Jerat Cinta Cowok Slengean

Jerat Cinta Cowok Slengean
Kesal dan keruwetan


__ADS_3

...---oOo---...


Bintang terburu-buru keluar dari gedung rumah sakit, saat akan masuk ke dalam mobil dia melihat rumah makan Padang. Dia berjalan masuk dan memesan dua bungkus nasi Padang dengan menu rendang dan ayam bakar.


Setelah selesai dia langsung masuk ke mobil dan mengemudikan nya ke hotel yang letaknya tak jauh.


Sebelum masuk ke lift dia memesan menu untuk Helen ke resepsionis agar di antarkan ke kamar nya.


Dia sedikit mempercepat langkahnya di lorong menuju kamarnya.


*


"Tan...


" Argghhh...


Matanya membola sesaat namun langsung dia membalikan tubuhnya.


"So-sorry. Gue ngga tau lu lagi pake baju, sorry Tan.. nggak sengaja," ucapnya gugup.


Intan yang sedang memakai baju di depan anak-anak karena takut meninggalkan mereka begitu saja.


Gadis itu yang baru mengenakan pakaian dalamnya saja langsung menyambar pakaiannya dan berlari ke dalam kamar mandi, tubuhnya tidak sengaja menyenggol lengan bagian belakang Bintang.


"Aduh... " lelaki itu mengaduh bukan karena sakit tapi karena kaget.


Pintu kamar mandi terdengar di banting hingga mengeluarkan suara berdebum.


"Anjir... Tan, ntar rusak pintu nya. Lu harus ganti gimana?" gumam Bintang sambil melengos menghampiri keponakannya yang berada di atas ranjang.


"Pihhh... " Helen berjingkrak di atas kasur besar itu.


"Eh, nggak boleh gitu sayang, tuh Shera ampe ke goyang-goyang." Bintang langsung menggendong Helen menyelamatkan Shera yang tertidur.


*


*


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Intan keluar dengan wajah yang benar-benar angker.


"Tan... sorry ya, gue nggak tau kalo..


" Iya, saya udah mulai terbiasa dengan sifat seenaknya bapak." Potongnya dengan nada sinis.


Bintang diam menatap wanita yang biasanya terlihat kalem dan patuh kini menjadi judes dan melawan semua yang dia bicarakan.


"Bukan gitu, Tan.. "


"Lagian kenapa pake baju di sini?"


Intan yang tengah berjongkok di depan koper berisi baju anak-anak, diam dan menoleh menghadap ke arah lelaki rombeng di belakangnya.


"Anak-anak nggak ada yang jaga, saya takut Helen gangguin adiknya yang baru tidur." Gerutunya.


Bintang diam, dia paham rasa lelah perempuan di depannya tapi entah kenapa dia tidak kesal di omelin seperti itu, biasanya darahnya akan cepat mendidih jika ada yang mengomeli atau berbicara keras kepada nya.


"Iya, maaf. Udah kayak lebaran aja gue minta maaf terus," cibirnya kesal.


*


*


Bintang duduk di sofa tangan nya membuka bungkusan berisi nasi Padang yang dia beli tadi.


"Makan dulu," ajaknya pada gadis yang duduk di pinggir kasur menghadap TV


"Udah.. " Jawab Intan cepat.


"Wah... makan apa? dimana?" Bintang tak percaya dengan jawaban yang di dengar nya barusan.


"Di sini. Makan cemilan yang malem di beli," jawabnya masih menghadap tv.


Bintang mendekat dan memegang pundak kecil itu agar melihat ke arahnya. "Itu, bukan makan tapi ngemil. Ayo makan keburu Shera bangun." Ajaknya


Bersamaan dengan bel berbunyi.


Bintang membuka pintu yang ternyata berisikan pelayan yang membawa nampan berisi makanan untuk Helen.


"Yukk.. kita makan, ajaknya pada Helen sekaligus kode untuk Intan."


Gadis itu masih terlihat kesal wajahnya benar-benar angker. Pikirnya.


"Tan... buruan makan, gue nggak mau ampe lu sakit. Ntar harus ngurusin lu? ogah." ketusnya.

__ADS_1


"Saya lebih baik pulang ke Bandung daripada bapak urus saya," timpalnya tak kalah ketus.


"Ck, buruan lah gue udah beli nasi padang."


"Keburu Shera bangun, gue ngantuk mau tidur," tambah nya lagi.


