Kita Berbeda

Kita Berbeda
Isi Ponsel


__ADS_3

Johan memperketat penjagaan rumahnya. Beberapa bodyguard sudah standby menjaga sekeliling rumah besarnya. Ia dengan beberapa anak buahnya di bantu oleh Zyan sedang berusaha melacak keberadaan 4 nomor yang baru saja menerornya. Niatnya ia akan melapor pada polisi mengenai penculikan anaknya, tapi kehilangan Biru belum ada 1x24 jam. Sehingga polisi belum memproses laporannya.


“Louis, sepertinya mereka mempermainkan kita! Nomor yang mereka pakai berada di beberapa kota. Lihatlah! Nomor pertama terlacak berada di Jakarta, yang kedua berada di Semarang, yang ketiga berada di Surabaya, dan nomor yang barusan menghubungi mu berada di Bali. Ini mustahilkan jika Biru dan keponakan mu berada disana?” Zyan memijit kepalanya pelan. Lalu menolehkan kepalanya kearah Johan


“Apa kau sudah mendapat kabar dari putri Gilbert mengenai penculikan ini?” Tanya Zyan sambil menggigit punggung tangannya dengan mata fokus menatap layar laptopnya.


Zyan sejak kemarin sore berada di rumah Dian dan Johan, untuk membantu sepupu perempuannya mencari keponakannya yang hilang. Yang keberadaannya sampai sekarang belum ditemukan.


“Belum. Sebentar! Saya hubungi Jaslin dulu!” Johan melepas pelan kepala istrinya yang sedang menangis di bahunya lalu ia menyandarkannya ke sofa. Ia memajukan kursi rodanya menuju meja yang ada didepannya lalu menyalakan ponselnya untuk menghubungi nomor Meida.


“Hallo Jaslin! Apa sudah ada kabar mengenai Jonathan?” Tanya Johan setelah berhasil menghubungi nomor keponakannya.


“Belum Paman. Tapi Meida sudah menemukan seseorang. Paman kesini! Kita interogasi bersama-sama!” Jawab serak Meida yang baru bangun dari tidur singkatnya selama 2 jam. Johan mengerutkan keningnya menatap kearah Zyan dan Dian yang sama-sama sedang melihat kearahnya.


“Maksud mu Nak?” Tanya bingung Johan. Dian dan Zyan pun berjalan mendekat kearahnya untuk mendengar pembicaraan mereka.


“Meida, Jack, dan Ko Andress berhasil menangkap orang suruhan yang menculik Jonathan dan Biru. Jika paman tak keberatan, datanglah kesini! Kita cari petunjuk bersama! Semoga lelaki ini bisa memberi petunjuk pada kita!” Johan membelalakkan matanya dengan rasa penuh syukur. Perasaannya seperti sedang dahaga dan menemukan air di tengah padang pasir.


“Ok ok Nak. Kirim alamatnya! Nanti paman datang kesana!” Kata Johan cepat dengan wajah sumringahnya. Zyan dan Dian pun saling pandang dengan tersenyum.


“Baik Paman. Datang saja ke rumah Daddy dan Mommy. Kami tunggu Paman disini!” Johan pun menutup telponnya lalu bersiap-siap pergi menuju rumah orang yang sangat dibencinya. Untuk sekarang ia tak bisa mengedepankan egonya, karena keselamatan anak dan keponakannya adalah yang paling utama.


-


Di rumah sakit.


Gilbert baru saja bangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mencari keberadaan Putra-putri nya yang dari kemarin belum dilihatnya,


“Mom. Jonathan dan Jaslin mana? Dari kemarin Daddy belum melihatnya.” Zaina menghampiri suaminya lalu mengelus wajahnya dengan tersenyum. Sementara Bi Ina masih berdzikir di ruang sebelahnya karena suasana memang masih pagi.


“Mereka pulang dulu Dad. Mungkin istirahat di apartemennya. Dari 6 hari yang lalu, mereka jagain kamu terus disini. Bisa jadi mereka kecapean, dan ketiduran di rumah.” Gilbert tersenyum mendengar jawaban istrinya. Berarti selama ia tak sadarkan diri, anak-anaknya dengan setia menemaninya. Tiba-tiba senyum di bibirnya menghilang berganti dengan rasa gelisah yang tiba-tiba menghampirinya.


