Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Kelegaan


__ADS_3

...🦋🦋🦋🦋🦋...


Tiga hari berlalu


Hari ini Bintang akan melakukan laser pada matanya, ternyata hanya ada sedikit masalah pada bagian matanya.


Tidak memerlukan operasi karena dua hari lalu Bintang berkata matanya mulai bisa melihat, hanya masih buram saja.


Ayah pun meledeknya tidak bisa melihat karena matanya tertutup rindu yang menumpuk.


Mereka pergi tentu saja di antar Bunda, sedangkan Ayah ada meeting bersama Langit, jadi tidak bisa mengantar.


Ada drama saat mereka akan pergi, Bintang yang merengek ingin duduk di belakang bersama Intan sedangkan Bunda dia suruh di depan bersama mang Asep.


"Kalo ada Ayah kamu udah kena omel," Bunda menggerutu dari kursi di depannya.


"Biarin, kuping kakak udah terlatih!" kekehnya


Intan langsung mencubit pinggangnya.


Bintang menahan tangan itu dan dia genggam di atas paha nya.


Tak sampai satu jam mereka sampai, Bintang langsung memasuki sebuah kamar untuk dia beristirahat setelah laser nanti.


Dia sudah mengenakan baju pasien, Bunda sedang menerima panggilan dari Mentari.


"Selesai laser, Bunda pulang duluan ya? Shera sakit, dan Helen akan Bunda bawa ke rumah, kasian Chaca repot,"


"Lagian, anak masih kecil udah punya adik lagi!" protesnya.


Bunda datang mendekat lalu memukul paha anaknya itu, "Ngomong suka kemana aja, udah terjadi dan udah ada Shera yang lucu. Lagian itu rejeki mereka,orang tuanya juga enjoy2 aja. Kamu yang repot," gerutu Bunda.


Bintang hanya mampu tertawa, saat seorang perawat datang membawa sebuah kursi roda.


"Mari pak, laser nya akan segera di mulai. Dokter nya sudah siap," ajak sang suster yang bertubuh gemuk itu.


Intan membantu Bintang untuk turun dari tempat tidur hingga terduduk di atas kursi roda.


Saat sudah duduk tiba-tiba Bintang berkata, " mau ngobrol sebentar sama Intan. Bun," ijinnya.


"Lima menit ya, Pak. dokter nya ada jadwal yang lain," timpal sang suster.


"Tuh, dengerin."


Lalu Bunda dan suster itu keluar dari kamar.


Intan berjongkok di depan kursi roda Bintang, tangannya bertumpu di kedua lutut lelaki itu.


"Apa?" tanyanya.


Bintang memegang kedua tangan Intan yang berada di kakinya.


"Kalo ini nggak berhasil?"


"Ya usaha lagi!"


"Ya, aku cuma tanya kalo aku nggak bisa balik lagi kayak dulu?" tanyanya.


"Ya aku cari yang baru, nggak mau punya suami yang nyerah sama keadaan."


"Aduhh... mentang-mentang banyak kandidat kamu seenaknya aja ngomong gitu! ini pasti gara-gara malam pengantin yang takut ke dasar ya?"


"Ya, bukan cuma itu. Aku pengen punya suami yang bisa aku andalkan, bisa saling bantu. Terus nanti kalo aku hamil dan punya anak gimana? harus aku semua gitu? terus kamu ngapain?"


"Ck, kan aku yang ngasih benihnya." Katanya dengan bangga.


Intan menahan senyumnya, jelas dia sedang menggoda Bintang yang memang bersumbu pendek itu. Apapun keadaan nya dia tidak akan pernah pergi meninggalkan lelaki itu karena rasa cinta dan sayang yang begitu kuat dia rasakan.


"Aku jadi makin insecure ini, gimana kalo .... "


Intan menempelkan telunjuknya pada bibir yang terus nyerocos bicara tak karuan.


