
WARNING... yang belum nikah sama yang sendiri jangan baca, Itti takut kesalahin. Atau disa tanggung sendiri π€£π€£π€£π€£
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Bintang sedang bersiap, jantungnya seakan bertalu-talu dengan berisiknya. Membuka bajunya dan kembali menyisakan kaos dalam dan boxer ketatnya.
Dia hilir mudik di kamar itu, sambil menciumi tubuhnya.
"Masih wangi!" gumamnya percaya diri.
"Tapi lengket," dia kembali berkata. Di ambilnya satu bungkus tisu basah hasil unboxing kado tadi.
Dia mengusap tubuhnya dengan tisu basah bayi itu, menggosok kan nya ke seluruh badan hingga ke lipatan-lipatan tubuhnya.
Saat di bagian tubuhnya, tangannya berhenti.
"Oh, jangan ntar takut bini gue keracunan makan bekas tisu basah," dia terkikik geli namun pikiran nya itu semakin liar dan darahnya berdesir hebat.
Dia bergidik membayangkan apa yang akan dia lalui. Sebuah sejarah akan dia ukir, untuk pertama kalinya si pyton akan bertamasya ke lubang sesungguhnya. Kenikmatan sebenarnya akan dia dapatkan.
Namun sesaat berpikir, akan kah dia bisa memu*askan sang istri? bagaimana jika dia tidak bisa tahan lama? atau bagaimana jika istrinya itu tidak bisa dia bawa hingga ke puncak?
Pertanyaan-pertanyaan itu menyesak di dalam kepalanya.
"Lu harus keren, Ton. Jangan bikin gue malu! pokoknya lu kudu bikin dia minta ampun." Katanya pada sang pyton seperti orang gila.
Bintang kembali melap tubuhnya tak ada yang terlewat selain bagian sensitif nya, dengan alasan takut istrinya keracunan. Ya, tentu karena khayalan liar nya.
Pintu kamar mandi terbuka Bintang langsung meraup puluhan tisu basah bekas dia pakai ke tong sampah kecil di dekat pintu kamar mandi.
"Bekas apa?" tanya Intan.
Bintang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Intan masih mengenakan bathrobe nya berjalan ke arah koper kecil, untuk mengambil satu buah baju tidur.
"Mas ... " Panggilnya.
"Ya? " Bintang datang setelah menggosok giginya, dia tidak mau ada selipan ayam kodok atau pun siomay yang dia makan di pesta resepsi nya tadi sebelum ke hotel.
"Iya istriku?" Dia berjalan menghampiri.
"Perasaan aku bawa baju tidur deh, kok nggak ada ya?"
Bintang menahan tawanya, "aku simpen lagi!"
Intan menoleh keningnya mengerut tak mengerti, "kenapa?" tanyanya.
"Ini kan malam pertama kita!"
"Ya, terus hubungan nya sama baju tidur aku apa?" nadanya sudah agak sinis.
"Nggak usah pake, nanti juga di lepas kan?" terangnya.
Istrinya itu terlihat cemberut.
"Nggak mau ah! nggak ada baju nggak itu ... " ancamannya membuat Bintang ketar ketir.
"Enak aja, kenapa gitu?"
"Iya, kamu juga seenaknya." Intan tak kalah sinis.
"Aku suami kamu!"
"Aku juga istri kamu kan?"
"Aku punya hak penuh sama kamu," Bintang sedikit terpancing emosi, sesuatu yang sudah sangat mendesak dan kekesalannya karena sebuah ancaman dari istrinya. Malah membuat mereka bertengkar.
"Oh, jadi aku nggak punya hak pake baju gitu?"
Intan berbaring dengan bathrobe di tubuhnya lalu dia membereskan bunga-bunga di atas tempat tidur mereka. Dia merebahkan tubuhnya dan berguling hingga selimut tebal hotel itu menggulung tubuhnya yang kurus.
Bintang melongo melihat apa yang di lakukan istrinya.
"Si anjir, malah kayak lemper!" Bintang mengeratkan rahangnya menahan amarah.
"Tan ... " panggilnya dengan sedikit menaikan volume suaranya.
"Intan... "
Istrinya tak bergeming di bawah lilitan selimut itu.
"Intan Faradilla," dia memanggil dengan nama panjang sang istri.
Intan sedikit menarik selimut dan mengintipkan wajahnya.
"Apa?"
"Pak Bintang!" dia tak kalah emosi.
"Buka nggak," Bintang mencoba menarik selimut itu.
"Nggak, aku pengen baju. Pokoknya aku pengen baju!" Intan meronta.