“Syukur deh jika mereka di apartemennya. Tapi, perasaan Daddy tiba-tiba gak enak Mom.” Zaina mengerutkan dahinya memandang suaminya dengan raut wajah bingung.


“Gak enak kenapa? Mungkin perasaan Daddy saja. Karena tadi malam Andress menghubungi Mommy. Memberitahu kalau Jaslin dan Jonathan sudah sampai di apartemennya diantar oleh Jack.” Gilbert menarik napasnya pelan. Bi ina yang baru saja keluar dari ruangannya berjalan kearah pasangan suami istri itu dengan tersenyum, lalu berdiri di samping Zaina.


“Jangan terlalu banyak pikiran Pak. Jonathan dan Meida pasti baik-baik saja.” Tutur lembut Bi Ina sambil mengelus lembut lengan Zaina. Gilbert tersenyum kearah Bi Ina dengan sorot mata sendu. Ia sangat segan terhadap Bi Ina, karena terlalu banyak jasa Bi Ina pada anak dan keluarganya.


“Iya Bu, semoga saja. Terima kasih sudah menemani istri saya untuk menjaga saya.” Zaina tersenyum kearah suaminya. Lalu memeluk bahu Bi Ina sebagai ungkapan terima kasihnya.


“Itu bukan hal yang besar Pak. Jangan sungkan!” Seru Bi Ina dengan senyum tulusnya kearah pasangan suami istri itu. Lalu ia menepuk lembut tangan Zaina yang melingkar dibahunya.

__ADS_1


“Saya tak enak sering merepotkan Ibu. Terima kasih telah menjaga kedua anak saya dengan baik dan tulus. Terima kasih telah mendekatkan kami, terima kasih telah membujuk mereka untuk memaafkan kami. Terima kasih atas segala bantuan dan kebaikan ibu selama ini. Saya tak mampu membalasnya satu persatu, hati ibu sangat mulia. Wajar saja jika anak saya sangat menyayangi Ibu,” ucap pelan Gilbert dengan mata berkaca-kaca. Bi Ina tersenyum simpul kearah Gilbert lalu mengelus lengannya yang terhalang oleh piyama tidurnya.


“Sama-sama Pak. Saya hanya ingin anak-anak yang saya sayangi menemukan kebahagiaannya. Hidup mereka akan sia-sia jika terus menyimpan dendam dan luka. Saya hanya menasehati mereka, karena sejatinya mereka menyayangi orang tuanya namun masih tertutup dengan ego-nya.” Terang Bi Ina memandang kearah pasangan itu dengan bergantian.


“Tapi sekarang saya bahagia, akhirnya usaha saya datang kesini tidak sia-sia. Saya sudah menunaikan amanah Almarhum kakak saya, untuk membantu Meida menemukan keluarganya. Dan Alhamdulillah sekarang kalian dipertemukan. Saya sangat berterima kasih, karena Allah telah membukakan dan melunakkan hati mereka untuk menerima kalian.” Zaina dan Gilbert mengangguk-anggukkan kepalanya dengan haru. Setetes demi setetes air mata jatuh di wajah mereka.


“Entahlah kami harus membalas kebaikan Ibu dengan apa? Rasanya kami malu! Apalagi ketika mengingat perbuatan kami yang dulu!” Lirih Zaina sambil menggenggam tangan Bi Ina dan menciumnya. Sebagai bentuk rasa hormatnya pada semua jasanya. Bi Ina mengelus pelan kepala zaina yang masih mencium tangannya.


“Saya tak meminta balasan. Saya ikhlas! Saya hanya ingin kalian menyayangi mereka. Jangan pernah mengulang lagi kesalahan yang terjadi di masa lalu. Karena sekarang waktunya mereka hidup bahagia, hidup dengan limpahan kasih sayang yang berhak mereka dapatkan dari dulu.” Tutur lembut Bi Ina sambil melepaskan tangannya lalu memegang kedua bahu Zaina untuk menatapnya.


“Karena saya hanya ingin balasan itu! Saya ingin mereka bahagia!” Zaina menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk Bi Ina. Gilbert yang berada di samping mereka hanya mampu menangis, merasakan kebaikan tulus Bi Ina pada keluarganya. Ia berusaha bangun dari posisi terbaringnya kemudian memegang lengannya.