Bintang terdiam lalu jari jemari itu dia kecup.


"Do'a ini ya,"


"Pasti, nggak usah di suruh juga udah pasti aku do'ain."


Lalu tangannya menarik Intan hingga gadis itu terduduk di atas paha nya.


Bintang menundukkan kepala nya di bahu Intan.


"Aku takut, aku grogi ... " Bintang berkata lirih.


Intan menangkup wajahnya. "Kan kata Ayah, cuma laser dan nggak akan lebih dari setengah jam,"


"Kasih aku semangat!'


" Semangat nya kan aku mau di lamar! nggak memacu semangat kamu gitu?"

__ADS_1


"Buat sekarang, kiss misalnya ... " lelaki itu tertawa.


Intan mencebik lalu dia mengecup kening itu.


"Mata yang mau di laser ini," tunjuk nya pada ke dua matanya.


Intan lalu mengulang mengecup kedua mata itu bergantian.


"Sekalian aja bibir nya, biar aku makin semangat."


"Hadehh ... kemakan lagi modus," Intan menggerutu


Namun Bintang langsung menariknya, sedikit melu*mat saat sebuah ketukan di pintu mengagetkan mereka.


Intan langsung bangkit dan merapikan bibir nya yang basah sementara Bintang hanya terkikik.


"Lama amat, cuma setengah jam loh Ini, perpisahan nya kayak yang mau ke Turki," omel Bunda di ambang pintu.


Intan langsung mendorong kursi roda Bintang keluar dari kamar menuju ruang laser yang telah di tunggu oleh dokter.


Suster mengambil alih dan Intan berjalan dengan tangannya yang di gandeng Bundaa.


Bintang pun masuk setelah meminta doa dari Bunda nya.


*


*


Bintang keluar dengan mata yang tertutup perban.


Intan langsung menyambut nya, dengan wajah lega dan haru.


Mereka telah masuk ke dalam kamar, Bunda baru datang setelah menyelesaikan semua administrasi.


"Bunda langsung ke rumah adik kamu, ya."


"Iya," saut Bintang dengan semangat.


"Tan, inget yang Bunda bilang tadi," ucapnya pada sang calon menantu.


"Iya, Bunda."


Bintang mengerutkan keningnya tak mengerti apa yang dua perempuan kesayangannya bicarakan.


"Apa sih? kalian ngomongin apa?" tanya Bintang.


Intan hanya tersenyum pada Bunda yang melambaikan tangannya di ambang pintu.


"Tan... "


"Apa?"


"Kata, Bunda aku nggak boleh deket2 bukan muhrim, "


Terdengar Bintang berdecak tak suka.


"Bunda kayak nggak pernah muda aja, langsung tua." gerutunya.


Intan membenarkan letak bantal di kepala Bintang.


"Udah, jangan banyak ngomel. Tidur istirahat, aku mau turun ke bawah ya, mau cari kopi. Ngantuk,"


"Tidur aja sama aku, Tan. Gladiresik buat ntar udah sah, jadi udah terbiasa nggak kaget," Bintang terlihat antusias.


Intan mendekat dan mengecup kening Bintang. "Modus kamu udah bisa aku tebak sekarang, dah tidur!" Intan terkikik lalu berjalan ke arah pintu.


Bintang tersenyum alangkah bahagianya dia, hidupnya akan benar-benar sempurna sebentar lagi.


*


*


Pagi hari


Intan sudah rapi saat seorang dokter datang.


"Bagaimana?"


"Masih tidur, dok." Intan mendekat.


Bintang semalam tidak bisa tidur dia merengek seperti seorang anak kecil, karena matanya terasa pedih dan nyeri.


Intan sampai terbawa gemas sendiri, hingga dia akhirnya mau untuk tidur di sebelah nya bermaksud agar bayi besar itu segera tidur dan berhenti merengek.


Bintang tidur dengan tenangnya saat Intan sudah berada di sebelah nya. Memang modus lelaki itu selalu ada untuk menjebak nya.


