Kita Berbeda

Kita Berbeda
Di Bumi dan Langit yang sama


__ADS_3

Pagi ini, kondisi Melvin sudah jauh membaik. Lebam di wajahnya sudah menghilang, retak di lututnya sudah sembuh. Ia sudah bisa beraktivitas kembali sedari malam.


Seperti biasa, setiap pagi Dokter Aisyah mengontrol kesehatan Melvin. Ia di buat tak percaya dengan kesehatan Melvin yang cepat pulih melenceng dari perkiraannya.


“Assalamu’alaikum Mas.” Sapa Dokter Aisyah kepada Melvin yang sedang meregangkan ototnya. Melvin langsung mengalihkan pandangannya kearah dokter Aisyah yang berjalan kearahnya yang di temani  oleh Umi Fatimah.


“Waalaikumsalam Mbak.” Jawab Melvin dengan kikuk. Ia tak mengetahui siapa yang berdiri di depannya, ia memandang kearah Umi Fatimah sambil mengangkat bahunya. Memberitahunya, ia tak mengenali wanita tersebut. Memahami ketidaktahuan melvin, umi Fatimah pun memperkenalkan Dokter Aisyah yang sedang menundukkan wajahnya dengan wajah memerahnya.


Maa Shaa Allah ... lelaki ini tampan sekali. Dia seperti seseorang yang sering kulihat di televisi, tapi itu tak mungkin ..


Aisyah, hapus pikiran kotormu! Dia hanya pasien mu! Gerutu Dokter Aisyah sambil memejamkan matanya. Karena wajah Melvin kini terbayang di pelupuk matanya.


“Faris, kenalkan Nak. Ini Dokter Aisyah, Dokter yang mengobatimu selama ini. Dia juga membantu Umi dan Buya ketika merawatmu. Dokter Aisyah dengan telaten mengontrol kondisi mu setiap pagi kesini.” Terang Umi Fatimah kearah Dokter Aisyah yang sedang curi-curi pandang kearah Melvin. Melvin pun menganggukkan kepalanya kearah dokter Aisyah dengan senyum tulusnya.


“Terima kasih Dok, untuk bantuan Dokter selama ini. Terima kasih sudah mengobati saya.” Dokter Aisyah menganggukkan kepalanya dengan semburat merahnya.


“Itu sudah menjadi tugas saya untuk membantu mas.” Jawab Dokter Aisyah dengan senyum malu-malunya. Keadaan pun kembali hening, ketika melvin memilih diam sambil melihat kearah luar melalui jendela kamarnya.


Melihat kecanggungan diantara Melvin dan Dokter Aisyah, umi Fatimah pun kembali mencairkan suasana.


“Faris, Dokter Aisyah ingin mengecek kondisi mu Nak. Apa kamu tidak keberatan?” Melvin pun menggelengkan kepalanya lemah. Ia merasa bingung dengan Dokter Aisyah yang sedari tadi menundukkan kepalanya sambil tersenyum-senyum kearahnya.


“Silahkan Nak!” Umi Fatimah mengelus pelan lengan Dokter Aisyah yang masih diam dengan wajahnya yang kini terlihat gugup.


“Oh iya. Baik umi.” Dokter Aisyah berjalan kearah Melvin yang sedang duduk di bibir ranjang. Ia mengeluarkan peralatan medisnya untuk memeriksanya.


“Maaf yah mas. Saya periksa dulu!” Melvin menganggukkan kepalanya samar tanpa merespon ucapannya. Lalu ia membaringkan tubuhnya, agar Dokter Aisyah lebih mudah memeriksanya.


-


Rutinitas Melvin kini berubah. Setelah shalat Dzuhur berjamaah, ia tidak langsung pulang melainkan belajar membaca Al-Qur’an di bimbing langsung oleh Buya Hanafi. Satu persatu huruf Hijaiyah ia hafal, hanya dalam waktu 30 menit ia sudah berhasil menghafalnya. Tak lupa Buya mengajarkan Melvin beberapa bacaan shalat dan beberapa bacaan do'a pendek. Ia belajar dengan penuh tekad dan semangat, hingga waktu Ashar pun tak terasa akan tiba.


