
Subuh ini, suasana di kampung Sido Mukti cukup sepi. Angin laut berhembus cukup kencang, membuat penduduk makin mengeratkan selimutnya, kembali terbuai dalam indahnya alam mimpi. Suara ayam berkokok, menandakan waktu subuh akan segera tiba, membangunkan manusia untuk segera bersiap menyeru panggilan Tuhan.
“Nif, Tafsir Al-Khazin yang suruh Abuya hafalin, kamu sudah hafal?” Tanya lelaki muda memakai koko abu-abu, sarung hitam bergaris putih, dan peci berwarna hitam kearah temannya yang memakai abaya warna cokelat.
“Alhamdulillah, aku sudah hafal Ham. Barusan setelah shalat malam aku hafalin. Kamu sudah hafal?” Tanya Hanif sambil berjalan kearah Gerbang Pesantren Al-Muttaqin. Setiap jam 4 pagi, mereka mengemban tugas dari Buya Hanafi selaku pimpinan Pesantren Salafiyah Al- Muttaqin untuk membuka gerbang pesantren yang satu-satunya berada di kampung tersebut. Agar memudahkan penduduk setempat jika ingin melaksanakan shalat subuh berjamaah di Masjid agung tersebut.
“Alhamdulillah. Aku tinggal satu jajar lagi Nif.” Jawab Ilham sambil membuka gerbang dengan kunci yang dipegangnya. Setelah kunci gembok terbuka, mereka mendorong gerbang tersebut sampai terbuka lebar, agar memudahkan penduduk setempat masuk ke area Pesantren untuk melaksanakan shalat berjamaah. Alahkah terkejutnya mereka, ketika tak sengaja menginjak kaki seorang lelaki berpostur tinggi mengenakan sweater yang sedang tergeletak di depan gerbang Pesantren tersebut. Lelaki yang tergeletak itu tak lain adalah Melvin.
Anak buah Bagaskara sengaja meletakannya disana. Karena mereka pikir, gerbang itu adalah akses masuk menuju sebuah perumahan penduduk yang sering dilewati banyak orang, agar melvin mudah ditemukan oleh salah satu dari mereka. Tapi faktanya, gerbang tersebut adalah akses menuju area Pesantren Salafiyah, yang merupakan satu-satunya pesantren yang berada di kampung tersebut.
“Astagfirullah ... Yaa Allah ... itu siapa Ham?” Tanya kaget Hanif yang wajahnya tiba-tiba memucat. Ia memegang erat lengan ilham yang tak kalah terkejut sepertinya.
“Sepertinya dia korban kriminal Nif! Aku takut dia sudah meninggal. Lihatlah! Tangannya di ikat kebelakang! Wajahnya lebam. Nif, kamu beritahu Abuya! Biar saya tunggu abang-abang ini disini!” Usul Ilham sambil mendekatkan posisinya ke tubuh Melvin yang sedang tak sadarkan diri dengan bibir yang membiru karena kedinginan. Hanif masih diam terpaku menatap temannya yang sedang mengecek nadi di leher Melvin.
“Nif cepet panggil Abuya! Mas ini masih hidup!” Teriak Ilham kearah Hanif yang masih bengong menatapnya. Hanif langsung lari kearah Masjid setelah mendengar teriakan temannya. Karena ia tahu, sejak dini hari tadi Abuya Hanafi sudah berada di dalam Masjid.
“Assalamualaikum Buya ...” Teriak Hanif yang langsung berlari ke dalam masjid lewat pintu samping yang dekat dengan jajaran shaf depan. Teriaknya membuat para santri lain menatap aneh kearahnya dengan mimik wajah bertanya-tanya. Abuya Hanafi menyelesaikan do'a nya terlebih dahulu lalu menatap kearah muridnya dengan bingung.