"Teh... mamam," Helen menarik tangan Intan.


Bintang tersenyum merasa Helen mengerti dengan keadaan.


Intan mengambil bungkusan itu dan duduk di karpet, "saya makan di bawah aja," Ucapnya sambil membuka bungkusan nasi itu.


Bintang mengehela nafasnya lalu ikut duduk di bawah, bergabung dengan Intan dan Helen yang mengikuti pengasuh nya itu.


Mereka makan dalam diam, Intan mengeluarkan suaranya hanya untuk Helen. Bintang membatin, dia tidak suka dalam situasi di acuhkan seperti ini.


Saat melihat bungkusan nasi Padang itu dia heran saan melihat lalapan daun singkong di tata di pinggiran kertas nasi itu.


"Kenapa nggak di makan daun singkong nya?" Tanyanya basa-basi tak berharap mendapatkan jawaban dari gadis yang tengah terlihat marah itu.


"Nggak suka lalapan daun singkong, aku sukanya daun pepaya," ucapnya dengan nada datar sedatar papan triplek.


"Uhmm... pantes lidahnya pait," gumamnya dengan suara pelan.


"Kamu suka gule nangka nggak?"katanya lagi.


Intan mengangguk sambil menyuapkan satu potong nangka muda ke mulutnya. Menandakan dia memang suka.


" Mau tukeran nggak? gue suka daun singkong nya, lu boleh ambil gule nangkanya," tawarnya sambil mendekatkan kertas nasinya menempel ke kertas nasi milik Intan.


Intan mengangguk, dan lalu ikut menyodorkan miliknya.


"Nih... "


"Ambil!" titah Bintang, sambil mengambil daun singkong milik Intan dan menyuapkan nya ke dalam mulut.


Intan dengan ragu mengambilnya, memindahkannya ke atas nasi miliknya.


"Makasih," ucapnya pelan.


Bintang yang tengah mengunyah seketika menatap wajah gadis di depannya yang sedang menunduk dengan tangan mengatur nasi dan lauk yang dia campurkan sedikit demi sedikit sebelum menyuapkan nya ke dalam mulut.


"Kenapa makasih? kita barter kan? saling menguntungkan!" katanya kembali menekuni makanan di depannya.


*


*


"Tan, gue ke rumah sakit dulu ya. Mau ada yang di obrolin sama Dafa, ibu mereka mau ke sini katanya mau liat anak-anak. Nanti malem gue pulang kok,"


Intan yang sedang menungging mengganti popok Shera hanya mengangguk kecil.


"Jawab, Tan. Jangan ngangguk doang kayak boneka dasbor yang cuma angguk2 nggak jelas," gerutunya kesal.


"Gue paling nggak suka kalo omongan gue nggak di bales." Dia masih menanti jawaban gadis di sebelah nya.


"Iya, pak."


"Baik,"


"Silahkan, nanti tolong kalo mau masuk ketuk dulu. Jangan selonong boy seenaknya." Intan menjawab namun dengan sedikit menekan suaranya kesal.


"Nanti kalo saya lagi nggak pake baju, terus bapak nyelonong boy masuk gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana, atau mau gue bajuin?" Bintang berucap asal sambil terkekeh kecil.


Seketika tawanya terhenti saat rekaman kejadian tadi, saat dia melihat Intan hanya memakai dalaman saja. Kain renda berwarna nude, dengan bawahan hitam kontras dengan kulitnya yang kuning langsat mulus sekali. Sesuatu dalam dadanya bergetar dan si pyton menangkap respon itu dengan cepat.


"Sial, " Bintang langsung bangkit dan berpamitan pada Helen yang sedang menonton kartun.


Intan hanya memandang nya sebal, bisa-bisanya si bapak mulut rombeng itu berbicara hal yang tabu. dengan begitu entengnya.


Hubungan apa sih di antara mereka, hingga lelaki itu seolah berkuasa atas dirinya. Dia menghela nafas, dia semakin bertekad untuk mencari pekerjaan lain. Dia merasa semakin tidak kerasan dengan pekerjaan nya sekarang.


*


*


Di rumah sakit.


Bintang baru saja datang, "Udah sana ke hotel, anak-anak lu kangen, mak nya malah berduaan mulu kek pacaran," cibirnya


"Bisa-bisanya minjem uang ke orang yang lagi sakit, nggak tau malu," ketusnya kesal.