“Sebentar lagi waktu shalat Ashar Nak. Kita shalat dulu! Setelah itu baru lanjut belajar dengan para santri. Setelah itu kamu pulang, makan dulu. Semangat belajar boleh, tapi ingat ... jangan sampai melewatkan makan. Apalagi kamu baru pulih Nak.” Kekeh Buya Hanafi sambil mengusap kepala Melvin yang sedang tertunduk. Melvin pun tersenyum sambil melipat Iqra nya.


“Iya Buya. Tapi niat saya selama tiga hari ini, saya harus sudah bisa membaca Al-Qur’an. Agar saya mudah menghafal bacaannya. Karena seperti yang Buya katakan, lambat laun, saya pasti akan menjadi seorang imam, seorang pemimpin keluarga. Saya akan membawa nahkoda berisikan anak dan istri saya, dan hidup mereka akan tergantung pada saya sebagai pembawa nahkodanya. Jadi mulai sekarang, saya ingin belajar menjadi seorang imam dan kepala keluarga yang baik. Yang bisa membawa anak dan istrinya ke Jannah-Nya kelak.” Tutur Melvin dengan lugasnya. Ia sudah memantapkan hatinya untuk belajar lebih dalam mengenai Islam, dan tinggal lebih lama di kampung tersebut, sampai Allah mengizinkannya untuk pulang. Keinginan nya sudah bulat dan tak bisa di tawar-tawar, ia ingin menjadi imam yang baik untuk Meida dan anaknya kelak.


“Maa Shaa Allah ... semoga Allah mengabulkan niatmu Nak. Buya tahu kamu orang yang gigih! Karena orang keturunan Tionghoa yang Buya kenal itu pada ulet dan rajin, dan salah satunya Buya lihat dari kamu. Semoga Allah mempermudah segala keinginanmu, tiada yang tidak mungkin bagi-Nya. Banyak-banyak berdo'a saja yah.” Buya Hanafi menghentikan obrolannya ketika melihat para santri sudah berdatangan ke masjid. Buya mengusap kembali kepala melvin dengan do'a lalu berjalan ke depan menuju mimbar.


“Assalamualaikum bang. Akhirnya kami bisa melihat abang kembali. Kondisi abang sudah sehat?” Seorang pemuda menepuk lengan Melvin dan duduk di sampingnya, dan seorang lagi hanya tersenyum dan langsung duduk. Melvin menatap kearah kedua pemuda itu sambil mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


“Apa kalian Ilham dan Hanif?” Tanya Melvin menatap pemuda itu bergantian. Mereka pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Benar bang. Saya Ilham dan ini teman saya Hanif.” Jawab Ilham sambil menyodorkan tangannya kearah Melvin untuk berkenalan. Melvin pun menerimanya, ia kaget karena Ilham malah mencium tangannya, sebagai bukti hormat kepada orang yang usianya lebih tua darinya. Menerima perlakuan itu, ia teringat dengan sosok Jonathan. Sosok calon adik iparnya yang selalu mencium tangannya jika akan berpergian maupun jika mereka bertemu.


Jo, sedang apa kau disana? Tolong jaga cici mu untuk koko? Hibur dia, jangan biarkan dia bersedih. Koko pasti pulang! Koko hanya menunggu keajaiban yang Allah berikan pada hidup koko. Baik-baik disana! Koko mencintai kalian. Gumam Melvin dalam hati. Ilham melepaskan tangannya karena melvin malah melamun.


“Bang kenapa?” Tanya Ilham yang menepuk tangan Melvin. Melvin pun sadar dari lamunannya dan ia pun tersenyum kikuk kearah kedua pemuda yang ada di sampingnya.


“Saya tidak papa. Oh iya, perkenalkan saya Faris. Kalian panggil saya Faris saja.”


Mereka pun mengobrol dan berhenti ketika suara Adzan akan berkumandang.


-


Malam itu suasana di ruang makan keluarga Buya cukup hangat karena kehadiran Melvin. Mereka malam dengan lesehan yang di alasi tikar. Di rumah Buya tak memiliki meja makan, dan hampir seluruh rumah di kampung itu tak memilikinya. Karena rata-rata mereka makan dengan lesehan, mengikuti Sunnah Nabi.


