Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Paket sofa


__ADS_3

...❤❤...


Sore harinya Bintang sudah menjemput. Mereka hendak pamit pulang, namun Helen masih menggelayuti.


"Udah, Papi pulang dulu. Nanti ke sini lagi, ya!" Bintang mencoba membujuk Helen yang cemberut di teras rumah.


"Papi, pulang aja. Ateu di sini!"


"Eh, mana boleh. Ateu tidurnya harus meluk Papi, nanti takut hantu."


Helen yang sudah menginjak 3 tahun lebih malah menoleh pada sang Ibu. "Bu, ada hantu di lumah ini?" tanyanya dengan wajah serius.


"Kak, ishhh. Nggak ada sayang, Papi bohong." Mentari langsung duduk di sebelah putri nya, mencoba menenangkan.


Intan mencubit pinggang suaminya yang ucapannya asal itu.


"Iya, nggak ada. Papi becanda, udah Papi pulang ya!" Bintang berkata sambil berjongkok di depan kursi teras menghadap Helen yang sedang menangis, sedangkan Shera sedang tidur di kamar.


Helen melingkarkan tangannya di leher Bintang yang berjongkok di depannya.


"Mau, ikut Papi. Boleh Bu?" tanyanya mendongak pada Mentari sang Ibu.


Mentari yang bingung untuk melarang, memikirkan alasan yang pas dan bisa di mengerti putri sulungnya.


"Eh, jangan ikut Papi. Tadi Ayah bilang sama Ibu kalo pulang kantor, Ayah mau bawain kita roti, roti yang Mba Helen suka!" Mentari menunduk melihat reaksi putrinya.


"Iya? yang rasa pi*ju?" ucapnya antusias dengan suara yang lucu.


"Hah? apa? rasa apa?" Bintang terperangah mendengar ucapan keponakan nya.


Helen menoleh padanya. "Rasa Pi*ju, Pi!"


Bintang menutup mulutnya dengan kepalan tangannya.


"Pi*ju?" Bintang membeo, masih meyakinkan apa yang dia dengar.


Intan menatapnya aneh. "Ang?"


"Heum? ya? " Bintang masih tertawa kecil.


" Kenapa sih?"


"Aku kira, tadi Helen bilang .... "


"Stop, Kak. Mesum pasti itu otaknya," Mentari memotong kata-kata Bintang, dia tau apa yang akan meluncur indah dari mulut kakaknya itu.


"Asli, gue galfok." Bintang masih terkikik geli.


Mentari dan Intan hanya saling tatap dan menggelengkan kepala bersamaan.


"Itu kepanjangan Pisang keJu! Astaga, ihh amit-amit otaknya parah," Mentari bergidik ngeri.


Intan hanya meringis menatap suami nya.


Bintang yang menggaruk tengkuknya sembari tertawa, seketika merogoh saku celananya saat sebuah dering panggilan masuk di ponselnya terdengar.


"Halo. Oh, iya betul. Apa? sudah sampai? di rumah saya kosong, saya lagi di luar sebentar saya pulang sekarang kok. Nggak, nggak nyampe 15 menit. Iya, makasih!" Bintang menatap Intan.


"Pulang sekarang, ada orang yang nganterin paket." Tangannya menyambar tangan Istri nya yang masih mematung itu.


"Paket?"


"Iya,"


"Biarin, paling di titipin ke tetangga!" Mentari ikut menimpali.


Bintang menoleh. "Enak aja, ntar mereka coba. Kagak ridho gue!" suaranya nyolot.


"Paket apa sih?"


"Alah, ntar lu pengen lagi!"


"Iya, apa dulu. Main pengen aja, aku bukan orang celamitan kayak kakak!" terangnya.


Bintang tidak menjawab hanya mengecup pipi Helen sebelum menarik istrinya keluar dari rumah sang adik.

__ADS_1


...****...


"Paket apa sih?" Intan pun akhirnya bertanya saat Bintang mulai melajukan mesin mobilnya menuju rumah mereka.


"Ini tuh aku pesen, waktu tau kamu ehmm ... "


"Hamil?" Intan meneruskan ucapan Bintang.


