
...---oOo---...
Bintang melajukan mobilnya, menuju sebuah supermarket.
Dia berjalan mengelilingi jejeran rak buah-buahan.
Namun dia tidak menemukan pisang raja bulu.
"Mana sih? adanya pisang sunrizeee, sama pisang tanduk." Katanya berbicara dalam hati.
Dia masih berkeliling di supermarket itu, namun nihil nama-nama pisang itu tidak ada yang bernama raja bulu.
Keluar dengan tangan hampa, selain dari minuman berlambang banteng di tangan.
Bintang termenung di area parkiran. Kemana dia mencari pisang raja bulu itu.
Lalu dia memutuskan sambil melajukan mobilnya, siapa tau di jalan menemukan toko buah.
Mengelilingi dengan perut lapar tampaknya sangat melelahkan. Lehernya tegang harus melirik kiri kanan jalanan mencari toko atau pedagang buah.
Matanya membola saat melewati pasar tradisional.
Pasti ada jenis pisang itu di pasar tradisional, pikirnya.
Bintang menuruni mobilnya, langkahnya behenti saat melihat jalan di depannya becek.
"Ck... sandal gue, demi si cau raja bulu," katanya menggerutu.
Dia melangkahkan kakinya, gaya Bintang yang necis dengan rambut di jambul rapi, kaos berlapis kemeja flanel dan celana chinos crem terlihat sangat pas di badannya, jangan lupa sendal santai bermerek daun singkong tiga, yang harganya bisa untuk membeli hp android second.
Bintang mengelilingi pasar dan sampai lagi di satu jongko yang menjual berbagai macam pisang dari mulai yang kecil sebesar jempol sampai yang terbesar sebesar tanduk kerbau.
"Sok mangga, kasep. Milari cau naon?"
(silahkan, cakep. Cari pisang apa?)
Tanya si bapak penjual itu.
Bintang menatap sekeliling jejeran dan tumpukan pisang di jongko itu.
"Teu aya sigana pak, punten."
(Nggak ada kayaknya pak, maaf." pamitnya
Dia di tahan oleh si bapak penjual.
"Cau naon, jang?"
(pisang apa, nak?)
Bintang masih mengedarkan pandang nya, namun masih tak menemukan apa yang di bayangkan nya.
"Cau raja bulu," katanya
Si bapak penjual mengangguk.
"Aya, kek sakedap,"
(Ada, tunggu sebentar,) Beliau pun menunduk memilih tumpukan pisang di bawah nya.
Lalu menyodorkan setandan pisang ke hadapan Bintang.
"Mana pak?"
__ADS_1
"Iyeu, iyeu teh cau raja bulu,"
(ini, ini tuh pisang raja bulu," kata si bapak itu.
Bintang masih menatap heran dan sedikit tak percaya.
"Kunaon, jang?"
(kenapa, Nak?) tanya ai penjual yang melihat Bintang seperti kebingungan.
"Mana bulu na pak?"
Si bapak penjual itu tertawa terbahak-bahak.
"Nya teu buluan atuh, jang. Maeunya cau buluan ngelehken cau nu di handap,"
(ya nggak berbulu, nak. Masa pisang berbulu ngalahin pisang yang bawah,)
Bintang terlihat menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bikin malu," dengusnya kesal pada Intan yang menyuruhnya mencari pisang yang di luar ekspetasi nya.
Akhirnya Bintang keluar pasar dengan menenteng pisang raja bulu satu sisir. Sandalnya sudah berganti dengan sandal merek walet.
Sendalnya yang bergambar daun singkong itu sudah lengket oleh lumpur pasar.
"Cungkring... ampun, lu bikin malu, ngerepotin gue lagi," katanya mengeluh.
Mobil pun kembali dia lajukan kembali menuju kerumah adiknya, dimana si cungkring itu yang menyuruhnya mencari pisang raja bulu berada.
*
*
"Tan... Intan... " panggilnya.
Tak ada jawaban, dia menoleh ke taman belakang di mana tempat laundry dan meja setrika berada.
Dia melihat Intan sedang menyetrika baju di sana.
Bintang berjalan mendekat, tangannya menenteng satu sisir pisang raja bulu.
"Tan, kebiasaan. Pintu sama pager lu, nggak kunci! kalo ada orang jahat masuk gimana?"
"Paling Bapak," ucapnya sinis.
Bintang menatapnya wajah itu masih terlihat pucat, tiba-tiba tangannya terulur ke arah kening Intan.
Intan yang merasa kaget langsung menangkis tangan itu.
"Bapak mau ngapain?" matanya melotot tanda tak suka.
"Gue cuma mau mastiin, lu masih demam nggak? nih gue bawa pisangnya. Makan obat sana terus istirahat jangan kerja dulu."
"Iya, saya mau makan obat terus tidur. Tapi kalo bapak udah pulang," katanya sambil tangannya lihai menggerakan setrikaan di atas sebuah baju.
Bintang mendengus kesal, wajahnya terlihat marah saat mendengar kalimat pengusiran secara halus dari perempuan cungkring di depannya.
