Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
ketegangan


__ADS_3

...----ooo----...


Pagi itu....


"Kakkkk... bangun kak, tolongin Bunda." Teriak ibunya dari luar kamar.


Bintang mengernyit matanya masih terasa lengket, sepertinya mutiara menumpuk di pinggiran matanya dan menanti tangannya untuk memanen.


Dia mengambil ponsel yang berada di dekat bantal, bekas semalam berkirim pesan dengan sang kekasih yang bertugas malam.


"Jam 6, bantuin apa sih?" Gerutunya sambil berjalan sempoyongan keluar kamar dengan tangan yang memanen mutiara.


"Kak... kirimin soto ke rumah adik kamu, kasian Dafa sakit demam dari semalem katanya." Bunda sedang membungkus sebuah kotak makan besar bermerek upilwear.


"Bilang sama adik kamu, itu wadah nya jangan lupa kesayangan Bunda itu lucu warna nya unlimited." tukasnya mewanti-wanti.


"Halah, Bunda... plastik yang beginian aja pake kesayangan, warna ungu janda gini unlimited nya di mana?" cibir nya sambil menelisik sebuah wadah cukup besar.


"Lagian, si Dafa manja banget sih demam aja."


"Kayak nggak manja aja, nggak inget waktu kemarin kamu flu idung mampet minta di uap minta di oksigen. Kayak mau end detik itu aja."


"Bun... Aku kan sakit.. "


"Iya, flu... kalah sama Helen kamu mah..." Bunda terkikik geli.


"Bunda lebih sayang sama menantu daripada anak kandung sendiri." Keluhnya


"Mulut kamu minta di kuncir, mandi dulu sana. Bau bujang expired." Suara Ayah mengagetkan mereka yang sedang berada di meja makan.


"Bujang unlimited ini, langka." Bintang melewati Ayah nya yang tengah tertawa puas meledaknya.


Bunda hanya terkikik melihat awal harinya yang di awali dengan pertengkaran anak dan suaminya.


"Sarapan apa Bun?" Ayah duduk dengan manis menungu istrinya melayani.


"Baru jam enam, udah laper?" Bunda menatap suaminya heran.


"Iya, ganti tenaga yang semalem Bun, ngisi ulang cairan yang di keluarin semalem."


"Hmm alesan." Bunda melengos masuk ke dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya.


*


*


"Bunda... aku pergi, langsung ke kantor kayaknya." Bintang menghampiri meja makan yang di tempati kedua orang tuanya yang sedang memakan roti.


"Sarapan dulu!" tawar Bunda.


Bintang menyambar sebuah roti di piring Ayahnya.


"Budak semprul, itu punya Ayah."


"Ayah bisa minta bikin lagi sama Bunda, aku buru-buru mau ke rumah Chaca. Mau ngasihin soto buat si manja." Ucapnya sambil berlari takut kena tabok Ayahnya


Bunda tersenyum lalu menepuk punggung tangan suaminya, menenangkan agar emosi nya reda.


"Bunda bikinin lagi, sarapannya di taman yuk?" Bunda yang sedang mengoles roti dengan selai coklat mengajak suaminya untuk pindah lokasi sarapan.


"Ayah kita mau pindah ke kamar... "


"Ngamar muluu... pikiran Ayah." Gerutunya sebal.

__ADS_1


Ayah tertawa sambil membawa dia cangkir berisi teh hijaunya. "Ayah tunggu di kamar ya, eh.. di taman maksudnya." Kekehnya saat melihat raut wajah judes istrinya.


"Udah tua tapi kelakuan ... ampun, fotocopy Bintang banget. Nggak nyadar sering ngomelin anaknya yang sifatnya persis dia." Bunda nenggumam sendiri.


"Bu... itu ayam mau di ungkep semua?" Mbok menghampiri nya.


"Iya mbok, tapi separuh ungkep kuning, separuhnya lagi ungkep bacem buat ayam bakar." Jelasnya.


