
“Bu, nomor kontak om johan sulit dihubungi. Padahal jo sudah 3 kali mencobanya,” ucap jonathan yang sedang bersandar di headboard ranjang. Ketika bi ina masuk ke dalam kamarnya sambil membawa nampan berisi makanan. Setelah menyimpan makanan itu di atas nakas, bi ina duduk di samping jonathan dan mengelus pelan kepalanya.
“Mungkin om mu sibuk nak. Nanti malam kita coba hubungi lagi yah.” Jonathan menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia bahagia mendapat perlakuan hangat dari bi ina.
“Iya bu, nanti malam palingan jo hubungin lagi," ucap Jonathan meletakkan ponsel di atas perutnya dengan mimik wajah cemberut yang terlihat lucu. Bi ina tersenyum melihat wajah lucu jonathan dengan kepala menggeleng.
“Sekarang kamu makan siang dulu, abis itu minum obat!” Bi ina mengambil makanan yang dibawanya barusan, dan menyondorkan ke mulut jonathan.
“Jo sudah makan bi, waktu bibi shalat dzuhur. Jo juga udah minum obat barusan sebelum bibi masuk kesini.” Terang jonathan dengan wajah bersalah, karena menolak suapan dari bi ina. Bi ina meletakan kembali makanan itu diatas nakas. Ia membenarkan selimut jonathan, agar menutupi sampai dadanya.
“Sekarang istirahatlah, agar kamu cepat pulih jo! Sambil nunggu cici mu pulang.”
“Nanti kasih tahu yah bu, kalau cici pulang."
“Iya. Nanti ibu bangunin kamu, kalau cici mu udah pulang.” Bi ina keluar kamar jonathan menuju dapur. Karena jadwalnya sekarang adalah masak untuk makan mereka nanti.
-
Cici sadar gak kalau wajah kita mirip?
Meida apa yang kamu rasa, ketika berdekatan dengan jonathan?
Wajah kalian mirip seperti kakak beradik!
Jika cici jaslin masih ada, mungkin sepantaran dengan cici meida.
Anak itu seolah mencerminkan hidup saya. Walaupun hidup di rumah mewah nan megah, tapi kehadirannya tak dianggap sama sekali, dia hanya dijadikan pajangan oleh keluarganya.
Jonathan merasakan sosok cici jaslin hidup dalam diri cici meida.
Saya membuang jaslin di pelantara masjid jam 7 malam.
Jaslin terlahir tak diharapkan di keluarga itu.
Jaslin anak yang malang
Meida memegang kepalanya erat. Ucapan jonathan, bi ina, dan johan menari-nari dikepalanya. Wajah meida kembali pucat bagai tak dialiri darah. Ia memejamkan matanya untuk menetralisir rasa pusing yang tiba-tiba menyerangnya.
Yaa Allah kenapa kepalaku pusing sekali? Kenapa dadaku sesak seperti ditindih godam besi ? Kenapa aku sulit bernapas, merasa udara disekitar ku seakan habis? Yaa Allah ... perasaanku kenapa gelisah seperti ini.
Benar meida! Ummah dan abi mu menemukan mu ba'da isya, ketika kami akan beristirahat untuk melaksanakan shalat isya di salah satu masjid yang berada di kota Surabaya.
Daddy dan mommy tak menginginkan bayi itu karena telahir sebagai perempuan.
Berjanjilah! Seburuk apapun kenyataan kedepan, cici jangan pernah meninggalkan jo! Jo mohon...
__ADS_1
Meida menekan keras dadanya. Napasnya tersenggal-senggal tak beraturan. Keringat dingin membanjiri tubuhnya, tangannya bergetar dengan menggigit bibirnya keras untuk menahan rasa sakit. Melisa dibuat terkejut dengan keadaan meida.
“Meida kamu kenapa dek? Ya Tuhan, kenapa wajahmu pucat sekali.” Panik melisa melihat wajah pucat meida yang sedang menahan rasa sakit. Ia menyentuh pipi meida dengan kedua tangannya.