"Iya, maaf . Tapi sumpah aku nggak ada maksud untuk ngungkit-ngungkit itu, belum rejeki kita. Yang jelas 10 hari lagi kamu harus siap. Kita bakal kerja keras menggarap sawah, siapa tau muntahan si Pyton kali ini berhasil,"


Intan diam, menyimak perkataan suaminya. Ingin tertawa sekaligus sedih dengan semua ucapan yang terlontar mulus dari mulut suaminya.


"Tapi aku takut," lirihnya menundukan wajah.


"Hei, takut apa?"


"Takut nggak langsung,"


"Yang kemarin aja kita langsung kan? kalo udah jadi, kita rawat baik-baik jangan sampai itu kembali terulang. Ish ... amit-amit, dia mengetuk dasbor lalu berpindah mengetuk kepalanya.


Intan menatap wajah penuh harap suaminya, dia juga tidak ingin hal menyakitkan itu kembali mereka alami. Apalagi suaminya sudah sangat menginginkan kehadiran anak di rumah tangga mereka. Tidak menyangkal Intan pun merasakan hal yang sama, ingin segera menjadi wanita dan istri yang sempurna.


" Ok, semangat ngulek?" Bintang mengepalkan tangannya memberi semangat.


"Kok ngulek?" Intan mengerutkan keningnya.


"Apa dong? ngadon? udah biasa, numbuk masa iya? aku geli ngebayangin numbuk kamu, kek bawang aja. Jadi kode kita adalah ngulek biar ada goyangan sedikit, ok?"


Intan menghela nafasnya, bagaimana mungkin dia bisa membantah ucapan suaminya itu.


*


*


Mereka sudah masuk komplek perumahan tempat tinggal mereka. Semakin dekat dengan rumahnya, sebuah mobil bak terparkir di depan rumah.


Setelah selesai memasukan mobilnya, Bintang menghampiri seorang lelaki yang dia pastikan sebagai supir mobil itu.


"Maaf, ya. Nunggu lama?"


Lalu lelaki itu memanggil dua orang yang duduk di dalam mobil.


Intan menatap tiga orang yang sedang membuka bungkusan terpal yang menutupi bak mobil itu.


Tetangga depan rumah bahkan ikut menonton, sambil berpura-pura menyiram bunga.


Itu terlihat dari ujung mata Bintang, bukannya marah dia malah tersenyum jumawa.


Saat terpal biru itu di buka, Mata Intan melotot sempurna. Tak pernah terbayangkan jika suaminya akan membeli barang tersebut.


"Ayo, kita sambut di dalam." Bintang merangkul pundak Intan masuk ke dalam rumah sambil menginstruksikan tiga orang itu yang membawa barang cukup berat.


"Langsung ke kamar aja, Pak. Tolong ya!" Bintang membuka pintu ruang tamu lebar-lebar.


Lalu sedikit berlari membuka kamar mereka.


Intan masih tak percaya berjalan menjauh, dia membuka lemari pendingin dan mengeluarkan tiga botol minuman teh.


Lalu suaminya dan ketiga tukang pembawa paket itu pun keluar dari kamar sambil sedikit bercakap-cakap. Intan datang menghampiri dan memberikan tiga botol minuman itu pada suaminya. Dan Bintang langsung membagikannya.


"Terimakasih, Bapak-bapak. Ini ada sedikit buat rokok di jalan," Bintang merogoh dompet nya dan mengambil dua lembar uang kertas bergambar presiden RI.


Lalu ketiga orang itu berpamitan.


Bintang akan menutup pagar saat tetangga nya yang tadi sedang berbisik dengan suaminya.


"Pak, Bin." Sapa saat suami tetangga nyinyir itu.


Bintang hanya tersenyum lalu menutup pagar dengan sempurna. Sambil tak lupa menggemboknya.


"Pasti tuh, mau cobain kursi yang baru dateng. Lagi viral itu, Yah." Cibir sang istri.


"Nggak mungkin lah, kan istrinya baru keguguran!" suaminya mematahkan asumsi sang istri.


