bawah nggak apa-apa?" Intan menatap suaminya dengan pandangan sayu.
"Biarin, mau aku ambilin apa?" tawarnya.
"Cuma mau susu hamil aku aja. Tapi yang kamu beli semalem, kok rasa coklatnya enak?"
Bintang tersenyum, "masa? aku beli merk biasa." Di elusnya kembali wajah pucat itu.
"Ok, aku bikinin dulu. Sebelum berangkat ke market."
Intan memandang tubuh lelaki nya itu keluar dari ambang pintu.
Lalu dia mereka perutnya sekaligus, sudah dia hari perutnya semakin terasa sakit. Kadang sakitnya seolah dia susah bahkan hanya untuk bernafas.
"Kamu, sehat. Anak Ibu!" Ucapnya pada perutnya yang sudah terlihat bulatan kecil, hamilnya sudah masuk minggu ke 10. Dan seminggu lalu, dia mengeluhkan perutnya sakit . Semuanya baik, hanya saja kondisi nya yang seminggu itu full menangisi kepergian kakangnya, membuat sedikit guncangan pada kehamilannya.
Intan masih meringis, dan mengusap perutnya. Saat gagang pintu terdengar di putar dari luar. Berusaha sebisa mungkin saat suaminya masuk dengan segelas susu coklat, puding mangga dan cheesecake dalam satu nampan.
"Nih, aku simpan di sini ya!" Bunda mau ke rumah sakit jadi udah bikinin cemilan buat kamu," ucapnya.
"Ke rumah sakit?" Intan membeo.
"Check up Jantung Ayah, kemarin sempat nyeri katanya!" Terangnya.
Intan mengangguk mengerti.
"Kamu, jangan sering bikin Ayah kesel, Ang!" katanya sambil menerima susu coklat hangat dari suaminya.
Bintang terkekeh, "Itu mah, Ayah aja yang sentimen sama aku!"
"Udah jam 8, gih pergi!" Intan melirik jam di kamar mereka.
Bintang menyimpan gelas susu itu yang baru di minum separuhnya.
__ADS_1
Tubuhnya yang duduk di tepi ranjang, mendekat dan menarik Intan ke dalam pelukannya.
"Aku, kangen. Cepet sehat, sayang... " Bisiknya.
Intan tau dan merasa bersalah tidak bisa melayani suaminya, tapi mau bagaimana suaminya memang menolak karena melihat tubuhnya yang lemas dan tak bertenaga, malah membuatnya khawatir akan menyakiti istri dan anaknya.
"Maaff... " Intan membalas perkataan suaminya.
"Nggak apa-apa, tapi cepat sehat ya!" Bintang menangkup wajah itu dan mengecup singkat bibir yang begitu dia rindukan untuk dia lu*mat.
"Aku berangkat,"
"Papi, pergi ya! sayang jangan rewel, kasian Ibu!" ucapnya menciumi perut Intan.
Dia pun kembali mengecup kening istrinya dan melenggang keluar kamar.
*
*
Di meja makan Bintang yang sedang menyesap kopinya, tersentak saat Bunda menepuk punggung tangannya.
"Kenapa?"
"Nggak, aku cuma cemas sama keadaan Intan. Semakin hari semakin terlihat pucat dan nggak bertenaga!" keluhnya.
"Nah, itu harus sayang. Perjuangan istri hamil gara-gara perbuatan kita, nggak mudah dan kamu harus terus dampingi dia!" Ayah ikut berbicara.
"Perbuatan kita? itu maha karya aku sendiri Yah... "
"Iya, maksudnya kamu. Suaminya . Semprul!" bentak Ayah.
"Kamu pikir, perbuatan sendiri? terus istri nggak ikut andil?" tambahnya lagi.
"Nah, itu tau." Kembali Ayah menimpali.
Bunda hanya mampu menggelengkan kepala sambil membereskan piring kotor dan dia bawa ke dapur.
"Tapi, aku hebat kan. Yah!" ucapnya membanggakan diri.
"Hemmm!" Ayah hanya berdehem.
Bintang tertawa melihat wajah mencibir dari Ayah nya.
"Udah, sana berangkat. Abang kamu pasti udah di kantor!" Ayah bangkit dari duduknya dengan koran di tangannya. Lelaki paruh baya itu biasanya akan duduk di taman belakang sampai jam 10 sampai 11 membaca koran sebelum tidur siang.
Bintang masih menyeruput kopinya. Sebenarnya Bintang masih memikirkan sesuatu.
Saat Bunda kembali menghampiri, wanita tua berdaster itu kembali duduk.
"Kenapa?" tanyanya seolah tau ada yang di pikirkan anaknya.
" Euhmmm... "
"Entah kenapa Bun, aku ngerasa hamil Intan begitu menyiksa malem aja aku ngedenger Intan merintih terus nangis. Feeling aku... "
"Nggak usah di ucapkan, berpikir positif aja. Jangan bilang gitu di depan istri kamu. Dia lagi drop kalo samapai kamu ngeluarin kata-kata yang malah bikin semangat nya jatoh, mending nggak usah kamu katakan."
"Iya, Bintang cuma minta yang terbaik sama Tuhan. Apapun itu!" ucapan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
Feeling nya mengatakan tidak enak. Istrinya sedang tidak baik-baik, tapi dia selalu menutupi keadaan nya.
__ADS_1
Berniat menyelesaikan pekerjaan nya dan pulang saat jam makan siang, akan langsung membawa istrinya ke rumah sakit dengan atau tanpa paksaan.
*
*
Baru dua jam di market, ponselnya berbunyi dengan nama istrinya terpampang di layar benda pipih itu.
"Ang ... "
"Ya?"
"Pulang! "
"Hah?"Bintang mengerutkan keningnya.
" Pe-perut aku ... "
Bintang langsung bangun dari duduknya, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Abang nya. Lalu meminta ijin untuk pulang. Mereka tengah rapat dengan para investor.
Lelaki itu kalut bahkan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Hati dan pikirannya kacau, feeling nya dia takutkan akan terjadi.
Sesampainya di rumah, memarkirkan mobilnya asal dan masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.
Membuka kamar di lihatnya istrinya meringkuk sambil menangis. Ada mbok Tini di sana sedang mengusap punggung istrinya.
"Yank ... " Bintang langsung menghampiri istrinya.
Mata istrinya sudah sembab.
"Kita ke rumah sakit?" ajaknya.
Intan mengangguk.
"Mbok, minta air putih hangat dulu, boleh?" pintanya pada mbok Tini dengan sopan.
Bintang mengambil sebuah cardigan di lemari membantu istrinya untuk bangun. Dan memakaikan nya.
"Pengen ke kamar mandi dulu!" Intan berjalan tertatih sambil di tuntun suaminya.
Bintang berdiri di dekat pintu kamar mandi, istrinya itu menolak dia mengikuti sampai ke dalam.
"Ang.... Ang... " Terdengar istrinya menangis histeris dari dalam kamar mandi.
Bintang yang sedang menerima gelas air hangat dari si Mbok, langsung berlari ke arah kamar mandi.
Tubuhnya seolah mematung melihat keadaan istrinya.
"Ang... " Intan terisak.
PRANGGG
Gelas yang dia bawa jatuh begitu saja. Si Mbok yang ikut melihat menjerit seketika.
Bintang menghambur memeluk istrinya.
"Nggak apa-apa!" bisiknya di sela tangisan istrinya yang pilu menyayat hati.
Bersambung...
Like, komen nya ya pleaseee ๐๐
__ADS_1
Sehat dan bahagia selalu buat kita semua๐๐