Bintang bangkit dan berdiri di sisi kasur, mereka saling pandang namun dengan sorot pandangan mata mereka yang terlihat marah.
Lelaki yang sudah gemas dengan acara iklan Intan yang terlalu mengulur waktu dan bertele-tele. Berjalan ke arah dus di mana tadi dia ingat ada lingerie warna merah dan hitam.
Dia mengambil yang berwarna merah terang, dengan kain segitiga yang seperti tali. Seringai me*sum itu jelas terpancar dari lelaki yang sebentar lagi akan melepas keper*jakaan nya.
Dia berjalan dan menyimpan nya di pinggir kasur itu.
"Nih, pake nya di sini. Nggak boleh di kamar mandi!"
*
*
Bintang duduk di sisi sambil menyilangkan tangannya di dada.
Intan sedikit mengeluarkan kepalanya dan melihat baju merah berbahan tile tipis itu.
"Kayak saringan nasi, jaman dulu mamah kalo ngangetin nasi suka pake kain kayak gini," Intan menelisik kain yang akan di pakainya itu.
Bintang mendengus, "drama apalagi sih? cepet pake!" titahnya.
Intan membuka lilitan selimut itu, merangkak menuruni kasur.
Bintang menahan kan kedua tangannya di tepian kasur, dia akan melihat pemandangan luar biasa dari istrinya. Setelah menikah pun istrinya itu masih sering malu jika akan mengenakan pakaian.
__ADS_1
"Merem," pinta Intan pada Bintang yang dia perhatikan tak berkedip dengan jakun yang naik turun.
"Ck, gemes banget sih." Gerutunya namun menuruti.
"Ini kenapa? "
"Apanya?" Bintang balik bertanya.
"Masa celananya kayak tali doang?"
"Iya, emang gitu. Tanyain sama yang ngasihnya. Tanyain juga sama yang bikinnya," jawab Bintang dengan mata yang masih terpejam.
Tak terdengar suara, Bintang membuka sedikit matanya. Istrinya tak ada di depannya.
"Tan ... "
"Hem, bentar haus!" Intan sedang menunduk meraih minuman di lemari pendingin.
Posisi itu malah semakin menantangnya.
Dia menghampiri dan merengkuh tubuh itu dan menekankan miliknya yang sudah menegang sedari tadi.
"Aww... " Intan memekik saat merasakan gerakan dari suaminya yang tiba-tiba di tubuh bagian belakang nya.
"Aduhh ... "
"Kok aduh? kan kamu yang sengaja!" Intan membalikan tubuhnya.
"Aduh, enak maksudnya!" Bintang menatap istrinya yang tengah meminum minuman teh berperasa buah itu, leher mungil namun mulus itu terlihat mendongak begitu menggoda dirinya yang memang sudah tak tahan.
Intan melepaskan bibirnya dari botol itu, Bintang dengan cepat menariknya, dan melemparkan botol minuman itu.
Meraup tubuh istrinya, dan menekan tengkuknya agar semakin mendekat.
Sedetik kemudian bibit itu telah menempel sempurna, Bintang mema*gutnya dengan lembut dan mereka saling membalas luma*tan dan hisapan itu. Bahkan Intan membiarkan lidah suaminya bermain di dalam mulutnya.
Intan mencengkram lengan Bintang, dan Bintang semakin menekan pinggang istrinya hingga tak ada jarak di antara mereka, bahkan Intan merasakan jelas sesuatu di bawah itu sudah sangat keras menekannya.
Bayangan takut akan rasa sakit menggetarkan tubuhnya yang sedang hanyut dengan kecupan Bintang yang memabukkan.
Dada itu dia dorong, hingga pautan itu terlepas.
"Apa?"
"Takut,"
"Takut apa?" Bintang mengusap bibir basah istrinya.
"Itu, sakit katanya!" ucapnya berbisik.
"Tandanya kamu bersegel,"
"Katanya sakit banget, perih!"
"Udah pernah nyoba?" tanya suaminya itu.
Intan hanya mampu menggelengkan kepala.
"Sok tau kamu, belum juga nyoba udah nyerah aja!" Bintang kembali mema*gut bibir itu sambil membawa tubuh itu mendekat ke arah kasur.
"Mas, belum malem!" Intan masih berusaha mengulur waktu.
Intan menutup mulutnya menahan tawa.
Bintang merebahkan tubuh mereka perlahan di atas kasur.
Dia mengecup leher istrinya yang sudah begitu menggoda iman nya yang seluas mangkuk kobokan.
Hingga turun semakin kebawah, bahan tipis itu memperlihatkan puncak istrinya yang mengeras.
