
...----oooo----...
"Nggak ada, Mas. Udah dua hari kak Naya nggak pulang, kemarin sih bilang nya ada yang ngajak dia kerja 4 hari, tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi," ucap Nia adik dari Naya.
Kepala Bintang yang lelah seketika di paksa untuk berpikir, "Tapi, tadi siang. Mas masih tlp nan cuma emang nggak bilang apa-apa, dan Mas juga nggak bilang mau ke sini." Terangnya.
Lalu dia pun pamit dengan lunglai keluar dari halaman rumah yang dia bayar uang sewa nya.
"Kamu di mana sih, Nay? kenapa nggak bilang sama aku." Gerutunya.
Mobil pun dia lajukan kembali ke Bogor, tepat pukul sembilan malam setelah dia mencoba berkeliling ke tempat yang biasanya kekasihnya datangi.
Saat mobilnya akan memasuki pintu TOL, ponselnya berdering. Di lihat nama pemanggil itu adalah Naya, kekasihnya.
"Hai... sayang, kamu di mana? aku ke rumah kamu. Kamu nggak ada," katanya mendikte kekasihnya.
"... "
"Kerja di mana? kau susulin ke sana. Ada yang aku ingin bicarain sama kamu."
"... "
"Nggak, nggak akan lama."
"... "
"Ok, aku ke sana sekarang."
Mobil pun dia putar balik menuju alamat yang tadi Naya sebutkan.
*
*
Bintang memberhentikan mobil nya di alamat yang Naya berikan tadi. Dia keluar dari mobilnya, menatap bangunan ruko tiga lantai yang cukup besar di depannya.
"Ini, tempat nya?" gumamnya sendiri.
Dia menghubungi ponsel kekasihnya itu, ingin memberi kabar jika dirinya sudah sampai.
"Nggak aktif lagi," Dia menunggu hampir dua jam di luar bangunan itu, ingin masuk dan bertanya namun teringat akan pesan kekasihnya untuk tidak menelponnya duluan.
Bintang masuk kembali ke dalam mobil, saat hujan mengguyur kota Jakarta di hampir tengah malam itu.
Hampir terlelap, sebuah ketukan di kaca jendela menyadarkan nya. Terlihat Naya berdiri di sebelah mobil nya dengan tangan yang memegang payung.
Bintang lalu membuat gerakan tangannya yang memutar, menyuruh Naya untuk masuk ke dalam mobil. Namun kekasihnya itu menggelengkan kepalanya menolak.
Lelaki itu pun mendengus kesal dan keluar dari mobilnya di bawah derasnya hujan.
"Aku nggak bisa lama. Masih kerja," ucap Naya sedikit berteriak karena suara hujan yang terdengar riuh.
"Kerja apa kamu, sampai tengah malam gini?" Bintang pun berteriak agar suara nya terdengar.
__ADS_1
"Mijat, kerja aku tukang pijat."
Bintang membola dengan jawaban kekasihnya, menjadi tukang pijat? memijat apa tengah malam seperti ini? kepalanya berpikir segala kemungkinan.
"Pijat apa?"
"Pijat kecantikan, pijat akupuntur juga ada," ucapnya menjelaskan.
"Nay... aku lagi usahain modal buat kamu, please jangan lakuin yang aneh-aneh. Aku mau kamu pulang," ucap Bintang.
Naya yang sedang memegang payung, menatap ke arah kekasihnya.
"Aku butuh uang, keluarga ku semua menunggu aku. Please jangan terlalu memaksakan, aku nggak mau bergantung sama kamu. Biarin aku berusaha sendiri," ujarnya sambil mengusap pipi nya yang terasa basah.
Bintang mendengus kesal, "dengan cara kamu menjadi tukang pijat, siapa yang butuh layanan pijat tengah malam begini?" Bintang mengguncang bahu kekasihnya agar tersadar dia tidak sendiri.
"Cuma ini kerjaan yang bisa aku lakuin sekarang, aku nggak bisa maksa kamu untuk nggak milir yang aneh-aneh, yang penting sekarang buat aku adalah bisa menghasilkan uang dan membuat keluarga ku bisa makan. Soal hutang aku ke kamu, aku pasti bayar, kasih aku waktu."
"Nay... dengar aku, kamu nggak nganggep aku?udah aku bilang nikah sama aku. Biar kamu... "
"Apa? biar aku dan keluarga aku jadi benalu di. hidup kamu, begitu?" katanya memotong ucapan Bintang.
"Nay... kenapa sulit banget buat ngeyakinin kamu, aku serius dan aku sayang sama kamu!" Bintang membentak kekasihnya yang keras kepala itu.