“Huh huh huh Mb..ak da..da..ku se..sak se..kali. A..ku su..sah ber..na..pas,” ucap lemah meida sambil memukul pelan dadanya.
“Tarik napasmu pelan-pelan! Ikuti perintah mbak!” Perintah melisa yang kalang kabut dengan keadaan meida. Ia dibuat aneh, tadi ia melihat keadaan meida baik-baik saja, tapi sekarang kondisi meida begitu mengejutkan.
“M..bak huh huh huh.” Meida terkulai pingsan di pelukan melisa. Melisa memeluk erat meida dengan mata berkaca-kaca ketakutan.
“Pak kita langsung kerumah sakit!” Driver itupun langsung berbelok arah menuju rumah sakit.
“Baik non.” Melisa terus memeluk meida dengan tangan bergetar.
“Meida ... sadarlah! Hey ...meida ... ini mbak, kamu kenapa?” Tanya lirih melisa dengan suara bergetar. Ia menangis melihat keadaan meida yang terkulai lemah dipeluknya.
-
Zyan membawa johan kerumah sakit terdekat, kebetulan rumah sakit yang paling dekat dari jarak mereka adalah Rumah sakit milik keluarga Atmaja. Ia terpaksa membawa johan ke Rumah sakit Hospital Internasional Centre, yang merupakan salah satu tempat yang sangat di benci johan. Johan telah bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya di tempat itu, selama nyawa masih bersarang ditubuhnya. Johan lebih memilih rumah sakit biasa, daripada rumah sakit yang mempunyai peralatan lengkap yang dimiliki keluarga nya.
Demi keselamatan johan, zyan terpaksa melanggar sumpah yang telah diucapkan oleh johan.
“Dok bagaimana dengan keadaan saudara saya?” Tanya panik zyan kepada dokter yang baru saja selesai memeriksa johan. Dokter itu tersenyum ramah kearah zyan.
“### Mari ikut keruang saya! Ada sesuatu yang harus saya jelaskan mengenai kondisi pasien tersebut.” Perintah dokter muda itu agar zyan mengikutinya, menuju ruangannya. Zyan hanya menganggukkan kepala, lalu mengikuti langkah dokter tersebut.
“Benar dok. Tapi itu terjadi sudah lama, sekitar 20 tahun yang lalu.” Terang zyan sambil mengingat kondisi kacau johan setelah kematian ibunya dan setelah insiden penembakan kaki oleh ayahnya sendiri.
“Pantas saja. Pasien pasti pernah menyaksikan atau mengalami kejadian tragis. Biasanya faktor risiko diakibatkan dari kurangnya dukungan orang tua, pernah mendapatkan kekerasan fisik, pernah mendapatkan perundungan dan yang terakhir pasien memiliki gangguan kecemasan.” Terang dokter itu menerangkan beberapa kondisi, yang semuanya pernah dialami johan.
“Benar sekali dok. Pasien pernah mengalami semua yang dokter sebutkan barusan." Sahut zyan dengan melipat tangannya di meja.
“Metode apa yang pernah dilakukan untuk pengobatan pasien tersebut?” Tanya dokter itu sambil menulis note di buku catatannya.
“Pengobatan yang pernah saya lakukan dan istrinya, pergi ke psikoterapi dan mengonsumsi obat-obatan yang dianjurkan dokter.” Jawab zyan sambil memejamkan matanya mengingat kejadian yang lalu.
“Sebenarnya Gangguan stress pancatrauma pasien sudah sembuh, tapi riwayat ini yang menyebabkan pasien sekarang mengalami Panic Attack (Serangan Panik)," ucap dokter itu sambil menunjukan catatan kepada zyan.
“Ada baiknya anda buru-buru membawa pasien kesini. Jika tidak, mungkin dari panic attack itu pasien bisa mengalami serangan jantung atau gagal ginjal. Lebih fatalnya, bisa menyebabkan nyawa pasien melayang.”