Bintang tersenyum dan tanpa aba-aba dia melahap nya.
"Eehhhmmm ... "
"Arggghhh... "
Intan mengerang tak karuan.
Bintang menghentikan aktivitas nya.
"Kenapa?" tanyanya.
"Enak ... " ucapnya pelan, "Eh, sakit. Maksudnya!" katanya meralat ucapannya sendiri.
Bintang tertawa di atas tubuhnya, "aku ambil jawaban yang pertama," lalu kembali mengu*lum puncak kecil berwarna coklat itu dari balik kain tile tipis.
Intan sudah bergerak tak karuan di bawahnya, bahkan tangannya sudah menggaruki punggung suaminya yang berada di atasnya.
Bintang yang sama sudah tidak kuat, akhirnya dapat meloloskan pakain tipis yang kata istrinya seperti saringan nasi itu.
Begitu pun dengan kaos dalam dan celana boxer miliknya. Kini dirinya sudah polos, menyisakan tali tipis dengan kain berbentuk segitiga kecil yang membungkus jalan masuk menuju sarang si cobra itu.
Intan menutupi tubuh atasnya dengan menyilangkan tangannya. Pahanya pun dia tutup rapat menyembunyikan sesuatu yang terus di pandangi suaminya.
"Jangan di tutup!" Bintang membuka kaki istrinya.
"Malu," bisiknya.
Bintang hanya mampu tertawa, "nanti si cobra nggak tau jalan masuk nya, nyasar entar dia!"
"Cobra? katanya pyton!"
"Kan kalo pyton nggak bisa nyembur, kalo udah siap nyembur jadi cobra!" Bintang sedikit bangun dari posisinya menarik memperlihatkan daerah kemas*kulinan nya.
"See ... kenalan dulu, " Lelaki itu menarik tangan istrinya untuk menyentuh benda kebanggaan nya.
"Aku udah pegang kan!"
"Pegang lagi, tak kenal maka tak sayang!"
Dia memejam saat tangan hangat Intan mengusapnya dengan lembut, memainkannya.
"Kenapa senyum?" tanyanya heran, sat melihat Intan melipat bibirnya menahan senyum
"Nggak kayak cobra ah!"
"Terus?" Bintang bertanya.
"Kayak paku, hahahahah!" Intan terbahak puas.
__ADS_1
Bintang menggelengkan kepalanya semakin gemas dengan istrinya itu
"Iya, palu alam. Udah aku nggak kuat,"
"Bentar, katanya harus kenalan dulu." Intan bangun dari tidurnya.
Lalu sedetik kemudian Bintang mengerang saat cobra miliknya sudah berada di dalam mulut basah dan hangat istrinya.
"Sayang ... Aduh, kamu... Ahhhh... "
Dia meracau tak jelas, tangannya menangkup pipi istrinya yang sedang bergerak di bawah sana, bahkan lidah istrinya itu bergerak-gerak melingkari miliknya.
"Tan ... duh,"
Tubuhnya yang bertumpu di lutut seakan semakin lemas, tangannya meraih bulatan bakpao daging mentah itu. Dia mere*mat dan sesekali mengusap punggung polos istrinya.
"Tann ... udah, nggak kuat!" Bintang menarik tubuh istrinya yang ternyata menyerap betul video-video yang dia berikan padanya.
Intan melepaskan nya, Bintang mema*gut bibir basah itu sambil menjatuhkan tubuh mereka diatas kasur.
Pautan itu tak begitu lama namun liat dan keras.
Bintang sambil membuka pelapis terakhir istrinya yang seperti tali dengan secuil kain yang menutupi inti tubuh istrinya.
Dia merangkak membuka kaki itu pelan-pelan hingga dia melihat jelas semua.
"Jangan di liatin malu!" Intan menutup wajahnya malu.
Bintang terkekeh dan mulai mengarahkan miliknya sedikit masuk.
"Aww... " Intan meringis dengan tangan mencengkram sebelah lengan suaminya yang menjuntai di sisi tubuh nya.
"Tahan ... " Suara suaminya itu sudah parau.
"Aduhhh ... sakit banget, jangan di paksa!" Intan memukul dada Bintang.
Bintang menatapnya dengan wajah kesal dan mata yang sudah tertutup kabut gai*rah.
"Nggak di paksa, ampe gajah selangsing jerapah juga bakal tetep sakit!" geramnya.
Bintang sedikit menunduk kembali meny*sap puncak bakpao daging itu. Sedikit kuat hingga Intan kembali mende*sah.
Saat istrinya itu sedang menikmati dengan sekali tekanan dia memasukan si cobra dengan sekaligus.