“Bu, Apa Ibu tidak keberatan jika kami meminta Ibu untuk tinggal bersama kami? Bersama keluarga besar kami? Jadi keluarga kami. Saya ingin, kita bersama-sama melihat Jonathan dan Meida bahagia.” Bi Ina melepas lembut pelukan Zaina lalu tersenyum kearah Gilbert.


“Entahlah. Rasanya tidak mungkin Pak. Saya punya rumah di kampung, saya tak bisa meninggalkannya begitu saja. Karena saya sudah berjanji dengan diri saya sendiri, jika Meida sudah menemukan orang tuanya dan hidup bahagia, saya akan kembali pulang ke kampung! Ke halaman rumah saya! Ke tempat dimana Suami dan Anak saya pernah tinggal! Saya tak mungkin meninggalkan mereka jauh-jauh.” Gilbert merasa kecewa dengan jawaban Bi Ina. Ia menatap wajahnya dengan memohon.


“Apa Ibu tidak bisa mempertimbangkan permintaan kami?” Tanya Zaina dengan wajah mengiba.


“Mohon maaf tidak bisa. Karena saya sudah berjanji dengan diri saya sendiri, tak mungkin saya mengingkarinya. Saya akan pergi, jika hidup Meida sudah benar-benar bahagia. Agar saya bisa melanjutkan hidup saya dengan tenang setelah melepasnya.” Jawab Bi Ina sambil menepuk lembut bahu Zaina


“Apa Ibu sudah bilang pada Jaslin bahwa ibu akan pergi?” Tanya Gilbert kembali.


“Baik Bu. Mungkin kami nanti akan sering kesana!” Timpal Zaina sambil mengambil tisu dan menghapus air matanya.


“Saya tunggu kedatangan kalian nanti!” Kekeh Bi Ina sambil menghapus sudut matanya. Ia senang, karena Zaina dan Gilbert benar-benar sudah berubah.


“Bu, boleh saya tanya sesuatu?” Tanya Gilbert. Bi ina menatap bingung kearahnya tak lama kemudian menganggukan kepalanya.


“Apa Melvin dan Meida sudah dekat dari dulu?” Bi Ina berpikir terlebih dahulu dan baru menjawabnya.


“Entahlah saya kurang tahu. Yang pasti Melvin dan Jonathan yang datang ke kampung mengantar Meida pulang. Dan selama saya tinggal di kota ini, Melvinlah yang membantu kehidupan Meida dan Jonathan. Untuk ketulusannya jangan diragukan lagi. Dia benar-benar lelaki tepat untuk Meida, karena selama ini dialah yang menjaga Meida dan Jonathan.” Jawab Bi Ina dengan tersenyum mengingat segala kebaikan Melvin. Rasa kangen tiba-tiba menyelusup dihatinya ketika mengingat wajah Melvin yang sudah beberapa hari ini tak dilihatnya.


“Pantas saja anak saya sangat mencintainya. Berarti saya tak salah pilih menantu.” Kekeh Gilbert sambil memandang istrinya.


“Tidak pak. Melvin, suami yang tepat untuk Meida. Karena saya dapat melihat ketulusan cintanya yang begitu besar pada Putri Bapak.”


-


Setelah sampai di kediaman Gilbert. Johan dengan di dorong kencang oleh Zyan  berjalan menuju  ruangan yang diberitahu meida. Walaupun ia jarang menginjakkan kaki di rumah itu, tapi ia masih ingat dimana tata letaknya, karena kondisi rumah itu tak mengalami perubahan setelah kepergiannya dulu.


Kamar Grace yang berada di ruang terpisah sudah digeledah oleh anak buah Andress. Sedikit demi sedikit mereka mulai menemukan bukti, bahwa grace adalah dalang di balik semua ini. Ditemukan 1 botol racun yang masih tersegel rapi di meja riasnya. Dan beberapa foto Johan dan Meida yang sudah diberi tanda silang dengan spidol warna merah.

__ADS_1


Johan, Zyan, dan anak buahnya masuk ke dalam ruang terbuka di lantai 3 yang sudah di tunggu oleh Meida, Jack, Andress dan anak buahnya. Di depannya terdapat 4 orang yang diikat menjadi 1, dan satu orang yang masih terkapar tak sadarkan diri yang diletakkan ditengah-tengah mereka.