“Apa yang harus saya lakukan dok? Karena ini Panic Attack yang pertama kali dialami pasien.” Tanya khawatir zyan setelah mencerna perkataan dokter tersebut.
“Panic Attack dapat berlangsung selama 5 hingga 10 menit, namun bisa juga terjadi secara berkesinambungan dalam waktu dua jam. Pasca serangan panik, penderita akan mengalami kelelahan. Selain itu, kondisi ini juga menyisakan rasa takut akan terjadinya serangan kembali hingga membuat penderitanya menghindar dari situasi yang dapat memicu serangan panik. Jadi saya mohon, untuk sementara waktu, anda jangan dulu membicarakan sesuatu yang terdengar sensitif ditelinga pasien. Apalagi obrolan yang berkaitan dengan penyebab pasien mengalami panic attack.” Zyan mencerna semua ucapan dokter itu dengan seksama.
-
Setelah keluar dari ruang dokter yang menangani johan. Zyan langsung menghubungi dian, untuk memberitahu keadaan suaminya yang sedang di rawat di rumah sakit.
__ADS_1
“Hallo dian!”
“Ada apa mas zyan? Tumben nelpon saya?"
“Saya mau bilang, johan sedang di rawat di rumah sakit sekarang. Ia mengalami Panic Attack satu jam lalu, buntut dari pascatraumanya.” Terang zyan menyampaikan apa yang dikatakan dokter tadi.
“Apa?? Kok bisa?? Tadi sebelum berangkat dia masih baik-baik saja.” Panik dian diujung sana.
“Kejadiannya dadakan! Kamu ke rumah sakit sekarang. saya tunggu kamu disini!”
“Baik mas. saya kesana sekarang!”
Zyan masuk keruang rawat johan. Ia duduk di samping johan sambil menatap dalam wajah tidur johan.
Louis ada apa sebenarnya? Maaf, tadi saya tidak mendengar ucapan mu dengan jelas. Saya terlalu panik melihat mu, sampai saya tak mencerna sedikit pun ucapanmu. Gumam pelan zyan sambil mengelus lembut tangan johan.
Tapi, tadi saya mendengar kau menyebut nama meida dan jaslin. Saya kurang tahu apa maksud mu sebenarnya?
Louis cepatlah sadar! Ceritakan semuanya pada saya! Agar saya bisa membantu mu. Jika itu membuat keadaan mu lebih baik.
-
Setelah memastikan meida tak sadarkan diri. Melisa langsung menghubungi melvin untuk memberitahu keadaan meida yang sedang tak sadarkan diri dipeluknya.
“Ko, meida pingsan! Sekarang kami dalam perjalanan menuju rumah sakit.” Panik melisa setelah panggilannya di angkat melvin.
“Kenapa meida bisa pingsan dek?” Tanya kaget melvin langsung berdiri dari posisi duduknya.
“Aku gak tahu kok. Tiba-tiba dia ngeluh dadanya sakit dan sesak napas." Terang meida dengan suara bergetar menahan tangis.
“Okok. Jangan bawa dia ke rumah sakit dek! Bawa saja ke apartemen, biar dokter chris memeriksanya,” ucap melvin sambil memijit dahinya pelan.
“Ini sebentar lagi sampai di rumah sakit ko. Kalau muter lagi takutnya meida kenapa-kenapa. Biar dokter rumah sakit ini memastikan dulu, bahwa keadaan meida baik-baik saja. Setelah keadaannya memang cukup baik, biar nanti kita bawa pulang, kita rawat dia di apartemen saja!” Usul meida dengan suara parau ditengah tangisnya.
“Baiklah. Kamu tunggu disana! Koko sekarang kesana! Kalian di rumah sakit mana?” Tanya melvin sambil mengambil kunci mobil disaku jasnya.
“Rumah sakit internasional ko.”
“Baiklah. Tunggu koko disana! Pastikan meida mendapatkan perawatan terbaik!”
“Baik ko.”
-
Kuyylah like sama hadiahnya ♥️🤗
Hatur thank you😘
__ADS_1