
...🦋🦋🦋🦋...
Bintang mematung di depan pintu rumah kontrakan Naya. Merasa belum terlalu malam tapi tidak ada jawaban dari dalam. Dia berpikir mungkin pada keluar, Naya juga tidak bisa di hubungi tapi semua pesan nya ceklis biru tandanya kekasihnya itu telah membaca pesannya.
Dia duduk di kursi plastik di teras itu, badannya memang tidak enak. Tubuhnya semakin terasa meriang. Tapi ada sesuatu yang ingin dia ketahui, kenapa kekasihnya itu selalu menghindari nya.
Bahkan rencana lamaran pun dia undur katanya sedang sibuk-sibuknya. Seorang karyawan tukang pijat sibuknya melebihi CEO. Dia terkekeh dengan pemikirannya, sok tau nya dia tentang kesibukan CEO, mana dia tau. Tapi suami adiknya saja memegang perusahaan dan memegang beberapa kasus pengadilan pun bisa pulang jam 4 sore, bermain rumah barbie dengan celana boxer nya.
Ini seorang perempuan pekerja rumah pijat bahkan untuk membalas pesan pun terasa sulit.
"Nggak kebayang tangan kamu, sayang. Aduh mijitin badan orang nggak berhenti," gumamnya.
Hatinya sedikit kesal membayangkan dirinya merasa di abaikan dan di gantung. Sungguh tidak mengenakan. Tanpa sadar, Bintang tertidur di teras itu karena rasa lelah dan kurang enak badannya itu.
*
*
Sebuah tepukan dia rasakan, dia mengerjap.
Seorang hansip membangunkannya.
"Bapak mau ke siapa?" tanyanya.
Bintang melihat jam di pergelangan tangannya, sudah jam setengah tujuh pagi.
"Saya nunggu Naya atau Nia Pak, tapi kayaknya pada pergi," ucapnya sambil berdiri.
Hansip itu mengerutkan keningnya.
"Keluarga mbak Naya udah pindah seminggu yang lalu," katanya menjelaskan.
Bagaikan terpleset dirinya merasakan tubuhnya lemas, ternyata bukan terpleset tapi memang dia terjatuh dengan posisi duduk terjengkang keras di kursi plastik itu.
"Tapi kan Pak, rumah ini baru di perpanjangan kontrakan nya!" Bintang seolah tak percaya.
"Kalo masalah itu say kurang tau, mungkin ada hal lain!"
Lalu hansip itu pun pamit untuk kembali berkeliling.
Bintang masih termenung, ada apa ini? kenapa dengan kekasihnya itu. Kenapa dia tidak tau apa-apa.
Bintang berlalu keluar rumah itu dengan langkah lunglai, lemas sekali tapi dia harus memaksakan tubuhnya mencari tahu agar semua jelas.
Setelah minum air mineral setengah botol, dia membuka ponselnya banyak panggilan dari Bunda, adiknya dan yang terbaru dari Ayah nya.
Semua menanyakan keberadaannya dan terlihat cemas, kecuali Ayah nya. Yang malah memaki dirinya dan mengancam akan memotong gajinya 200rb perhari jika tidak pulang juga.
"Bodo ... ah, gue harus nyari Naya dulu," gerutunya tanpa membalas puluhan pesan dari keluarganya.
***
Mobilnya terparkir di depan sebuah ruko berlantai tiga. Terlihat masih sepi, terang saja memang belum buka, tapi terlihat beberapa mobil datang dan satu persatu keluar dan masuk begitu saja ke dalam tempat pijat itu.
"Ngapain yang masuk bapak-bapak menjurus aki-aki semua? anjirr mereka mau ngapain?"
__ADS_1
"Naya, kamu nggak ... " Dia mendengus kesal membayangkan apa yang di lakukan Naya di dalam sana.
Namun saat dia menelpon Naya, Lagi-lagi perempuan itu tidak menjawabnya. Dia bilang sedang di butik, wanita itu tidak tau kalau Bintang sedang ada di Jakarta tepatnya di depan tempat kerjanya.
Bintang langsung membuka galeri ponselnya, mencari hasil ss nya, dimana dia melihat alamat di bawah nama butik yang Naya kirimkan dulu padanya.
Mobilnya langsung melesat ke jalan yang dia cukup kenal, karena ada cabang market milik ayahnya yang tak jauh dari situ.
Kurang dari 20 menit, mobil pun berhenti di area parkir sebuah butik yang cukup besar. Bintang bejalan terburu-buru ke arah pintu masuk, namun ternyata masih tutup dan terkunci.
"Maaf, Pak. Butiknya belum buka," ucap salah seorang security yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Saya, mau ketemu pemiliknya!" Bintang sedikit tersulut emosi. Rasa lelah di tubuhnya sudah susah di toleransi.
"Pemiliknya?" security itu membeo.
Bintang mengangguk cepat.
