Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Di bawa ke Bogor


__ADS_3

...---oOo---...


"Ngapain?" tanya Mentari heran saat dirinya memasukan motor itu ke dalam carport rumahnya, memarkirkan di sebelah mobil suami adiknya.


"Kagak boleh Papi ngunjungin anak-anaknya?" katanya saat membuka helm fullface itu.


"Anak-anaknya! Mas Dafa suka ngambek kalo kakak ngomong gitu!"


"Ahhh, laki lu baper!"


"Ya jelas lah, itu kan emang anak-anaknya!"


"Sombong banget, mentang-mentang produktif. Lu liat ntar ya gue bakal punya anak banyak." Bintang masuk ke dalam rumah dengan menggendong Helen.


Mentari hanya tertawa meledek. Sambil ikut masuk ke dalam rumah.


"Kenapa nggak bareng Bunda ke sininya?" Mentari duduk di sebelah kakaknya.


"Ada tuan raja yang selalu menindas hamba nya." Katanya di tujukan pada sang Ayah.


Mentari tertawa, "Aku suka aneh, kakak sama Ayah kalo ketemu pasti aja berantem."


"Jangankan lu Cha, gue juga heran. Bawaannya pasti sentimen kalo ketemu gue, apa-apa bakal dia bahas atau dia hina. Kagak ngarti lagi... mungkin gue anak Sultan yang Ayah pungut." kekehnya lucu.


"Anak Sultan masa di buang, yang ada anak pemulung yang di buang." Mentari terkekeh lalu hitungan detik lehernya di kunci oleh tangan Bintang.


"Kurang ajar lu!" Bintang mengetuk-ngetuk kepala adiknya yang terus tertawa di bawah kungkungan tangan nya yang mengunci leher Mentari.


"Ampun kak... ampun... "


Helen yang bermain tak jauh dari mereka langsung berlari menangis melihat Ibu nya menjerit-jerit.


"Piihhh.... " Anak cantik itu histeris dan langsung mengigit tangan Bintang.


"Awwww... " Bintang menjerit, saat gigi susu yang tajam karena baru tumbuh itu menancap di tangannya.


Mentari berhasil meloloskan diri lalu mengambil Helen yang masih berusaha menggigit kembali Papi nya.


"Sokooooorr!" Mentari terkekeh berlari sambil menggendong Shera.


*


*


Tak lama dari itu Bintang sedang makan rawon bawaan Bunda nya, duduk di sofa. Matanya mengedar mencari seseorang.


"Si lelet mana?"


"Pulang ke rumahnya, kasian masih lemes," Mentari menjawab dari arah dapur sambil membawa segelas susu menyusui lalu kembali ke kamar.


Saat adiknya itu masuk ke dalam kamar, pandangannya menyapu lebih setiap ruangan.


Helen yang sedang bermain boneka tiba-tiba menguap, "ngantuk?" tanyanya pada sang keponakan.


"Ibu.. "


Bintang menuntun keponakannya itu ke kamar yang di tempati adiknya.


"Cha... " tangannya mengetuk pintu kamar sang adik.


Tak lama Mentari keluar.

__ADS_1


"Helen ngantuk," katanya . Dan adiknya itu langsung mengambil anaknya dan kembali masuk ke dalam kamar.


...****...


Bintang berkeliling seperti orang gelisah merasa sesuatu ada yang kurang.


Langkah nya tiba di lorong kamar Intan.


"Tan.. " panggilnya pelan walaupun dia tau gadis itu tidak ada, namun seperti dirinya meminta ijin untuk masuk.


Dengan langkah ragu nya, mengendap-endap seperti seorang maling. Bintang membuka pintu kamar yang pernah dia tiduri beberapa hari kebelakang.


Matanya menatap ke sekeliling kamar yang rapi, dengan sebuah kasur, lemari dua pintu. Dan sebuah meja hias yang di kacanya di tempeli beberapa foto seorang laki-laki.


"Siapa? pacarnya?" tanyanya pada diri sendiri.


"Cakep juga... "


"Badannya keker... "


"Aaahh... kalo badannya gede, biasanya anu nya bukan pyton, tapi ular daun yang ijo. Mending gue lah, di balik badan biasa terdapat pyton 15cm," ucapnya bangga.


(itti: pasti bu ibu pada ngambil penggaris? 😝)


Saat Bintang akan keluar matanya tertumbuk pada sebuah kertas di bawah bantal yang terselip.


Sebuah tulisan, Menuju hari pernikahan kita. Di balik sebuah foto, Intan tengah mencium pipi lelaki yang fotonya ada di kaca meja rias.


"Oh, dia mau kawin.. " Bintang tersenyum miris.


Namun ada sesuatu yang terasa aneh di dalam dirinya, entah apa tapi dia merasa tidak nyaman.


*


*


Saat tengah menutup pintu kamar itu, terdengar jerit histeris adiknya.


