Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Balas dendam


__ADS_3

...--oOo--...


Dokter wanita itu menahan senyumnya saat memeriksa Intan. Melihat Bintang yang berada di kursi roda dengan sebuah kantong kresek yang dia pegang untuk menampung ludahnya yang terus saja dia muntah kan.


"Jadi gimana, Dok?" Intan menatap layar di depannya saat terlihat gambar yang menampilkan kedua bayi nya.


"Nggak apa2, mungkin cuma kaget mereka!"


"Apa?" Bintang seketika berdiri. Nyawa dan tenaganya seolah kembali bersatu.


Intan menatap nya sambil mencibir.


Dokter pun mengangguk dengan tangan yang mengulur memindai alat usg yang berada di perut Intan. "Tuh, air ketuban nya cukup. Mereka masih jauh dari jalan lahir. Apa ... Maaf ya, apa sebelum nya ibu sama bapak melakukan?" tanyanya sambil menatap wajah Intan dan Bintang bergantian.


Intan mengangguk kecil. Saat melihat mulut si suami yang mulai bergerak , dia langsung menyambarnya takut kalimat luar biasa yang akan suaminya ucapkan. Bisa malu dia di hadapan dokter.


"Iya, Dok. Ehm ... Kita ngelakuin itu tadi!" terangnya.


Dokter pun tersenyum lalu memberi perintah pada perawat yang baru masuk untuk membersihkan gel yang membasahi perut Intan.


"Sa-satu kali, Dok!" katanya lagi.


Bintang mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan sang Istri. "Satu sama maksudnya, Dok!" katanya tanpa malu.


Intan memejamkan matanya. "Astaga," Intan membatin. Malu? jangan di tanya.


"Oh, memang harus satu sama kan?" goda si dokter sambil mengambil gambar hasil print an usg bayi-bayi yang di kandung Intan.


"Iya," Bintang tersenyum canggung. Dan Intan sama sekali tak sanggup menatap ke arah dokter.


"Iya asal jangan di ulang-ulang, mereka nanti capek!" katanya lagi.


Bintang yang sedang membantu Intan bangun dari posisi berbaring nya, langsung menoleh pada sangat Dokter yang kini duduk di mejanya.


"Di ulang-ulang, maksudnya dok?" tanyanya penasaran.


"Iya, jangan minta nambah. Kasian mereka nanti keganggu!"


Bintang menoleh pada si istri. "Pantes, kamu kram. Yank! tadi kan kita memang nambah," Bintang berbisik pada si istri. Namun dokter dan suster jelas bisa mendengar apa yang di ucapkan nya.


Intan menatap nyalang, bahkan tangan nya sudah mencapit pinggang suami lemes nya itu.


Dokter dan suster hanya saling pandang dengan mulut menahan tawa.


"Tapi, saya mau ibu di observasi dulu. Nggak apa-apa kan, Pak?" tanyanya meminta persetujuan Bintang.


Bintang mengangguk. "Lakuin yang terbaik, Dok."


"Baik. Apa Bapak mau di rawat juga? sepertinya tadi saya liat Bapak kepayahan sekali!" tawarnya.


Bintang terkekeh malu. "Saya punya trauma sama orang yang melahirkan, Dok!" jelasnya.


Si dokter akhirnya melepaskan tawanya.


*


*


Di kamar rawat


"Yank?"


Intan yang baru saja selesai makan dan meminum semua vitamin yang di berikan, melirik malas pada suaminya yang tengah berbaring di ranjang sebelahnya. Merasa kesal kenapa bisa-bisanya si suami meminta tempat tidur tambahan. Seperti di hotel saja. Pikirnya sebal.


"Ish, itu mata tajem banget," goda Bintang.


"Apa sih?"

__ADS_1


"Kok, marah? aku juga lemas, Yank! wajib di rawat ini." katanya membela diri.


Intan menarik selimut hendak berbalik memunggungi si suami.