“Nak di makan rendang nya. Ini Dokter Aisyah loh yang masak,” Umi Fatimah menyodorkan rendang sapi yang masih berada dalam rantang kearah Melvin. Melvin mengambil rantang itu dan di simpan di dekat Buya Hanafi.


“Ini sudah cukup Umi. Mohon maaf, Faris kurang menyukai rendang.” Kilah Melvin dengan wajah tak enaknya. Padahal dia sering makan rendang buatan Meida ataupun Bu Ina. Tapi sekarang, jika ia melihat rendang, ia semakin mengingat calon istrinya yang jauh disana.


“Oh yaudah Nak, gak papa. Makan yang banyak! Agar segera pulih!” Sahut Buya Hanafi sambil membersihkan tangannya di air kobokan yang sudah disediakan oleh Umi Fatimah di dalam baskom kecil.


“Iya Buya.”


Melisa, Mamih ... kenapa nomor kalian tidak bisa di hubungi? Apa papih masih menyita ponsel kalian? Apa keadaan kalian disana baik-baik saja? Gumam pelan Melvin. Tadi ia meminjam ponsel milik Buya Hanafi untuk menghubungi orang tercintanya. Namun hanya suara operator yang menjawabnya. Ke dua nomor orang yang dicintainya tak bisa di hubungi. Dan dia hanya mengingat 3 nomor telepon yang sudah berada di luar kepalanya, yaitu nomor Mamihnya, Melisa, dan Meida. Selain itu, ia tak ingat.


Dan kau Meida, kenapa tak menerima panggilan telepon saya? Kenapa nomor mu susah di hubungi? Padahal saya sangat merindukan suaramu? Apa surat saya sudah sampai di tanganmu? Seharusnya jika surat itu sudah sampai, kau seharusnya menjawab panggilan telepon saya. Lirih Melvin sambil membuka jendela kamarnya yang menghadap ke halaman rumah yang sampingnya terdapat pondok putra.


Meida, malam ini saya benar-benar merindukanmu. Entah berapa purnama yang akan saya lewati tanpa mu. Jujur, saya ingin pulang! Tapi pulang dengan apa? Saya tak memiliki apapun disini, hidup hanya menumpang di rumah orang lain. Dan kau tahu? Wajahmu menguatkan saya untuk tetap tinggal disini, melewati hari yang berat ini tanpa kehadiran mu. Meida, saya tak ingin menyia-nyiakan pengasingan ini. Allah punya rencana baik untuk saya, untuk memperdalami agama-Nya lewat pengasingan ini. Saya tak akan menyia-nyiakannya meida. Kau pasti tahu keinginan saya dari dulu, saya ingin menjadi imam terbaik untukmu. Ingin menjadi suami yang kamu harapkan dan kamu idam-idamkan. Dan saya ingin ketika saya pulang nanti, kamu bangga pada saya Meida. Lirih Melvin memandang kearah bintang. Ia membayangkan bintang itu adalah meida pujaan hatinya.


Meida, kau tahu? Saya terdampar di sebuah perkampungan yang tak saya bayangkan sebelumnya. Saya merasa hidup di zaman dulu. Hidup disini, mengajarkan saya arti kehidupan yang sebenarnya. Kau tahu? Disini rumah penduduk sangatlah sederhana, jauh sekali dengan kehidupan kita di kota. Dan yang membuat saya tercengang, mereka disini jarang ada yang memiliki ponsel, jika pun ada hanya ponsel keluaran lama yang hanya bisa menelpon dan mengirim pesan saja. Dan inilah alasan, jika nanti saya sulit mengabarimu. Dan ucapan itu benar meida, saya hanya bisa menyapamu dalam do'a.


Meida, kehidupan disini benar-benar tertinggal. Tapi masyarakat disini baik-baik, mereka ramah dan bersahaja, mereka menerima saya walaupun dengan tidak sepenuhnya. Curhat Melvin sambil tersenyum kearah bintang.


Dan kau tahu? Saya sekarang tinggal di rumah Buya Pemilik Pesantren yang ada di kampung ini. Mereka sangat baik Meida, saya akan memperkenalkan mu suatu saat nanti pada mereka, saya janji akan membawamu kesini nanti.


