
Melvin mengusap-usap kepala meida yang masih menangis sesenggukan di bahunya. Sebelum Mommy-nya pergi, ia meminta Meida dan Jonathan untuk pulang ke rumahnya, menjenguk Gilbert yang kondisinya semakin memburuk.
“Saya harus apa? Saya bingung!” Lirih Meida sambil memijit kepalanya. Terlalu banyak menangis membuat kepalanya pusing. Melvin mengambil alih tangan meida, dan memijit kepalanya pelan.
“Kamu mau dengar saran dari saya gak?” Meida menolehkan kepalanya kearah Melvin yang menatapnya dengan tatapan menenangkan. Meida menganggukkan kepalanya, ia yakin melvin bisa memberinya solusi yang baik dalam permasalahan yang dihadapinya.
“Ayoo ikut saya ke balkon atas! Kamu butuh udara, agar bisa berpikir jernih!” Melvin menggandeng tangan meida ke lantai dua, melewati kamarnya menuju sebuah balkon yang nampak hening. Ia mengajak meida berdiri di depan pagar besi yang dikeliling oleh gedung-gedung tinggi.
“Tutup mata mu! Tarik nafas ... tahan ... lalu keluarkan!” Meida mengikuti arahan Melvin yang sedang berdiri di sampingnya. Setelah hatinya di rasa cukup tenang, meida membuka matanya dan menatap kearah gedung tinggi yang berdiri mengelilinginya.
“Sudah cukup tenang, Kan?” Meida menganggukkan kepalanya dengan pandangan yang lurus ke depan. Hatinya terasa kosong, walaupun ia tak ingin menemui Gilbert, tapi bayangan Gilbert terus memenuhi pikirannya.
“Sekarang apa yang kamu rasa? Masih ada rasa sesak? Masih ada yang mengganjal?” Tanya Melvin sambil melihat kearah Meida yang hanya menggelengkan kepalanya. Melvin membalikkan tubuhnya dan menyandarkan pada pagar besi, ia menatap meida sambil memasukkan kedua tangan di kantong celananya.
“Sebentar lagi matahari akan kembali pada peranduannya. Apa kamu akan mengakhiri hari ini dengan sebuah kesedihan? Dengan sebuah tangisan? Apa kamu tak ingin mengakhirinya dengan sebuah kebahagiaan?” Meida mengalihkan pandangannya kearah Melvin yang sedang menatapnya sambil melipat kedua tangannya. Melvin berjalan kearah kursi rotan, lalu ia mendorong kursi itu kearah meida, ia menyuruhnya untuk duduk. Lalu melvin mengambil kembali kursi yang lain, dan diletakkan di samping kursi rotan meida, dan dia langsung mendudukinya. Setelah Melvin duduk, meida baru mengeluarkan suaranya.
“Setelah menuruti perkataan wanita tadi untuk datang kerumahnya, apa saya akan bahagia?” Melvin menganggukkan kepalanya sambil menompangkan wajahnya ke pagar besi. Dengan wajah penuh keyakinan melvin menjawab pertanyaan meida.
“Pasti Meida! Kamu akan bahagia, karena ada saya yang always beside you.” Kekeh Melvin sambil mengangkat kedua alisnya. Sambil mengelus hidung mancung dengan ibu jarinya.
“Isshhhh bukan itu maksud saya!” Sewot meida yang kembali dalam mode ngambeknya. Melvin tertawa pelan lalu mengelus kepala meida, ia masih menyandarkan kepalanya di pagar besi.
“Yayaya I see! Jangan ngambek kayak gitu! Jelek tahu!” Meida mencebikkan bibirnya kearah melvin yang malah menggodanya. Melvin kini kembali dalam mode seriusnya, ia memegang besi yang ada di depannya dengan kepala menyamping kearah meida.
“Besok, kita temui orang tua mu bersama-sama. Saya tahu ini sulit, tapi disini ada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Klise-nya kamu menjenguk mereka bukan karena sudah menerima mereka ataupun memaaafkan mereka, tapi demi sebuah rasa kemanusiaan. Kamu dengar sendirikan, Daddy mu akan dilarikan ke Rumah sakit jika tidak ada perkembangan sampai besok. Jika kamu setuju, biar saya yang membujuk Jonathan. Gimana?” Melvin mengambil tangan meida, ia menepuk-nepuk punggung tangannya untuk meyakinkan.
“Apa ini jalan terbaik?” Ujar Meida yang masih diliputi keraguan. Melvin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“That right! Ikuti kata hatimu! Saya tahu, kamu pasti mengkhawatirkan keadaan Daddy-mu. Hati mu gelisah sekarang, antara ingin menemuinya dan tidak. Meida, dengarkan saya! Saya takut Daddy-mu tak berumur panjang, jika Daddy-mu meninggal, saya yakin kamu akan menyesal karena tak menuruti keinginan terakhirnya. Lihatlah keadaannya! Saya yakin setelah melihat keadaannya, rasa kecewamu akan berangsur-angsur hilang.” Meida mulai terpengaruh oleh perkataan melvin, ia memijit dahi dengan sebelah tangannya.