"Sok ... dosa munggungin suami!"


Perempuan hamil itu berbalik. "Terus aja, aku yang selalu salah." katanya mencebik.


"Ya makannya sini, ngadep nya ke suami kamu. Kalo perlu kita satuin ranjangnya biar lega!" usulnya.


"Nggak, aku mau istirahat!" katanya.


Saat sedang berdebat masalah tempat tidur. Pintu kamar rawat mereka terbuka. Mereka langsung menoleh.


"Ya ampun, ini suami istri di rawat bareng!" suara Bunda terdengar di ambang pintu.


Intan yang notabennya menantu beringsut malu, serba salah.


"Kenapa? kok bisa kecapekan?" tanya Bunda menyimpan parsel buah di meja nakas yang berada di antara ranjang anak dan menantunya itu.


Intan hanya tersenyum menyalami tangan kedua mertuanya bergantian.


"Kok bisa? kamu nggak nyuruh istri kamu cek kedai kan?" tanyanya menatap judes pada si anak.


"Ck, ya nggak lah Bun. Semenjak hamil istriku jadi pengabdi rumah. Mainnya sama genk nya!"


"Tetangga?" tanya Bunda.


"Bukan, binatang peliharaan dia!" Bintang masih meringkuk di atas tempat tidur yang di ujung kakinya sekarang di duduki Ayah nya.


Bunda menahan senyum. Kembali menatap si menantu. "Terus, kamu capek? pasti di kerjain sama suami kamu. Ya?" katanya menebak.


Bintang yang hampir terlelap langsung membuka matanya. Menatap si istri, "Awas kalo kamu nyalahin aku doang. Kita satu team, harus sama-sama!"


"Tuh, Bunda. Selalu gitu," adunya manja pada Ibu mertuanya.


Orang tua mereka tak lama berada di sana. Di ganti dengan Abang dan Mentari. Yang tentu saja hanya meledek keadaan Bintang yang terlihat lemah karena malah ikut di rawat.


*


*


Malam hari


Bintang selesai makan nasi Padang pesanan si istri. Hanya karena gulai nangka nya habis di ganti gulai kacang panjang dengan sayur kol. Nasi Padang berlaukan ayam balado dan rendang itu harus dia habiskan. Padahal Bintang baru saja menghabiskan menu makan malam dari rumah sakit jatah istrinya.


Baru saja ingin merebahkan tubuhnya. Bintang menatap sekilas wajah Intan.


"Ang, sini deh!" panggilnya.


Seketika jantung nya berdebar. Feeling nya tidak enak mendengar suara istrinya yang tiba-tiba merdu dan mendayu-dayu.


"Anggg ... " Panggilnya ulang.


"Aduh, merinding nih. Feeling aku nggak enak, kalo kamu manggil udah bernadakan lagu Raisa." Katanya sambil berjalan mendekat.


Intan mencebik kesal.


"Kamu, ishh ... "


"Iya, nggak sayang. Apa? kamu mau apa? aku elus-elus atau aku ... "


"Stop ... " Intan memotong ucapan si suami yang dia tau tujuannya menjurus kemana.


"Pengen, Mie ayam!" pintanya dengan seringai manis yang sulit untuk di tolak apalagi di bantah oleh sang suami.


"Ok. Aku turun, kayaknya di cafetaria tadi ada deh mie ayam sama bakso." Bintang hampir berdiri.

__ADS_1


"Yang di Bogor, Mie ayam nya."


Permintaan si istri otomatis membuat langkahnya terhenti dan tubuhnya mematung. Seperti orang yang di totok di film vampir cina.


"Ang,"


"Gusti. Jauh banget!"


"Nggak, tau. Ini tiba-tiba ngebayangin mie ayam yang waktu Mas Dafa kecelakaan di rawat di rumah sakit Bogor. Terus kamu lagi masa-masanya menyebalkan. Masa-masanya hatiku sering sakit, kamu usilin, kamu bentak, kamu marahi, kamu ... "


"Udah, nggak usah di ungkit-ungkit. Aku udah sering banget minta maaf. Kamu masih belum maafin aku?" tanyanya.


