Kita Berbeda

Kita Berbeda
Mencintaimu Tak Bersyarat


__ADS_3

“Thank you Mr. Rober for the information. Sorry to disturb your rest. Have a good rest!”


“No problem Mr. Melvin. You can contact me again, if you need anything.” Setelah menutup sambungan telpon dari Mr. Robert. Melvin langsung membuka pesan yang di kirim Mr Robert yang menunjukkan letak dimana ponselnya berada. Ia mengerutkan keningnya, ketika GPS ponselnya menunjukkan posisinya yang sedang berada di alun-alun kota.


“Sedang apa dia disana?” Melvin mengamati GPS yang kini sedang bergerak. Ia buru-buru membasuh wajahnya dengan air, lalu mengambil kunci mobil yang berada di atas ranjang dan berlari cepat menuju basement.


Melvin melajukan mobilnya kearah yang GPS ponselnya tunjukkan.


-


“Bu, Cici pasti pulang kan?” Tanya Jonathan yang sedang menangis di pelukan bi ina. Bi ina dengan lembut mengusap kepala jonathan.


“Cici mu pasti pulang! Ingat dengan ucapan ko Melvin, dia tak mungkin berbohong! Cici mu hanya butuh waktu sendiri, dia butuh waktu untuk menenangkan perasaannya. Ibu berharap kamu mengerti jo, ini tak mudah bagi cici mu.” Jelas lembut Bi Ina. Jonathan mengangkat kepalanya lalu menghapus air matanya.


“Bu, jo sangat membenci daddy! Sangat membencinya! Jo tidak ingin melihatnya lagi!” Teriak jonathan histeris. Bi ina langsung menggelengkan kepalanya seraya mengusap lembut wajah jonathan untuk menenangkan nya.


“Seburuk apapun sikap daddy mu, kamu tidak boleh membencinya! Karena dia orang tuamu!Tanpa mereka, kamu tidak akan ada di dunia ini jo!” Jonathan menggelengkan kepalanya lemah.


“Tapi jo sangat membencinya bu! Apalagi setelah melihat dia memperlakukan cici seperti tadi! Rasanya jo ingin sekali membunuhnya ...” Lirih Jonathan. Bi ina langsung memeluk kembali jonathan, lalu mengelus pundaknya pelan.


“Huss jangan bicara seperti itu! Tidak baik nak, kamu harus bisa memanfaatkan segala kekhilafannya,” ucap lembut Bi Ina.


“Rasanya sulit bu.” Bi ina melepaskan pelukannya, ia memegang kedua bahu jonathan.


“Memang sulit nak. Tapi  tak baik, jika kamu menyimpan kebencian dalam hati. Jadilah seorang pemaaf, agar hidupku selalu dikelilingi oleh kebahagiaan.” Jonathan mengalihkan pandangannya dari wajah bi ina ke langit-langit kamarnya.


“Jo akan berusaha bu. Tapi jo tak janji.”


-


Grace melempar segala benda yang berada dekat dengan jangkauan tangannya, tak luput guci mahal impor kesayangannya menjadi sasaran kemarahannya. Sementara Gilbert dan Zaina menundukkan wajahnya yang sedang menangis di sofa.


“Memalukan! Lihatlah berita kalian sudah tranding! Seluruh relasi kalian sudah mengetahui tentang kembalinya anak perempuan kalian yang hilang! Ini sangat memalukan! Kalian tahu, jika anak itu kembali dia mampu menggeser posisi mu sebagai pewaris keluarga Atmadja!” Murka grace sambil membanting tabletnya. Ia mengepalkan tangannya, menatap anak dan menantunya dengan penuh emosi. Gilbert dan Zaina tak menjawab ucapan mami nya, orang yang paling berkuasa di keluarga Atmadja setelah kematian Maxime Atmadja.


“Kau tahu! Mereka sudah mengetahui di balik kehilangan jaslin! Ini mencoreng nama baik keluarga besar kita! Nama baik yang saya jaga dari dulu! gara-gara kalian, mereka memandang rendah kita! Johan pasti tertawa melihat kondisi keluarga kita yang kacau sekarang! Pokoknya mami tak mau tahu! Kau dan mami harus menjadi Penguasa harta keluarga Atmadja!” Teriak grace sambil menunjuk wajah gilbert. Mendengar ucapan mami nya gilbert pun berdiri dari posisinya.


“Mi! Saya capek! Dari dulu saya mengikuti semua yang mami inginkan! Kenapa yang ada di otak mami hanya harta dan harta! Bisa gak sedikit saja mami menghargai perasaan kami! Asal mami tahu, kami lelah mengikuti semua perintah mami!” Grace menatap anaknya dengan emosi yang memuncak, karena anak lelaki satu-satunya kini telah berani membantah ucapannya. Grace berjalan kearah anaknya dengan menolak pinggang.