"Bumbu nya udah saya bikin semalem, ada di kulkas." tambahnya lagi sambil bangun membawa dua piring kecil berisi roti coklat dan roti selai nanas untuknya dan sang suami.


Mbok hanya mengangguk lalu kembali lagi ke dapur.


*


*


Bintang memberhentikan mobilnya di depan rumah sang adik, tanpa mencabut kuncinya karena dia memang bermaksud langsung ke kantor.


Saat mengetuk gagang pagar besi rumah adiknya itu, Terlihat Intan tergopoh-gopoh ke arahnya.


"Mas... Tolongin, itu... itu... bapak... " Ucapnya panik sambil menarik tangan Bintang masuk ke dalam rumah.


Bintang kaget saat melihat adiknya tengah meraung-raung di depan pintu kamar mandi.


"Kenapa?"


Mentari langsung menoleh ke arahnya, dan dengan segera menjelaskan dugaannya tentang Dafa yang berada di kamar mandi.


Dengan sigap Bintang mendorong kuat pintu kamar mandi yang terganjal sesuatu. Saat pintu sedikit terbuka sedikit lebar Kepala nya melongok ke dalam dan benar saja dugaan adiknya kalo suaminya pingsan dan kakinya memanjang dan mengganjal pintu.


Dengan susah payah dia mencoba mengangkat tubuh Dafa dengan bantuan sang adik namun masih terasa berat.


Pandangan nya beradu pada Intan yang hanya diam terpaku menatap ke arah mereka.


"Bisa nggak lu simpen dulu Helen, terus bantuin kita gotong Dafa ke mobil gue. Malah diem kek orang bego." Gertaknya penuh emosi.


"Buruan... " Bintang kembali membentak Intan.


Lalu mereka bertiga menggotong Dafa ke mobil Bintang yang terparkir di depan pagar.


Intan pun menatap mobil yang membawa majikannya menjauh.


Hatinya sedikit perih saat mengingat bentakan dan kota-kota kasar yang Bintang lontarkan kepadanya.


Dia masuk kembali ke dalam rumah dengan hati yang perih namun mencoba terlihat biasa saat Helen tersenyum ke arahnya. Anak cantik itu seolah sebagai obat penawar akan mulut Papi nya yang jahat.


Dia memandikan anak cantik itu sebelum adiknya bangun, benar saja setelah memandikan Helen selesai Shera bangun.


Dia menggendong Shera sambil menyuapi Helen.


Namun dia kewalahan saat Shera terus merengek, sepertinya bayi yang baru sebulan lebih itu haus dan menginginkan Ibu nya.


Dengan susah payah dia menghangatkan stock asi beku di kulkas, dengan menimang Shera yang masih menangis dan Helen yang menempel manja di kakinya.


Bersamaan dengan suara telpon rumah berdering kencang. Lalu dia mengangkat panggilan itu, ternyata itu dari neneknya anak-anak. Yang menanyakan keadaan setelah Mendapat telpon dari Bintang kalo Dafa di larikan ke rumah sakit.


Panggilan pun terputus, dengan keputusan Bunda yang akan ke sana menjemput Shera.


*


*


Intan menutup kamar majikannya saat berhasil menidurkan Helen yang menangis di tinggal neneknya nyang hanya membawa adiknya Shera saja.

__ADS_1


Dia memutuskan untuk mandi badannya benar-benar lengket dan terasa lelah mengasuh Shera dan Helen sekaligus seorang diri.


Bintang mengetuk pagar rumah itu namun tidak ada tanda-tanda orang. Namun saat tangannya masuk ke celah pagar ternyata tidak di kunci. Dia langsung mendorongnya hingga tubuhnya masuk.


Saat mengetuk pintu ruang tamu, tidak ada satuan dari dalam, dia mengintip ke jendela kamar adiknya. Di lihat Helen tengah tidur di box nya.


Bintang kembali mengetuk pintu. Tetap tidak ada sautan dari dalam.


"Si lelet kemana sih? molor apa?" geramnya kesal.