“Apa saya sanggup melihatnya?”
“Sanggup Meida! Simpan rasa kecewa mu! Ubah mindset mu! Dia Daddy-mu, ayah yang ingin kamu temui selama ini. Ingat alasan utama mu jauh-jauh datang merantau kesini? Kamu ingin bertemu mereka kan? Setelah kamu menemukan mereka, apa kamu akan seperti ini? Sia-sia dong pencarian kamu selama setahun ini! Kamu akan membiarkan pencarian selama setahun ini berlalu begitu saja? Tidak, Kan? Karena cepat atau lambat, kamu harus kembali pada keluarga mu, kembali pada rumahmu.” Bujuk Melvin yang masih menepuk-nepuk punggung tangan meida.
“Kita kesana yah! Sekalian kita meminta restu pada mereka. Saya akan memintamu kepada keluarga besarmu secara baik-baik. Saya ingin keluarga besarmu bukan hanya merestui hubungan kita, tapi menghadiri pernikahan kita dengan beribu do'a.” Meida mengangguk-anggukkan kepalanya mencermati perkataan melvin. Melvin berhasil mempengaruhinya untuk datang kerumah orang tuanya.
“Baiklah saya mengikuti saran-mu! Terima kasih selalu mengingatkan saya!” Melvin tersenyum lebar. Akhirnya ia berhasil meluluhkan hati meida yang keras ini.
“Kamu memilih jalan terbaik! Semoga setiap jalan hidup kita, selalu dalam Ridho Allah Meida.”
-
__ADS_1
Andress, seorang lelaki muda berlari dari garasi rumahnya menuju kamar orang tuanya yang dipenuhi oleh banyak perawat dan dokter, ia berlari terpogoh-pogoh dengan keringat yang bercucuran di dahinya. Ia ingin memastikan keadaan Daddy nya baik-baik saja, tak seperti yang diceritakan sepupunya.
“Andress akhirnya kamu pulang Nak.” Melihat Andress datang. Zaina langsung memeluk dengan mata berkaca-kaca, ia merindukan kehadiran andress yang selama ini pergi dari rumahnya tanpa berpamitan padanya. Padahal andress adalah anak lelaki yang setia menemaninya pada masa-masa sulit.
“Daddy kenapa Mom? Kenapa dia seperti ini?” Tanya Andress menunjuk kearah Gilbert yang sedang tak sadarkan diri dengan memeluk foto Jaslin. Walaupun ia bertentangan dengan daddy-nya, melihatnya seperti ini, tak urung hatinya ingin menangis.
“Daddy-mu sangat merindukan adikmu ko. Dia sangat merindukan jaslin. Sudah 2 hari ini daddy mu tak sadarkan diri. Mommy takut.” Tangis zaina pecah dipelukkan andress. Ia menumpahkan ketakutannya di dada bidang milik anaknya. Andress menepuk-nepuk lembut pundak Mommy-nya dengan menitikkan air mata.
“Kenapa tak di bawa ke rumah sakit Mom? Kenapa Daddy di rawat disini?” Tanya andress sambil melerai lembut pelukan Mommy-nya. Ia menatap Mommy-nya untuk menjawab pertanyaannya.
“Itu keinginan Daddy-mu sebelum tak sadarkan diri Nak. Dia ingin tetap disini, sampai jaslin datang. Dia terus bergumam memanggil nama adikmu. Daddy-mu menyesal Nak! Sudah beberapa dokter ahli di datangkan kesini, tapi kondisi daddy-mu tak ada kemajuan. Padahal para dokter mendiagnosa daddy mu tak memiliki penyakit apapun, tapi keadaannya seperti ini. Ko, Mommy takut. Mommy harus apa?” Melvin menghapus air mata Mommy lalu berjalan ke samping ranjang Gilbert. Di kamar itu nampak terpajang foto jaslin kecil yang cukup besar, yang sengaja di cetak Zaina dan Gilbert bertahun-tahun lalu.
“Apa Mommy sudah menemui Jaslin?” Zaina menganggukkan kepalanya lemah ketika di tatap oleh anaknya. Ia berjalan mendekati anakny, lalu duduk di ranjang di samping suaminya, ia mengelus tangan suaminya yang terpasang infus sejak 2 hari lalu.
“Mommy sudah bertemu dengannya, tapi dia masih enggan bertemu dengan Daddy-mu. Adik mu masih menyimpan rasa kecewanya pada kita Nak.” Andress melipat tangannya sambil berpikir keras.
“Mommy tak membujuknya untuk pulang?” Zaina menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya. Ia kembali mengelus-ngelus tangan suaminya yang masih bergumam menyebut nama Jaslin.
“Mommy sudah membujuknya ko, tapi dia masih bungkam tak memberi jawaban. Memang ini tak mudah bagi jaslin, tapi dia harus mengetahui keadaan Daddy-nya yang seperti ini. Tapi Putra sulung Nagara akan membantu Mommy, dia akan membujuk Jaslin untuk datang kesini Nak.” Andress membulatkan matanya mendengar nama Nagara di sebut. Ia duduk di samping Mommy-nya sambil memegang tangannya.