“Waalaikumsalam Nif. Ada apa? Kenapa dengan wajah mu ini?” Tanya Buya tenang sambil diselingi dzikir dengan tasbih yang berada ditangan kanannya
“Itu Buya di gerbang ...” Buya Hanafi menatap aneh kearah Hanif yang bicara terbata-bata sambil menunjuk kearah gerbang. Buya menangkap ketidakberesan di wajah muridnya, ia pun langsung berdiri.
“Ayoo Nif kita ke gerbang! Tunjukkan pada Buya ada apa!” Ajak Buya Hanafi sambil berjalan menuju pintu. Hanif berjalan dibelakang gurunya dengan menundukkan kepalanya dengan badan yang sedikit membungkuk. Setiap santri yang berpas-pasan dengan Buya Hanafi mereka melakukan sama seperti apa yang dilakukan Hanif. Mereka menundukkan kepala dengan sedikit membungkuk, bentuk Adab menghormati guru nya.
“Ya Allah, ini siapa Ham?” Tanya Buya yang tak kalah terkejut melihat seorang pemuda tergeletak di depan pondoknya. Ilham langsung berjalan kearah gurunya lalu mencium tangannya dengan takzim, setelah itu ia baru menjawab pertanyaan gurunya.
“Ilham kurang tahu Buya. Tadi, ketika kami membuka pintu gerbang ini. Ilham dan Hanif menemukan abang-abang ini. Setelah Ilham cek denyut nadinya, dia masih hidup Buya.” Buya Hanafi mendengarkan penjelasan muridnya dengan seksama. Ia menatap kearah wajah Melvin yang nampak babak belur dengan wajah iba. Ia menyuruh kedua muridnya untuk membuka ikatan ditangannya.
“Yaudah. Angkat dia dan bawa ke rumah Buya! Dia harus cepat di tangani. Semoga nyawanya masih bisa diselamatkan!” Putus Buya Hanafi menyuruh muridnya untuk membawa Melvin kerumahnya yang berada di belakang Masjid bersisian dengan pondok Putra.
“Apa sebaiknya kita lapor Polisi Buya?” Tanya Ilham sambil mengangkat tubuh Melvin.
“Kantor Polisi ada di kampung sebelah! Kita harus mendayung terlebih dahulu sekitar 1 jam, kantor polisi jam segini masih tutup. Buya takut pemuda ini meninggal karena terlambat mendapat penanganan. Inn Shaa Allah ... Buya yang akan bertanggungjawab, dan merawatnya sebisa mungkin karena Allah. Sekarang ayo kita angkat pemuda ini kerumah Buya.” Buya Hanafi membantu kedua muridnya untuk mengangkat melvin, lalu ia membawa pemuda yang tak sadarkan diri itu kekediaman nya.
“Buya, biar kami saja yang mengangkatnya.” Tutur Hanif karena tak enak melihat wajah gurunya yang nampak merah karena menahan bobot berat Melvin.
__ADS_1
“Tidak papa. Tapi nanti Buya minta bantuan kalian, buat panggil dokter Aisyah kerumah. Mumpung waktu shalat subuh belum datang.”
“Baik Buya.” Hanif dan Ilham pun menganggukkan kepalanya lalu membawa Melvin masuk kedalam rumah gurunya.
-
“Nak, apa Melvin sudah ada kabar?” Tanya Zaina sambil duduk disamping putrinya. Mereka berdua berada di ruang perawatan Gilbert yang sengaja satu lantai di booking oleh mereka, agar privasi dan kenyamanan keluarga tetap terjaga. Meida merebahkan kepalanya dipangkuan Mommy-nya sambil menatap kearah Gilbert yang sedang tertidur. Daddy-nya baru saja sadar tadi pagi setelah 5 hari koma.
“Dia belum ada kabar Mom. Aku takut dia kenapa-napa. Aku takut dia menyerah dan meninggalkan Meida Mom.” Tutur Meida dengan suara bergetar. Ia tak bisa menutupi kesedihannya karena ditinggal melvin. Kepergian sosok yang selama ini menemani dan menjaganya, yang mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya.