"Masih tidur sudah hampir jam sembilan?" dokter itu sedikit tertawa sambil menggelengkan kepala nya.


"Iya, dok semaleman nggak tidur. Matanya pedih katanya," ujar Intan.

__ADS_1


"Pak... Mau di buka nggak perban nya? biar bisa cepet liat yang cantik di sebelah saya ... '


" Mau, mau dokter, aduh jangan di liatin lama-lama itu punya saya!" sambarnya langsung.


Intan membulatkan matanya, menggeleng kesal dengan kelakuan Bintang.


"Di kirain tidur," ucapnya kesal sambil mencubit kakinya.


Bintang dan dokter itu hanya tertawa terbahak-bahak.


Lalu proses pelepasan perban di mulai dengan sangat perlahan, terlihat merah dan sedikit bengkak.


"Gimana?"


Bintang sedikit membuka matanya lalu kembali menutupnya.


"Gimana?" tanya lagi sang dokter.


"Sakit dok pedih banget!" keluhnya.


"Tan... " tangannya mengulur mencari tangan Intan.


Intan langsung mendekat dan menggapai tangan itu.


"Aku, di sini!"


"Janji ya, jangan tinggalin aku!"


"Iya,"


Dokter menyimak obrolan kaula muda yang sedang mabuk cinta itu.


"Coba buka lagi matanya, perlahan aja!" katanya.


Bintang kembali membuka matanya, dan sedikit mengerjap dengan sinar matahari yang masuk dari kaca besar di depannya.


"Bisa dok, saya bisa liat lagi!" Teriaknya girang.


"Sayang... aku bisa liat lagi, ayo panggil Ayah. Kita ke KUA." teriak nya girang.


Intan menangis haru, lega dan bahagia.


Dokter itu meninggalkan mereka setelah selesai memberikan beberapa olesan obat di mata Bintang.


Pasangan itu saling tersenyum bahagia, namun air mata tak henti keluar dari mata Intan.


"Sayang, udah dong 1 step udah kita lewatin, ayo kita cari kakang kamu!"


Intan mengangguk sambil membesut hidungnya.


"Jangan nangis kamu jadi jelek, kek bocah ingusan!" Bintang mencoba mencairkan suasana.


Intan tertawa dan langsung menghambur memeluk Bintang.


"Aku lega, lega banget!"


"Kamu lega ya, malam pengantin nggak akan takut aku nyasar?"


Mereka terkekeh bersama-sama di ruang rawat itu.


Bintang merenggangkan pelukan nya, agar dapat menatap wajah Intan sepuasnya.


Tangannya mengelus halus punggung Intan, "Yuk!"


"Kemana?"


"Pelaminan!" ucapnya tertawa.


Intan kembali memeluk lelaki itu dengan begitu erat.


"Sebelum nikah, aku pengen ke makam ibu sama ..."


"Dani?"


Intan mengangguk, "boleh?"


"Boleh lah! masa aku cemburu sama seseorang yang udah nggak ada, lagian aku juga mau minta ijin sama mama kamu, mau bilang makasih udah mendidik kamu menjadi perempuan dewasa dan bisa menjaga kesuciannya." katanya.


"Aku udah nggak suci tau, kamu udah ngotorin aku!" teranganya sambil mendongak menatap Bintang.


"Masa? ya udah sekalian aja yuk! buat DP," Bintang berkata dengan raut serius.


Intan memukul dada itu dengan kencang karena kesal.


Bersambung ❤❤❤


like


komen

__ADS_1


Favoritnya


Pokoknya makasih banyak ya... makin sini komen makin banyak, aku seneeennngggg bukan main😘😘🙏🙏🙏, jadi semangat nulis kalo kalian banyak komen😘😘. Cuzzz ahh ngetik lagi biar pada semangat komen 😘😘😘🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀


__ADS_2