“Apa putra sulung Nagara bernama Melvin Mom? Lelaki yang dirumorkan dekat dengan Jaslin?” Zaina menganggukkan kepalanya dengan mata yang masih menatap dalam wajah suaminya. Nampak air mata menetes di sudut mata Gilbert yang masih tertutup.
“Mommy yakin?” Andress memberanikan diri memegang bahu zaina yang sedang menghapus air mata di sudut mata daddy-nya dengan lembut. Zaina membalikkan posisinya kearah putranya dengan tersenyum.
“Yakin Nak. Bibi angkat Jaslin yang bicara sendiri pada Mommy. Selama ini yang menanggung biaya hidup kedua adikmu adalah Melvin, dia yang memastikan kedua adikmu aman dan tak berkekurangan ko. Melvin menyayangi dan mencintai adikmu dengan tulus ...”
“Apa benar dia mencintai Jaslin Mom?” Tanya Andress dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha tegar, tapi tak bisa menyembunyikan perasaan di hatinya.
Ingat Andress, Meida itu Jaslin! Dia adikmu! Buang jauh-jauh perasaan mu!
“Yahh ... Mereka saling mencintai Nak. Dia lelaki baik, dia lelaki yang tepat untuk menjaga adikmu. Mommy menyukai kelembutannya dalam memperlakukan Jaslin dan Mommy.” Jawab Zaina sambil menatap wajah putranya yang tiba-tiba berubah.
“Kamu kenapa menangis?” Andress langsung menghapus air matanya sambil menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
“Koko gak papa Mom. Koko terharu, ternyata masih ada orang baik yang menjaga Jaslin.” Kilah Andress yang tidak bisa membohongi perasaannya. Tiba-tiba ia ingin menangis, takala Mommynya mengatakan bahwa mereka saling mencintai.
“Yakin karena itu?” Tanya selidik zaina sambil menghapus air mata anaknya. Andress gelagapan, dengan menganggukkan kepalanya kaku.
“Iya Mom. Emang kenapa? Koko hanya menangis bahagia, itu saja!”
“Tapi tangismu mengatakan tidak demikian Nak. Tangismu seperti luka! Kamu tak bisa membohongi Mommy Nak. Kenapa? Katakan pada Mommy!” Mendengar perkataan Mommy-nya, andress malah menangis memeluknya.
__ADS_1
Anda Mommy tahu! Wanita yang Andress cintai, yang pernah andress ceritakan pada Mommy adalah Jaslin, putri kandung Mommy sendiri.
Tuhan, bantu aku untuk melupakannya! Dia adikku! Tolong hapus rasa ini! Tolong Tuhan ... aku tak ingin seperti ini! Hapus rasa tak pantas ini! Aku berusaha menerimanya sebagai adikku, tapi kenapa hati ini selalu saja sakit bila mendengar namanya ....
-
Zaina melap tubuh suaminya sambil menangis. Ia menyudahinya ketika pelayanan masuk ke kamarnya.
“Nyonya, ada tamu di luar!” Suara nyaring pelayan itu mengalihkan zaina dari lamunannya. Ia kembali menghapus air matanya sambil mengangguk. Pelayan itu tak menyebutkan, bahwa salah satu tamu itu adalah Jonathan, anak majikannya sendiri.
“Suruh mereka masuk Bi! Saya akan segera ke bawah!” Lirih Zaina sambil menyerahkan lap dan baskom kepada pelayanan itu.
“Baik Nya.” Pelayanan itu berlalu dari kamar zaina menuju pintu depan. Mempersilangkan para tamu yang berjumlah 4 orang itu masuk.
Setelah membasuh mukanya, zaina langsung turun ke lantai bawah untuk menyapa tamunya yang ia yakini adalah rekan bisnis suaminya. Zaina tertegun melihat kearah ruang tamu, melihat kedua anaknya yang nampak terdiam canggung, sesekali melirik kesana kemari. Ia mempercepat langkahnya agar cepat-cepat sampai ke ruang tamu itu.
“Jaslin ... Jonathan ... akhirnya kamu pulang Nak!” Teriak Zaina sampai mengagetkan semua orang yang berada di ruang itu. Ia langsung memeluk Meida dan Jonathan secara bersamaan dengan air mata bercucuran. Ia tersenyum kearah Melvin dan Bi Ina sebagai ungkapan terima kasih, karena berhasil membujuk anaknya untuk datang kerumahnya.
-
-
☕☕☕☕☕♥️♥️♥️♥️
Jika suka dengan Novel ini, Tong hilap.
Like♥️♥️♥️
Komen♥️♥️♥️
Rate♥️♥️♥️
Vote ♥️♥️♥️
Hadiah ♥️♥️♥️
Hatur nuhun buat yang udah ngelike, ngomen, ngevote, ngerate, ngegift, hatur nuhun pisan.😘
Wilujeng Jum'at Mubarak 😘
Al-Kahfi Day🤗♥️♥️♥️
__ADS_1