
“Anak-anak sudah tidur?” Tanya louis kearah wanita yang sedang membawa susu hangat untuknya.
“Sudah, mereka sudah tidur dari tadi. Mereka bosan menunggu mu, hingga ketiduran. Tumben kamu pulang larut malam ini?” Tanya wanita itu sambil duduk di samping louis, ia memperhatikan wajah lelah suaminya. Ia memijat pelan lengan louis.
“Hari ini aku sibuk, jadwal ku padat. Apalagi menjelang pembukaan restoran.” Jawab louis memperhatikan wajah sang istri, lalu mengecup pelipisnya sebentar.
“Louis apa kamu sudah menemukan keberadaan anak itu?” Tanya sang istri dengan wajah sendu, sambil memijat lembut bahu sang suami.
“Entahlah Dian ... sampai sekarang aku belum menemukan jaslin, karena minimnya petunjuk.” Jawab louis dengan suara lemah, sambil memegang tangan sang istri yang masih berada di bahunya.
Mereka sama-sama diam dengan pikiran yang berkecamuk.
“Ya Tuhan ... aku merasa sangat bersalah kepada anak itu. Aku merasa kehilangan, andai kau tak gegabah meninggalkannya, mungkin kejadian nya tidak akan seperti ini.” Ucap dian melepas genggaman tangan suaminya. Ia memegang kepala dengan tangannya, pertanda ia sedang berpikir.
“Apalagi aku, mana aku tau kejadiannya akan seperti ini. Kalau aku tau, aku tak mungkin melakukannya. Apa kamu ingat sesuatu tentang jaslin? Ciri-cirinya atau apalah ... yang bisa menjadi petunjuk, karena aku tahu kaulah orang yang paling dekat dengannya.” Sorot hangat mata louis dengan wajah penuh harap memandang sang istri yang setia menemaninya selama ini.
Dian diam menerawang sambil menutup matanya, ia berusaha mengingat ciri-ciri jaslin, yang 20 tahun lalu dirawatnya.
“Aku ingat, jaslin punya tanda lahir bulan sabit di telapak tangan kanannya, dan tanda hitam di belakang telinganya. Waktu kejadian itu terjadi, jaslin memakai kalung berlian berliontin biru yang diberikan buyutnya. Tapi kalung itu hanya aku yang mengetahui nya, karena baru diberikan buyutnya sebelum acara ulang tahun andress di mulai, dan aku yang memasangkan nya langsung. Karena waktu itu tak ada yang memperdulikan keberadaan baby jaslin. Ia tak pernah lepas dari gendongan ku. Seluruh keluarga nya hanya fokus pada andress kakaknya, tanpa menoleh kearah baby jaslin, aku sedih setiap mengingat kejadian itu. Masih terbayang tatapan nanar mata jaslin menatap keluarganya, yang mengabaikan keberadaannya. Ia memeluk ku erat, menahan tangis. Ketika melihat sang daddy menggedong kakaknya yang dihadiahi ciuman oleh mommy-nya. Mungkin dalam hati jaslin ingin seperti kakaknya, yang mendapat kasih sayang lengkap dari keluarga besarnya.” Ujar dian dengan suara bergetar menahan tangis. Ia mengingat kejadian yang di alami jaslin selama berada dalam pengasuhannya. Dian orang paling dekat dengan jaslin, daripada orangtua dan keluarganya.
“Kenapa kamu tak bilang dari dulu?” Tanya louis menghapus air mata yang lolos di wajah istrinya. Ia baru mengetahui sekarang, mengenai ciri-ciri keponakan yang dicarinya salama ini.
“Karena dulu ... aku berharap baby jaslin menemukan kebahagiaannya louis. Supaya dia tidak tersisihkan, agar ia tak merasakan kesepian lagi. Tapi sekarang aku tahu, aku salah louis! Maka nya ku ungkapkan semuanya padamu.” Ucap dian dengan bercucuran air mata. Louis dengan sigap membawa istrinya ke dalam pelukannya.
