Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Hari menjadi perawat


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋...


Pagi itu, Intan sudah sangat bersemangat dengan aktivitas barunya. Merawat lelaki yang dia sayangi.


Intan pergi ke dapur, di sana hanya ada mbok yang sedang membersihkan dapur. Intan meminta ijin membuat bubur untuk Bintang.


Setelah itu dia mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat bubur special.


Bunda datang menghampiri nya, karena biasanya dia yang akan membuat bubur.


"Tan?"


Intan yang sedang menekuni kegiatannya seketika menoleh, "Iya, Bun?"


"Lagi apa?"


"Buat bubur buat Mas Bintang," jawabnya.


Bunda hanya mengangguk senang.


"Bubur apa?"


"Bubur ayam kuah, biar perut Mas Bin anget," teranganya.


Sebuah usapan di punggung Intan dapatkan, "makasih, ya!" Bunda berkata lirih sambil memeluk Intan.


Setelah di rasa matang Intan langsung menuangkannya ke dalam mangkuk.


"Kebanyakan, Tan." Bunda melirik mangkuk bubur itu.


"Kita coba dulu Bun, kalo nggak abis nggak apa-apa!" ujarnya.


Lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Bintang.


Setelah mengetuk pintu yang tidak tertutup itu, Intan masuk.


"Pak, selamat pagi... " sapa nya.


Bintang yang masih meringkuk di bawah selimut seketika menggerakan kepalanya ke arah suara.


"Pagi, Indah." jawabnya.


Intan langsung berjalan ke arah nakas, menyimpan nampan yang dia bawa.


Lalu mendekat ke arah Bintang. Membuka lebar selimut yang membungkus tubuh Bintang.


"Kamu mau apa Ndah?" Bintang terlihat panik sambil menangkup pyton nya yang sedang berdiri, karena bangun pagi lelaki akan biasa terbangun berdua.


"Bapak cuci muka dulu," perintahnya sambil sedikit menarik tangan Bintang agar bangun.


Bintang tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah perawat nya itu.


Intan membantu Bintang untuk menggosok gigi lalu mencuci muka. Di bantunya mengeringkan wajah pucat dan terlihat kurus itu. Lagi-lagi hati Intan terasa sesak melihat keadaan Bintang.


Setelah itu dia tuntun Bintang untuk duduk di balkon kamar. Intan menyuapi Bintang bubur siram itu.


Sesuai dugaannya Bintang lahap memakannya, dan malah meminta kuahnya untuk di tambah.


Dengan senang hati Intan turun kembali ke dapur untuk menambah kuah kaldu ayam bubur Bintang.


Bunda dan Ayah yang sedang sarapan seketika takjub melihat gesit nya Intan mengurus anak mereka.


"Kenapa, Tan?" tanya Bunda.


"Mas, Bintang minta tambah, " ucapnya penuh semangat.


Bunda hanya tersenyum senang, matanya berbinar antara haru dan sedih.


"Makasih sayang, Bunda yakin. Kamu yang Bintang tunggu," beliau memeluk Intan dengan hangat.


Kehilangan sosok ibu hampir 2 thn lebih membuatnya merasakan rindu akan kehangatan seorang ibu. Intan tersenyum merasakan pelukan hangat itu.


"Saya, ke kamar Mas bin lagi," Intan menunjukkan mangkuk berisi kuah ayam itu.


Bunda langsung mengangguk melepaskan pelukannya.


*


*


Saat masuk bunyi ringtone ponsel Bintang menggema, Bintang yang sedang makan di balkon sepertinya kesusahan untuk menggapai ponselnya.


"Pak, telpon." Intan menyodorkan ponselnya.


"Loudspeaker aja, Tan. Saya lagi enak makan." Titah Bintang.


Intan langsung melakukan apa yang Bintang pinta.

__ADS_1


"Ya.. " Sapa Bintang.


"Pak, Maaf. Bu Intan nya tutup, malam saya pesan seperti biasa. Tapi katanya beliau tidak jualan,"


Intan sedikit mengerutkan keningnya, kenapa nama Intan di sebut-sebut. Dia masih diam mencermati percakapan itu.


"Liat ke kostan nya, takutnya sakit." Bintang yang masih menyuapkan buburnya memerintahkan anak buahnya.


