Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Ungkapan rasa cinta


__ADS_3

...--oOo--...


Bintang turun dari mobilnya setelah memarkirkan asal mobilnya di rumah orang tuanya. Rumah sudah sangat sepi. Jelas, itu hampir jam 11 malam. Ayah dan Bunda nya pasti sudah tidur.


Hanya ada Mang Asep yang setia dengan sarung dan satu gelas besar bandrek panas.


"Malem2, Den?" katanya saat selesai menutup pagar rumah.


"Ada tugas kenegaraan, Mang." Bintang menepuk pundak penjaga rumah nya itu sebelum masuk ke dalam rumah, sambil men jinjing sekantong pisang untuk membuat bolu. Sekarang dia yakin itu pisang yang benar karena sudah bertanya terlebih dahulu. Jenis pisang untuk membuat bolu pisang.


Benar saja, rumah sudah sepi. Dia bingung mau membuatnya bagaimana. Tak mungkin dia tega membangunkan Bunda nya. Bisa-bisa dia di kutuk jadi patung yang suka berada di kolam air mancur oleh Ayahnya.


Duduk di sofa ruang keluarga dia menyalakan televisi.


Saat tubuhnya akan berbaring, ponselnya berdering. Istrinya, tentu saja. Si bumil yang makin hari semakin menyiksa nya dengan keinginan di luar nalar itu. Pasti menghubungi nya karena tak sabar dengan keinginan nya yang harus segera terkabul.


"Ya, Sayang?"


"Cepet, aku kalo bikin nggak lama. Sejam udah selesai semua!"


"Ya udah, kamu aja yang bikin!" katanya, tentu saja hanya berani dalam hati. Dia masih menyayangi ketentraman hidupnya. Dan menyayangi si ibu hamil yang tubuhnya sedang mekar-mekarnya itu.


"Iya, tapi Bunda tidur!" katanya sambil merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga rumah Ayah nya.


Terdengar suara berdecih di sebrang sana. Sedikit mengulum senyum sekaligus dadanya berdebar. Reaksi istri nya jika berada di depannya pasti sangat menggemaskan.


"Besok, pagi pas Bunda bangun. Aku bikin langsung sambil VC sama kamu!" katanya membujuk.


"Ang, Sayang ... "


Bintang meremang, lagi suara mendayu ini sudah sangat dia hapal sebagai usaha terakhir istri nya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


"A-apa?" suara Bintang yang tercekat semakin membuat si istri merengek.


"Kamu, gitu. Ini bukan buat aku, buat anak-anak. Cuma pengen bolu pisang yang anget. Gitu aja susah, " Terdengar isak tangis yang membuat Bintang gelisah.


"Jadi aku harus gimana? ini udah pada tidur!" terangnya, Bintang bangkit dari posisinya. Berjalan mondar-mandir sambil menggaruk kepalanya.


Intan malah mematikan panggilan itu.


Tambah galau saja lelaki dua puluh delapan tahun itu.


Akhirnya setelah mencari jalan keluar. Dia mencoba menonton video di chanel utub. Mencari resep bolu pisang yang paling mudah. Setelah mengulang beberapa kali video itu. Dia pun menyiapkan semua bahan yang dia beli dan yang ada di dapur bundanya.


Sudah lewat tengah malam, akhirnya bolu itu selesai dia buat. Karena tidak menemukan wadah untuk membawa nya. Dia pun tak mengeluarkan bolu itu dari loyang nya. Dia langsung membawanya beserta loyang nya menuju rumah sakit. Di mana si istri sedang menunggu.


*


*


"Pake di matiin HP nya!" gerutunya saat di lampu merah dia mencoba menghubungi si istri.


Tak butuh waktu lama, akhirnya dia masuk ke pelataran rumah sakit. Tergesa-gesa membawa wadah yang di dalamnya terdapat bolu pisang berserta loyang nya.


Membuka pintu kamar rawat dengan sangat perlahan. Takut mengganggu si istri yang dia sangka sudah tidur.


Matanya membolak saat pandangan nya bersitatap dengan mata judes istrinya.

__ADS_1


"Eh, Sayang. Aku kira kamu tidur. Nih, bolu nya made in Bintang untuk bintang-bintang kecil." Katanya seraya mengeluarkan loyang dari wadah yang dia bawa.


Intan yang asalnya memajukan bibir bawahnya yang menandakan dia sedang merajuk. Langsung berubah seketika menjadi senyum sumringah dan tangan yang bertepuk senang.


"Asik, mana? buruan aku nggak sabar!" Dia beringsut bangun walaupun kesusahan dengan perutnya yang luar biasa besarnya.


Bintang ikut senang melihat si istri yang begitu antusias. "Tapi nggak tau rasanya, walaupun udah sesuai resep. Aku nggak tau gimana ini rasanya!" katanya mengeluarkan bolu dengan pisau roti yang dia bawa dari rumah.


"Kamu bawa sama loyang nya?" Intan tertawa melihat loyang yang di angkat si suami.


Bintang hanya mengangguk. "Nggak tau Bunda naro peralatan yang kayak gitu di mana, jadi ya gini deh."


"Maaf, ngerepotin kamu!" Intan mengulurkan tangannya ingin memeluk si suami.


Bintang langsung memeluk si istri yang sedang duduk di atas ranjang dengan seragam pasien.