“Ya Tuhan dian. Niat kita memang baik, tapi cara yang kita tempuh memang salah. Aku merasa berdosa pada bayi itu dian. Aku ingin menebus kesalahanku. Aku takut Tuhan tak mengampuni dosa ku, aku takut dian. Aku janji padamu, aku akan menemukan jaslin apapun yang terjadi.” Janji louis memegang lembut bahu istrinya, ia menatap istrinya dengan sorot mata yang begitu dalam. Istrinya adalah wanita yang setia menemaninya dari suka maupun duka, yang menerima dia apa adanya, dan wanita yang mampu membuatnya bangkit dari keterpurukan. Hanya Dian wanita yang mampu mengobati luka hatinya, setelah merasakan pahitnya hidup dipisahkan dari orang yang dicintainya.
Dian menyelami sorot mata suaminya, yang dipenuhi dengan sorot mata penuh luka. Suaminya telah banyak mengalami berbagai macam penderitaan, ia bersyukur suaminya bisa bangkit hidup seperti sekarang.
“Aku mendukung mu louis, aku berdoa semoga tuhan mempermudah jalanmu untuk menemukan jaslin. mempertemukan kita dengan nya. Walaupun dia bukan darah daging ku, aku sangat menyayanginya. Demi Tuhan aku sangat menyayanginya.” Ucap dian menangis tergugu, menundukkan kepalanya.
“Aku akan berusaha sekuat tenaga dian. Aku akan menemukannya sebelum ajal ku tiba.” Louis memeluk erat istrinya dengan bercucuran air mata. Hati mereka sama-sama berharap untuk segera menemukan jaslin.
Tuhan jangan kau cabut nyawaku, sebelum aku menemukan jaslin, aku mohon Tuhan. Tuhan ... maafkan kesalahan ku dulu, yang terlalu mengedepankan ego dan nafsuku. Batin louis sambil melerai pelukan istri nya.
Mereka lalu menatap potret jaslin yang sengaja mereka pasang di ruang keluarga. Di potret itu memperlihatkan potret seorang bayi yang diampit oleh wanita muda dan seorang lelaki yang memakai seragam warna hitam, dengan senyum penuh kebahagiaan.
Sudah 20 tahun berlalu, bagaimana keadaan mu jaslin? Dimana kamu berada sekarang? Aku sangat merindukanmu. Masih ku ingat kau selalu berada dipangkuan ku, kau tak ingin jauh dariku.
__ADS_1
Aku bodoh jaslin, aku sangat bodoh. Aku kira kau akan menemukan kebahagiaan setelah itu, tapi nyatanya kau pergi jauh meninggalkan ku. Aku merindukan pipi chubby mu, merindukan senyum manis mu, aku merindukanmu my sweetie.
Tuhan beri aku waktu, jangan kau cabut nyawaku sebelum menemukan nya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku merindukan nya, sangat merindukannya.
-
“Sudah bapak tawarkan posisi kosong di perusahaan ini pada meida?” Tanya melisa duduk di sofa panjang diruangan pak andrew, dengan melipat tangan di dada.
“Sudah bu, tenang saja. Mbak meida menerima pekerjaan yang ibu tawarkan. Walaupun itu terdengar aneh.” Jawab pak andrew dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bapak ikuti saja perintah saya, gak bakal terjadi apa-apa. Saya hanya memberikan kejutan untuk kakak saya,” ucap melisa dengan senyum lebar dibibirnya.
“Tapi bu, Asisten Sekretaris terdengar aneh? Apa Tuan besar akan menyetujuinya?” Tanya pak andrew dengan perasaan serba salah.
“Pasti menyetujuinya, bilang saja itu usul dari saya.” Jawab melisa santai, ia yakin papihnya akan menyetujui segala usul darinya, asal alasannya jelas dan logis.
“Baiklah bu, saya ikut ibu saja. Jika itu untuk kebaikan perusahaan” ujar pak andrew pasrah mengikuti perintah dari melisa.
“Yah harus, bapak harus mendukung saya. Bapak harus berada di pihak saya.” Melisa tersenyum kearah pak andrew. Ia sudah tak sabar melihat respon sang kakak bertemu dengan meida.
Aku tau koko menyukai meida, tapi ia terlalu gengsi mengakuinya. Lihat saja setelah ini, apakah koko masih menyembunyikan perasaannya. Saatnya terapi jantung hahaha. Tawa jahat melisa dalam hati, yang sudah merencanakan terapi kejut untuk koko nya.