"Lu ngusir gue? setelah perjuangan gue nyari pisang bulu, dan bikin gue masuk pasar dan malu-maluin," katanya mengeluh.
"Siapa cowok yang tadi nampar lu? lu nggak hamil sama dia kan? apa lu minta tanggungjawab dia terus dia nggak mau, dan akhirnya nampar lu?" Bintang bertanya dengan kepo melebihi detektif dan sotoy melebihi akun gosip.
Intan menatapnya dengan wajah yang menahan amarah, lagi-lagi asam lambung nya naik, jika berhadapan dengan Bintang yang amat sangat menyebalkan.
__ADS_1
Intan mendekat ke arah Bintang, setelah sebelumnya mencabut kabel setrikaan.
Perempuan itu menatapnya nyalang, lalu tangannya terulur ke bawah, Bintang yang ketar ketir melihat wajah Intan yang sinis, ikut menunduk di mana Intan menatap ke bagian tubuh bawahnya.
Bintang yang tengah menjingjing pisang yang berada di depan tubuhnya, dengan takut memandang tangan intan.
"Njirr, dia mau ngapain?" Mata mereka kembali bertemu.
Intan mengusap pisang itu, sialnya pyton Bintang ke ge-er an, dia malah ikut mengembang menyerupai bentuk pisang raja bulu itu, Bintang sigap menggeser letak pisangnya agar menutupi jelmaan pisang lainnya, yang mulai menggeliat terasa sesak.
Intan menyentuh dan memelintir pisang itu dan mencabut nya dengan kasar.
Bintang memejam saat si pisang raja bulu itu menyentuh pisang jelmaan pyton nya. akibat Intan yang menghentak kasar akibat tarikan nya terhadap satu buah pisang yang akan dia jadikan media memakan obat.
"Nggak usah kepo dan sok tau dengan kehidupan saya. Bapak siapa?" sungut nya semakin pedas di dengar Bintang.
Lalu Bintang memutus pandangan sengit di antara mereka tanpa menjawab, dengan berpura-pura mengambil ponselnya dia mengalihkan pembicaraan Intan yang sudah terlihat akan meledakkan amarah nya.
Intan berjalan masuk ke dalam dapur, mengambil air minum lalu membuka bungkusan obat demam. Dia memang merasa masih meriang.
Ada puluhan panggilan dan beberapa pesan dari Naya. Bintang masih mematung di dekat meja setrikaan, setelah dirinya di tinggal Intan.
Bintang langsung menepuk keningnya, dia lupa berjanji akan menemui Naya.
"Gue pergi, mau ngapel ke Jakarta. Lu makan obat terus istirahat, jangan bawa cowok masuk ke rumah ini," Bintang berkata lalu meninggalkan Intan yang sedang memakan obatnya.
"Dasar, aki-aki kepo, mulut nyinyir," Intan mendengus kesal.
Lalu mengikuti langkah Bintang ke depan.
Bintang baru keluar dari pagar, dia tersenyum saat melihat Intan mengikuti nya. Namun dia terlonjak saat Intan menggeser pagar dan langsung suara gembok terdengar.
Bintang hanya meringis, dan masuk ke dalam mobil.
"Kirain mau dadah2an. Taunya gembok pager," ucapnya muram.
"Pyton... pyton, lu ngapain coba tadi bangun. Lu nafsu sama yang cungkring gitu? nggak ada daging nya. Kasian bener selera lu, yuk sekarang gue bawa ke si semox. Biar lu kenyang, kagak abis tiga kamis tuh si Naya mah." Bintang berbicara dengan pyton nya seakan dia bisa menjawab dan mengerti semua perkataannya.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, menuju Jakarta.
"Naya... pyton it's cooming... " Bintang berteriak, sesaat setelah menerima pesan Naya yang akan kembali memeriksa si pyton.
Bayangan si pyton akan di pegang dan kemudian pikiran liar begitu saja memenuhi otaknya.
Bintang bahkan mengelus si pyton, agar mempersiapkan diri.
Perjalanan ke Jakarta hanya memakan waktu dua jam lebih sedikit.
Naya sudah menunggu di tepi jalan sesuai kesepakatan mereka.
Wanita itu hanya memakai kaos yang di lapisi cardigan, dan rok selutut.
Bukan cantik tapi seksi. Pikiran Bintang sudah ambyar, dia semakin menegang dan sesuatu sudah terasa sesak.
"Hai... " Naya menyapa saat masuk ke dalam mobil.
Bintang tersenyum, dan membalas sapaan itu dengan adegan cipika-cipiki.
"Mau ke hotel mana kita?" Bintang bertanya sambil melajukan mobilnya.
Bersambung ❤❤❤
Nggak banyak ngomong ya aku, cuma minta like, komen, dan favoritnya. Terus kalo suka bisik2in ke temen kalian ya, bilang ada cerita itti yg bikin tensi naik🤣🤣🤣
__ADS_1
Sehat dan bahagia kawan-kawan 😘😘