“Oh ... rupanya kau lelah mengikuti perintah mami! Kau lelah? Sekarang kau pun berani melawan perintah mami! Luar biasa!” Sinis grace sambil bertepuk tangan.


“Gilbert bukan melawan perintah mami! Tapi tolong, mami mengerti keadaan kami. Perasaan kami kacau mih! Keluarga kami berantakan! Anak-anak kandung kami sendiri meninggalkan kami! Gilbert mohon ... sekarang bukanlah waktu untuk membicarakan harta! Sekarang bukanlah waktu untuk menjaga nama baik! Tapi, sekarang waktunya kita meminta maaf pada mereka! Pada cucu-cucu mami!” ucap lemah gilbert yang kembali duduk di sofa. Grace mencebikkan bibir sinis, ia melipat tangan di dadanya.


“Bagi mu yang terpenting ini! Tapi bagi mami yang terpenting, harta kekayaan ini tak jatuh pada tangan orang lain! Harta ini harus jatuh ke tangan mami atau kau! Kau juga tahu, anak mu mendapatkan 25% kekayaan dari keluarga Atmadja, sedangkan yang 75% itu masih rahasia! Papi mu merahasiakan pewaris kekayaan terbesar nya! Mami takut harta keluarga kita yang 75% itu jatuh ke tangan orang lain! Sementara kita yang memperjuangkannya tak mendapatkan apa-apa! Kau mau hidup jatuh miskin! Sekarang seharusnya kita bergerak cepat, menghubungi Notaris sekaligus Kuasa Hukum papi mu, kita harus memastikan dan memaksa mereka untuk menjatuhkan semua harta kekayaan ini kepada kita!” Gilbert malah tersenyum mendengar ucapan grace, ia malah melipat kedua kakinya.


“Tapi maaf mi! Saya sudah tidak peduli dengan warisan itu! Saya memang gila harta, tapi sekarang saya menyesal mi! Setelah mengejar-ngejar harta dan kekayaan, apa yang saya dapatkan hah? Keluarga saya hancur mi!  Anak-anak saya membenci saya! Ternyata harta tidak pernah membuat saya puas, yang ada saya malah menyakiti darah daging saya sendiri! Anak perempuan saya satu-satunya malah membenci saya mi!” Jawab Gilbert dengan tersenyum sinis. Grace membelalakkan matanya, ia melempar pas bunga yang berada didekatnya.

__ADS_1


“Sekarang bukan waktunya membicarakan anak-anakmu! Tapi kita mempersiapkan diri untuk merebut harta warisan yang 75% itu! Jika anak mu ditemukan, otomatis kuasa hukum itu akan memberi tahu penerima warisan yang 75% itu. Kau harusnya sekarang membuat taktik untuk melawan 10 orang kuasa hukum papi mu, untuk merebut harta warisan itu!” Teriak grace menatap marah anaknya. Tak mau kalah, Gilbert melempar bantal sofa kearah maminya.


“Mi! Sudah saya katakan! Saya sudah tak peduli dengan harta warisan itu! Saya sudah tidak tertarik semenjak mengetahui jaslin anak saya! Gara-gara kesombongan yang selalu mami ajarkan, saya menyakiti perasaan Jaslin mi!” Teriak keras gilbert menggema di ruangan itu. Sementara zaina masih dalam keadaan menunduk.


“Kau Bodoh apa tolol hah! Kau ingin jatuh miskin! Kita disini sudah tahu, jika diantara kita tidak ada yang mendapatkan warisan itu! Harusnya sekarang kita menguasai harta ini, mengubah semua asetnya dengan nama kita! Kau tahukan rumah sakit papi mu ada dimana-dimana? Kau rela itu semua jatuh pada orang lain?” Tanya grace mengatur emosinya yang sedang bergemuruh.


“Mi! Jaslin anak ku bukan orang lain! Kenapa mami seambius ini! Walaupun kita tak mendapatkan warisan itu harta kita masih banyak mi! Kita mungkin jatuh miskin!” Teriak Gilbert sambil menunjuk grace marah.


“Dasar bodoh! Anak mu akan menjadi orang lain! Dia akan membenci keluarga kita! Dia pasti memilih pergi! Harusnya kau gunakan otak mu tuk berpikir! Emang kau rela perusahaan yang kau perjuangkan selama ini di ambil orang lain?” Sinis grace dengan wajah masam.