Bintang langsung berlari menghampiri, dan terlihat adiknya sedang menangis mengatupkan tangannya menutupi wajah. Ponselnya tergeletak tak jauh dari kaki adiknya.


"Chaa... kenapa?" Tanyanya tapi adiknya itu tak menjawab malah tangisnya semakin pecah.


Lalu dia mengambil ponsel yang ternyata masih tersambung itu. Bertanya dan mendengar segala penjelasan dari orang di sebrang sana.


Ternyata adik iparnya mengalami kecelakaan di daerah Bogor saat pulang menjenguk Papa nya.


"Sabar... Cha." Bintang mencoba menenangkan adiknya itu.


Mereka pun pergi ke rumah sakit yang di beri tahu oleh pihak polisi tadi di telpon.


Dalam perjalanan tak banyak yang di bicarakan, adiknya terlihat terpukul, dan terus merasa bersalah karena meminta suaminya untuk membawa mobilnya untuk di servis.


*


*


Sesampainya di sana, fokusnya terpecah apalagi adiknya sempat tak sadarkan diri juga dua keponakannya yang juga sangat rewel.


Dan sebuah panggilan di ponsel adik iparnya nyang tadi di berikan oleh pihak kepolisian.


Sebuah kabar bahwa mertua adiknya itu meninggal dunia. Bintang bingung dengan semua keadaan yang menyita otaknya yang tak berapa luas karena di penuhi oleh Naya.

__ADS_1


Dia pun melakukan panggilan pada kedua orang tuanya. Meminta nya untuk datang membantu dirinya yang kebingungan.


Setelah orang tuanya mengurus pemakanan besan mereka, lalu datang ke rumah sakit di mana Mentari sesaat lalu histeris saat Dafa hampir kehilangan nyawanya. Jantungnya kembali berdetak setelah beberapa detik mesin EKG mengeluarkan suara nyaring dengan titik lurus di layar monitor. Adiknya menjerit dengan segala kalimat umpatan, rasa cinta dan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya dia keluarkan.


*


*


Bintang kembali mengendarai mobil di pagi hari menuju Bandung untuk membawa beberapa peralatan Mentari dan kedua keponakannya.


"Tan... lu di mana?"


"Di rumah Pak, ada apa?" Intan kaget mendapatkan telepon dari Bintang di pagi hari.


"Rumah lu? minta alamatnya. Gue anter lu ke Bogor. Tolong urusin para keponakan gue, adek gua laki nya kecelakaan, dan sekarang di rumah sakit." Terangnya.


Tak lama sebuah alamat dia dapatkan, dia pun langsung ke tempat itu.


Intan sudah berdiri di depan sebuah gang.


"Rumah lu masuk ke dalem?" Bintang bertanya saat Intan sudah masuk ke dalam mobil.


Gadis itu hanya mengangguk.


Mobil pun melaju menuju rumah Mentari, Intan di beri waktu satu jam untuk mempersiapkan segala barang untuk di bawa ke Bogor.


"Buruan... Tan, gue ngantuk. Tapi harus buru2 bawa lu, kasian ponakan gue." katanya di ambang pintu kamar adiknya.


Terlihat Intan tengah mengeluarkan beberapa potong baju dan memasukan ke dalam sebuah koper milik majikannya.


"Sebentar Pak, saya ambil beberapa baju saya." Katanya lalu berlari ke arah kamar nya.


Karena merasa agak lama, Bintang menghampiri nya lalu sedikit mengintip dari celah pintu. Terlihat Intan tengah mencium foto lelaki yang ada di kaca.


"Cih... langsung aja telpon ngapain juga pake cium foto," dengusnya tak suka lalu membalikan badannya kembali ke ruang tengah.


"Tan... tan... " Teriaknya memanggil.


Intan berjalan cepat ke arahnya sambil menenteng sebuah travel bagian kecil berisikan pakaian dan perlengkapan mandi nya.


"Buru... "


Intan mengekori Bintang yang wajahnya sedang sangat tak ramah. Dengan tas dan koper yang dia tarik, sambil mengunci pintu agak sedikit sulit. Namun suara klakson yang memekikkan telinga terus terdengar.


"Ampun... itu orang, masih pagi udah kesurupan." Intan menggerutu sambil pontang panting ke arah pagar.


"Lammmaaa," Bintang membentak nya.


"Kunci dulu pintu pak." Jawabnya tanpa melihat ke arah Bintang.


Mobil pun melaju menuju Bogor.


Bersambung ❀❀❀


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🀣🀣🀣


Yang mau jelas cerita Mentari sama Dafa yuk tengokin dulu cerita mereka biar makin kenal kelakuan Bintang, jadi kalo ada apa-apa, kalian tau karma nya dari mana dan dari siapa... 🀭🀣


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Sehat buat kalian semua😘😘

__ADS_1


__ADS_2