
...--oOo--...
Seminggu berlalu
Bintang sedang memeluk Intan dengan erat, dia mengunyel tubuh hangat si istri seperti biasa. Tersiksa karena tidak bisa menyalurkan has*ratnya pun dia terima. Menahan untuk kebaikan calon buah hati mereka. Walau kadang si pyton akan bangun dan susah kembali tertidur.
Seperti beberapa malam terakhir , dia harus puas hanya dengan permainan tante bio di kamar mandi. Ingin meminta bantuan Intan rasanya tak tega, istrinya itu sedang lemas-lemasnya. Bahkan untuk sekedar bangun meminum susu hamilnya pun dia merebahkan kepalanya pada sandaran tempat tidur.
Bahkan malam ini dia di sibukkan dengan rentetan keinginan aneh dari sang istri. "Pokoknya aku pengen sate jebred yang banyak serundeng kelapa nya." Intan merengek jam dua pagi saat Bintang baru saja tertidur setelah melakukan solois di kamar mandi.
"Besok, aku janji. Besok aku cari," janjinya dengan wajah setengah sadar.
Dan dia harus puas pisah kamar dengan sang istri, yang keluar dari kamar membawa bantal dan guling nya pindah ke kamar tamu.
Ets, jangan salah sangka dulu. Karena otak nya yang brilian, Bintang langsung merencanakan sesuatu. Dia membuat suara bunyi-bunyian di taman belakang, yang langsung terhubung dengan jendela kamar tamu.
Menakut-nakuti sang istri yang tengah berada di dalamnya. Hingga akhirnya suara anak kunci yang di putar terdengar.
"Ang," terdengar Intan memanggil.
Bintang yang berjalan pura-pura membawa gelas di tangannya, seolah dia sedang di dapur dan segera menghampiri.
"Ya? kenapa? ada yang kamu rasain?" tanyanya seolah panik. Padahal jempol kakinya dia injak untuk menahan tawa yang siap meledak.
Intan memicingkan matanya. "Kamu? iseng ya?" tuduhnya.
Bintang semakin tak kuat untuk tergelak. "Apa? iseng apa? aku abis ngambil minum," ucapnya bohong.
"Tadi di jendela ada suara kresek-kresek, kayak ranting pohon. Padahal kan pohon jauh dari jendela," katanya tangannya memegangi lengan sang suami.
Bintang sok berjalan mengecek ke taman belakang. Intan diam di dekat meja makan yang berhadapan langsung dengan pintu kaca menuju taman itu.
"Ngga ada apa-apa, Yank! makanya tidur di kamar kita, yuk." ajaknya. Dan sesuai dengan rencananya, si istri luluh karena takut.
Sudah berbaring di tempat tidur, dan Bintang melingkarkan tangannya memeluk Intan. Sebuah tepukan keras dia terima.
"Apa sih? main geplak aja!" sungutnya marah.
"Janji, besok cariin sate jebred," Matanya menyipit sinis.
"Iya, besok aku beliin yang banyak." Janjinya sambil kembali memeluk tubuh istrinya yang mereka ngkok membelakangi. Dia mengusap perut itu di mana si kembar tengah tumbuh di sana. Mereka pun terlelap tepat di jam hampir subuh.
...****...
Pagi hari , Bintang terhenyak saat sebuah tangisan terdengar di telinganya. Dia menoleh ke sisi ranjang di mana semalam istri nya tiduri.
"Yank?" Bintang bangkit sambil memanggil-manggil Intan.
Matanya terpaku saat si istri duduk di ruang tamu sambil menangis. "Kenapa?" dia menghambur duduk di sebelah nya.
"Pengen sate jebred, kamu lama. Aku nggak kuat, mungkin ini namanya ngidam. Tapi kamu nggak mau ngabulin. Tau nggak? itu rasa sate jebred udah di tenggorokan. Mau banget," Gerutunya dengan wajah masam dan lelehan air mata.
"Baru jam 6, Yank." Bintang menatap jam yang tertempel di dinding.