“Tidak perlu konfirmasi pak, biarkan mereka tahu sendiri nanti. Ini kan kejutan.” Melisa mengambil ponsel pak andrew dari tangannya, lalu menaruh di meja kaca itu.
“Baiklah bu, saya terserah ibu saja. Yang terpenting tidak membahayakan posisi saya.” Ujar pak andrew dengan perasaan tak enak.
“Tidak pak, saya jamin 100% posisi bapak aman.” Ucap melisa menyondorkan tangannya kearah pak andrew untuk berjabat tangan.
-
“Tuan, apa yang tuan pikir kan dari tadi melamun saja?” Tanya Dion menatap wajah melvin yang masih bengong melihat keluar gedung.
Aneh juga kalau tuan diam, biasanya juga pecicilan. Tapi, diam begini tuan lebih menyeramkan. Ujar dion pelan.
“Entahlah dion perasaanku tak enak, pertanda akan terjadi sesuatu.” Jawab lemah melvin sambil menangkup wajahnya. Ia masih mengingat ucapan adiknya kemaren.
Koko besok aku punya kejutan buat koko, siapkan mental jiwa raga. Lisa harap koko jangan jantungan! Selamat menunggu. Ini kejutan terindah dari melisa untuk koko tersayang hahaha.
__ADS_1
“Mungkin perasaan tuan saja.” Ucap dion menyadarkan lamunan melvin.
“Aku memikirkan ucapan melisa, dia akan memberikan kejutan kepada saya. Kau tahu sendiri setiap dia memberikan kejutan, tapi saya yang jadi korban.” Curhat melvin dengan raut kesal, mengingat kelakuan absurd adiknya.
“Jangan terlalu dipikirkan tuan, semoga kejutan bu melisa sukses.” Ucapan dion menenangkan sang bos.
“Tapi anehnya dia menyuruh saya untuk bersiap, seperti akan perang saja.” Omel melvin
“Mungkin pikir bu melisa agar tuan tidak terkejut.” Jawab spontan dion sambil memegang ipad nya.
“Setiap kejutan pasti bikin terkejut bodoh!” kesal melvin melempar kertas kearah dion.
Ternyata cerewet diam sama aja, sama-sama bikin pusing! Omel dion dalam hati
“Kamu budeg? Tidak menjawab ucapan saya?”
Tuhh kan aku yang salah lagi. Ngomong salah diem salah, mau mu apa tuan? Untung aku sabar, kalau enggak sudah ku lakban bibir mu. Kesal dion dalam hati.
“Jangan melotot atau ku cokel mata mu! Jangan berani mengumpat saya!” Ancam melvin membaca tatapan dion.
Setelah dion tak menanggapi ucapan melvin, suasana di ruangan itu kembali hening. Melvin fokus mendatangi berkas di meja nya. Sedangkan dion sedang mengatur schedule melvin.
Tok tok tok
Suara pintu di ketok dari luar. Saking fokusnya melvin tidak mendengar ketokan pintu itu, ia tak menyadari kehadiran pak andrew di ruangannya.
“Dion, jadwal saya jam 11 sekarang apa?” Tanya melvin berjalan kearah dion sambil membuka kancing kemeja atasnya, melonggarkan sedikit dasinya.
Melvin menyadari kehadiran pak andrew setelah ia beberapa langkah sampai di dekat dion. Ia dibuat aneh melihat sekretaris nya berdiri, lalu ia mengarah ke depan dion, barulah ia menyadari di depan dion ada pak andrew. Dan Melvin pun langsung menyapanya.
“Ehh.. ada pak andrew. Maaf saya tak menyadari kehadiran bapak. Ada perlu apa bapak keruangan saya?” Tanya melvin kearah pak andrew, ia tak menyadari kehadiran meida yang bersembunyi dibelakang tubuh pak andrew.
-
Bersimbing
Kuyy lah like, vote, comment, sama hadiahnya. biar otor semangat up nya🤗
__ADS_1
Gomawo buat para reader yang masih setia di novel receh ini♥️
Hatur nuhun