"Aawwwww .... " Intan menjerit saat sesuatu melesak masuk dan terbenam di tubuhnya.
Dia merasakan sesak di bawah sana, rasanya ia ingin menangis kencang karena rasa sakit dan perih itu.
Bintang mencium kembali bibir istrinya.
"Sakit!" Intan merengek.
"Iya, maaf. Aku juga ini kayak yang di jepit di dalem, kayak kecekik."
"Ya udah, cabut!"
"Nggak bisa, harus di gerak-gerakin dulu. Kan paku emang gitu harus di pukul-pukul."
Bintang mulai menggerakan pinggangnya memaju mundurkan tubuhnya. Menahan pukulan dan cakaran yang istrinya beri.
Hingga Intan terlihat menegang, dan Bintang kembali menye*sap puncak itu sedikit keras.
"Ahhhh ... mau pipis!"
Bintang semakin memacu gerakannya, tempo nya yang berawal dengan slow motion kini tak berirama, tubuhnya gaduh dengan suara kulit dari keduanya yang terdengar indah.
Hingga Intan menegang dan mengeratkan cengkraman nya pada kedua lengan Bintang.
"Ehmmmm ... " Istrinya itu sudah mele*nguh, saat puncak nya tiba. Bagian tubuhnya berdenyut membuat miliknya semakin terasa di pijat-pijat.
Lelaki itu diam untuk beberapa saat menikmati sensasi pijatan di dalam sana.
Bintang kembali berpacu meraih kemenangan, ya dia merasa menang saat istrinya lebih dulu mencapai puncak. Dan tak lama rahangnya bergemeletuk dan bibirnya dia gigit saat puncaknya datang.
Intan merasakan sesuatu yang hangat, suaminya sudah menyemburkan benihnya di dalam tubuhnya.
Bintang tersenyum dengan wajah memerah dan nafas mereka yang terengah-engah. Mendekat dan mengecup kening istrinya dengan lembut. Lalu membaringkan tubuhnya di sebelah sang istri.
Intan bergerak dan langsung meringis, "Sakit banget," dia merengek hampir menangis.
Tak ada jawaban dari suaminya, dia langsung menoleh. Ternyata suaminya sedang melamun menatap langit-langit kamar.
"Mas ... Sakit, kamu nggak mau ngomongin apa gitu?" Intan mengguncang lengan suaminya.
Bintang mengusap air di sudut matanya, Intan berpikir suaminya merasa tak tega kasian terhadapnya.
"Eh, Mas. Nggak sesakit itu kok, aku bisa nahan." Intan sedikit bangkit dari posisi tidur nya.
"Nggak, bukan karena itu. Aku sedih, nyesel banget kenapa nggak dari dulu ya nikah, ternyata enaknya kebangetan. Pantes banyak yang bilang bigung adalah surga dunia," terangnya.
Intan hanya mampu melongo mendengar kalimat mutiara yang barusan suaminya ucapkan.
"Oh, jadi kamu pengen sama si suster bohay itu?" Intan memukul dada suaminya yang masih polos.
Bintang langsung menoleh kaget, "Bu-bukan gitu maksudnya, kenapa kita nggak darin dulu gitu ketemu dan nikahnya, si sundel lewat aja." Bujuknya merayu sang istri.
Dia tidak mau acara minta paket nambah akan gagal karena istrinya marah.
Intan membalikan tubuhnya memunggungi suaminya.
"Sayang, jangan marah. Di kehidupan selanjutnya juga aku mau tetep kamu yang jadi istri aku. Nggak mau bidadari aku cuma mau Intan." rayunya sambil mengecupi tengkuk dan batu istrinya.
"Tapi, aku mau nyoba bidadara!" jawabnya pelan.
Bintang langsung membola dan langsung kembali mengungkung istrinya sambil menggelitiki dengan gemasnya.
Kamar yang beberapa saat lalu hanya terdengar suara- suara aneh dan membuat merinding, kini di ganti dengan suara gelak tawa pasangan suami istri yang baru memberikan hak dan kewajiban mereka masing-masing.
Bersambung β€β€β€
2073 kata ini, sesuai request lagi. Sungguh terlalu kalo nggak ninggalin jejak.
Like, komen, dan favoritnya. Boleh bisikin ke temen2nya ada cerita ini nggak π€§π€§. kemarin masa cuma dapet 107 perakπππ.
Sedangkan halu ku butuh biaya π€§π€§
Adegan ini di sponsori oleh mi gaga level 5.Dengan piring seng warisan mertua yang sudah langkaππ
__ADS_1
Kabooorr πββπββπββπββπββπββ