"Nyarinya harus pagi, kamu kan belum tau nyarinya di mana, Ang!" Lagi-lagi tatapan kesal Intan lontarkan.
Bintang memeluk dan mencuri kecup di pipi istrinya.
"Ok, aku berangkat sekarang." Katanya lagi. Lalu berjalan ke kamar cuci muka dan meraih jaket nya.
Intan yang masih meringkuk di sofa ruang tamu. Hanya memandangi suaminya dengan mata sayu dan bengkak.
__ADS_1
"Nih, susu hamil sama roti coklat nya. Sarapan walaupun ngga selera. Paksain sekarang kamu ngga cuma sendiri, tapi bertiga. Ok?" katanya sambil menyimpan sarapan untuk si istri yang bener hari ini hanya sanggup minum susu dan memakan roti saja.
"Aku pergi, Ya." Bintang mendekat mencium pelipis kiri istrinya yang sedang berbaring miring.
Intan mengangguk kecil. Tak lupa Bintang berjongkok mengusap lalu mengecup perut si istri. "Papi berangkat ya, nyariin sate jebred yang kalian mau!" katanya berbisik di depan perut Intan.
Intan mengulum senyum, hatinya menghangat membayangkan bagaimana jika si twins sudah lahir. Rumah ini akan ramai dan hidupnya tidak akan sepi lagi. Dia berjanji akan menjaga betul kehamilannya yang sekarang, dia juga tidak ingin mengalami hancurnya kehilangan lagi.
"Jangan, repotin Mami kalian ya! anteng-anteng di dalem sana." Bintang mengecup kembali lalu bangkit.
"Ngga mau ngasih cium penyemangat gitu?" Bintang menatap wajah sang istri sambil telunjuknya dia gerakan di pipinya sendiri.
Intan menggeleng kecil, tangannya mengeratkan pelukannya pada bantal sofa yang dia peluk.
Bintang berdecak kesal, lalu berjalan ke arah paku di mana terdapat berbagai macam kunci menggantung di sana.
Saat membuka pintu hendak keluar, Intan memanggil.
"Ang,"
Bintang langsung berbalik dan mendekat dengan wajah sumringah. Dia meyakini istrinya akan memberi ciuman penyemangat untuknya.
Lelaki itu menunduk menyodorkan wajahnya, yang dia sangka akan mendapatkan kecupan.
Terasa tangan Intan mengulur menggapai wajahnya. Bintang tersenyum memejamkan mata.
"Ang, kasih makan dulu Rosalinda." Bisik Intan.
Bintang yang memejam otomatis membolakan matanya. "Ku kira mau cup ... " protesnya.
Intan terkikik. "Iya, nanti abis ngasih makan. Kamu sini lagi, aku cup beneran." Janjinya mengacungkan jari kelingking tanda berjanji.
"Ang, jangan lupa si Cicit sama si Cuit." Intan menyebutkan nama sepasang burung kenari miliknya.
"Heum," Bintang melewatinya. Membuka pintu menuju ke luar di mana kandang si kelinci berada.
Lebih dari lima menit Bintang kembali masuk ke ruang tamu. "Udah, Rosalinda, Cicit sama si Cuit. Aku berangkat ya!" pamitnya.
"Iya. Eh, itu genk geboy belum!" Intan kembali menghentikan langkah si suami.
Bintang menghela nafasnya di ambang pintu.
"Ya, udah. Ngga apa-apa, sama aku aja." Intan hendak bangkit namun Bintang langsung membalikkan tubuh menuju taman belakang di mana terletak aquarium sedang berisikan ikan koki gendut-gendut . Nama genk geboy pun Bintang sendiri yang menamainya.
"Banyak amat piaraan kamu, Yank." Keluhnya.
Intan terkikik mendengar suaminya yang menggerutu. "Siapa suruh aku ngga boleh ngapa-ngapain, kan jadi ini pelampiasan aku." Timpalnya.
"Iya, iya. Ini semua aku yang nyuruh," Bintang mengaku kalah.
Padahal gue cuma beliin kelinci, napa jadi beranak ke burung sama ikan sih? gumamnya.