“Akhirnya Paman datang juga! Apa paman mengenali salah satu wajah diantara mereka?” Tanya Meida mengambil alih kursi roda johan dan mendorongnya agar lebih dekat dengan kelima orang yang tak sadarkan diri itu.


Johan mengamati wajah mereka satu persatu. Lalu ia menatap dalam kearah Jonas dengan membelalakan matanya.


“Ya Tuhan Jonas! Paman kenal dengan lelaki ini! Dia tetangga paman! Rumah kami berhadapan tapi terhalang oleh jalan raya. Jadi selama ini dia yang memata-matai paman hingga Grace mengetahui seluk-beluk keberadaan keluarga paman! Padahal paman tak pernah mempublishnya.” Terang Johan dengan wajah tak percaya. Ternyata musuhnya selama ini adalah tetangganya sendiri.


“Betul paman. Lelaki ini adalah suruhan wanita tua itu. Dia yang menculik Jonathan dan Biru. Kita harus apakan lelaki ini?” Sahut Andress sambil berjalan kearah pamannya. Lalu ia menatap tajam kearah lelaki yang tak sadarkan diri itu dengan memasukkan tangannya ke dalam celana.


“Apa dia tak meninggalkan petunjuk sama sekali Nak?” Tanya lembut Johan kearah keponakannya.


Dari dulu dia tak membenci keponakannya, yang dia benci hanyalah kelakuan Gilbert dan Grace. Jika Andress menilai buruk Pamannya, itu tak lain adalah ulah oma-nya. Dirinya berhasil di toxic oleh perkataan Grace untuk membencinya.


“Kami hanya menemukan ponselnya. Tapi menggunakan password. Team IT saya sedang berusaha membobolnya Paman.” Jawab Andress lalu berjalan kearah tiga orang anak buahnya yang sedang fokus menatap laptop.


“Apa kalian berhasil membobol passwordnya?” Ketiga lelaki yang memakai pakaian serba hitam itu menganggukkan kepalanya.


“Sudah Tuan Muda! Silahkan Tuan lihat!” Satu orang diantara mereka menyondorkan ponsel kearah Andress yang langsung di terimanya. Andress langsung menyambungkan ponsel itu kelaptopnya lalu ke LCD Proyektor nya, dan mematikan penerangan di ruang itu. Hingga isi ponsel Jonas terpampang jelas di dinding putih ruang itu.


Mereka yang berada di ruang itu langsung menatap kearah dinding. Hal yang pertama Andress lakukan adalah membuka pesan jonas, ia tercengang ketika melihat nama pertama yang terpampang di pesan itu adalah kontak yang bernama 'Tante Grace'. Johan menelan salivanya kasar dengan mata melotot.


Apa hubungan sebenarnya Grace dengan Lelaki ini? Apa jangan-jangan mereka masih ada keterikatan darah? Batin Johan sambil menatap tajam kearah dinding ketika Andress membuka isi pesan itu.


Siapakah lelaki ini? Apa benar mereka bersaudara? Apa ini alasan Oma tak pernah mengenalkan saudaranya. Apa ini alasannya? Gumam pelan Andress sambil mengscroll isi pesan itu dari paling atas. Nampak isi pesan itu memperlihatkan keluarga johan, dari mulai ia berangkat kerja, putrinya bermain, putranya berangkat sekolah, sampai kegiatan istrinya sedang berbelanja.


Jadi benar dia yang memata-matai saya selama ini. Tuhan, apa salah saya hingga mendapat tetangga munafik seperti ini.


Mereka fokus membaca isi perbincangan di layar ini sampai semua terkejut ketika mereka membaca isi pesan yang grace kirimkan.


Jonas, Jaslin anak Gilbert masih hidup! Dia benar-benar masih hidup! Ini akan menambah ancaman saya selain Johan! Apa kita harus membunuhnya?


-


☕☕☕☕☕☕☕☕☕🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘


Jika suka dengan Novel amatiran ini,


Jangan lupa, like, komen, vote, rate, sama hadiahnya 🤗


Hatur nuhun😘♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2