Malam ini, saya akan memelukmu dengan do'a, karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Selalu ingat dengan ucapan saya, saya mencintaimu lebih dari apapun. Semoga kamu dan saya tetap bertahan dan bersabar menerima ujian ini. Karena Demi Allah, saya tidak akan mengingkari janji saya meida. Tunggu, tunggu dan tunggu saya! Saya janji akan langsung menikahimu jika kita bertemu nanti, saya akan langsung memboyongmu ke istana kita, dan mewujudkan impian kita bersama-sama, membangun sebuah keluarga harmonis dan bahagia. Ucap pelan Melvin sambil mengusap sudut matanya.


Sekarang saya tidak takut lagi Meidaa ... Karena kamu dan saya masih di bumi dan langit yang sama.

__ADS_1


-


Mobil Pajero warna hitam itu terus melaju, melewati beberapa desa, beberapa bukit dan pegunungan, hingga sebuah hutan yang mereka lewati menuju markas penculikan Jonathan dan Biru. Butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke tujuan mereka, ke tempat yang tak pernah Andress, Johan, Jack dan Meida datangi. Mereka hanya mengikuti arah yang GPS tunjukkan.


“Om, Meida, kita sudah sampai!” ucap Jack sambil menepikan mobilnya di depan gerbang tinggi yang di baliknya terdapat rumah tua Grace. Tak banyak kata, ke empat orang itu bergegas keluar dari dalam mobil. Andress mengangkat tubuh pamannya lalu di pindahkan ke atas kursi roda yang sudah Jack sediakan.


“Kalian yakin ini tempatnya?” Tanya Johan. Kedua manik hitamnya menatap nyalang kearah rumah tua bergaya Eropa yang hanya terlihat atapnya saja.


“Tentu saja Paman. Saya sudah melacaknya dengan teliti!” Sahut Andress yang menatap punggung Johan yang nampak tegang.


Meida menatap bangunan itu dengan ngeri, ia menepis segala ketakutan dengan mengingat Asma-Nya. Wajahnya nampak tegang di balik Jilbab instan yang menutupi kepalanya. Meida memasang upluk sweater birunya dengan membaca Basmallah.


“Meida, kamu gak papa, Kan?” Tanya Jack sambil menepuk pelan bahu sepupunya yang nampak tegang menatap gerbang besar itu. Meida menolehkan kepalanya kearah Jack dengan senyum kakunya.


“Saya gak papa Jack. Saatnya kita mengakhiri semua permasalahan ini! Saya ingin hidup tenang dan damai, tanpa bayang-bayang kejahatan lagi! Saya ingin hidup normal seperti yang lainnya Jack!” Tutur pelan Meida sambil berjalan kearah pamannya. Lalu memegang kursi roda digunakan Johan.


“Ko, Jack. Saya dan Paman akan masuk ke dalam. Kalian tunggu disini!” Andress memeluk adiknya dan om-nya bergantian. Walaupun berat melepas keduanya, tapi itu sudah ada dalam perjanjian mereka.


“Hati-hati! Kalian harus kembali!” Parau Jack sambil memeluk Meida dan Johan. Ia menyodorkan sebuah berkas kepangkuan Johan yang barusan diambil dari mobilnya. Meida dan Johan hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mereka pun tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka kedepannya. Yang mereka lakukan hanya berdoa agar semua berjalan dengan baik-baik saja, dan berhasil membawa Jonathan dan Biru kembali.


Tanpa berucap sepatah dua patah pun lagi, Meida dan Johan meninggalkan Andress dan Jack yang masih mematung di tempat menatap kepergiannya.


“Ingat! Kurang dari 30 menit kalian tidak keluar dari sana, kami akan tetap masuk!” Teriak Jack yang tak direspon sama sekali oleh keduanya.


 -


Daggg


Diggg


Dugg


Serrrrr


☕☕☕☕☕☕☕☕😘😘😘♥️♥️♥️


Detik-detik menuju tamat wkwkwk.


Jangan lupa, like, komen, vote, rate, sama hadiahnya ♥️♥️♥️

__ADS_1


Jangan pelit-pelit jempolnya 🤭


Hatur nuhun 🤗


__ADS_2