
“Tuan, ini kumpulan foto gadis itu ketika masih sekolah. Saya sudah mendatangi tempat sekolahnya dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Dan saya kumpulkan data-data tersebut dalam amplop cokelat ini. Tuan bisa memeriksanya! Data tersebut bersumber dari Guru yang pernah jadi wali kelasnya, dan teman seangkatannya.” Erick menyondorkan amplop coklat kearah andress yang sedang menyeruput kopi nya. Andress meletakan cangkirnya, lalu mengambil amplop itu. Dengan perlahan-lahan Andress membuka amplop itu dan mengambil beberapa kertas yang ada di dalamnya. Ia membelalakkan matanya ketika membaca data tersebut yang di bawahnya tertera foto seorang wanita yang memakai seragam Putih Abu-abu yang dikenalnya.
Ya Tuhan, ini tak mungkin! Apa ini mimpi? Kenapa nama dan foto ini seperti orang yang kucintai. Tuhan, apa meida adalah adikku? Apa wanita yang kucintai benar-benar adikku? Tuhan, aku harus apa? Perasaan ini ... apa aku harus menguburnya?
Ya Tuhan, apa ini kebenarannya? Rasanya kenapa hatiku sakit sekali mengetahui kebenaran ini. Batin andress dengan mata berkaca-kaca menatap biodata dan foto meida berulang-ulang. Perasaannya tak karuan. Hatinya benar-benar sesak, dengan tangan bergetar ia mengusap foto meida pelan.
Ya Tuhan, apa ini akhirnya? Di saat aku berusaha membuka hati ku untuk seseorang, di saat aku benar-benar menunggunya dalam penantian, di saat aku benar-benar menginginkannya, ternyata dia adalah adik ku sendiri. Tuhan, kenapa takdir seakan mempermainkan ku! Kenapa takdir sekejam ini! Kenapa Tuhan! Aku benar-benar mencintainya! Kenapa dia adikku? Jerit Andress dalam hati sambil meremas kuat kertas itu. Ia menolehkan wajahnya kearah Erick.
“Sekarang kamu keluar! Nanti malam temui saya disini! Untuk sekarang jangan ganggu saya!” Perintah andress dengan suara bergetar menahan tangis. Erick langsung menganggukkan kepalanya, berlalu meninggalkan andress sendiri di ruang pribadinya.
Setelah Erick pergi. Andress meraung melempar segala benda yang berada di depannya ke segala arah. Air mata bercucuran di wajahnya.
Arggghhhhhh
Teriak andress sambil membanting semua berkas-berkas yang ada di meja. Tubuh andress luruh ke lantai, ia memeluk lututnya, menundukkan wajahnya diantara kakinya.
Tuhan, kenapa harus seperti ini! Walaupun aku ingin menemukan adikku, tapi tak seperti ini akhirnya! Ini bukan harapanku! Tuhan, hati ku sakit, aku harus apa? Apa aku tak pantas bahagia? Aku ingin bahagia Tuhan! Andress menangis tergugu, ia mengusap air matanya kasar. Ia mengingat-ngingat memori ketika jaslin kecil dulu, mengingat depresi mommy nya, mengingat kepergian jonathan, mengingat awal pertemuannya dengan meida. Bayangan itu seolah-olah berputar di memori otaknya. Bayangan jaslin dan meida berlarian di pelupuk matanya.
Tuhan, bantu aku menghapus rasa ini. Menghapus perasaan yang tak lazim ini ... bantu aku mengikhlaskannya, karena dia benar-benar bukan untuk ku. Aku mohon Tuhan, bantu aku ...
Aku ingin mengubur nama dia di hatiku, karena dia adalah adikku. Adik yang kucari selama ini! Meida adikku, seseorang yang bertahta di hatiku. Sungguh konyol takdir ini. Lirih andress dengan tersenyum getir.
Terima kasih adikku, kamu selalu membayangi hari ku selama ini. Lambat-laun aku harus mengubur nama mu, mengikhlaskan mu..