"Sudah, Pak. Barusan saya ke sana, kata tetangga nya lagi mudik ke Bandung," terangnya lagi seseorang di sana.


Intan semakin mengerti, memang tadi malam dia menolak orderan seblak 50 porsi dari langganan nya yang biasa, siapa kira selama ini dia mengira itu adalah bantuan dari Faisal. Merekomendasikan jualan nya pada teman-teman nya, ternyata dia salah.


Intan menutup mulutnya yang terhalang masker, dia ingin sekali memeluk lelaki di depannya. Namun dia masih menguatkan diri, lantaran dia tidak ingin Bintang merasa sungkan dan malu.


"Ya, sudah mungkin dia mau ziarah ke makam ibu dan tunangan nya. Makasih ya," panggilan pun terputus saat Bintang menjauhi telinga nya dari ponsel yang intan pegang.


Dengan memberanikan diri Intan pun bertanya, "ada masalah, Pak?"


Bintang yang masih makan mendongak menatap Intan, Intan sedikit terlonjak saat mata itu terlihat sama seperti biasanya tidak ada yang berbeda hanya saja pandangan nya kosong.


"Nggak, kamu kepo!" ucapnya terkikik.


Intan sedikit malu, benar apa yang di katakan Bintang, untuk orang yang di bilang baru memang terlihat lancang. Gadis itu tersipu malu untung Bintang tidak bisa melihat raut wajah malunya.


Setelah selesai, Bintang masih di tahan diam di balkon dengan alasan agar sinar matahari bisa menjadi obat bagi tubuh Bintang.


Intan bergegas menyimpan peralatan makan bekas Bintang, lalu kembali ke atas dengan dua gelas jus buah buatan Bunda.


Intan masuk kembali ke dalam kamar Bintang dan langsung mengajak Bintang agar segera membersihkan diri.


"Nanti,"


"Sekarang, Pak. Nanti bapak bersih2 saya beresin kamar yang bau minyak gosok. Kayak aki-aki," gerutunya


Bintang diam memandang sesaat mendengar ucapan Intan yang familiar di telinganya.


"Kenapa, Pak?"


"Kamu ngingetin saya ke seseorang, dia pernah bilang aki-aki sama saya,"


Intan mengulum senyum, dia tau itu adalah perkataannya dulu.


"Siapa?"


"Mantan calon istri!" Bintang menjawab mata itu terlihat sayu saat mengatakan itu.


"Ehm, kok mantan? meninggal? "


"Maaf Pak, saya nggak tau."


"Dia jodoh saya yang tertunda, lagi di jagain orang!"


Ucapnya percaya diri, tangannya merayapi dinding menuju kamar mandi.


Intan tersenyum, merasa senang sekaligus sedih.


Tangan yang tengah merayap itu langsung Intan sambar, dia tuntun menuju kamar mandi.


Bintang terdiam sesaat merasakan genggaman itu.


"Pak, maaf. Saya hanya membantu! " Intan terlihat merasa canggung.


Lelaki itu tersenyum, senyum yang sangat Intan rindukan. "mas. Cepat sehat," Gumamnya dalam hati.


Setelah sampai ke pintu kamar mandi, Bintang langsung menahan Intan.


"Cukup, makasih ."


Intan pun menutup pintu kamar mandi itu, segera membereskan tempat tidur. Membuka kendala dan pintu lebar-lebar, menyempatkan pewangi ruangan .


Sambil menunggu Bintang selesai di kamar mandi, dia menyiapkan pakainya.


Sebuah kaos putih, celana jogger dan tak lupa pakaian da*lam.


Tersenyum puas melihat semua telah rapi sesuai keinginan nya, "sekali-kali aku yang memaksakan kehendak," ucapnya terkikik kecil.


*


"


Selama Bintang berpakaian yang terasa lama, Intan berdiam di teras balkon sambil meminum jus nya.


Sebuah pesan pun masuk dari Edo, menanyakan keberadaan nya.


Intan langsung beralaskan sedang di rumah orang tuanya. Entah kapan dia bisa kembali ke kostan nya, dan sudah di pasti kan bahan-bahan basah seblak nya akan basi.