__ADS_1


"Kalo malu kapan gue nganu," ucapnya asal.


Mentari mecebik jijik lalu setelah pamit pada suaminya yang tengah menerim telpon. Dia Langsung pergi menuju ke hotel dengan mobil miliknya yang di pakai Bintang. Dia sudah begitu merindukan anak-anak nya.


Kini dirinya sedang duduk di sofa menonton TV, sedangkan lelaki yang beberapa hari lalu koma sedang melakukan panggilan telepon dengan salah satu karyawan nya.


Membicarakan pekerjaan yang sedikit dia mengerti.


Setelah adik ipar nya itu selesai dengan panggilan telponnya. Dia berdiri dan mendekat.


"Daf... "


"Ya?" Dafa menjawab sambil menyimpan ponsel di atas nakas sebelah ranjang nya.


"Gini, maaf-maaf sebelum nya. Bukan gue nggak tau diri ya, tapi emang gue kepepet."


"Apa? langsung aja lah, yang di omongin istri gue?"


"Dia udah ngomong?"


Dafa mengangguk kecil.


"Lu, udah pikirin bener-bener?" Dafa bertanya.


Bintang diam dia memang belum memikirkan dengan sempurna, tapi dia di kejar-kejar janji dan tak mau membuat Naya kecewa.


"Gini, bukannya gue larang atau ikut campur. Masalahnya ini uang lumayan besar dan lu belum ada keseriusan hubungan sama dia."


"Kita mau nikah, dia udah nerima lamaran gue. Jadi modal ini ya buat kita berdua sebenarnya, nanti juga bakal balik lagi."


" Nggak semudah itu, Bin. Gue pengen lu bener-bener mikirin dulu semua, gue kasih pinjem dulu 50 jt, kalo nanti lu bener jadi nikah sama dia. Sisanya gue kasih bukan pinjem ya gue kasih sebagai hadiah nikah lu," ucapnya berjanji.


"Cukup nggak ya?"


"Bisnis apa sih yang mau lu jalanin?"


"Mau buat butik kecil-kecilan."


Dafa mengangguk kecil, "kenapa lu nggak ngambil barang dari butik Mentari, jadi nggak usah pake modal sekarang lagi marak yang jual online kan? dari rumah juga bisa." Dafa memberinya ide.


Bintang terdiam sesaat, "terus kalo gue ngambil barang sama bini lu, yang 50 jt?"


"Tetep gue kasih, buat modal lu nikah,"


Wajah Bintang bercahaya bak Bintang kelap-kelip.


"Gue jadi enak gini sama lu, eh... jadi nggak enak. Soal masa lalu kita!"


"Cih... masalalu kek lu mantan gue aja, jijik dengernya. Yang udah biarin lah, dendam gue ke lu nggak bisa di bales, bisanya gue bales ke adek lu."


"Hooh, lu bikin bunting terus."


"Hahahaha belum tau lu, enaknya gimana!"


"Anjir... jadi makin pengen gue, ntar mau nyoba segala gaya."


"Lah, kuat berapa lama lu? pengaruh apalagi Naya udah lebih berpengalaman. Hati-hati lu belum apa-apa udah muntah-muntah nggak jelas tuh belut lu!" ledek Dafa


"Belut-belut, Pyton nyahooo... " sungut nya.


"Pyton atau anak pyton?" Dafa terbahak melihat wajah kakak ipar nya terlihat kesal.


"Mau gue aduin di mari?"


"Sakit nih orang, bisa bangun emang?"


"Bisa lah?"


"Sorry gue nggak bisa kalo nggak liat bini. Itu bedanya gue sama lu. Lu murahan bisa bangun di mana aja, kalo gue bangun cuma liat bini selebihnya mau ada yang aduhai lewat dia nggak bangun, dia udah punya pawangnya."


"Si anjirr jebakan ini." Sungut Bintang kesal merasa kalah.


Dafa hanya terkikik lucu, perutnya sampai sakit berhasil membuat kakak ipar sekaligus mantan musuhnya mati kutu.


Bersambung ❀❀❀


Maaf ya telat abis ngurusin tugas bocil , eh maaf nggak ada yang nungguin ya🀭🀣🀣🀣 ke pedean 🀭🀣🀣.


Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🀣🀣🀣


jangan lupa like... komen... dan masukin ke favorit yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


Sehat buat kalian semua😘😘

__ADS_1


__ADS_2