Semoga kau menerima ku sebagai kakak mu.
-
“Ini sekolah Jonathan, sekolah elite berbasis Internasional. Dulu saya lulusan sekolah ini.” Terang melvin sambil menunjuk sekolah Jonatan. Ia menyempatkan diri mengajak meida menjemput Jonatan yang sebentar lagi keluar dari sekolahnya. Ia sengaja mengajak meida kesana, sebagai bentuk usaha nya mendekati meida, agar lambat laun meida terbiasa dan nyaman padanya.
“Bagus sekali sekolahnya! Pasti hanya keluarga konglomerat yang bisa sekolah disini!” Meida menatap gerbang sekolah itu dengan penuh kekaguman.
“Tidak juga meida. Karena di sekolah ini setiap tahun selalu membuka beasiswa untuk siswa berprestasi dan keluarga tidak mampu. Jadi tidak berpatokan kaya atau tidaknya.” Jelas melvin dengan wajah berbinar menatap meida yang sedang bersandar di pintu mobilnya.
“Ayoo kita tunggu di taman itu! Saya sudah beritahu jonathan, kalau kita menunggu disana!” Meida menganggukkan pelan kepalanya mengikuti ajakan melvin. Ia berjalan mengikuti melvin.
Mereka berjalan dengan bersisian, melvin sengaja memakai kacamata hitamnya untuk menyamarkan wajah tampannya. Supaya orang tak mengenali dirinya, apalagi area itu merupakan tempat relasi bisnisnya. Meida mengerucutkan bibirnya, ia merasa risih berjalan di samping melvin, karena banyak pasang mata melihat kearah mereka. Meida memelankan langkahnya, hingga ia berjalan dibelakang melvin.
“Berjalanlah di samping saya, jangan di belakang saya! Kamu bukan bawahan saya disini!” Melvin memberhentikan langkahnya, lalu menggenggam sebelah tangan meida. Meida berusaha melepaskan genggaman itu, tapi melvin malah memegangnya erat.
“Udah diam! Saya pegang tangan kamu biar aman. Lihat! Kita jadi pusat perhatian disini!” Tutur melvin menunjuk kearah wanita yang sedang menatap nya sampai mulutnya menganga.
“Tapi tuan ...” Tolak meida dengan wajah tak enak.
__ADS_1
“Tidak ada tapi-tapian! Kamu hanya perlu diam saja. Biar saya yang menggenggam tangan kamu! Agar kamu terbebas dari tatapan mata para hidung belang!” Melvin menautkan jari tangannya ke tangan meida dengan sedikit paksaan, meida menerima tautan itu walaupun dengan muka masam. Mereka berjalan dengan bergandengan tangan, dengan tangan saling bertautan. Banyak orang yang mengira bahwa mereka adalah pasangan manis dan romantis.
“Sekitar 15 menit lagi Jonathan keluar. Kita kecepetan jemputnya! Tau gini, kita makan dulu tadi,” ucap melvin yang masih menggandeng tangan meida.
“Saya kurang tahu tuan, ini pertama kalinya saya menjemput jonathan. Terima kasih karena telah menjaga dan menyayangi adik saya.”
“Lebih dari 100 kali kamu bilang terima kasih pada saya hari ini. Sudah, Jonathan juga adik saya, adik kamu berarti adik sana,” ucap Melvin santai. Perkataannya membuat kepala meida dipenuhi dengan banyak teka-teki.
“Maksud Tuan?”
“Tidak ada maksud apa-apa. Lupakan ucapan saya tadi! Kamu tunggu disini sebentar!” Melvin mendudukkan meida di kursi taman, dan melepaskan tautan tangannya. Ia berlari kearah kerumunan, dan menghilang dari pandangan meida.
Mau kemana dia? Kenapa meninggalkan ku disini? Jangan bilang dia pulang duluan dan menyuruh kuq pulang naik taksi. Menyebalkan! Sungut meida sambil menyandarkan kepalanya di kursi itu, ia memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa wajahnya.