Bintang menunduk dan mengecup lama puncak kepala si istri.


"I Love You, Minul!" ucapnya.


Intan mendongak menatap wajah si suami.


"Minul? apa minul?"


"Kamu gemesin. Empuk, menal menul minul!" Bintang kembali memeluk gemas si istri.


Intan tidak marah. "Kamu aku panggil jendol," sahutnya menimpali Kata-kata si suami.


"Kok jendol!"


"Habisnya kamu jendal jendil jendol." Intan terbahak puas melihat reaksi si suami.


"Ok, Minul. Ayo cobain bolu anget di oven dadakan gurih-gurih nyoy" katanya menggoda.


"Kayak tahu aja!" Intan mencibir. Lalu semangat memotong si bolu itu.


Matanya membulat sempurna saat menggigit bolu di suapan pertama.


"Aduh, nggak enak ya?" Bintang langsung menyambar satu potongan bolu buatannya.


Benar saja rasanya tak karuan, ada manis, sepet, juga asam.


"Nggak usah di makan. Nggak enak!" Bintang menyambar potongan kecil yang masih berada di tangan istri nya.


Intan langsung mematung dan sedetik kemudian loyang itu langsung dia peluk.


"Enak aja. Ini enak banget, ya ampun." Intan begitu rakus memakan bolu pisang buatan suaminya.


Bintang hanya menatap heran, dan meringis membayangkan rasanya yang memang tak karuan.


Malam itu dia bisa tidur nyenyak dengan memeluk istrinya si menul yang menghangatkan.


*


*


Pagi hari Intan terbangun dengan suara percakapan di balik tirai pemisah ranjang dengan sofa dan lemari kecil di ruangan itu.

__ADS_1


Percakapan yang terdengar sopan dan santun itu salah satunya suara si suami.


"Ang ... " panggilnya.


Srekk suara tirai di sibakkan.


Tampaklah si suami dengan seorang suster cantik tengah membawa meja beroda berisikan baju ganti dan beberapa obat dan labu infusan.


"Yank, udah bangun? tadi aku liat cairan infus kamu dikit lagi jadi aku manggil suster buta ganti. Sekalian aja buat baju ganti biar kamu seger." katanya.


Intan melihat ke arah si suster yang terus memandangi suaminya dengan bibir yang terus melengkungkan senyum. Dia tau persis raut wajah seperti itu menandakan apa.


Selesai di ganti labu infus, si suster pun pamit keluar.


Bintang membantu si istri untuk ke kamar mandi.


"Nggak usah pegang-pegang!" Intan menepis tangan Bintang yang akan memapahnya menuju kamar mandi.


"Kamu, kenapa?"


"Aku salah apa?"


Intan langsung menatapnya dengan sinis.


"Kenapa? mengingatkan masa lalu ya, kalo ketemu yang satu profesi gitu?" tanyanya dengan nada sungguh luar biasa ketusnya.


Bintang mengerutkan keningnya, mencerna tuduhan yang di arahkan padanya.


"Maksudnya apa sih? suer samber bibir kamu. Aku nggak ngerti!" dia masih berjalan mengekori istrinya yang berjalan perlahan ke arah kamar mandi.


"Ngapain nikahin tukang seblak kalo seleranya suster?"


"Hah? apa?" Bintang terperangah mendengar apa yang di ucapkan si istri.


Intan menghentikan langkahnya yang hampir membuka pintu kamar mandi.


"Kamu seleranya suster kan? kenapa biar bisa di. suntik tiap saat?" matanya sudah terasa berat oleh air mata yang sudah membendung.


Entah kenapa selama kehamilan dirinya merasa begitu sensitif dan posesif pada si suami. Apalagi bentuk tubuhnya yang membuatnya semakin minder.


"Cemburu?" Bintang akhirnya mengerti ke arah mana tuduhan Intan.


"Aku nggak butuh di suntik suster, yang aku butuh itu nyuntik kamu ampe mbelendung menul- menul gitu." Bintang menangkup kedua sisi pipi Intan dan menghadiahi beberapa kecupan.


"Aku udah milik kamu dari ujung rambut sampe ujung kaki. Dari luar sampe dalem, dari tenggorokan sampe lubang keluar .... "


Ucapan nya terhenti saat Intan memagut bibirnya. Menyesapnya lembut.


Mereka pun larut dan terbuat dengan kehangatan di pagi hari.


Lalu sebuah deheman terdengar dan membuat mereka terkejut. Dan pautan pun terlepas.


Bersambung ❀❀❀


Mohon maaf belum balesin komen kalian yaπŸ™πŸ™


Yang di kontrakan sebelah komen pun aku nggak tau, paling aku like di part yang terbaru aja. Soalnya nggak ada notif nya πŸ˜–πŸ˜–. jadi nggak tau ada yg komen, tapi tenang nanti aku chek dari awal siapa yg rajin komen sampe tamat🀭🀭

__ADS_1


Yang di sini juga belum aku bales ya, maaf aslam kembali kumat menyebabkan perut dan kepala nggak enakπŸ˜–πŸ˜–. pokoknya pasti aku bales sabar yaπŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ jangan pikir sok banget kek yang tenar aja🀭 nggak gitu konsepnya ya marisol aku masih pusing kalo liat HP lama2😌 bukan sok gaya😎


Dah lah lope2 buat kalian semua sun dari Bandung 😘😘😘


__ADS_2