"Udah, tapi namanya manusia pasti ada aja nyimpen rasa sakit. Kadang mikir kok aku tiba-tiba mau ya di ajak nikah?"


"Ck, ngerembet ke lain-lain. Udah nyari yang daerah Bandung aja ya? Orang luar kota nyari kuliner Bandung, ini orang Bandung nyari harus keluar kota." Bintang mencoba membujuk.


Intan langsung cemberut dan wajahnya dia palingkan dari si suami.


Bintang menghela nafas lalu duduk di tepian ranjang. Dia usap lembut punggung Intan. "Kalo kejauhan nanti basi," masih berusaha membujuk.


"Pisah bumbu ayamnya," si istri masih bermain menimpali.


"Nggak enak kalo dingin," sahut Bintang lagi.


"Kamu beli termos kecil, itu loh yang suka di pake babang ojol kalo bawa makanan biar panasnya awet!" Intan kini menatap wajah si suami dengan sorot mata memohon.


"Ini, demi anak-anak." mohon nya lagi dengan membawa embel-embel anak mereka.


"Ck, fitnah. Mana ada?" Bintang terkirim pelan.


"Oh, Iya. Kenapa sih kamu nggak mau tau anak kita cewek apa cowok?" tanyanya yang sering heran pada si istri yang sering menolak jika si dokter hendak memberitahukan jenis kela*min anak-anak mereka.


"Yang penting sehat-sehat, sempurna. Udah buat aku itu cukup. Terlepas dari cewek atau cowok, mereka tetap anak-anak aku!'


" Anak-anak kita, selalu aja ngambil distribusi sendiri." Bintang tak terima.


Intan mencebik kesal. "Aku yang bawa mereka kemana-mana, aku yang mabok berbulan-bulan!"


"Kamu jangan lupa, aku yang bawa-bawa keresek muntah kamu. Aku yang ngadepin ngidam kamu yang luar biasa aneh!" Bintang tak ingin kalah.


Intan mencebik kesal, tak mampu dia pungkiri semua benar. "Ya, udah kalo nggak mau ngebeliin mie ayam yang di Bogor. Bikinin aku bolu cau!" usulannya yang sama-sama memberatkan si suami.


"Ayo, mau yang mana?" ancam nya.


"Ok, tapi aku di rumah Bunda bikinnya!"


"Tapi kamu jangan curang, sambil video call!"


"Ok, deal!" Bintang mengulurkan tangannya menyalami.


"Ya udah. Sana!"


"Sekarang?" tanyanya kaget. Bukan apa-apa, tapi dia ingin tidur karena tubuhnya lemas karena syok nya tadi siang.


Intan malah menatap nya nyalang.


"Cuman pengen mie ayam nggak bisa, pengen bolu nggak bisa!"


Bintang menggaruk kepalanya kesal, "Ok. Aku sekarang ke rumah Bunda, awas aja kalo nggak di makan!"


"Oh, berani kamu ngancem aku?"


"Eh, nggak begitu sayang! Ok sayang, aku pergi. Tungguin ya?" pamitnya menciumi semua bagian wajah si istri. Lalu pergi keluar dari kamar yang dia harapkan untuk bisa beristirahat dengan nyaman itu.


Intan menahan tawanya setelah melihat wajah frustasi si suami.


"Emang enak? makanya jangan bisanya ngehamilin doang. Anaknya ngeprank lahiran sibuk lebih payah dari yang mau lahiran!"

__ADS_1


Bersambung ❤❤❤


Maaf ya, beberapa hari perut bergejolak dan pala jedag jedug... salam cinta sehat dan bahagia selalu buat kalian semua❤❤😘😘😘😘


__ADS_2