“Silahkan saja jika mereka ingin mengambilnya! Saya tak masalah mi! Saya ingin hidup normal! Saya ingin hidup seperti orang lain! Saya ingin memiliki keluarga yang hangat mi! Saya akan memperbaiki sikap saya pada anak-anak saya! Mami jangan melarang saya!” Gilbert menatap grace dengan sorot mata tajam. Ia menarik napas nya kasar


“Saya memutuskan untuk tidak peduli dengan berita-berita yang sedang beredar! Saya akan jumpa pers, untuk mengklarifikasi kejadian sebenarnya! Saya sudah tidak peduli lagi! Saya akan menghadapi segala konsekwensinya! Karena mulai sekarang, saya akan memperbaiki hubungan dengan anak-anak saya!” Tegas Gilbert. Grace mengepalkan tangannya, hingga kuku-kukunya memutih.


“Jika kau sampai melakukan itu! Jangan salahkan jika mami berbuat nekat! Mami hanya ingin mempertahankan segala sesuatu yang harusnya menjadi hak mami!” Tegas Grace yang tidak dihiraukan oleh Gilbert. Gilbert menggandeng tangan zaina untuk meninggalkan ruang itu, ia membalikkan tubuhnya menatap grace dengan wajah menantang.


“Teeserah mami! Saya sudah tak peduli!”


-


Melvin melihat meida yang sedang berjalan di pinggir jalan, tanpa memakai alas kaki. Langkahnya terseok-seok seperti orang frustasi. Ia langsung menepikan mobilnya, dan memperhatikan meida dari jarak jauh, memastikan keadaannya aman. Melihat meida yang tak membalikkan tubuhnya, melvin memutuskan untuk keluar dari mobil Lamborghini Gallardo nya. Ia mengikuti langkah meida dengan pelan pelan dari arah belakang, agar meida tak menyadari kehadirannya.


“Dunia ini lucu sekali. Wanita  yang pernah kutolong adalah orang tua ku sendiri! Ya Tuhan, aku tak sanggup menerima mereka dalam hidupku! Rasanya tak mungkin!” Teriak meida sambil menendang-nendang apa saja yang berada dekat kakinya.


Meida kalau marah memang menakutkan. Apa wanita akan seperti ini jika marah? Batin melvin yang berjalan sekitar 20 meter di belakang meida.


“Kenapa harus ada serpihan baja di pinggir jalan sih!” Sungut meida meringis sambil mengambil serpihan baja di kakinya. Ia tak menyadari melvin yang sudah berdiri di hadapannya.


“Ya Tuhan, kau berdarah meida! Ini lukanya cukup dalam!” Melvin melihat darah yang mengalir dari telapak kaki meida dengan panik. Meida di buat kaget dengan kehadiran melvin yang tiba-tiba berada di hadapannya.


“Tuan melvin. Sejak kapan Tuan ada disini?” Lirih meida. Ia melihat melvin dengan telaten membersihkan kotoran debu di kakinya menggunakan tangannya.


“Ini harus segera di obati! Lukanya cukup dalam!” Meida mengamati wajah melvin yang berada tepat di depannya. Hidung dan mata nya masih memerah, ia tahu bahwa melvin pasti habis menangis.


“Ini luka biasa tuan! Jangan terlalu mengkhawatirkan luka saya!” Jawab santai meida sambil melepaskan tangan melvin dari kakinya.


“Jangan menyepelekan luka mu meida! Kau mau kaki mu infeksi! Ayoo kita ke klinik!” Ajak melvin sambil berdiri.


“Ini luka kecil tuan! Tidak perlu ke klinik!” Tolak halus meida.


“Kalau tidak mau ke klinik, ayoo kita pulang!” Meida menggelengkan kepalanya pelan menatap melvin dengan memohon.


“Saya tidak ingin pulang sekarang Tuan! Saya ingin menenangkan perasaan dulu! Saya mohon tuan mengerti.” Melvin mengalihkan pandangannya dari wajah meida.


“Terus sekarang kamu mau kemana meida?” Tanya  heran Melvin yang kembali berjongkok di depan meida. Mendengar pertanyaan melvin, meida hanya menggelengkan kepalanya lemah.

__ADS_1


“Saya tidak tahu Tuan! Tapi saya tidak ingin pulang dulu!” Jawab pelan meida.


“Yaudah ikut saya! Saya akan membawamu ke tempat yang tenang dan aman! Saya janji tidak akan membawamu pulang!” Ajak melvin sambil memegang kedua bahu meida.


“Kemana tuan?” Tanya bingung Meida.


“Ayoo ikut saja! Ayoo!” Melvin membantu meida berdiri. Ketika meida berjalan pelan, ia mengaduh. Karena tak sadar, berjalan menapakkan semua telapak kakinya yang terluka.