Meida menutup matanya lama, sampai ia tak menyadari kehadiran Melvin di depannya. Melvin menatap meida dengan senyum mendambakan.
Sungguh indah ciptaan Tuhan yang ada dihadapan saya. Maha karya terbaik dengan pahatan yang sempurna, wanita cantik nan tangguh. Terima kasih Tuhan, telah menghadirkan dia di hidup saya. Batin melvin yang masih mengamati wajah cantik meida.
“Buka mata mu, orang kira kamu pingsan lagi!” Meida terhenyak. Ia membuka matanya perlahan dan terbelalak melihat es cream di depan wajahnya. Bibirnya langsung mengulas sebuah senyuman.
“Tuan yang beli? Terima kasih tuan.” Meida mengambil es cream yang di sondorkan melvin dengan antusias. Melvin tersenyum melihat ekspresi wajah meida, ia duduk di sampingnya, memperhatikan wajah meida yang sedang memakan es cream.
“Habisin es creamnya! Perjuangan saya mendapatkan es cream itu gak gampang. Saya harus rebutan sama ibu-ibu.” Terang melvin sambil menyandarkan kepalanya menyampingkan kearah meida.
“Saya gak beli. Wong es creamnya cuman satu lagi. Mana saya rebutan sama ibu-ibu yang anaknya nangis lagi.” Tutur melvin sambil memijit pelan pangkal hidung. Lalu menoleh kearah meida. Meida mendelikan matanya kearah melvin dengan wajah masam. Melihat wajah meida, melvin langsung menggaruk tengkuknya.
“Tadi juga saya udah ngalah, es cream itu sudah berada di tangan ibu-ibu itu. Cuman saya bilang gini, “Istri saya lagi ngidam, pengen es cream ini” Ehh ibu-ibunya langsung ngasih es cream ke saya. Saya juga bingung kenapa?” ujar melvin dengan wajah polos, sontak meida membulatkan matanya kearah melvin.
“Itu ajaran sesat dari mana? Ya, tuan bilang istri tuan ngidamlah, makanya di kasih. Lagian istri tuan siapa? Yang hamil siapa? Apa Jangan-jangan ...” Tunjuk meida kearah melvin dengan wajah curiga. Melvin langsung menepis telunjuk tangan meida dengan wajah kesal.
“Sembarangan! Saya masih perjaka tulen! Saya orangnya anti mainstream. Anak rumahan.” Sungut Melvin.
“Anak rumahan apa anak mamih?” Ledek meida sambil tertawa. Melvin menanggapi ucapan meida dengan santai.
“Anak rumahan iya, anak mamih iya. Kalau bukan anak mamih anak siapa lagi? Anak papih? Orang yang ngelahirin saya mamih saya.” Meida tercengang mendengar jawaban melvin. Ia menoleh kearah melvin dengan mulut yang mengaga.
“Iya juga yah. Tuan yang pinter apa saya yang bodoh?” Melvin terkekeh mendengar pertanyaan meida.
“Kamulah yang bodoh. Oh yah, keluarga saya ingin mengenalmu, terutama papih dan mamih. Apa kamu tidak keberatan meida?” Tanya melvin menyilangkan kakinya menatap meida serius. Meida menghabiskan es cream nya baru menjawab pertanyaan melvin.
“Mengenal dalam rangka apa Tuan?” Melvin menelan salivanya kasar, ia menggaruk kepalanya mencari jawaban tepat untuk pertanyaan meida
“Ya, ingin mengenal saja meida. Soalnya melisa selalu cerita tentang kamu sama mamih, hingga mamih penasaran dan ingin bertemu kamu.” Jelas melvin santai menutupi kegugupannya. Ia membersihkan sisa es cream di sudut bibir meida dengan ibu jarinya. Mendapat perlakuan itu, pipi meida langsung memerah.