"Belum dateng, tuh mobilnya juga nggak ada. Biasanya Ibu seminggu 2 atau 3 kali ke sini, Mas nya udah janjian sama Ibu?" katanya bertanya balik.
Bintang menggeleng lemah, "sebentar, pemilik butik ini calon istri saya," katanya dengan yakin.
"Hah ... " security itu menatapnya tak percaya.
"Mas, ibu mah punya suami!"
Kini seakan bergantian, Bintang yang kaget dengan kalimat yang baru saja dia dengar.
"Saya calon suaminya," telunjuknya menunjuk pada dirinya sendiri.
"Bu Kanaya kan pemiliknya?" katanya.
"Bukan, ini yang punya Bu Diana istrinya Pak Abdul anggota DPR."
Bintang mematung, seakan dirinya di tampar bulak balik dengan segala kejutan dari wanita yang dengan sangat tulus ingin dia bahagiakan.
"Ini sudah di beli sama calon istri saya kayaknya pak, atau mungkin di sewa?" keukeuh nya.
Si security malah tertawa.
"Nggak mungkin Pak, di beli berapa?"
"Seratus?"
"M?" tanya si security.
"Bintang diam, ya nggak mungkin juga soalnya ini daerah jalan hidup di Jakarta. Menyewa pun rasanya tidak mungkin,"
"Baru kemarin Ibu kesini, bawa barang belanjaan dari butik, Ibu habis dari luar negeri sama bapak." Katanya kembali menjelaskan.
Bintang mematung dengan emosi yang sudah siap meledak.
"Atau tunggu sebentar lagi, asistennya pasti datang buat buka kunci. Mas nya bisa tanya2,"
Bintang terdiam lalu tanpa mengucapkan kata-kata dia pergi sedikit berlari ke arah mobilnya.
__ADS_1
"Anji** , sialan. Maksudnya apa Nay kamu lakuin ini semua buat apa?" Dia memukuli kemudi yang sedang dia pegang.
Mobil melaju kencang kembali ke ruko panti pijat itu.
***
Lagi-lagi Naya tidak menjawab panggilannya, sepertinya dia benar-benar menghindari kekasihnya itu.
Bintang diam di mobil sudah hampir makan siang dan dirinya belum makan dari semalam, hanya jamu tolak tornado yang dia minum semalam.
Saat dirinya akan keluar untuk mencari makan siang, sebuah mobil MPV mewah berwarna hitam melintas di sebelah mobilnya.
Keluar lah sosok seorang pria paruh baya, ya se usia mungkin dengan Ayah nya. Tapi ini bertubuh pendek dengan perut buncit hingga membuat kancing-kancing kemejanya mengetat.
Bintang sedang merutuki mobilnya yang terhalang oleh bagian belakang mobil mewah itu.
Saat matanya menatap perempuan yang sangat ingin dia jumpai. Naya berjalan dengan senyumnya yang menawan .
Bintang keluar dari pintu mobil bagian penumpang,
dia sangat bersemangat ingin sekali mendengar penjelasan dari wanita yang benar-benar ingin dia ajak bicara dengan sangat serius.
Saat dirinya sudah di luar dan memutari mobilnya akan menyambut Naya.
Dirinya mematung saat suara Naya menyapa seseorang dengan begitu manja dan sensual nya.
"Papiii ... katanya mau jemput dari malem, Naya tunggu." Suaranya terdengar manja, belum pernah dia mendengar Naya bersuara seperti itu pada dirinya.
"Sorry, istri Papi lagi ribet. Yuk sekarang aja," ajak si pria buncit itu.
Naya belum menyadari kehadiran sang kekasih di belakang mobil milik lelaki yang dia panggil Papi itu.
"Naaaayyyyy ... " Suara Bintang menggelegar memanggil wanita yang ingin dia persunting itu.
Naya dan lelaki buncit itu langsung menoleh ke arah Bintang meneriaki namanya.
"Mas .... " ucapnya gugup.
Bintang tak menjawabnya dia langsung mengeluarkan umpatan dan makian untuk wanita yang selama ini dia perjuangkan.
"Anji** , wanita apa sih lu?"
"Perempuan uler, gini lu di belakang gue?"
"Gue udah serius, udah bener sayang sama lu Nay, pantes lu terus ngundur2 rencana lamaran kita,"
"Sundel ... "
Naya berlari mendekat ke arah Bintang yang tengah memaki nya dan memukul juga menendang mobil MVP mewah milik si pria buncit itu.
Bersambung ❤❤❤
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit ya🤗🤗🤗🙏🙏🙏😘😘😘 kalo udah di klik love jangan di klik lagi dong zeyenkkk... haduh php kan udah nambah turun lagi nambah lagi kalian apa2an🤧🤧 eh bebas deng nggak maksa🤭🤭
__ADS_1
Sehat buat kalian semua😘😘