“Gak mungkin dia ninggalin kamu. Mommy yakin dia sangat mencintaimu Nak. Mommy dapat melihat ketulusan cintanya padamu. Do'akan dia untuk selalu kuat menghadapi masalah yang menimpanya. Seluruh awak media sedang menyoroti dia dan keluarganya. Kamu harus bersabar Nak ...” Zaina mengelus kepala putrinya sambil tersenyum menenangkan.
“Biarkan dia menyelesaikan masalahnya! Yang perlu kamu lakukan, kamu harus berdo’a dan bersabar menunggunya! Asal hati mu yakin Nak! Jika yakin dia akan kembali, pasti dia kembali. Kadang ujian cinta itu banyak, apalagi menjelang pernikahan. Kamu harus yakin bisa melewatinya! Kamu harus yakin dia cinta sejati mu.” Meida menangis mendengar penuturan Mommy-nya. Ia benar-benar merindukan sosok yang selama ini menemaninya. Ia merasa sangat kehilangan, separuh jiwa nya terasa pergi.
“Kamu mencintainya Nak?” Tanya Zaina kearah anaknya yang menangkupkan tangannya di wajahnya. Meida tak menjawab pertanyaan Mommy-nya, ia malah semakin terisak.
“Mommy tahu kamu sangat mencintainya. Tuhh air mata kamu buktinya.” Kekeh zaina sambil mengusap kembali kepala anaknya. Sementara Jonathan dan Bi Ina yang masih berada di ruang itu, namun terhalang tirai hanya terkekeh. Tak lupa ia merekam video meida yang sedang menangis dipangkuan Mommy-nya karena merindukan mantan bosnya.
“Aku memang mencintainya Mom. Aku takut kehilangannya!” Untuk pertama kalinya meida jujur mengenai perasaannya. Bi ina dan Jonathan yang berada di belakang mereka pun terkekeh, mendengar meida mengakui perasaannya sendiri.
“Iya Mommy tahu kamu mencintainya! Berdo'alah semoga dia baik-baik saja, dan segera menemui Tuan Putri nya disini!” Kekeh Helena sambil mengusap pelan air mata putrinya.
[Ko, cepatlah kesini! Singa betina mu sedang menangis merindukan mu. Dia benar-benar mencintai mu! Bukankah kata-kata itu yang ingin koko dengar dari dulu? Koko benar-benar sukses meluluhkan wanita batu ini. Kami menunggu mu kembali!] Tulis Jonathan mengirim pesan itu disertai rekaman video meida lalu di kirim ke nomor kontak Melvin.
Semoga koko cepat membuka pesan ini!
“Aduhh Dad ... anak kita benar-benar sedang jatuh cinta! Anak kita sudah dewasa! Anak kita mencintai anak rekan bisnis mu. Sebentar lagi kita punya menantu hahaha.” Ledek Zaina sambil tertawa. Meida semakin menyusupkan wajahnya keperut Mommy-nya, karena malu.
“Mommy udah kasian jangan di ledekin cici-nya! Nanti nangis kejer, orang gak ada pawangnya juga.” Timpal Jonathan sambil membuka tirai itu dengan cengengesan. Bi Ina ikut tersenyum melihat tingkah jahil jonathan.
“Sejak kapan kamu disitu Jo?” Tanya heran Zaina melihat aneh kearah anaknya yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
“Orang dari tadi Jo sama Bu Ina disini. Mommy sama cici curhatnya serius sih, sampai gak lihat kita disini.” Kekeh Jonathan mengedipkan sebelah matanya kearah cicinya yang sedang mengerucutkan bibirnya. Meida bangun dari tidurnya lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang terlihat memerah.
-
__ADS_1
“Mih ayo makan! Jangan kayak gini. Nanti koko sedih melihat keadaan Mommy seperti ini.” Melisa mencoba membujuk mamihnya untuk makan. Sudah 5 hari ini Mommy-nya hanya mengurung diri di kamar, memikirkan nasib anaknya yang entah ada dimana.