__ADS_1
“Boleh saja Tuan. Tapi saya gini orangnya, saya malu bila bertemu dengan keluarga Tuan.” Melvin mengangkat wajah meida yang sedang menunduk malu. Ia mengusap kepala meida lembut,
“Gak usah malu meida. Kamu harus percaya diri, mamih ingin mengenal mantunya ...” Ucap melvin keceplosan. Sontak ia mendapat pukulan keras di tangannya, meida tertawa mendengar ucapan melvin yang ia anggap sebagai lelucon.
“Aku bukan mantunya mamih tuan. Tuan ada-ada saja. Makanya jangan jadi jomblo karatan, cepet cari pasangan! Umur tuan sudah matang untuk menikah.” Ledek meida sambil menepuk-nepuk lengan melvin dengan tertawa.
“Ini juga dalam proses pendekatan saya dan dia meida. Tapi sayang, dianya gak pekan-peka, tapi malah ngeselin.” Ungkap santai melvin mengalihkan pandangan kearah anak kecil yang berlarian. Meida tak menyadari, orang yang di tuju melvin itu adalah dirinya.
“Emang siapa wanita yang tuan di sukai? Siapa tahu saya bisa bantu?” ucap polos meida yang membuat kesal hati melvin seketika.
Kamu meida kamu!!! Peka dikit napa! Gerutu melvin dalam hati.
“Ada deh! Saya belum berani mengungkapkan perasaan saya padanya, karena saya tahu dia masih menyimpan seseorang di hatinya.” Meida merubah posisi duduknya menjadi menyamping. Dan kini ia berhadap-hadapan dengan melvin.
“Kenapa Tuan gak tanya langsung padanya? Biar tuan mengetahui langsung jawabannya.” Melvin mengusap dadanya pelan pertanda sabar, melihat wajah polos meida yang menompang dagu di depannya.
“Sebenarnya saya ingin mengungkapkan perasaan saya padanya. Tapi saya takut, takut dia pergi jauh dan meninggalkan saya setelah mengetahui perasaan saya.” Melvin menatap dalam wajah meida dengan tak berkedip. Sampai meida kikuk dibuatnya.
“Siapa sih wanita itu Tuan. Dia beruntung dicintai pria sebaik dan setulus Tuan, walaupun tuan sedikit nyebelin.” Jawab meida mengalihkan pandangan ke depan, menghindari tatapan melvin.
“Ada. Saya sangat dekat dengan keluarga nya. Tapi saya tak berani mendekatinya terlalu dekat. Dia seperti membentengi dirinya, saya susah mendekatinya.”
“Banyak berdoa saja Tuan. Semoga Wanita yang Tuan inginkan bisa menjadi pendamping hidup Tuan.” Doa meida sambil menepuk bahu Melvin.
“Amin.”
Cup
Jonathan mencium pipi meida dari samping.
“Cici sama ko melvin ngobrolin apa sih sampai serius kayak gini? Sampai tak sadar dengan kehadiran jo,” ucap cemberut jonathan yang mengenakan seragam sekolah sambil menenteng tas ranselnya. Meida dan melvin saling pandang dengan mengedikkan bahunya, meida menunjuk melvin untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan jonathan.
“Kita hanya sharing-sharing jo. Kita pulang ke rumah yukk!” Ajak melvin dengan tersenyum sambil menggaet leher jonathan dengan tangan nya.
“Pasti ada sesuatu!” kesal jonathan yang masih berada dalam belitan tangan melvin.
“Gak ada apa-apa. Ayoo pulang! Kita makan di rumah!” Perintah meida berjalan di depan mereka.
“Nggih doro ...” Ledek melvin sambil membungkukkan badannya. Meida mencebikkan bibirnya kearah melvin yang dihadiahi tawa oleh jonathan.
-
Jika suka novel ini, jangan lupa like, komen, vote, sama hadiahnya ♥️🤗
__ADS_1
Hatur nuhun