Bintang hanya terkikik geli, sambil masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


****


Bintang masuk ke dalam kamar, istri nya sedang menyilangkan tangan sambil memberengut menatap bingung pada sofa anggota baru mebel rumah mereka.


"Keren, Yank?"


"Aku, bingung. Ngapian kamu beli yang kayak gini?"


"Aku duduk susah deh, bingung. Mau gini salah, selonjoran nggak bisa, duduk gini kalo sama kamu jompang aku yang di atas, atau kamu yang di atas. Kok, gini sih bikin sofa?" Intan terus mengelilingi kursi itu, masih penasaran, cara pakainya bagaimana.


Bintang duduk di atas sofa baru yang masih terbungkus plastik bening itu.


"Gini, kamu tau nggak ini sofa apa?"


"Ya, mangkanya aku bingung ini apa? nggak jelas!" sungutnya kesal.


"Sini, kamu nya Yank!" Bintang menuntun tangan Intan untuk bergabung.


"Loh, kok gini?" Intan semakin mengerutkan keningnya bingung.


Lalu Bintang kembali merubah posisi mereka.


"Gusti, Ang. Ini sofa apa? kenapa gaya duduk kita gini semua?" tatapan mata itu seolah menyala memandang tegas pada suaminya.


Bintang pun terbahak-bahak sambil mengangguk.


"Iya, ini sofa buat itu!" Katanya sambil kembali memposisikan tubuh mereka di gaya terakhir.


"Ampun, Ang. Aku kira Slengean kamu cuma di ucapan. Nggak ampe aneh nyeleneh kayak gini!"


Bintang menarik kepalanya.


"Gimana?"


" Yang normal gitu, kenapa makin hari sifat Slengean kamu makin aneh, aku takut."


"Loh, ini normal. Bu Gendis aja tadi bisik-bisik sama suaminya, katanya kita beli kursi yang lagi viral. Pasti ngiri tuh Bu Gendis. Nanti minta di beliin sama suaminya," ucapnya bangga.


Intan hanya mematung.


"Kalo Bu Gendis tau, nanti ngomong sama Bu Clara, terus Bu Ela, Bu Fia, Bu ah... pokoknya banyak deh."


"Aku malu, nggak mau keluar rumah. Ah... mana minggu besok ada arisan di rumahnya Bu Reni." Intan terduduk lemas di tepian kasur, membayangkan bagaimana malunya dia bertemu para tukang gosip, yang selalu berkerumun di tukang sayur hingga sejam hanya membeli tomat dua rebu tapi gosipnya satu komplek di bahas.


"Ngapain mikirin gosip orang? kita nggak nyusahin, nggak minta makan mereka, nggak minta bayarin listrik, nggak minta beliin nih kursi."


Intan menghela nafasnya, dan mengangguk benar juga apa yang dikatakan suaminya itu.


"Terus?"


"Ya, kalo mereka nanya. Kamu bilang aja mantap booibooo, gih minta beliin suaminya. Jawab gitu aja,"


"Nggak,"


"Kenapa?"


"Kan nggak tau, belum nyoba?" katanya polos.


Bintang menarik istrinya untuk kembali duduk di kursi itu, dia ambil satu posisi yang dia kira akan paling sering di gunakan. Intan yang terlentang dengan kepala sedikit mendongak dan dada yang membusung. Lalu dia kecup bibir itu lembut.


"Kebayang nggak aku sambil masuk?"


"Heum ... " Intan sedikit mele*nguh.


Lalu tatapan mereka bertemu dan saling lempar senyum.



Ini gambar nya🤣🤣 banyak yg bingung, pasti pada searching, ini anies ngirimin 🤣🤣


Bersambung ❤❤❤


Tahan ini ujian, nggak boleh ngetik ehmm dulu, puasa kamu ambyar, pahalanya ntar minus itti. Biarin mereka aja yang bayangin. 😖🤭😏


Yang namanya kesebut maaf, aku kalo nyari nama suka bingung gampang lupa🤭 jadi yang gampang di inget. Nggak ada maksud apa-apa, cuma minjem nama doang🤣🤣😝

__ADS_1


Like komen wajib🙏🙏


__ADS_2