Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
obrak-abrik saku


__ADS_3

...---***---...


"Masukin tangan kamu... " titahnya.


Intan dengan ragu mulai mendekat dan tangannya masuk ke dalam saku celana chinos yang memang sedikit ketat.


"Agghhh... masuk terus Tan... ke bawah, emang agak dalem tapi pasti kamu nyampe kok," katanya.


Intan terus meraba-raba mencari di mana terselipnya kartu akses pintu itu.


"Nggak ada, Pak!"


"Masa? masa iya nempel jadi kulit daging," timpalnya asal.


Intan mulai kesal dengan ulah lelaki rombeng kesurupan botol cabe bakso itu.


"Awas, jangan ke tengah ntar malah ketemu pyton ama telor nya." Bibirnya dia gigit keras, terasa merinding darahnya terasa memanas, hatinya bergidik geli.


Intan memejamkan mata kesal, merasa di manfaatkan.


"Nggak ada pak... "


"Ada, masa iya ilang?"


Gadis itu mendengus kesal, lalu mencabut tangannya yang belum menemukan hasil.


"Eh.. kenapa di cabut? belum selesai juga!" Bintang menoleh ke arah Intan.


Gadis itu mengambil keresek yang ada di tangan Bintang, "bapak bisa rogoh sendiri? saya nggak bisa nemuin."


"Ck, nyerah... kamu takut nyasar?" Bintang merogoh saku celananya.


"Eh... iya, nggak ada! Kemana ya? " tanyanya panik.


Intan menatap nya jengah, demi apapun dia ingin berlari naik kendaraan pulang ke Bandung dan menghindari laki-laki rombeng di depannya.


"Tan... bantuin, nggak ada ini!"


"Mana saya tau pak!"


Bintang terus berusaha mencari kartu itu di sekujur badannya, "Kemana ya?"


"Di dompet mungkin Pak?"


Lelaki yang tengah gelagapan dengan tangan yang bergerak mengitari tubuhnya.


"Oh, iya. Di dompet aku, ambilin Tan... "Titahnya.


Lagi-lagi Intan merasa dirinya tersungkur di jebak dan di manfaatkan.


" Itu, di saku celana bagian belakang." Intan menunjuk sesuatu yang menonjol di bagian belakang.


"Ya ambilin... "


"Cukup Pak, bapak udah nggak sopan sama saya. Modus nya bapak udah keterlaluan dan saya nggak suka." Intan memalingkan wajahnya kesal, dan marah menjadi satu.


*

__ADS_1


*


Bintang yang tiba-tiba di marahi, masih mematung tak jauh dari gadis manis yang menyandarkan badannya di pintu kamar hotel.


Tak menyangka gadis yang dia kira pendiam dan nurut itu nyatanya bisa marah, "Eh, waktu di rumah chaca juga dia emang ngomel2. Gue kira nggak akan berani kalo di tempat yang jauh dari rumah." Gumamnya dalam hati.


"Terus gimana? asli ini gue susah, jangan salah paham. Gue capek lu juga pasti capek kan? mana mau ke Jakarta lagi. Buruan ambil dompet gue Tan... " Bicara nya agak melembut.


Intan diam masih menyandarkan tubuhnya pada daun pintu.


"Ya, udah kalo ku nggak mau ngambil dompet gue, kebawah gih minta ke resepsionis. Masa ia, gue turunin Helen yang lagi tidur dari gendongan cuma buat ngambil dompet!"


"Nggak usah ke ge-er an, lu mah mikir yang nggak-nggak mulu sama gue." Gerutunya kesal.


Intan diam, ingin mempertahankan egonya namun memang benar, badan Helen yang gemuk tengah di gendong pria rombeng di depannya. Pasti agak sulit untuk memutar posisi Helen.


Pandangan mereka bertemu tanpa ada kata yang keluar dari mulut mereka.


Intan mendekat dan memutari tubuh Bintang, dengan ragu dia merogoh dompet yang sedikit tenggelam di saku celana bagian belakang itu.


"Nyangkut... "


"Nggak ada yg bener kerjaan kamu, Tan... " Bintang mendengus saat Intan menggoyang-goyangkan dompetnya yang tak bisa di keluarkan dari sakunya.


Intan juga menahan gendongannya yang berisi Shera yang pulas tertidur, masih berusaha menarik dompet itu keluar.


"Ampun Intan... nih celana gue malah menyong-menyong liat deh jadi miring, lu tarik uget-uget gitu, keluar nggak tuh dompet celana gue malah muter ke belakang!" Bintang menggerutu.


"Abis susah, katanya di suruh ngambil. Ini aku usahain, tapi susah nyangkut."


"Nyangkut?"