Naya hanya terdiam dengan tatapan matanya yang penuh beban, terlihat jelas rasa lelah bersarang di tubuhnya.
"Aku masuk, kamu pulang! ini udah tengah malem." Naya membalikan tubuhnya dan ketika akan berlari Bintang menariknya ke dalam pelukannya, memeluk hangat perempuan itu yang terlihat sedang putus asa.
"Nikah sama aku, Nay... "
Pautan hangat itu terlepas saat keduanya merasa kehabisan oksigen, " Mau kan?" Bintang kembali menatap wajah Naya.
Naya hanya diam menatap wajah kekasihnya itu, lalu mengangguk kecil dengan wajah yang terlihat eksotis mata Bintang.
Mata sayu, bibir tebal, pipi cabi dengan rambut basah terkena hujan yang mulai mereda.
Lalu Bintang kembali memagut bibir itu, menyesapnya lembut dengan hati yang membuncah senang, akhirnya Kekasihnya itu mau menikah dengan nya.
"Ya, udah aku pulang... "
Naya mengangguk kecil masih dengan payungnya.
*
*
Perjalanan pulang menuju Bogor, terasa lama sekali. Dia senang bukan main, akhirnya kekasihnya itu mau dia ajak menikah. Bintang bertekad untuk bekerja lebih tekun di market milik ayahnya. Agar gaji nya pun naik karena dia akan menghidupi Naya dan keluarganya.
Senyum bahagia dan lega tak bisa dia sembunyikan, dia akan menjadi seorang suami dari perempuan yang dia sukai.
"Ngapain jadi tukang pijat Nay... awas kamu kalo udah nikah sama aku, tiap malem aku suruh mijit pyton aku ampe lemes." Gumamnya sambil membayangkan adegan erotis di kepala nya.
*
__ADS_1
*
Tiba di hotel dini hari, Bintang merasa tubuhnya bergetar menggigil, kepala nya pun terasa berat.
Dia masuk ke dalam kamar yang sepi, terlihat di ranjang itu Intan tidur sambil memegang botol susu Shera, anak-anak tertidur lelap.
Bintang tersenyum melihat pemandangan kasur di mana para keponakannya terlelap tidur.
Dia masuk ke kamar mandi mengganti pakaiannya yang masih sedikit basah sisa air hujan yang tadi mengguyur nya saat mencoba membujuk Naya sang calon istri.
"Tan... " panggil nya saat merasa tubuhnya semakin tidak enak.
Intan tertidur dengan lelapnya sampai suara Bintang tak bisa membangunkannya.
"Tan... geser, aduh badan gue meriang." Keluhnya.
Bintang merebahkan tubuhnya di belakang punggung Intan yang tidur menghadap anak-anak.
*
*
Intan terbangun di pagi hari, matanya menyipit melihat ke jam yang ada di dinding. Gadis itu tertegun saat melihat jam sudah hampir jam tujuh pagi.
Saat tubuhnya merasakan hawa panas di belakangnya, Intan berbalik dan terkejut mendapati Bintang yang meringkuk tidur menempel di punggungnya.
"Arghhhh.... " Intan menjerit dan dengan sekali tendangan dari kakinya Bintang terjungkal jatuh ke lantai.
"Tan.... aduh... " Lelaki yang tengah demam itu mengaduh memegangi kepala nya, yang terasa pening dan tulang ekornya yang terasa ngilu karena membentur lantai dengan keras.
"Bapak, ngapain tidur di belakang saya?" gertaknya.
Bintang bangun dan kembali merebahkan tubuhnya di sebelah gadis nyang tengah mengomel.
"Tan... bikinin teh panas, gue meriang." Rengeknya manja.
Intan mendengus kesal, dia tidak percaya namun saat tangannya menyentuh kening si laki-laki rombeng itu, matanya membola akan panas tubuh Bintang.
"Sebentar... " Intan melangkahi Bintang yang tidur terlentang.
"Aduh... " Bintang mengaduh saat Intan berada di atas paha nya.
"Maaf, Pak... susah. Jalan ke sana anak-anak takut bangun." Dia merona merasa malu, karena tidak sengaja seperti mengangkangi tubuh Bintang.
Bintang mengangguk lemah, mulut nya tak bertenaga untuk ngomel atau nyerocos seperti biasa. Badannya semakin menggigil dan kepalanya pusing.
Bersambung β€β€β€
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naikπ€£π€£π€£
Yang mau jelas cerita Mentari sama Dafa yuk tengokin dulu cerita mereka biar makin kenal kelakuan Bintang, jadi kalo ada apa-apa, kalian tau karma nya dari mana dan dari siapa... π€π€£
jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπ€π€π€ππππππ
__ADS_1
Sehat buat kalian semuaππ