“Mau sayang gendong apa saya bopong?” Tawar melvin sambil memberhentikan langkahnya. Meida menggelengkan kepalanya, ia menolak tawaran melvin dengan terus berjalan menggunakan kakinya yang pincang. Melihat sikap meida yang keras kepala, melvin langsung membopong tubuh meida dan langsung membawa nya menuju mobil Lamborghininya yang terparkir di pinggir jalan.


“Tuan turunin saya! Saya bisa jalan sendiri kok!” Teriak meida sambil berusaha turun dari bopongan melvin.


“Bisa diam gak! Lihat kaki mu!” Kesal Melvin yang langsung mendudukkan meida di jok mobilnya. Meida langsung diam, ketika melvin memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya. Meida menahan nafas nya ketika wajah melvin hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


“Menurutlah! Saya tidak akan berbuat jahat pada mu!” ucap melvin sambil menutup pintu dan mengintari mobilnya.


-


Mobil yang dikendarai Melvin dan Meida melaju keluar dari kota Surabaya menuju kota Malang. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, mobil melvin menepi di sebuah gerbang rumah mewah yang dikelilingi beton-beton tinggi.


“Ini rumah siapa Tuan?” Tanya kaget meida melihat rumah mewah yang berlantai 1, yang terlihat luas.


“Ini rumah saya. Rumah untuk calon istri saya nanti.” Jawab santai melvin sambil menepikan mobilnya di garasi. Melvin turun terlebih dahulu, lalu mengintari mobilnya untuk membuka pintu meida. Ia membuka sabuk pengaman, lalu membopong meida masuk ke rumahnya


“Tuan tidak perlu ...” Tolak meida, karena melvin kembali membopong tubuhnya.


“Diam meida! Kaki mu harus segera di obati! Tolong buka pintunya, ambil kartu akses di kantong tuxedo saya!” Pinta melvin. Meida langsung mengambil sebuah kartu akses yang berada di kantong tuxedo melvin, lalu menempelkan kartu itu ke pintu validasi. Pintu itu otomatis terbuka, dan mereka langsung masuk. Meida mengamati wajah melvin yang sedang membopongnya, wajahnya memerah ketika melvin melihat kearahnya. Meida langsung menutup wajah dengan kedua tangannya karena malu, melvin terkekeh melihat tingkah meida yang sedang berada dibopongannya.


Melvin membawa meida ke ruang dapur. Ia mendudukkan meida di kursi kayu.


“Tuan, kenapa rumah ini sepi?” Tanya meida mengamati dapur itu yang tertata rapi. Ia memperhatikan melvin yang sedang merebus air ke dalam panci.


“Karena tidak ada penghuninya meida! Saya palingan pulang kesini satu bulan sekali. Rumah ini di jaga oleh Pak Muin bersama istri dan anaknya. Saya menyuruh mereka tinggal di rumah ini, agar rumah ini tidak sepi. Mungkin mereka sudah tidur.” Jelas melvin sambil membawa baskom dan handuk kearah meida.


“Kenapa rumah ini cuman 1 lantai Tuan? Biasanya orang kaya rumahnya bertingkat-tingkat.” Tanya polos meida.


“Saya sengaja membuat rumah ini dengan 1 lantai. Supaya jika saya punya anak nanti, memudahkan saya untuk berinteraksi dengan anak-anak saya. Biar saya bisa mengontrol mereka, agar tak ada batasan diantara kami. Saya ingin dekat dengan anak-anak saya meida, seperti papi saya.” Jelas melvin sambil mengangkat kedua kaki meida lalu diletakkan di pahanya. Meida membelalakkan matanya melihat perlakuan melvin.


“Jangan berpikir aneh-aneh! Saya hanya ingin membersihkan luka mu!” Jawab melvin sambil melap luka meida. Meida meringis ketika melvin membasuh lukanya.


“Meida, kau tahu? Sebenarnya kamu orang pertama yang menginjakkan kaki di rumah ini. Keluarga saya pun tidak ada yang tahu mengenai rumah ini. Saya sengaja menutupi dari mereka. Saya ingin menjadikan kamu Nyonya rumah ini, apa kamu bersedia meida.” Meida tercengang mendengar pengakuan melvin. Melvin menyimpan handuk ke baskom, lalu menatap dalam wajah meida.


“Kenapa harus saya Tuan? Tuan bisa mendapatkan wanita manapun yang lebih dari saya! Saya hanyalah gadis bodoh yang tidak sepadan dengan Tuan.” Jawab pelan meida yang menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap melvin lebih lama, karena detak jantungnya yang terus berdetak.


“Karena saya mencintaimu tak bersyarat! Itulah alasannya!” Tegas melvin sambil mengangkat wajah meida yang menunduk.

__ADS_1


“Bolehkah saya mencintaimu meida?” Meida menelan ludahnya kasar, menatap sorot mata melvin yang penuh dengan pengharapan.


__ADS_2