"Tak apalah demi kamu, Mas!" gumamnya.

__ADS_1


"Siapa?" tiba-tiba suara Bintang di belakangnya.


Intan menoleh kaget.


"Eh, bukan ... Ta-tadi kakak saya telpon," bantahnya.


Bintang mengangguk lalu berjalan pelan mendekati, Intan menuntunnya untuk duduk.


"Pak, rambutnya belum di sisir?" tanyanya.


"Belum, acak-acakan ya? saya nggak bisa nemu sisir ada di mana!" jelasnya.


Intan langsung masuk ke dalam kamar mengambil sisir.


"Maaf, ya Pak." Ijinnya sebelum menyisir rambut Bintang.


Bintang mengangguk pasrah.


Tanpa mereka sadari kedua orang tuanya melihat semua kegiatan yang tengah di lakukan sepasang anak manusia yang saling mencintai itu.


"Ayah... panggil penghulu, kita nikahin aja mereka,"


"Enak aja, Intan kayak anak ayam aja bisa seenaknya kita ambil buat di nikahin sama anak kita. Pasti ada keluarga nya lah, nanti kita lamar baik-baik. Setelah semua terbongkar, "


Bunda mengangguk, "tapi Bunda pengen Intan yang jadi menantu kita," Bunda merajuk dalam rangkulan suaminya sambil menuruni anak tangga.


"Iya, merasa tenang ya. Kalo anak kita nemuin yang benar-benar sayang," Ayah merangkul istrinya yang kembali terisak.


"Iya,"


"Bunda juga nemuin Ayah pasti beruntung," Ucapnya dengan bangga.


"Bunda lupa, sifat Bintang sama persis sama Ayah. Intan kuat nggak ya?"


Ayah menoleh ke arah istrinya dengan antara yang gemas.


Bunda hanya tertawa sambil memeluk sang suami.


"Bunda bercanda, Ayah."


*


*


Akhirnya di sore hari itu, Bintang kembali merasakan sakit di ulu hatinya, dia menge*rang kesakitan di tempat tidur nya, Bunda dan Intan sedang mencoba menenangkan.


"Sakkiiit ... Bun,"


"Iya, Bunda tau." Bunda mencoba menenangkan.


Intan datang dengan sebaskom air panas dan handuk kecil.


"Permisi, Bunda. Biar aku yang coba merawat,"


Bintang masih meringis kesakitan, saat Intan menggosok bagian depan tubuh Bintang dan punggung nya dengan minyak kayu putih.


Kaos itu sudah basah bercampur keringat, Intan berinisiatif untuk mengganti nya.


Bunda masih diam di tepi kasur menyaksikan anaknya yang kesakitan, biasanya sang suami yang mengurus Bintang ketika sedang kambuh, karena dia lebih tidak tega melihatnya.


"Permisi, Bun."


"Mas, balikin badan kamu nya,"


"Nggak,"


"Nurut, sama aku. Mas... " Intan sedikit membentak nya.


Bintang terdiam sesaat sebelum dia pasrah dengan apa yang di lakukan Intan padanya.


Intan membalur nya dengan minyak kayu putih, dan mengompres dengan handuk panas di bagian ulu hati Bintang.


Hingga era*gan itu perlahan hilang, dan Bintang terkulai lemas, akhirnya tertidur setelah meminum air hangat.


"Makasih, Tan... Bunda nggak tau kalo tadi kamu nggak ada, biasanya Bintang suka sampai muntah-muntah, tapi ini nggak. Dan dia langsung tertidur," Bunda memeluk Intan.


Intan tersenyum, dulu almarhum Ibu saya juga mengidap penyakit yang sama, selalu seperti itu jika sedang kambuh. Jadi saya punya sedikit pengalaman untuk merawat, Mas Bintang." Intan menoleh sesaat pada Bintang yang tertidur dengan tenang nya.


Intan membenarkan selimut yang menutupi tubuh kurus itu sebelum keluar dari kamar.


Dia hendak membersihkan tubuhnya, saat sesuatu mengingatkan nya kepada Faisal. Dia langsung menghubungi nya...


Bersambung ❤❤


Like


Komen

__ADS_1


favoritnya


Sehat dan bahagia selalu 😘😘


__ADS_2