“Mamih memikirkan koko mu Nak. Apa dia baik-baik saja disana? Apa dia sudah makan? Apa lukanya ada yang mengobati? Apa ada orang yang menolongnya?” Tutur Helena dengan suara bergetar. Ia tak bisa membendung kesedihan nya ketika mengingat putra sulungnya yang keberadaannya entah dimana. Melisa memeluk Mommy-nya, ia pun merasakan apa yang Mommy-nya rasakan. Tapi ia berusaha tegar, agar Mommy-nya tak mengetahui kesedihannya.
“Koko pasti baik-baik saja disana. Koko orang baik, pasti ada orang baik pula yang menolongnya! Kita disini harus sabar menunggunya! Koko pasti kembali! Ia tak mungkin mengingkari janjinya. Kita harus percaya pada koko mih!” Helena menangis dipelukan anaknya. Melisa pun tak urung mengusap air matanya dan kembali berusaha terlihat tegar.
“Mamih makan yah! Kita harus kuat demi koko!” Bujuk Melisa sambil melerai pelukannya. Ia mengambil makanan yang berada di nakas lalu menyuapi helena.
“Apa kamu sudah menyampaikan surat itu pada Meida Nak?” Tanya Helena di tengah suapannya. Ia mengingat amanah dari anaknya yang harus disampaikan pada kekasihnya. Melisa menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu.
“Belum mih! Papih belum mengizinkan kita keluar, dia masih menyita semua akses kita. Di depan, wartawan masih mengelilingi rumah kita. Apalagi pemberitaannya kini bertambah, dengan terbakarnya kapal Yacht milik perusahaan papih. Yang diklaim membawa barang impor dari Singapura secara ilegal. Jadi untuk beberapa hari ini, kita harus stay disini.” Jawab Melisa dengan menyuapkan kembali makanan ke mulut Mamihnya. Helena mengerutkan keningnya dan berpikir, tak mungkin kapal suaminya terbakar, jika memang tak disengaja.
“Papih mu sepertinya sengaja membakar kapal Yacht nya! Dan berita itu pasti hoaxs! Proses Impor dan Ekspor Perusahaan Papihmu semuanya sudah legal dari dulu. ” Melisa menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan mamihnya.
“Iya Mih. Berita itu di buat, untuk mengalihkan berita tentang ko Melvin. Sepertinya Papih masih menyayangi koko, namun ia menutupi dengan pura-pura membencinya. Agar hubungan keluarga besar kita tak merenggang.” Timpal Melisa dengan wajah lesu.
“Tadi Lisa di Rooftop, melihat Jonathan dan sepupunya diam di dekat pohon di halaman belakang mengamati rumah kita. Sepertinya mereka bertanya-tanya dengan kepergian koko. Apalagi Jonathan sangat dekat dengan ko Melvin.” Lirih pelan Melisa mengingat wajah Jonathan yang dilihatnya tadi. Ia hanya bisa melihat tanpa bisa menghampiri.
“Mereka pasti bertanya-tanya tentang keadaan dan keberadaan koko-mu. Apalagi sampai sekarang kontaknya tak bisa dihubungi.”
-
“Bos, target sedang berada di Rumah Sakit! Gilbert ternyata masih hidup! Dia sudah sadar! Dia dan keluarganya berada di lant” ucap pelan seorang lelaki yang menyamar menjadi seorang pasien dengan mengenakan piyama khusus rumah sakit, melapor kepada bosnya melalui sambungan telpon.
“Tetap awasi! Jangan lengah! Tetap kordinasi!”
“Baik Bos!” Lelaki ini menyimpan ponsel ke saku celananya sambil menatap ke lantai 4 dengan wajah dinginnya.
-
☕☕☕☕☕☕
Jangan lupa, like, komen, vote, rate sareng hadiahnya 😘😘
Hatur nuhun😘🤗
__ADS_1
Happy Thursday
Jangan lupa Yasin sama Al-Kahfi nya😘😘😘🤗♥️