Saat mencoba menggerakan kenop pintu lagi-lagi tidak terkunci.


"Waduh... bener-bener udah lelet ceroboh lagi si Intan."


Dia masuk ke dalam rumah yang keadaannya hening, dia mengedarkan pandangannya namun nihil tidak menemukan Intan.


Saat dia berjalan ke lorong menuju kamar Intan dia melihat Intan tengah menundukan tubuh nya yang hanya mengenakan handuk sepaha, entah apa yang dia cari di kardus yang tergeletak di ujung lorong di depan kamarnya.


Tubuh kurus itu menampakan kulit mulus dari paha hingga betis. Pundak yang indah dan leher jenjang.


Bintang masih mematung di tempatnya, dia berkali-kali menelan saliva nya yang tiba-tiba memenuhi rongga mulutnya.


Dia mundur saat mendapati pergerakan dari Intan yang dia takutkan berbalik dan memergoki dirinya yang tengah menikmati pemandangan tubuh bagian belakang nya.


Bintang sedikit berlari ke arah ruang tamu.


"Intan... Intan... " teriaknya.


Dia meyakini jika Intan terhenyak kaget mendengar suaranya. Terdengar dari suara gugupnya menjawab panggilannya.


"I-iya pak!" Intan berlari ke arah suara yang memanggilnya dia sampai lupa bahwa dirinya hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.


Bintang semakin ternganga ketika melihat bagian depan tubuh Intan. Leher dan bagian atas dadanya yang putih mulus merata, dengan dua bukit yang sedikit menyembul keluar karena terjepit lilitan handuk.


"Anjir... ngapain lu reaksi boy... " Gumamnya dalam hati saat merasakan pytonnya menggeliat bangun di bawah sana.


"Iya Pak.. " Intan bertanya dengan gugup.


"Apa-apaan kamu? mau goda saya? sori saya nggak kegoda sama cewek lelet kurus kering!" tapi buahnya gede. tambahnya dalam hati.


Intan baru menyadari dan langsung menutup bagian dadanya. "Maaf Pak!" Dia berkata sambil berlari ke kamarnya.


Bintang memegang sesuatu nyang sudah tegang.


"Lu nggak salah bangun? gue kira reaksi kalo deket Naya doang, ternyata ku gampangan juga liat yang kurus kering aja lu bangun, tapi buahnya gede walaupun nggak segede punya Naya." Gumamnya pada si pyton. Seakan pyton itu bisa berbicara bukan hanya bangun dan muntah-muntah saja.


"Anjir... kenapa gue makin pengen... " Dia mengusap bagian yang tegang itu.


Dia panik saat suara langkah kaki Intan mendekat kembali ke arahnya.


Mencoba terlihat biasa, dengan tangannya yang menyambar bantal sofa untuk menutupi sesuatu yang mengembung.


❀❀❀


Hai.... Hai... ketemu lagi sama itti yang baik hati dan sholehah. Sekarang kita ceritain kisah Bintang dan lika liku kehidupannya ya....


Semoga feel menghibur ku nyampe ya bikin kalian semua terhibur πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°.


Yang belum tau siapa Bintang. Cuzzzz baca dulu karya aku dengan judul Kisah Mentari yak nih cerita adiknya, tapi dari situ kalian udah aku kenalin siapa Bintang.


Dah lah kita mulai aja ya.... πŸ’ͺπŸ’ͺ


Bismillah yuk... bisa, yukkk... ngakak... biar bisa ngan*kan*🀭😘πŸ’ͺ

__ADS_1


Mohon maaf kalo ada typo2 dan penulisan nama yang terbawa-bawa dari masa lalu🀣🀣🀣


Jujur aku susah moveon dari nama laki-laki, karya pertama iqbal sering ke bawa ke cerita Dafa, dan si Dafa masih sering ngintilin Bintang 🀣🀣 maafkanπŸ™πŸ™πŸ˜ŒπŸ˜ŒπŸ˜Œ.


__ADS_2