...*****...
Intan sudah gelisah suaminya belum juga pulang, padahal ini sudah hampir siang hari.
Telpon nya pun tidak di jawab.
"Ang, kamu kemana sih?" Tiba-tiba dia kesal dan nangis sendiri.
Saat sebuah panggilan yang dia lihat bertengger nama kontak suaminya. Intan langsung mengangkat dan tangisnya pun pecah.
__ADS_1
"Kamu kemana? nyari sate jebred ke Garut?" ucapnya kesal.
"Loh, kok kamu tau. Yank?" Bintang balik bertanya.
Intan diam dengan mulut menganga. "Kamu di Garut?" tanyanya lagi.
"Iya, nih aku udah dapet sate jebred asli made in Garut." Suaranya terdengar puas.
Intan malah histeris, Tiba-tiba merasa emosinya berantakan. Dia sungguh merasa jahat pada suaminya. "Ngapain jauh amat, sampe Garut?"
"Aku keliling 4 tempat di Bandung, ngga ada. Terus si Itti bilang, ada di daerah Garut depan Indoapril. Terkenal itu sate jebred nya. Dulu dia pernah di bawain sama suaminya. Jadi aku coba ke sana. Terus nunggu soalnya bukanya emang siang. Asli, ini enak banget. Aku abis sepuluh tusuk! Ini otw pulang ke Bandung." katanya menjelaskan.
"Ang, Maaf. Ngerepotin kamu," Intan menangis merasa bersalah pada si suami.
"Iya, buat kamu sama si twins. Udah aku mau jalanin motor, kamu siapin piring. Awas jangan ngapa-ngapain, ngga usah capek-capek." katanya lagi, sambil menyalakan mesin motornya.
Intan mengangguk sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. Seolah si suami bisa melihat keadaan nya.
Panggilan pun terputus.
*
*
Saking sibuknya Bintang dengan kehamilan Intan, Bintang sampai lupa memberi kabar Bunda dan Ayah. Juga karena orang tuanya itu sedang berlibur sekalian mengontrol pengecekan pembangunan villa mereka di sana.
Bintang berjalan terseok-seok saat sebuah gedoran pagar terdengar berisik. Tubuhnya sedang kurang sehat setelah kemarin mengendarai motor hingga ke Garut demi ngidam sang istri.
Bunda dan Ayah yang melihat keadaan anaknya langsung terbahak. "Kamu, kenapa? banyak banget layar tancep nya!" Tanya Ayah menunjuk kening dan pelipis putranya yang di tempeli koyo.
"Masuk angin, kemarin dari Garut nyari sate jebred. Buat yang ngidam." jelasnya.
Dan langsung mendapat pukulan dari sang Bunda.
"Bisa-bisanya ngga ngasih tau orang tua kalo istri kamu hamil," Bunda mengomel sambil menerobos masuk ke dalam rumah anaknya itu.
"Maaf, bun. Aku sibuk, Intan hamilnya lemah, aku fokus lagi takut kayak yang udah-udah."
Plak...
Ayah memukul punggungnya kuat. "Jaga, tuh mulut. Ngomong jangan yang buruk," omel si Ayah.
Bintang meringis sambil mengikuti langkah kedua orang tuanya
"Bunda masuk boleh?" ijinnya pada Bintang.
"Masuk, aja. Bun, kok pake ijin segala,"
"Takut, istri kamu polos," Ayah berbisik.
Bintang menoleh sambil berdecak sebal. " Libur, Yah. Ngeri aku,"
Ayah mengacungkan jempol nya. "Bagus, Ayah siaga itu," Lalu duduk di kursi ruang tamu mengambil majalah otomotif yang tergeletak di atas meja.
Di daerah kalian apa namanya? 🤭🤭🤭
Bersambung ❤❤
Maaf ya kalo sekarang ngebales komen nya lelet. Otaknya masih hilir mudik. Tapi aku usahain bales🥰🥰.(Sok Banget ya? padahal aku siapa?" 🤭Lope2 dari Ang Bintang😘😘
__ADS_1