"Nah.. dapet." Intan girang lalu menyerahkan dompet berbahan kulit berwarna coklat tua itu.


"Astaga... buka dong Tan, lu masih nggak ngarti juga gue susah."


Intan mendengus, merasa terus di salahkan.


"Maaf, ya Pak." Bintang mengangguk mendengar ucapan Intan.


Intan mulai membuka dompet itu, minimalis sekali hanya ada kartu Identitas, kartu ATM sebuah Bank, dan kartu member sebuah rumah sakit.


Jangan lupa ada beberapa lembar uang tak lebih dari dua ratus ribu. Sungguh miris minimalis sekali dompet seorang pria yang gede di omongan doang. Mobil keren motor sport yang gagah. Hanya sebagai topeng menutupi kekurangan.


Jangan salah satu-satunya kartu ATM itu beberapa waktu lalu berisi lumayan banyak sebelum dia tranfer isinya ke rekening Naya.


"Nggak ada, Pak."


Lelaki itu bingung, lalu tangannya masuk ke saku hoodie nya. Lalu sebuah seringai tanpa dosa dia sunggingkan.


"Ini di saku jaket, gue. Ampe lu obrak-abrik celana gue ampe melorot juga nggak bakal ketemu." Kikiknya.


Intan menjejalkan dompet itu ke dada Bintang, lalu di sambar kartu itu dan dia tempelkan di gagang pintu digital itu, tiittt... pintu berbunyi dan klik pintu terbuka.


Intan masuk dengan mengentakkan langkah kakinya.


*

__ADS_1


*


Setelah menidurkan Shera, dan menyusun bantal mengelilingi bayi itu, Bintang pun menidurkan Helen tak jauh dari adiknya.


"Gue berangkat ya!"


"Tan... "


"Intan... budeg?" tanyanya geram.


Intan yang tengah membongkar belanjaan dan mengambil pakaian da*lam miliknya, lalu masuk ke kamar mandi.


Bintang kesal merasa di abaikan, dia duduk di pinggir tempat tidur itu, di sebelah nya teronggok kantung belanja mereka.


Sebuah br* menyusui yang tadi dia beli karena hasutan si SPG, menjuntai keluar dari kantung itu. Dia tertawa lalu mengambil dan membolak balikan benda itu.


"Ada ya model beginian!"


Dia tempelkan di dadanya lalu si pengait yang dia sebut seperti jendela itu dia buka. "oh gini? ngerti sekarang." lalu dia terkikik geli karena tingkah nya.


Intan keluar dari kamar mandi dengan tiba-tiba, Bintang yang gengsi tercyduk mencoba br* berjendela itu langsung melemparkan nya ke sembarang arah.


Intan yang sudah melepas pakaian nya lupa bahwa dia tidak membawa baju ganti, keluar dari kamar dengan hanya lilitan handuk.


Keduanya tersentak kaget, Bintang yang kaget takut tercyduk tengah mencoba br* itu. Sedangkan Intan yang kaget karena dia kira Bintang sudah pergi saat pria itu pamit tadi.


"Bapak, ngapain?" Intan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Si anjir, apa dia liat tadi gue nyoba br*."


Bintang berjalan mendekat, "iya, gue pergi sekarang. Makanya jawab kalo gue ngomong," ucapnya ketus.


Intan keluar dari kamar mandi saat pintu terdengar tertutup, tanda Bintang sudah pergi.


Dia mengendap membuka tas pakaiannya dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.


*


*


Bintang masuk mobil dengan langkah cepat.


"Dua kali gue liat dia pake handuk doang! dan reaksi lu masih sama thon, langsung tegak. Murahan banget lu kalo deket si cungkring sama Naya," ucapnya pada si pyton yang menggeliat bereaksi melihat Intan.


Bintang mendengus kesal, mengusap pyton nya sesaat.


"Ke majikan lu harus nurut. Kalo kata gue lu bangun ya bangun, nggak di suruh bangun lu malah sotoy bangun duluan, ape lu harus ngintip siapa cewek yang ada di depan lu. Biar tau itu pacar gue atau orang lain." Bintang melajukan mobilnya menuju Jakarta masih dengan obrolan gila bersama bagian tubuh yang selalu dia banggakan."


Itti: gelo emang maneh tangπŸ™„πŸ™„, we pasti di bullyπŸƒβ€β™€πŸƒβ€β™€


Bersambung ❀❀❀


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🀣🀣🀣


Yang mau jelas cerita Mentari sama Dafa yuk tengokin dulu cerita mereka biar makin kenal kelakuan Bintang, jadi kalo ada apa-apa, kalian tau karma nya dari mana dan dari siapa... 🀭🀣


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


Sehat buat kalian semua😘😘


__ADS_2