
"Bima... Lepas." mohon Kayla dengan dada naik turun. Antara marah dan juga takut kejadian semalam terulang kembali. Yang pasti Kayla tidak bisa mengatur degub irama degub jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Kenapa? Gue butuh kek gini bentar aja Kay."
Bukannya menuruti keinginan Kayla untuk melepaskan tangannya, Bima malah meringkuk mengeratkan kedua tangan pada perut Kayla. Bahkan menggeser kepalanya hingga merapat pada paha Kayla yang tengah duduk di tepi ranjang. Sedikit saja Bima mengangkat kepala, sudah dapat dipastikan mampu merubah posisi wajah Bima seperti mencium perut Kayla.
Dengan posisi seintim ini Kayla hanya mampu meneguk ludahnya kelat, gadis itu memilih membuang wajah seraya mengeratkan kedua tangan pada tepi ranjang yang berbahan kayu usang miliknya.
"Kay... elo semalam bisa tidur nyenyak kah?" tanya Bima dengan posisi tiba tiba telah menumpukan kepala di atas pangkuan Kayla. Persis seperti apa yang telah Kayla takutkan beberapa saat lalu.
"Bima jangan kek gini." Kayla tidak menjawab pertanyaan Bima. Gadis itu dengan sengaja menggerakkan kedua kakinya agar Bima merasa tidak nyaman.
"Sebentar doang Kay."
Lagi tatapan manik abu Bima membuat Kayla tak sanggup menolak keinginan lelaki itu. Kayla pun harus membuang wajahnya untuk menjaga kewarasannya.
__ADS_1
"Semalem gue nggak bisa tidur Kay."
Entah itu adalah pemberitahuan atau hanya ungkapan Bima, Kayla tidak peduli. Karena yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana cara membuat Bima segera pergi dari kamar dan juga rumah kontrakannya.
"Kay..." Bima menyusupkan wajah semakin dalam pada perut Kayla.
"Bim!" pekik Kayla dengan kedua mata melebar, mengarahkan pandangan pada perutnya. Dimana wajah Bima menyusup dalam di sana. Tak ayal membuat dadanya naik turun tak beraturan, bahkan deru nafasnya terdengar memburu.
"Sebentar saja Kay."
Bima tidak terpengaruh akan reaksi Kayla yang sangat jelas tengah marah. Lelaki itu malah mengeratkan kedua tangannya, mengunci tubuh Kayla dari balik punggungnya.
"Sebentar Kay."
"Enggak Bim, leppass." Kayla menarik kuat kedua tangan Bima yang mengunci tubuhnya. Kayla benar benar melakukannya dengan sekuat tenaga. Ia tidak ingin Bima menyentuh dan menguasai tubuhnya untuk yang kedua kali.
__ADS_1
Deru nafas Kayla terdengar lebih teratur saat merasakan kedua tangan Bima yang mengunci tubuhnya terasa mengendur. Meski tangan itu mengendur bukan karena kekuatan Kayla saat berusaha melepaskan diri, melainkan Bima sendiri yang telah melepaskan kuncian tangannya. Namun tetap saja ada sedikit kelegaan dalam hati Kayla.
Akan tetapi nafas itu kembali menderu saat tiba tiba wajah Bima tepat sejajar dengan wajah Kayla, belum lagi tubuhnya yang seolah menghimpit.
"Bbimma... mau apa kammu?" Kayla dengan wajah pias dan terbata. Jantungnya kembali berdegup naik turun tak beraturan.
"Mau lo." Bima tegas dan jelas.
Deg.
Jantung Kayla seolah berhenti berdegub saat itu juga. Gadis itu menelan salivanya dengan kelat, pupil matanya tak berhenti bergerak.
Berdua dalam kamar, dengan orang yang berlainan jenis. Tak sedikit pun mengetahui sifat maupun latar belakang orang tersebut. Bahkan semalam telah melakukan hal tak senonoh pada tubuhnya, membuat otak Kayla membayangkan peristiwa yang menakutkan bakal menimpa dirinya.
Dengan memundurkan tubuhnya perlahan ke belakang. Kayla memindai kamar untuk menemukan sesuatu yang dapat dipakainya sebagai senjata jika Bima benar benar melakukan tindakan sesuai dengan yang otaknya pikirkan.
__ADS_1
Belum juga menemukan benda tersebut tiba tiba tubuh Kayla telah terjerembab, terbaring di atas kasur dengan Bima di atas tubuhnya.
🌷🌷🌷